Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Ayo kita bercerai.
Riri pamit kembali ke kamar setelah Dewangga selesai mencuci gelas. Sampai di kamar, gadis itu kembali tidur.
Dewangga pun sudah ada di kamar. Tiduran dengan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantalan. Apa masih pantas pria berumur sepertinya berharap gadis muda seperti Riri?
Dia akan semakin menua, sementara Riri masih di masa mudanya. Ibarat bunga, dia semakin layu, sementara Riri semakin mekar.
Perasaan bimbang kembali menggelayut dalam hati. Apakah pernikahannya harus dipertahankan, atau harus selesai sebelum memulai?
Saat hati dan pikiran bimbang, Dewangga memilih menggelar sajadah. Mengadu pada sang Pencipta, meminta petunjuk atas kegelisahan hati.
**..**
Pagi-pagi Riri sudah mengetuk pintu kamar suaminya. Dia ingin membicarakan sesuatu pada lelaki itu.
Saat Dewangga membuka pintu kamar, Riri langsung berkata, "Om. Ayo kita bercerai!“
Dewangga terdiam cukup lama tanpa suara. Kedua netranya menatap lekat pada istrinya.
"Om, kok malah diam? Ayo talak aku, Om! Sebelum Nura tahu. Kita harus bercerai! Aku gak mau dia salah paham."
"Kita tidak akan bercerai! Dan saya tidak akan menceraikan kamu sampai kapanpun!" tegas Dewangga dengan nada dingin.
Mata Riri membola, menatap tak percaya pria di depannya. "Kenapa begitu? Om gak cinta sama aku, kan? Dan aku juga gak cinta sama Om." Dia menatap kesal, tapi beberapa detik kemudian dia mendelik. "Jangan bilang Om suka sama aku...?"
"Memang kenapa kalau saya suka sama kamu? Salahkah?" Dewangga kesal mendengar ucapan Riri. Apa dia tidak pantas mencintai gadis muda seperti istrinya ini?
Riri gusar, ekspresinya seperti ingin menangis. "Jangan suka sama aku, Om," pintanya. "Kita bukan dari golongan yang sama. Aku masih 20 tahun, dan Om sudah...."
"Tua maksud kamu....?" potong Dewangga kesal.
"Om sendiri yang bilang tua. Di samping usia kita yang seperti ujung Papua dan ujung Aceh. Kita sama sekali enggak cocok. Om kaya, aku sederhana. Meksipun warisan Ayah Ibu sangat banyak, tapi tetap saja seperti butiran gula bagi Om. Dan lagi, Om Papa sahabat aku. Aku juga udah punya cowok yang aku suka."
Perkataan Riri paling belakang membuat hati Dewangga berdenyut, ngilu. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. "Saya hanya akan mengulangi sekali. Kita tidak akan bercerai!" ucapnya tegas.
"Tapi, Om...."
Dewangga tak mau dengar, dia memilih pergi meninggalkan Riri. Hatinya panas saat Riri bicara mempunyai pria yang disuka. Dia merogoh ponsel dari saku jas lalu menghubungi Bimo. "Cari tahu pria yang dekat dengan istriku!" Sambungan telepon dimatikan tanpa mendengar jawaban dari Bimo.
Bimo yang ada di Jakarta, merutuk. "Kebiasaan banget si Bos! Belum juga bicara sudah dimatikan!" Bimo terus menggerutu sembari mencari informasi tentang pria yang selama ini dekat dengan sang Nyonya muda.
"Waduh, bakalan ada keributan nih," ucap Bimo setelah mendapat informasi siapa pria yang dekat dengan istri bosnya.
Pria itu segera mengirim informasi lewat email pada Dewangga.
Wajah Dewangga berubah muram saat membaca email yang dikirim Bimo. Tangannya meremas ponsel. Ada kilatan cemburu di matanya.
*
Sehabis sarapan Riri kembali bertanya kapan Dewangga akan menceraikannya, tapi pria itu acuh dan pergi begitu saja tanpa memberi jawaban. Riri terlihat kesal.
Dia tidak bisa bertahan lebih lama. Bagaimana kalau Nura sampai tahu? Bagaimana kalau Nura membencinya?
Tidak!
Riri tidak mau itu terjadi. Selama ini, hanya Nura yang menjadi sahabatnya. Meksipun baru menjalin persahabatan 2 tahun, tapi ikatan mereka tulus.
“Om! Berhenti di situ!" kata Riri kesal. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Dewangga. Setelah berdiri di depan pria itu, dia bertanya, "Kapan Om ceraikan aku?"
Dewangga menatap dengan sorot mata dingin, datar, dan tajam. "Saya tidak akan mengulangi ucapan saya!"
"Om...." Riri merengek. “Kalau Nura tahu bagaimana? Aku gak mau sahabatan kita rusak gara-gara pernikahan ini."
Dewangga menatap datar. "Kita akan bicarakan ini dengan Nura."
"Om..., jangan! Nura pasti benci banget sama aku. Bagaimana kalau dia salah paham?“
"Saya yakin Nura bisa menerima pernikahan kita."
"Kalau Nura gak mau terima gimana?“
"Saya tetap tidak akan menceraikan kamu!"
"Iihh..., Om Dewangga!!" Riri kesal sekali. Pria tua ini sangat keras kepala. "Pokoknya Om harus menalak aku sekarang juga!!"
Dewangga menghela napas panjang. Bibir manyun Riri malah membuat hatinya berdesir. Dia melangkah maju, mengikis jarak. Lalu, mencondongkan tubuhnya ke arah Riri.
Riri pun memundurkan tubuhnya, gugup. Jarak mereka sangat dekat, membuatnya salah tingkah.
"Kalau kamu terus meminta cerai. Saya akan meminta hak saya sebagai suami!"
Riri mendelik, kedua pipinya merona. Dia gugup sendiri. “Om, jangan macam-macam, ya. Kita nikahnya gak beneran!"
"Siapa bilang gak beneran? Pernikahan kita sah secara agama. Dan akan segera sah secara negara," balas Dewangga.
Riri menatap kedua mata Dewangga, ada perasaan aneh dalam hatinya. Dia segera memutus tatapannya, menunduk tak mau menatap lebih lama mata hitam milik suaminya. “Nura selalu bilang ingin Om sama Tante Sarah bersama," ucapnya pelan.
"Dengarkan ini, Riri. Saya dan Sarah tidak mungkin bersama. Dan Saya tidak akan menceraikan kamu."
Riri kembali menatap Dewangga. Hatinya menghangat mendengar ucapan pria dewasa itu. Namun, ragu tetap membayang dalam hati. Dia masih takut Nura membencinya. Takut kehilangan sahabat baiknya.
Tangannya terulur untuk mengusap kepala istri pelan. "Saya berangkat kerja dulu. Nanti sore saya ajak kamu jalan-jalan.“ Sebisa mungkin dia ingin membuat istri kecilnya nyaman berada di dekatnya.
"Om, tapi saya sudah punya pacar." Riri berkata lirih.
Mata Dewangga berkilat, dia menarik tangannya dari kepala Riri. Wajahnya terlihat datar. Mengambil napas guna menetralkan perasaannya. "Begini saja. Kita jalani dulu pernikahan ini selama tiga bulan. Kalau selama tiga bulan kamu belum juga menerima saya. Kita bicarakan lagi tentang bercerai."
Mata Riri berbinar, dan itu membuat Dewangga kesal.
"Baiklah, aku setuju. Tapi aku punya syarat."
Kening Dewangga berkerut. "Syarat?"
Riri mengangguk. "Tidak boleh ada kontak fisik!"
"Baiklah." Dewangga mengangguk setuju meskipun merasa kesal. Dia masih banyak waktu, pelan-pelan saja.
"Sebaiknya kita buat perjanjian tertulis, Om."
"Tidak perlu. Apa saya terlihat seperti pria m3sum?"
Riri terdiam, lalu menggeleng. Nura sering cerita papanya selalu menolak jika ada wanita yang mendekat. Sekelas wanita sosialita saja ditolak, apalah dia yang hanya sisaan rengginang.
"Saya berangkat dulu." Dewangga mengulurkan tangannya.
"Apa?" Riri menatap tangan pria itu, bingung.
"Apa kamu tidak mau mencium tangan suamimu?“ Dewangga berkata dingin.
"Kan, sudah janji gak ada kontak fisik?" Kening Riri berkerut.
"Kecuali yang satu ini." Dewangga melihat tangannya, memberi kode pada Riri untuk segera mencium punggung tangannya.
Bibir gadis itu manyun, dengan berat hati meraih tangan suaminya lalu mencium dengan takzim.
"Istri pintar...." Dewangga mengusap kepala Riri pelan. Bibirnya tersenyum tipis. Hatinya terasa hangat. Berharap misi tiga bulan bisa menyentuh hati istri kecilnya.
*,*..