NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Bandung pagi itu masih diselimuti kabut tipis yang merayap di sela-sela pepohonan kompleks. Suasana tenang yang biasanya menenangkan, justru terasa menyesakkan bagi Zivara Arthea. Ia baru saja melepas keberangkatan ayahnya, Ridwan, yang akan bertugas ke luar negeri selama tiga bulan. Di depan pagar rumah modern itu, Zivara berdiri mematung, menatap sisa-sisa debu dari mobil ayahnya yang perlahan menghilang di tikungan jalan.

Tiga bulan ke depan, rumah ini akan terasa sangat luas untuknya sendiri. Namun, Zivara yang sekarang bukan lagi gadis remaja yang akan menangis di pojok kamar karena kesepian. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya, lalu berbalik masuk untuk bersiap ke kampus.

Baru saja ia hendak menaiki tangga, ketukan di pintu depan menghentikan langkahnya.

Zivara mengernyit. Siapa yang bertamu sepagi ini? Saat pintu terbuka, sosok Bunda Dila berdiri di sana dengan senyum hangat yang tidak pernah pudar, didampingi oleh seorang wanita paruh baya berseragam rapi dengan raut wajah yang teduh.

"Vara, maaf Bunda ganggu paginya," ujar Bunda Dila lembut. Zivara segera mempersilakan mereka masuk dengan sopan.

"Ini Bi Sumi, Vara," lanjut Bunda Dila setelah mereka duduk di ruang tamu. "Beliau yang akan bertugas mengurus rumah, bersih-bersih, dan memastikan asupan makananmu terjaga selama Ayahmu pergi. Ini amanah langsung dari Pak Ridwan semalam."

Zivara menatap Bi Sumi yang mengangguk sopan padanya. "Terima kasih banyak, Tante. Saya benar-benar merepotkan Tante dan keluarga."

"Sama sekali tidak, Sayang. Bunda justru senang bisa membantumu, oh ya panggil Bunda saja ya, biar lebih akrab," Bunda Dila menepuk lengan Zivara sebelum pamit pulang.

“Iya Bun-Bunda.” Zivara tersenyum canggung.

Zivara kemudian mengantar Bi Sumi menuju area belakang. Ia menunjukkan kamar asisten rumah tangga yang bersebelahan dengan taman kecil yang asri.

"Ini kamar Bibi, dan di sini ada dapur kecil kalau Bibi ingin memasak secara terpisah," jelas Zivara tenang. "Kamar di sebelah itu milik Pak Sugeng, sopir Ayah, tapi beliau biasanya jarang di rumah karena selalu mendampingi Ayah."

Bi Sumi mendengarkan dengan saksama dan mulai merapikan barang-barangnya. Zivara merasa sedikit lega; setidaknya rumah ini tidak akan sesunyi makam. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Baru saja ia kembali ke ruang depan untuk mengambil tas kuliahnya, ketukan pintu kembali terdengar. Lebih keras dan lebih menuntut kali ini.

Saat pintu terbuka, Zivara langsung berhadapan dengan Kaizar Ravindra. Pria itu berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah dan aura dominasi yang seolah merampas oksigen di sekitar Zivara.

"Sudah siap?" tanya Kaizar pendek. Matanya menyapu penampilan Zivara dari ujung rambut hingga kaki.

Zivara tidak bergerak. "Aku bisa berangkat sendiri, Kak." Suaranya datar, sedingin udara Bandung pagi itu.

Alis Kaizar terangkat sebelah. "Kamu lupa pesanku semalam? Atau perlu kuingatkan lagi di depan Bi Sumi?" Langkahnya maju, memperpendek jarak hingga Zivara bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam. "Sekarang kamu tanggung jawabku. Kalau terjadi sesuatu padamu, Om Ridwan akan langsung menodongku dengan pertanyaan."

Zivara mendengus hambar. "Aku bukan anak kecil yang butuh pengawas, Kak Kaizar. Aku punya mobil sendiri, aku bisa menyetir sendiri."

"Aku tidak menerima bantahan, Zivara," potong Kaizar, nadanya rendah namun tidak bisa diganggu gugat. "Mobilmu akan tetap di garasi. Aku tunggu di mobil. Sekarang."

Kaizar berbalik tanpa menunggu jawaban, berjalan menuju Range Rover hitamnya yang terparkir angkuh di depan gerbang. Zivara mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Tensi di dadanya memuncak, rasa ingin memberontak begitu besar, namun ia tahu berdebat dengan Kaizar di tempat umum hanya akan mengundang perhatian yang tidak ia inginkan.

Dengan langkah terpaksa, Zivara menyambar tasnya dan mengikuti Kaizar. Pintu mobil terbuka secara otomatis. Saat ia duduk di kursi penumpang, suasana di dalam kabin terasa sangat mencekam. Mesin mobil menderu halus, namun bagi Zivara, suara itu terdengar seperti awal dari belenggu yang akan menjeratnya lebih dalam.

"Jangan memasang wajah seperti itu," gumam Kaizar sambil mulai menjalankan mobil. "Ini demi kebaikanmu."

Zivara hanya menatap ke luar jendela, melihat deretan rumah mewah yang berlalu cepat. "Kebaikanmu atau egomu, Kak?" bisiknya lirih, namun cukup jelas untuk membuat tangan Kaizar mengeras pada kemudi.

Tiba-tiba ponsel Kaizar bergetar di dasbor. Sebuah nama muncul di layar: Luna. Kaizar melirik ponsel itu sejenak, lalu dengan gerakan cepat—yang sengaja diperlihatkan di depan Zivara—ia mematikan panggilannya.

"Kenapa tidak diangkat?" tanya Zivara tanpa menoleh.

Kaizar terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot yang sulit dibaca. "Karena saat ini, fokusku hanya pada satu orang. Dan orang itu duduk di sebelahku."

Zivara merasakan jantungnya berdesir, bukan karena cinta, melainkan karena peringatan bahaya yang menyala merah di kepalanya. Takdir ini benar-benar mulai berbelok ke arah yang tidak pernah ia duga.

**

Mesin Range Rover hitam itu menderu halus, membelah jalanan aspal Bandung yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Di dalam kabin, keheningan terasa begitu berat, hanya diisi oleh aroma parfum maskulin Kaizar yang memenuhi setiap sudut ruang sempit tersebut. Zivara duduk mematung di kursi penumpang, matanya tertuju lurus ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon mahoni yang tampak berlari menjauh.

Saat gerbang kampus DKV mulai terlihat di kejauhan, Zivara menegakkan punggungnya. Ia tidak ingin kehadirannya bersama Kaizar memicu gosip yang hanya akan merepotkan langkahnya di masa depan.

"Berhenti di sini saja, Kak," ucap Zivara datar, suaranya memecah keheningan yang sejak tadi mencekam.

Kaizar tidak langsung merespons. Ia justru sedikit menambah kecepatan, seolah tidak mendengar permintaan gadis di sebelahnya. "Kenapa?" tanyanya kemudian, singkat dan tajam.

"Aku bisa jalan kaki dari sini. Sudah dekat," jawab Zivara sambil mulai merapikan tas sketsanya. Ia lebih memilih kakinya pegal daripada harus turun tepat di lobi kampus dan menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa.

"Jangan konyol. Aku akan menurunkanku di lobi gedungmu," balas Kaizar dengan nada otoriter yang tidak menerima bantahan. Tangannya mencengkeram kemudi dengan santai, tetapi sorot matanya menunjukkan dominasi yang mutlak.

Dada Zivara bergemuruh oleh rasa kesal yang memuncak. Di kehidupan sebelumnya, ia mungkin akan patuh, merasa bangga bisa diantar oleh pria paling karismatik di kampus. Sekarang, perhatian itu terasa seperti belenggu yang memuakkan.

"Hentikan mobilnya, atau aku melompat sekarang juga," ancam Zivara pelan. Tangannya sudah memegang tuas pintu, siap menariknya jika Kaizar tetap keras kepala.

Mendengar ancaman nekat itu, Kaizar menginjak rem secara mendadak hingga ban mobil berdecit di atas aspal. Ia menoleh cepat, menatap Zivara dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara marah dan tidak percaya. Zivara tidak bergeming. Ia membalas tatapan itu dengan sorot mata yang dewasa dan penuh keberanian, menantang dominasi Kaizar secara langsung.

Kaizar akhirnya memilih mengalah, meski rahangnya mengeras menahan emosi. Ia memutar kemudi dan meminggirkan mobil tepat di sebuah halte bus yang berjarak beberapa ratus meter dari gerbang utama.

"Turun," perintah Kaizar dingin.

"Terima kasih," ujar Zivara tanpa ekspresi berlebih. Ia segera keluar, menutup pintu mobil dengan cukup keras, dan melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia ingin memberi jarak sejauh mungkin antara dirinya dan takdir buruk yang selalu dibawa oleh pria itu.

Di balik kemudi, Kaizar memukul stir dengan telapak tangannya. Ia menghela napas kasar, matanya tidak lepas dari punggung Zivara yang perlahan menjauh. Selama hidupnya, Kaizar terbiasa dikelilingi oleh tatapan memuja dan kekaguman. Zivara Arthea adalah pengecualian pertama yang benar-benar membuatnya merasa terusik.

Penolakan gadis itu bukan hanya melukai egonya, melainkan juga memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya: insting berburu. Semakin Zivara menarik diri dan bersikap seolah ia tidak berarti apa-apa, semakin Kaizar merasa tertantang untuk meruntuhkan tembok pertahanan tersebut.

"Kamu pikir bisa lari semudah itu?" gumam Kaizar dengan suara rendah yang berbahaya.

* * *

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!