NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Bawah Pohon Beringin

Kepanikan malam itu berakhir dengan lega yang bercampur kekecewaan. Kebakaran kecil berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke ruang kelas, namun asap dan air pemadam telah merusak sebagian besar mading yang mereka susun selama dua minggu penuh.

Keesokan paginya, ketiganya berdiri di depan ruang kelas yang masih berbau hangus, menatap hasil kerja keras mereka yang kini basah dan robek di beberapa bagian.

"Habis udah," gumam Adit lesu, mengangkat salah satu potongan mading yang menghitam di ujungnya. "Nggak mungkin kita ikut lomba sore ini."

Namun Naya, yang semalam menangis habis-habisan, kini justru menampilkan sisi lain dari dirinya—sisi yang gigih dan tidak mudah menyerah. "Kita masih punya waktu sampai jam dua siang. Kalau kita kerja cepat, bagian yang masih bisa dipakai kita gabung, sisanya kita bikin ulang."

Raka menatapnya, kagum dengan perubahan yang terjadi semalam. "Kamu yakin?"

"Kita udah janji semalam, kan? Nggak akan nyerah, apa pun yang terjadi," jawab Naya, matanya berkilat dengan tekad yang baru.

Pagi itu, mereka membolos jam pelajaran pertama—dengan izin khusus dari Bu Retno yang memahami situasi—dan bekerja tanpa henti di perpustakaan sekolah. Adit menyumbang ide desain baru yang lebih sederhana namun mengena, Raka menyusun ulang tata letak dengan cepat, dan Naya menulis ulang puisi penutup dengan kalimat yang bahkan lebih kuat dari draft sebelumnya.

Tepat pukul satu siang, tiga puluh menit sebelum tenggat, mading mereka selesai—lusuh di beberapa sudut, namun justru terasa lebih jujur dan bermakna karena jejak perjuangan semalam masih terlihat di sana.

Sore harinya, setelah pengumuman bahwa mading mereka berhasil meraih juara kedua—sebuah pencapaian yang tak pernah mereka bayangkan mengingat kondisi mading yang nyaris hangus—ketiganya berjalan pulang dengan langkah ringan, tertawa membicarakan kepanikan semalam yang kini terasa seperti kenangan lucu.

Namun ketika mereka sampai di taman kecil dekat Komplek Griya Asri, di bawah pohon beringin tua yang sudah menjadi tempat favorit mereka, Naya tiba-tiba berhenti melangkah.

"Aku mau kita janji sesuatu," katanya, suaranya serius meski senyum masih menghiasi wajahnya.

Raka dan Adit saling pandang, lalu mengikuti Naya duduk melingkar di bawah akar besar pohon itu, tempat mereka biasa mengobrol setiap sore.

"Apa pun yang terjadi nanti," Naya melanjutkan, matanya berpindah menatap Raka, lalu Adit, "orang tuaku cerai, keluarga kita berantakan, atau kita pisah sekolah, atau apa pun—aku mau kita selalu balik lagi ke sini. Ke tempat ini, ke pertemanan ini. Nggak peduli seberapa jauh kita terpisah."

Adit mengangguk mantap, mengeluarkan pisau lipat kecil yang selalu ia bawa untuk iseng mengukir batang pohon. "Kalau gitu, biar makin sah, kita ukir aja nama kita di sini."

Raka tersenyum, untuk pertama kalinya merasa yakin penuh akan sesuatu. "Janji Sahabat," gumamnya, seolah menamai momen itu sendiri.

"Janji Sahabat," ulang Naya dan Adit bersamaan, seperti mantra yang mengikat mereka bertiga.

Adit mengukir tiga inisial di batang pohon beringin itu—R, N, A—dikelilingi lingkaran kecil, lalu di bawahnya, dengan huruf yang agak berantakan, ia mengukir: Janji Sahabat, selamanya.

Matahari sore menembus dedaunan lebat pohon itu, menciptakan bercak-bercak cahaya keemasan di wajah mereka bertiga yang tersenyum penuh harap—harap bahwa persahabatan ini akan bertahan selamanya, tanpa tahu bahwa takdir telah menyiapkan ujian-ujian yang akan menghantam janji itu, satu demi satu, dimulai dari rahasia yang justru akan datang dari orang yang mengukir janji itu sendiri.

Karena tiga tahun kemudian, di bawah pohon yang sama, salah satu dari mereka akan mengkhianati janji itu—dan tak seorang pun dari mereka bertiga menyangka, bahwa pengkhianatan itu akan lahir dari cinta yang sama-sama mereka rahasiakan sejak hari itu.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!