Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006: Buku Tabungan Tersembunyi
Dalam sekejap, wajah Adrian memucat.
Vanessa melihat perubahan itu.
Kalau tadi ia masih bisa menangis, marah, atau pura-pura tersinggung, sekarang suaranya seperti tersangkut di tenggorokan. Matanya bergerak cepat ke arah suaminya, lalu kembali ke Margaret.
"Mama jangan bicara sembarangan," katanya, tetapi nada suaranya sudah tidak setinggi tadi.
Margaret melipat kipas bambu di tangannya.
"Kalau sembarangan, kenapa wajahmu begitu?"
Vanessa memaksa tertawa. "Aku capek. Dari tadi dituduh terus."
"Bagus. Kalau capek, kita selesaikan cepat."
Margaret berjalan menuju lorong kamar.
Vanessa langsung berdiri. "Mama mau ke mana?"
"Kamarmu."
"Tidak bisa!" Vanessa berlari mendahului, menahan pintu kamar dengan kedua tangan. "Itu kamar aku dan Adrian. Mama tidak bisa masuk begitu saja."
Margaret berhenti di depannya.
Perempuan yang dulu selalu mengalah pada ribut kecil menantu itu sekarang berdiri begitu dekat sampai Vanessa mundur setengah langkah.
"Ini rumah siapa?"
Vanessa menggigit bibir.
"Aku tanya," ulang Margaret. "Ini rumah siapa?"
Adrian akhirnya bergerak. "Vanessa, buka."
Vanessa menoleh tajam. "Ko!"
Adrian tidak berani menatap istrinya lama-lama. "Buka dulu."
Kamar itu tidak besar. Ada ranjang kayu, lemari pakaian tiga pintu, meja rias dengan bedak dan sisir berserakan, serta satu kotak plastik berisi pakaian anak-anak. Bau minyak rambut Adrian bercampur dengan bau parfum murah Vanessa.
Margaret masuk tanpa menyentuh apa pun lebih dulu. Ia berdiri di tengah kamar, mengingat.
Di kehidupan sebelumnya, buku tabungan itu baru ia ketahui bertahun-tahun kemudian, saat semuanya sudah terlambat. Vanessa pernah menangis miskin di depannya, meminta tambahan uang sekolah anak, uang obat, uang dapur. Margaret memberikan. Lagi dan lagi.
Padahal uang itu sudah lama dipindahkan ke rekening yang disembunyikan.
"Lemari," kata Margaret.
Vanessa langsung pucat.
Adrian menarik napas pelan.
Margaret membuka pintu lemari kanan. Tumpukan baju dilipat rapi. Ia tidak mengacak. Ia mengangkat satu per satu, menaruhnya di ranjang, lalu mengetuk dinding belakang lemari dengan buku jarinya.
Tok.
Tok.
Tok.
Di bagian tengah, bunyinya berbeda.
Vanessa mencengkeram ujung baju sendiri.
Margaret menyelipkan kuku ke celah tipis di balik papan pelapis. Papan itu sedikit longgar. Sekali tarik, lapisan tipisnya terbuka, memperlihatkan kantong plastik hitam yang ditempel dengan selotip.
Adrian memejamkan mata.
Vanessa terduduk di tepi ranjang.
Margaret mengambil kantong itu, membukanya, lalu mengeluarkan buku tabungan BCA berwarna biru.
Tidak ada yang bicara.
Suara halaman buku tabungan dibuka terdengar terlalu keras di kamar kecil itu.
Margaret membaca angka terakhir.
Rp 19.000.000.
Ia tersenyum tanpa hangat.
"Hebat."
Vanessa tiba-tiba bangkit. "Itu uangku!"
"Aku belum bilang bukan."
"Itu uang darurat. Aku simpan untuk anak-anak. Kalau nanti ada apa-apa, siapa yang peduli? Mama? Mama cuma tahu menyuruh dan marah!"
Adrian menatap istrinya, seperti ingin menyuruhnya diam.
Terlambat.
Margaret menutup buku tabungan itu pelan.
"Uang darurat?"
"Iya!"
"Darurat apa yang membuatmu mengambil lebih dari uang belanja setiap bulan?"
Vanessa membeku.
Margaret maju satu langkah. "Setiap Daniel menyerahkan uang gaji, kamu bilang harga beras naik. Harga minyak naik. Anak-anak perlu buku. Ama perlu obat. Aku percaya karena kamu yang belanja. Lalu setiap kali arisan menang, kamu bilang uangnya dipakai menutup kebutuhan dapur. Kenapa tidak pernah masuk catatan?"
"Aku yang capek mengurus rumah ini!"
"Aku juga capek." Suara Margaret tiba-tiba turun. "Bedanya, capekku tidak pernah berubah jadi rekening rahasia."
Vanessa menangis.
Tangisnya keras, penuh luka yang sengaja dipertontonkan. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya naik turun.
"Aku cuma menantu. Kalau suatu hari Adrian macam-macam, kalau Mama mengusir aku, aku harus punya pegangan. Apa salahnya perempuan punya simpanan sendiri?"
Kalimat itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah.
Di kehidupan lama, Margaret mungkin akan goyah. Perempuan memang perlu pegangan. Menantu perempuan di rumah besar sering tidak aman. Ia tahu itu.
Tetapi uang pegangan berbeda dengan uang yang digali dari piring makan orang serumah.
"Perempuan boleh punya simpanan," kata Margaret. "Tapi jangan mencuri dari dapur bersama lalu menyebutnya perlindungan."
Vanessa menurunkan tangan. Matanya merah. "Mama menyebutku pencuri?"
"Aku menyebut angka."
Margaret mengangkat buku tabungan itu.
"Rp 19.000.000. Tahun ini. Di rumah ini, jumlah itu tidak jatuh dari langit."
Adrian akhirnya membuka suara. "Ma, mungkin Vanessa memang salah cara. Tapi uang itu bisa kita atur baik-baik. Jangan langsung diambil semua. Bagaimanapun dia istriku."
Margaret menoleh.
Adrian langsung tahu ia salah memilih kalimat.
"Kamu kerja di BPR," kata Margaret. "Setiap hari menghitung cicilan orang, bunga, agunan, kemampuan bayar. Jangan bilang kamu tidak bisa menghitung uang rumah sendiri."
Wajah Adrian menegang.
"Ma..."
"Kamu tahu."
Dua kata itu menghantam lebih keras daripada teriakan.
Adrian tidak membantah.
Vanessa menatap suaminya dengan marah dan takut. "Ko, kamu..."
Adrian mengusap wajah. "Aku tahu sedikit."
"Sedikit?" Margaret bertanya.
Adrian diam.
Margaret memasukkan buku tabungan ke dompet kainnya.
Vanessa menerjang maju. "Tidak! Itu punyaku!"
Margaret mengangkat kipas bambu.
Tidak memukul.
Hanya mengangkat.
Vanessa berhenti seketika.
"Mulai hari ini, rekening ini masuk kas keluarga. Kalau uangnya benar untuk anak-anak, anak-anak tetap akan makan, sekolah, dan berobat. Tapi bukan kamu yang pegang."
"Mama kejam."
"Belum."
Vanessa terisak, tetapi tidak berani maju lagi.
Margaret memandang kamar itu sekali lagi. Ia melihat baju-baju yang sudah dikeluarkan, papan lemari terbuka, wajah Adrian yang sulit dibaca, dan Vanessa yang untuk pertama kalinya tampak benar-benar takut padanya.
Takut saja belum cukup.
Mereka harus belajar menghitung konsekuensi.
"Besok pagi," kata Margaret, "kalian berdua ikut aku ke bank. Buku ini diganti kendali. Jangan coba-coba menarik uang malam ini, jangan coba-coba telepon siapa pun untuk memindahkan isi rekening. Kalau ada satu rupiah hilang, aku tidak akan bertanya dua kali."
Adrian mengangguk pelan.
Vanessa tidak menjawab.
"Dengar?"
Vanessa gemetar. "Dengar."
Margaret keluar dari kamar dengan buku tabungan di tangan.
Di ruang tengah, rumah sudah sepi. Tetapi sepi itu berbeda dari sebelumnya. Bukan sepi karena damai, melainkan karena semua orang menahan napas di balik pintu masing-masing.
Daniel menunggu di kamar mereka.
Begitu Margaret masuk, ia langsung melihat buku tabungan itu.
"Benar ada?"
Margaret meletakkannya di atas meja.
"Rp 19.000.000."
Daniel terdiam lama. Jumlah itu terlalu besar untuk disebut uang sisa belanja.
"Vanessa..."
"Vanessa cuma permukaan."
Daniel menatap istrinya.
Margaret duduk di tepi ranjang. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa lelah menghantam bahunya. Tetapi matanya tetap tajam.
"Uang Vanessa tidak seberapa dibanding masalah yang akan datang."
"Masalah apa lagi?"
Margaret menoleh ke arah kamar Jason dan Livia.
Lampu di sana masih menyala.
"Istri Jason," katanya pelan. "Livia. Urusannya seratus kali lebih kotor daripada buku tabungan."