NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 "ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA, NISA..."

"Ngapain kamu disini?! Bukannya kamu udah lenyap?!" kataku dalam batin.

"HIHIHIHI..." Gilang malah tertawa kecil mendengarku.

Entah apa yang dirasakan oleh Harum, anakku itu masih memegangi tangan kananku.

Mungkin, dia merasakan aku hanya berdiri diam saja. Aku tak tahu.

Tapi bagiku, yang sudah sangat terbiasa dengan "dua dunia" seperti ini, aku sedang mengobrol secara ghoib dengan sosok Gilang di depan kami.

Di tengah jalan, depan area pemakaman desa.

Di siang hari yang cukup terik seperti ini.

"Malah ketawa kamu ya?!" kataku.

"INGAT SAMA AKU KAK?" Gilang malah bertanya dengan suara sedikit meledekku.

Aku tak menjawabnya.

Malah, aku tatap kedua mata hitamnya dengan tajam.

"Iya! Ingat! Terus kenapa?!" jawabku kesal.

"Mau ganggu anak Kakak kamu ya?!" tambahku.

"HIHIHI... HAHAHA..." Gilang tertawa lagi.

Aku semakin curiga, berhati-hati, bercampur kesal di batinku.

"Pergi gak?!" bentakku.

"GAK MAUUU... HAHAHA..." jawab Gilang.

"Pergi gak?! Atau..." ancamku padanya.

"ATAU APAAA? HAHAHA..." ledeknya lagi.

"Wah, bener-bener kamu ya!" responku.

.....

.....

((Di sudut pandang Harum))

Aku merasakan tangan Ibuku, sedikit mulai terasa panas.

Aneh.

Sangat aneh.

Aku tak pernah merasakan tangannya tiba-tiba memanas seperti ini sebelumnya.

Ku coba menahan tanganku untuk tetap menggenggam tangannya.

"Ibuuu?" panggilku.

Tapi Ibu tak menjawabku.

Justru, terasa semakin panas telapak tangannya yang juga masih menggenggam tanganku.

Justru, sekarang terasa lebih erat genggamannya di tanganku.

Seolah, Ibuku sedang melindungiku.

Tapi, melindungiku dari apa?

Ada apa sebenarnya?

"Uuuh..." gumamku pelan, merasakan panas itu, dan semakin kuatnya tenaga tangan Ibuku.

"Ibuuu? Ibu kenapaaa?" tanyaku lagi, sambil aku menatapnya dengan kedua mata buta putihku.

Semakin panas tangan Ibuku.

Dan, semakin keras genggamannya.

Aku sampai meringis sedikit, merasakan tanganku mulai sakit.

Aku tak tahan.

Akhirnya, ku lepas saja tanganku darinya.

Kini, aku berdiri sambil kedua tanganku menggenggam erat tongkatku sendiri.

Lalu, tiba-tiba...

"Wuuussshhh!!!"

Bertiup angin yang agak kencang.

Membuat dedauan dan cabang-cabang pohon di sekitar kami, bergesekan kuat.

Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku.

"Ibuuu? Ibuuu?" panggilku lagi, sedikit keras suaraku.

Kali ini, Ibuku menjawab.

"Nak, tunggu sebentar ya."

Lalu, Ibu terdengar melangkah.

Langkahnya seperti menjauh dariku.

Meski aku tak bisa melihatnya, tapi aku tahu, Ibuku melangkah maju.

Meninggalkanku di belakangnya.

"Buuu?! Mau kemanaaa?!"

Teriakku.

.....

.....

((Kembali ke sudut pandang Nisa))

Kembali aku menarik napas, karena aku merasa semakin kesal pada sosok Gilang itu.

Terasa jelas, anakku melepas genggaman tangannya dariku.

Aku memandang anakku, dan berkata padanya.

"Nak, tunggu sebentar ya."

Dan anakku menjawab.

"Buuu?! Mau kemanaaa?!"

Aku melangkah maju.

Aku ingin mendekati sosok Gilang itu.

Namun, betapa menyebalkannya Gilang itu.

Baru saja dua langkah kakiku maju, tubuh ghoibnya dengan cepat mundur menjauh.

Secepat kilat.

Sambil ia tertawa cengengesan dengan wajahnya yang masih sama seperti dulu.

Penuh darah kering.

Matanya hitam.

Aku kembali maju dua langkah. Tapi, secepat kilat lagi, sosoknya mundur menjauh.

Sudah mulai tak tertahan rasa kesalku.

"Jangan jadi pengecut kamu!" teriakku pada sosok Gilang itu.

"AHAHAHA... MAJUUU SINIII KAAAK!"

Dia malah menantangku.

Kini, rasa kesal dalam hatiku, berubah menjadi rasa marah.

Dan, aku tahu harus berbuat apa sekarang.

Kupejamkan kedua mataku sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan ku buka lagi mataku.

Terasa sangat jelas...

Kedua mataku berubah...

Mata kananku memandang Gilang dengan suasana sekitar menjadi hijau cerah!

Mata kiriku memandang Gilang dengan suasana sekitar menjadi merah cerah!

.....

.....

((Sudut pandang Harum))

Saat terdengar semakin maju langkah Ibu, seketika itu juga, angin yang berhembus kencang tadi mulai berhenti.

Dan suasana di sekitarku mendadak hening.

Sangat hening.

Mataku butaku berkedip beberapa kali.

Ku fokuskan pendengaranku.

Iya, benar, semuanya mendadak hening!

Lalu, seketika itu juga, terciumlah sebuah aroma bunga yang amat harum.

Dan aku sudah tahu, aroma itu adalah aroma BUNGA KANTIL milik Ibuku!

.....

.....

((Kembali ke sudut pandang Nisa))

Kali ini, aku benar-benar ingin maju. Dengan rasa marah di dadaku.

Namun...

Tiba-tiba...

"Greppp!!!"

Dayang Putri hadir di sebelah kananku, menahan tanganku untuk tak maju.

Dan, Sekar Mayang dengan cepat muncul di sebelah kiriku, tangannya menahan tubuhku. Isyarat yang sama agar aku tak maju.

Lalu, Dayang Putri berkata padaku.

"SUDAH NISA, BIARKAN DIA SAJA YANG MENGURUSNYA."

Aku menatap wajah Dayang Putri yang tampak tenang sambil tersenyum itu.

"Apa maksudmu Dayang Putri? Dia mau mengganggu anakku!" kataku.

Tapi, Sekar Mayang langsung menjawabku.

"BIARKAN DIA YANG MELINDUNGI ANAKMU, NISA... HIHIHI..."

Aku menatap Sekar Mayang, dengan heran, tanpa bertanya.

Lalu, Dayang Putri menunjuk ke arah sosok Gilang.

Pandanganku pun melihatnya.

Dan...

Tiba-tiba...

Muncul lagi sosok yang sama persis dengan yang tadi ku lihat dalam rumahku!

SOSOK BERBAJU HITAM, BERMAHKOTA HITAM.

Sosok itu tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di belakang Gilang.

Dan kedua tangannya memegang sangat erat pundak Gilang.

Dan, seketika itu juga...

Gilang berteriak ngeri...

"AAAKKKHHH!!!"

Aku terbelalak melihatnya.

Tubuh ghoib Gilang, tiba-tiba saja terbakar hebat karena sentuhan sosok bermahkota hitam itu!

"Ha-Hah?!" responku terkejut.

Dan, dengan cepat, tubuh ghoib Gilang hangus.

Menjadi seperti debu sisa pembakaran.

Lalu...

Bagaikan ditiup angin, sisa debu tubuh ghoib Gilang hilang perlahan.

Aku tak percaya melihat semua itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ada sosok ghoib yang mampu melenyapkan sosok ghoib lain dengan sangat mudah seperti itu.

Dan, kemudian...

Sosok itu memandang wajahku.

Kedua matanya tak berwarna seperti kedua mata Dayang Putri dan Sekar Mayang.

Kedua matanya tampak seperti manusia.

Kemudian, sosok itu hanya tersenyum padaku.

Dan dengan cepat, sosok bermahkota hitam itu pun menghilang.

Lalu, Dayang Putri berkata padaku.

"Anakmu bukan manusia biasa, Nisa..."

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!