Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.
Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.
"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"
Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.
Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.
Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Pulang ke Rumah
Selama lima hari setelah Arka membuka pintu mobilnya dan berkata, "Kita belum selesai bicara," Kirana membuktikan satu hal: seseorang bisa duduk di kursi belakang SUV mewah bersama atasannya selama empat puluh menit, menjawab semua pertanyaan dengan kalimat profesional, lalu tetap merasa hidupnya makin berantakan.
Arka tidak menyentuhnya malam itu.
Ia hanya mengantar sampai depan gang Rungkut, menunggu sampai Kirana benar-benar masuk, lalu mengirim satu pesan pendek.
Jangan pulang terlalu malam kalau sendirian.
Kirana tidak membalas.
Besoknya, ia bekerja seperti biasa. Lusa juga. Sampai Jumat, mereka berbicara tentang timeline, vendor, procurement, dan formasi seolah tidak ada satu malam di antara mereka. Justru sikap normal itu membuat Kirana lelah, karena setiap kali Arka terlalu tenang, ia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak mencari arti.
Sabtu pagi, Lily Halim mengirim pesan ke grup keluarga.
Mama: Pulang hari ini ya, Nak. Mama masak sup ayam.
Papa: Bintang, kalau bisa jangan sore. Ada yang perlu dibicarakan.
Kalimat kedua membuat dada Kirana langsung berat.
Ia tahu "ada yang perlu dibicarakan" di rumah Halim hampir selalu berarti uang.
***
Rumah keluarga Halim berada di sebuah perumahan lama di Sidoarjo. Cat pagarnya dulu putih, sekarang lebih mirip abu-abu kusam. Pohon mangga di halaman depan masih sama, tapi beberapa pot bunga Mama tampak kering karena Lily terlalu sibuk memikirkan cicilan untuk menyiramnya rutin.
Begitu Kirana turun dari ojek online, pintu rumah terbuka.
"Bintang."
Lily berdiri di ambang pintu dengan celemek lusuh. Wajahnya langsung cerah, lalu redup sedikit saat melihat lingkar hitam di bawah mata Kirana.
"Kamu kurus."
"Baru seminggu nggak pulang, Ma."
"Seminggu cukup untuk bikin anak Mama lupa makan."
Kirana tersenyum dan mencium pipi ibunya. Aroma bawang putih, kaldu ayam, dan minyak kayu putih dari ruang tengah menyambutnya. Rumah ini selalu punya bau yang sama: dapur, obat gosok, dan sesuatu yang disebut keluarga meski sering membuatnya sesak.
Hendra duduk di kursi rotan dekat jendela. Rambutnya yang dulu selalu rapi kini agak berantakan. Di meja kecil di depannya ada tumpukan amplop, buku catatan, dan ponsel yang layarnya retak.
"Pa."
Hendra mengangkat wajah. Matanya lelah. "Bintang sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Kirana hampir lupa bahwa lima hari lalu pria yang sama memberikan nomornya kepada penagih utang.
"Belum. Mama katanya masak sup."
"Ayo makan dulu," kata Lily cepat, seperti ingin menunda percakapan yang sudah menggantung di ruang tamu.
Mereka makan di meja kayu yang sudah penuh goresan. Sup ayam Lily hangat, dengan wortel dipotong besar dan kentang yang terlalu empuk. Kirana makan pelan, mencoba menikmati rasa rumah, tapi ponsel Hendra bergetar setiap beberapa menit.
Nama kontaknya tidak disimpan. Hanya nomor.
Hendra selalu membalik layar ke bawah.
Kirana meletakkan sendok. "Itu mereka lagi?"
Lily menegang.
Hendra menghela napas. "Nanti saja, Bintang. Makan dulu."
"Papa yang bilang ada yang perlu dibicarakan."
Hendra menatap mangkuknya. "Mereka minta jadwal pembayaran. Minimal bunga bulan ini."
"Berapa?"
"Dua puluh lima juta."
Sendok Kirana berhenti di udara. "Bunga saja?"
"Iya."
Di luar, suara tetangga lewat terdengar jelas dari jendela yang terbuka.
"Itu rumah Halim masih rame debt collector nggak sih?"
Suara itu pelan, tapi cukup untuk membuat Lily menunduk. Kirana merasakan sesuatu di dadanya mengeras.
"Maaf," Hendra berkata lirih. "Papa tahu kamu baru mulai pegang proyek. Papa nggak mau ganggu, tapi..."
"Tapi Papa sudah ganggu waktu kasih nomor Kirana."
Lily menatapnya. "Kirana."
"Apa, Ma? Itu fakta."
Hendra tidak membela diri. Justru diamnya membuat amarah Kirana kehilangan sasaran dan berubah menjadi rasa sakit.
"Papa panik," kata Hendra. "Mereka datang sampai teriak di pagar. Mama kamu gemetar. Papa malu, Bintang. Papa benar-benar malu."
Kirana memandang tangan ayahnya. Dulu tangan itu kuat, selalu mengangkat galon, memperbaiki engsel pintu, mengantar Kirana sekolah dengan motor tua. Sekarang jari-jarinya gemetar di atas meja.
Ia masih marah.
Tapi ia juga masih anaknya.
"Kirana belum bisa kasih dua puluh lima juta sekarang," katanya pelan. "Gaji Kirana masih segitu. Bonus proyek juga belum tentu cair cepat."
"Mama nggak minta kamu bayar semua hari ini." Lily mencoba tersenyum. "Cuma... mungkin kamu bisa bicara baik-baik ke mereka. Kamu kan kerja di perusahaan besar. Orang lebih percaya kalau dengar kamu."
Kalimat itu hampir sama seperti ucapan Hendra malam itu.
Kirana menarik napas panjang. "Jangan jadikan pekerjaan Kirana sebagai tameng lagi, Ma."
Lily langsung terdiam.
Hendra memejamkan mata. "Maaf."
Makan siang itu berlanjut tanpa suara selama beberapa menit. Hanya sendok bertemu mangkuk dan kipas angin tua yang berputar malas di langit-langit.
Setelah makan, Lily membawa teh manis hangat ke ruang tengah. Ia duduk di samping Kirana, merapikan ujung rambut putrinya seperti saat Kirana masih SMA.
"Fajar benar-benar selesai?"
Kirana menatap teh di tangannya. "Iya."
"Dia bilang apa?"
"Kita beda level."
Lily menghela napas, wajahnya sedih sekaligus tersinggung. "Anak itu dulu sopan sekali kalau datang."
"Sopan bukan berarti berani."
Hendra, yang sejak tadi diam, berkata pelan, "Mungkin memang Papa yang bikin kamu susah dapat orang baik."
Kirana menoleh. "Pa..."
"Utang ini seperti bau asap. Nempel ke semua orang di rumah ini." Hendra tertawa hambar. "Fajar cuma yang pertama jujur tidak tahan."
Kirana ingin membantah, tapi kata-katanya habis. Ada sisi dirinya yang ingin menyalahkan Hendra sepenuhnya. Ada sisi lain yang tahu bisnis ayahnya jatuh bukan karena malas, melainkan karena keputusan buruk, rekan yang kabur, dan kebanggaan yang terlalu lama tidak mau mengaku kalah.
Lily mengusap punggung tangan Kirana. "Mama cuma ingin kamu nanti punya pasangan yang kuat. Yang bibit, bebet, bobot-nya jelas. Bukan untuk gaya-gayaan, Nak. Supaya kalau hidup berat, kamu nggak sendirian."
Kirana hampir tertawa. Kalau Mama tahu siapa yang sekarang paling sering membuatnya merasa tidak sendirian, mungkin rumah ini akan benar-benar meledak.
"Kirana belum mau bahas pasangan."
"Umurmu sudah..."
"Ma."
Lily menutup mulutnya, lalu mengangguk. "Iya. Mama diam."
Tentu saja ia tidak benar-benar diam. Sepuluh menit kemudian, grup WA keluarga berbunyi.
Mama: Kalau ada teman kantor baik, jangan langsung ditolak ya.
Papa: Yang penting jangan seperti Fajar.
Kirana membaca pesan itu dari sofa yang sama, sementara kedua orang tuanya duduk tidak sampai dua meter darinya. Ia menutup wajah dengan bantal kecil.
"Kalian sadar kita satu ruangan?"
Lily pura-pura sibuk melipat serbet. Hendra batuk kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu, Kirana tertawa.
Tawanya tidak panjang, tapi cukup membuat udara rumah sedikit longgar.
***
Menjelang sore, Kirana kembali ke kos. Di perjalanan, Mega mengirim voice note berdurasi hampir dua menit.
"Kira, lo tahu Bayu yang dikenalin Tante Rini itu? Dia bilang gue baik, lucu, mandiri, tapi dia nggak yakin karena katanya badan gue terlalu berisi. Terlalu berisi, Kir! Emang gue pastel isi ayam?"
Kirana, yang sedang duduk di jok belakang ojek online, hampir tertawa keras.
Ia membalas setelah sampai kos.
Kirana: Laki-laki begitu nggak usah disesali.
Mega: Gue tahu. Tapi tetap pengin gue lempar pakai meteran kain.
Kirana: Jangan. Meteran masih kepakai.
Mega mengirim stiker menangis lalu tertawa.
Malam itu Mega datang membawa martabak manis setengah loyang. Mereka duduk di lantai kamar Kirana, berbagi potongan cokelat kacang sambil saling mengeluh tentang pria yang mengukur perempuan seperti barang di etalase.
"Fajar pakai level," kata Kirana.
"Bayu pakai ukuran badan," sahut Mega.
"Kesimpulannya?"
"Mereka sama-sama perlu dikirim balik ke pabrik."
Kirana tertawa sampai bahunya rileks untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah.
Namun setelah Mega pulang, kesunyian kos kembali memenuhi kamar. Kirana menatap sepatu larinya di sudut ruangan. Dulu ia berlari kalau kepalanya terlalu penuh. Belakangan ia berhenti karena kerja, utang, Fajar, dan Arka membuat hidupnya terasa seperti treadmill tanpa tombol stop.
Ia mengambil sepatu itu dan membersihkan debunya.
Besok pagi, ia akan lari di taman kota. Tidak untuk proyek. Tidak untuk Papa. Tidak untuk Arka.
Hanya untuk mengingat bahwa tubuhnya masih miliknya sendiri.
***
Minggu pagi, udara taman kota masih basah oleh embun dan sisa siraman petugas kebersihan. Kirana datang sebelum matahari naik tinggi, memakai kaus putih longgar, legging hitam, dan topi yang menutupi separuh wajah. Ia mulai berlari pelan di jogging track, membiarkan napasnya menemukan ritme.
Satu putaran.
Dua putaran.
Untuk beberapa menit, kepalanya benar-benar kosong. Tidak ada Fajar. Tidak ada utang. Tidak ada pesan pendek yang membuat dada berantakan.
Lalu seseorang berlari sejajar di sisi kanannya.
Langkahnya stabil. Napasnya nyaris tidak terdengar. Aroma mint tipis terbawa angin pagi sebelum Kirana sempat menoleh.
"Jangan langsung ngebut di putaran awal," suara itu berkata tenang. "Nanti betis kamu kram."
Kirana hampir tersandung.
Arka berlari di sampingnya, mengenakan kaus olahraga gelap dan jam pintar di pergelangan tangan. Wajahnya segar, seolah muncul di taman kota pada Minggu pagi adalah hal paling masuk akal di dunia.
Kirana menatapnya dengan napas tercekat.
"Pak Arka?"
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,