NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Raka menutup pintu perlahan.

“Sistem.”

[Aku melihatnya.]

“Apa itu?”

[Jejak segel lama.]

Raka menatap lantai kamar kontrakannya.

“Di kamarku?”

[Benar.]

Raka terdiam.

Selama ini ia mengira kontrakan ini hanya tempat murah yang ia tempati karena tidak punya pilihan. Kamar kecil yang lembap, sempit, dan hampir tidak layak disebut rumah.

Namun sekarang sistem mengatakan ada jejak segel lama di sana.

“Kenapa ada segel di sini?”

Sistem tidak langsung menjawab.

Raka menunduk, menyentuh lantai dengan ujung jarinya.

Cahaya emas samar berdenyut.

Di dalam kepalanya, bayangan singkat muncul.

Sungai Kapuas.

Tanah tua.

Takhta emas.

Dan seorang bayi yang menangis di tengah malam hujan.

Raka menarik tangannya cepat.

Napasnya sedikit berubah.

“Apa itu?”

Sistem diam.

Raka mengerutkan kening.

“Jawab.”

Beberapa detik berlalu sebelum sistem akhirnya berbicara.

[Ingatan belum stabil.]

“Jangan menghindar.”

[Aku tidak menghindar.]

Suara sistem tetap tenang, tetapi Raka merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

Raka menatap lantai itu lebih dalam.

“Tempat ini berhubungan dengan masa laluku?”

Hening.

Lalu sistem menjawab pelan.

[Tempat ini bukan kebetulan.]

Dada Raka terasa dingin.

Ia mundur satu langkah dan duduk di tepi kasur.

Selama ini, ia mengira hidupnya hanya rangkaian kebetulan buruk.

Yatim piatu.

Tinggal sendirian.

Bekerja serabutan.

Diremehkan.

Dihajar di tepi Sungai Kapuas.

Namun sekarang, satu per satu hal yang ia kira kebetulan mulai tampak seperti potongan dari sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang telah menunggunya.

Raka menatap lantai kamar itu.

“Apa aku benar-benar lahir sebagai manusia biasa?”

Sistem tidak menjawab.

Dan kali ini, diamnya menjadi jawaban yang lebih berat daripada kata-kata.

Di rumah keluarga Mahendra, Hei Yan tiba-tiba mengangkat wajah.

Luka emas di telapak tangannya berdenyut.

Surya memperhatikan perubahan itu.

“Ada apa?”

Hei Yan tersenyum tipis.

“Menarik.”

Reza mengerutkan kening.

“Apa lagi?”

Hei Yan menatap ke arah pinggiran kota, seolah bisa melihat menembus dinding rumah besar itu.

“Raka menemukan jejak lain.”

Bram merasa napasnya tertahan.

“Jejak apa?”

Hei Yan tidak menjawab langsung.

Ia hanya berkata pelan.

“Sepertinya Pontianak menyembunyikan lebih banyak pintu daripada yang kita kira.”

Surya menyipitkan mata.

“Pintu menuju apa?”

Hei Yan tersenyum.

“Kepada dirinya sendiri.”

Malam semakin dalam.

Di kamar kontrakannya, Raka duduk diam menatap lantai yang memancarkan garis emas samar.

Di luar sana, keluarga Mahendra mulai menyusun rencana baru.

Dunia Immortal mulai gelisah.

Hei Yan mulai mencari cara mencabut takhta.

Dan di bawah Pontianak, sesuatu yang sangat tua berdenyut pelan, seolah mendengar bahwa pemiliknya mulai menemukan jejak pulang.

Sistem berbisik di dalam jiwa Raka.

[Tuan.]

Raka tidak menoleh.

“Apa?”

[Mulai malam ini, musuh tidak hanya akan menyerang tubuh Tuan.]

Raka menatap garis emas di lantai.

“Mereka akan menyerang masa laluku.”

[Benar.]

Raka diam beberapa saat.

Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

Tidak hangat.

Tidak lembut.

Senyum itu dingin, seperti pisau yang baru keluar dari sarungnya.

“Kalau begitu, mereka harus siap kehilangan masa depan mereka.”

Di sudut kamar, garis emas samar berdenyut sekali.

Seolah menyetujui keputusan itu.

Pagi di Pontianak datang dengan udara yang terasa lembap.

Langit masih berwarna abu-abu muda ketika Raka membuka mata. Cahaya tipis masuk melalui celah kecil di jendela kamar kontrakannya, jatuh ke lantai semen yang semalam memancarkan garis emas samar.

Untuk beberapa saat, Raka hanya duduk diam di tepi kasur.

Matanya tertuju pada sudut lantai.

Garis emas itu sudah menghilang.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada simbol.

Tidak ada tanda bahwa semalam ia melihat bayangan Sungai Kapuas, tanah tua, takhta emas, dan seorang bayi yang menangis di tengah hujan.

Jika orang lain melihat kamar itu, mereka hanya akan menemukan kamar kontrakan kecil yang biasa saja.

Kasur tipis.

Kipas angin tua.

Dinding lembap.

Meja kecil.

Pakaian yang belum dilipat.

Namun bagi Raka, kamar itu tidak lagi terlihat sama.

Tempat yang selama ini ia kira hanya tempat murah untuk bertahan hidup ternyata menyimpan jejak segel lama.

Tempat ini bukan kebetulan.

Kalimat sistem semalam masih berputar di kepalanya.

Raka menunduk, menyentuh lantai dengan ujung jarinya.

Tidak ada reaksi.

Ia mencoba menekan sedikit lebih kuat.

Tetap tidak ada apa-apa.

“Sistem.”

[Aku mendengar.]

“Kenapa segelnya tidak muncul lagi?”

[Jejak itu belum stabil.]

[Ia merespons ketika ingatan Tuan tersentuh.]

[Bukan ketika dipaksa.]

Raka menarik tangannya.

“Jadi aku harus menunggu?”

[Tuan harus hidup cukup lama untuk mengingatnya.]

Raka terdiam sebentar.

Lalu tersenyum tipis.

“Kalimatmu kadang seperti ancaman.”

[Itu peringatan.]

“Bedanya tipis.”

Sistem tidak menjawab.

Raka berdiri dan mengambil jaket hitamnya. Tubuhnya terasa lebih ringan daripada hari-hari sebelum kebangkitan sistem. Tidak ada pegal, tidak ada luka, tidak ada rasa lelah yang biasa menempel setelah bekerja serabutan.

Namun pikirannya jauh lebih berat.

Keluarga Mahendra mulai bergerak.

Hei Yan mencari cara mencabut takhta.

Dunia Immortal sudah menemukan arah menuju Pontianak.

Dan sekarang, masa lalunya sendiri ternyata tidak sesederhana yang ia kira.

Raka membuka pintu kamar.

Gang kecil di luar masih sepi. Beberapa rumah belum sepenuhnya terbuka. Seorang ibu menyapu halaman sambil sesekali menguap. Di ujung gang, seorang penjual bubur mendorong gerobaknya pelan. Seekor kucing berjalan di atas tembok rendah, lalu melompat ke atap seng.

Semua terlihat biasa.

Tapi Mata Dewa Raka melihat lebih banyak daripada itu.

Di sudut gang, dekat tiang listrik, ada seorang pria tua yang berpura-pura memperbaiki rantai sepeda.

Aura orang itu abu-abu.

Terlalu tenang.

Terlalu terarah.

Bukan warga sekitar.

Di depan warung kecil, seorang pemuda duduk sambil merokok. Matanya sesekali melirik ke arah kamar Raka, lalu cepat-cepat menunduk saat Raka menoleh.

Aura merah gelap tipis bergerak di sekitar dadanya.

Di ujung gang yang lain, seorang perempuan paruh baya membawa keranjang belanja. Langkahnya tampak biasa, tapi napasnya terlalu teratur. Di balik keranjang itu, ada benda kecil berwarna hitam yang memantulkan cahaya samar.

Raka berhenti di depan pintu.

Sistem berbicara.

[Pengawasan terdeteksi.]

[Jumlah awal: tiga.]

[Jejak: manusia biasa.]

[Kemungkinan terhubung dengan keluarga Mahendra.]

Raka menatap gang itu dengan wajah datar.

“Cepat juga.”

[Mereka tidak menyerang.]

“Karena disuruh mengawasi.”

[Benar.]

Raka melangkah keluar dan menutup pintu perlahan.

Tiga orang yang mengawasinya bereaksi sangat kecil.

Pria tua di tiang listrik menunduk lebih dalam.

Pemuda di depan warung kecil membuang rokoknya dan berpura-pura melihat ponsel.

Perempuan dengan keranjang berjalan lebih pelan, seolah mencari alasan untuk tetap berada di sana.

Raka berjalan ke arah mereka tanpa terburu-buru.

Udara pagi masih terasa biasa. Warga sekitar bergerak seperti biasa. Tidak ada yang menyadari bahwa gang kecil itu sudah berubah menjadi papan permainan antara Raka dan keluarga Mahendra.

Raka berhenti di depan pemuda yang duduk di dekat warung.

Pemuda itu pura-pura tidak melihatnya.

Raka menatapnya.

“Kau sudah sarapan?”

Pemuda itu tersentak.

“A-apa?”

Raka mengulang dengan tenang.

“Kau sudah sarapan?”

Pemuda itu kebingungan. “Belum.”

Raka mengangguk kecil.

“Bagus.”

Pemuda itu semakin tegang.

Raka menatap ponsel di tangannya.

“Kalau belum sarapan, tangan biasanya gemetar. Tapi tanganmu stabil sekali sejak tadi merekam pintu kamarku.”

Wajah pemuda itu langsung pucat.

Pria tua di dekat tiang listrik berhenti bergerak.

Perempuan dengan keranjang menahan langkah.

Raka tidak menoleh kepada mereka, tetapi suaranya cukup jelas terdengar.

“Kalian bertiga tidak pandai mengawasi.”

Pemuda di depannya mencoba berdiri.

“Bang, saya tidak tahu maksud—”

Raka mengangkat tangan.

Pemuda itu langsung berhenti bergerak.

Bukan hanya dia.

Pria tua, perempuan dengan keranjang, bahkan udara di sekitar gang terasa membeku sesaat.

Warga biasa tidak menyadari apa-apa. Mereka hanya merasa angin pagi tiba-tiba dingin.

Namun tiga orang itu tahu.

Tubuh mereka tidak bisa digerakkan.

Sistem berbisik.

[Sabda ringan aktif.]

[Area kecil terkunci.]

Raka berjalan perlahan ke tengah gang.

Ia tidak mengeluarkan aura besar. Tidak membuat lampu berkedip. Tidak memecahkan tanah.

Tidak perlu.

Mereka hanya mata kecil.

Bukan musuh yang layak dihancurkan.

Belum.

Raka menatap ketiganya satu per satu.

“Siapa yang menyuruh kalian?”

Tidak ada yang menjawab.

Mereka terlalu takut.

Raka memiringkan kepala sedikit.

“Aku tanya sekali.”

Udara semakin berat.

Pemuda di dekat warung langsung menggigil.

“K-kami cuma disuruh mengawasi, Bang.”

“Siapa?”

Pemuda itu menelan ludah.

“Saya tidak tahu namanya. Orang Bram yang—”

Raka menatapnya lebih dalam.

Mata Dewa bergerak.

Kebohongan tidak besar, tapi ada bagian yang disembunyikan.

Raka menoleh kepada perempuan dengan keranjang.

“Kau.”

Perempuan itu langsung gemetar.

“Bram, Bang. Orang Bram. Kami cuma dibayar lihat apakah Bang Raka keluar rumah.”

Pria tua di dekat tiang listrik akhirnya berkata dengan suara serak.

“Kami tidak mau ganggu siapa-siapa, Bang. Cuma mengawasi.”

Raka menatapnya.

“Cuma mengawasi?”

Pria tua itu menunduk cepat.

Raka berjalan mendekatinya.

“Kalian tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang cuma disuruh tadi malam?”

Pria tua itu memucat.

“Kami… kami dengar, Bang.”

“Dan kalian tetap datang.”

Tidak ada jawaban.

Raka menatap ketiganya dengan dingin.

Ia bisa saja menghukum mereka langsung.

Namun Mata Dewa melihat sesuatu.

Mereka bukan pembunuh.

Bukan preman utama.

Bukan orang yang menikmati menyakiti.

Mereka orang kecil yang dibayar untuk melihat, melapor, dan menutup mata. Tetap salah, tapi belum berada di tingkatan yang sama dengan Bram, Reza, atau Hei Yan.

Raka mengangkat satu jari.

Cahaya emas kecil muncul di ujungnya.

Ketiga orang itu langsung gemetar hebat.

“Bang, ampun!”

“Kami tidak akan ulangi!”

“Kami punya keluarga, Bang!”

Raka tidak berubah ekspresi.

“Aku tidak akan menghukum kalian seperti mereka.”

Ketiganya tampak sedikit lega.

Namun Raka melanjutkan dengan suara datar.

“Tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian pulang tanpa membawa sesuatu.”

Cahaya emas itu pecah menjadi tiga titik kecil.

Sistem berbicara.

[Cap peringatan ringan.]

[Efek: rasa sesak ketika target berbohong tentang Tuan atau membantu musuh mengawasi orang tidak bersalah.]

Raka menjawab dalam hati.

“Cukup.”

Tiga titik cahaya masuk ke dada mereka.

Mereka terhuyung, memegang dada masing-masing. Tidak ada jeritan besar, tapi wajah mereka pucat seperti baru saja melihat kematian dari dekat.

Raka berkata pelan.

“Sampaikan kepada Bram.”

Ketiganya menunduk cepat.

“Iya, Bang.”

“Kalau keluarga Mahendra ingin tahu tentang aku, suruh mereka datang sendiri.”

Pemuda itu mengangguk panik.

“Iya, Bang.”

Raka menatap mereka lebih dingin.

“Dan kalau aku melihat kalian mengawasi Pak Harun, Bu Lestari, Dimas, atau warga biasa lain…”

Udara di gang menekan turun.

Ketiganya langsung jatuh berlutut.

“…cap ringan itu akan berubah menjadi hukuman.”

Mereka mengangguk cepat, hampir menangis.

Raka menurunkan tangan.

“Pergi.”

Kunci di tubuh mereka terlepas.

Ketiga pengawas itu langsung pergi dengan langkah kacau. Pemuda di dekat warung hampir tersandung batu. Perempuan dengan keranjang meninggalkan keranjangnya begitu saja. Pria tua yang berpura-pura memperbaiki sepeda bahkan tidak membawa sepedanya.

Raka menatap mereka pergi.

Beberapa warga sekitar mulai memperhatikan dengan bingung.

Seorang ibu yang tadi menyapu halaman bertanya, “Ka, itu kenapa orang-orang lari?”

Raka menoleh dengan wajah tenang.

“Mungkin buru-buru, Bu.”

Ibu itu mengerutkan kening, jelas tidak percaya, tapi tidak bertanya lebih jauh.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!