Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJADIAN ANEH YANG MERESAHKAN WARGA
Belum tuntas berita tentang wafatnya Embok Paijah.
Kejadian aneh pun kembali di alami oleh warga.
Tiba-tiba saja. Salah seorang warga kejang-kejang dengan mengeluarkan beberapa binatang menjijikan dari mulutnya, saat selesai sholat di depan masjid.
GUBRAKK!
"Tolong-tolong!" Ujar Beni yang berada di belakang pria itu persisi, dengan suara agak keras, segera membantu pria yang tiba-tiba ambruk kejang-kejang di tanah.
Semua orang yang saat itu sedang berjalan pun berlarian menuju sumber suara.
"Ada apa, Ben?" Tanya Imam masjid yang baru saja keluar dari masjid, bergegas memakai sandalnya. Para Makmum yang tadinya sudah agak jauh pun kembali berkumpul tak tahu harus berbuat apa.
"I-itu pak Imam. Mas Yudi." Beni tak sanggup menjelaskan.
Tiba-tiba suasana menjadi mencekam. Hawa dingin mulai merayapi pori-pori kulit mereka yang ada di sana, bulan yang tadinya bersinar kini menghilang Di telan awan hitam yang menggumpal di atas sana.
"Akh...!!!" Suara Yudi terdengar tercekat. Binatang
kalajengking pun satu persatu keluar dari mulutnya.
Kecoa-kecoa hitam sangat menjijikan keluar menyusul rombongan kalajengking yang berlarian di atas tubuh Yudi.
Mata Yudi mendelik ke atas hingga hanya warna putih bola matanya saja yang terlihat.
Semua mata yang melihat begitu kengerian, hingga tak sanggup mendekat apa lagi menolong Yudi.
Setelah rombongan hewan menjijikan itu keluar, tiba-tiba yudi menyeringai menakutkan dengan mulutnya yang masih bersimbah cairan mereh, dan tangannya bergerak seperti binantang melata merayap di atas tanah.
"Hahaha..., kalian semua akan mati! Satu persatu kalian akan mati! Haha...! Desa ini telah di KUTUK! Hahaha...!" Suara Yudi yang tiba-tiba mengerikan membuat semua menjadi panik. Mulutnya bergerak ke kanan dan ke kiri terlihat kaku, sambil terus mengeluarkan suara erangan mengerikan.
Beni beringsut mundur merasa ketakutan.
"Astagfirullahhalazim." Sang Imam masjid perlahan mendekat, lalu menyentuh kepala Yudi membaca sedikit ayat Alqur'an.
Setelah di bacakan, Yudi terlihat sedikit tenang.
"Siapa kamu? Mengapa kamu masuk ke dalam tubuh pria ini?" Tanya Sang Imam.
Semua warga menyimak dengan seksama sambil berdiri merapat.
Yudi nampak kembali menyeringai menakutkan.
"Hihi...! Hahaha...! Pria ini terkutuk! Aku akan
membuatnya mati sekarang juga! Kamu tidak akan bisa mencegahku! Hahaha...!" Jin yang merasuki tubuh itu berkata.
"Astagfirullahhalazim. Kesalah apa yang membuat kamu berambisi ingin m3m-bunuhnya?"
"Dia pernah melakukan hal keji kepada wanita baik hati. Dia menodai wanita itu! Aku tidak terima! Aku akan membuat pria ini m*ti mengenaskan! Hahaha...!" Yudi pun kembali bringas.
Dia bentur-benturkan kepalanya sendiri di tanah.
"Jangan! Mas Yudi! Jangan!" Sarini istri dari Yudi yang baru datang berlarian sambil menangis melihat keadaan suaminya yang sudah berlumuran cairan merah karena kepalanya yang terluka.
Beberapa warga pun berdatangan termasuk 3 kawan Yudi, yaitu Jaka, Romli, dan Heri.
Jaka terdiam melihat keadaan Yudi. Dia teringat kejadian 15 tahun yang lalu.
Pak Imam kembali membaca ayat Alqur'an.
"Percuma! Kamu membaca ayat-ayat itu. Pria ini akan tetap mati! Haha...!" Lengkingan tawa itu semakin menggema membuat bulu kuduk meremang sempurna. Semua merapatkan diri takut terkena amukan Yudi. Pak Imam tak hentinya membacakan ayat-ayat Alqur'an, walau ia merasa kesulitan.
Tiba-tiba Yudi berteriak kembali. "A...! Panas...! Panas...! Tolong aku! Panas sekali. Semua orang, tolong aku! Ambilkan aku air! Sarini, ambilkan aku air." Yudi yang tiba-tiba tersadar merasa tubuhnya kepanasan seperti berada di dalam kobaran api.
Sarini pun segera mengambil air dari sumur yang terletak tak jauh dari masjid.
"Ini, Mas." Sarini memberikan ember besar itu kepada suaminya.
Yudi segera menyiramkan air ke tubuhnya sendiri.
BYURR!!!
"Masih panas. Ambilkan lagi, ambilkan yang banyak, panas sekali." Air seember besar tak mampu meredam atau pun mengurangi hawa panas yang Yudi rasakan. Sarini yang kasihan berlari mengambil seember air dari timba yang lain. Sedangkan yang lainnya hanya menonton, tak berani mendekat.
Yudi pun menyiramkan kembali air ketubuhnya.
Hingga beberapa ember tetap tak memadamkan rasa panas di tubuhnya.
Tak selang beberapa lama, kulit Yudi tiba-tiba melepuh, kemudian menggembung seperti orang yang terkena luka bakar.
"Akkkhhh! Kulitku! Ahhkk! Kenapa ini!" Teriak Yudi kembali menatap seluruh tubuhnya menggembung lalu pecah mengeluarkan cairan kental berwarna putih pekat bercampur warna merah. Bau busuk pun menguar membuat semua yang ada di sana menutup hidung masing-masing.
"Ukh! Bau banget!" Ucap seluruh orang di sana.
"Astagfirullahhalazim." Pak Imam sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sarini mendekati Pak Imam. "Pak! Saya mohon, bantu suami saya pak." Sarini yang tidak tega melihat suaminya kesakitan hanya bisa menangis, ingin mendekat, namun takut suaminya membabi-buta seperti barusan.
"Sarini! Tolong aku. Panas sekali, Sar." Yudi
mengeluarkan air mata sambil mengipas-ngipas tubuhnya berusaha mendinginkan tubuhnya sendiri yang walau pun sudah basah kuyup. Dia pun teringat kembali kejadian masa lalu terhadap Seruni.
"Akkkhh!!!" D4g-ing-d4g-ing berwarna merah dari tubuh Yudi, perlahan mulai berjatuhan di tanah.
"Maaf, Seruni." Yudi akhirnya menyesali perbuatannya.
Namun... tidak lama... tubuhnya tak lagi bergerak.
Seketika Yudi wafat dengan mata yang membuka lebar melihat keatas. Semua warga terbelalak dengan kejadian itu.
"Ada-ada saja penyakit sekarang." Ucap salah seorang warga.
"Kayaknya dia terkena santet, Kang." Jawab yang lainnya.
"Iya, persis ilmu hitam."
"Apa mungkin ini pembalasan dari arwah nya si Yusuf atau arwahnya si Seruni, yang matinya tidak wajar." Cetus salah seoranv warga lainnya.
"Ya ampun... masa iya? Kan udah lama banget kejadiaannya."
"tapi, ciri-ciri meninggalnya Yudi, kan kepanasan."
Semua warga pun menjadi kepikiran.
"Sudah-sudah. Orang meninggal tidak baik masih di pergunjingkan. Sebaiknya kita urus mayat itu, dan panjatkan doa yang terbaik buat Almarhum." Pak Imam pun menimpali.
"MAS!" Sarini terisak di dekat tubuh suaminya.
"Mengapa nasibmu seperti ini, Mas." Sarini tanpa jijik sedikit pun mengumpulkan seluruh milik suaminya, sambil menangis tersedu-sedu.
Semua warga yang awalnya tidak berani mendekat,
kini mereka segera membantu Sarini. Jaka dan yang lainnya hanya bisa saling tatap.
Ketiganya memilih menjauh duluan.
"Jaka! Apa ini ajab dari perbuatan kita yang dulu?
Wafatnya Yudi itu persis seperti apa yang Seruni alami."
Ujar Romli.
"Beda lah! Seruni meninggal langsung jadi abu. Jangan ngada-ngada kamu, Romli!" Tegas Jaka yang ingin menyangkal kejadian itu.
"Tapi awalnya kan, Seruni setelah memb*k4r diri, seperti itu juga, dulu kejadiannya, Jak! Tapi kamu malah menambah bensin, hingga seluruh rumahnya ikut terbakar." Imbuh Heri.
"Kalian berdua ini, percaya sekali dengan ajab, dan karma. Aku bilang itu hanya cerita rakyat, yang ingin menakut-nakuti orang saja. Ahh...! Sudah-sudah! Kalian ini memang cemen! Yudi itu, meninggal karena dia punya penyakit, atau mungkin kena santet, bukan seperti apa yang kalian pikirkan. Sudah percaya sama aku, kita pasti baik-baik saja. Kecuali kalian punya penyakit seperti,Yudi. Ayo pulang!" Jaka pun meninggalkan kedua temannya yang masih dalam keadaan bingung.
"Gimana ini, Her? Jujur aku takut." Romli terlihat murung.
"Aku juga nggak tau. Semoga aja omongan Jaka benar. Sudah ah, jangan di pikirin terlalu dalam, biar hidup kita nggak penuh dengan ketakutan." Heri menyusul jaka.
Romli yang masih terpaku dengan kejadian Yudi, yang mirip dengan kejadian Seruni, menunduk. Ada rasa penyesalan yang teramat sangat.
Dia pun teringat lagi. Saat itu usianya masih labil.
"Ayolah gass. Lumayan bisa buat beli minuman sampe kita mabok. Haha!" Bujuk Jaka mempengaruhi ketiga temannya yang saat itu masih ragu supaya mau di ajak kerjasama.
"Tapi, Jak! Seruni itu wanita baik-baik lo. Dan dia nggak pernah menyakiti kita." Romli berkata.
"Halah...! Kamu ngapain mikirin begituan. Toh, si Seruni itu udah di anggap sampah oleh masyarakat desa. Jadi kita nggak salah, dan nggak akan terkena masalah melenyapkan sampah. Sudah... jangan banyak pikir, ayo kita eksekusi."
Jaka berjalan di depan. Romli yang tidak mau di anggap cemen pun akhirnya mengikuti teman-teman nya yang lain, walau hatinya ragu.
Romli tersadar dari lamunannya saat bahunya di tepuk. "Kamu kenapa. Bang. Saya lihat kok melamun." Beni yang hendak pulang sehabis menolong Sarini dan yang lainnya, merasa heran dengan Romli yang sejak tadi berdiri mematung.
"Ah, e-nggak kok. Aku hanya sedih melihat wafatnya Yudi, yang aneh itu." Jawab Romli gelagapan.
"Oh! Iya Bang, saya juga kasihan. Entah dosa apa yang dia perbuat, sehingga mendapat azab seperti itu." Beni pun merangkul pundak Romli mengajaknya berjalan pulang.
"Ayo Bang, kita pulang. Kita ganti baju dulu, nanti kita ikut bantu untuk pemakaman Bang Yudi. Kata Pak Imam, akan langsung di makamkan saja Almarhum Bang Yudi, soalnya tubuhnya sudah nggak utuh. Kasian Bang Yudi nya kalau di makamkan besok."
Romli yang arah rumahnya sama dengan Beni pun hanya bisa mengangguk. Walau hati masih rapuh karena kenangan masa lalu.
***
Empat warga desa termasuk Prapto, dan Karim sedang bekerja sama menggali liang lahat.
"Akhir-akhir ini, warga sering mengalami hal aneh, sampai kematian yang aneh juga. Saya jadi heran, sebenarnya ada apa? Dan mengapa desa kita yang tenang dan tentram bisa menjadi mencekam seperti ini." Ujar Rofik yang usianya sudah enam puluhan lebih itu.
"Apa ini ada kaitannya sama meninggalnya Ustad yusuf itu ya?" Cletuk Sobirin pemuda yang usianya masih sembilan belas tahunan, yang dia tahu ceritanya dari kedu orang tuanya yang dulu ikut menyaksikan kejadian itu.
"Kayaknya bener itu, Rin. Hem... jadi harus memberi tahu warga yang lain ini." Rofik berpikir sejenak.
Karim dan Prapto saling tatap.
"Mana mungkinlah, Embah Rofik. Kejadian itu sudah lama sekali, dan Ustad ca-bul itu pun memang pantas kan di hukum seperti itu, dia sendiri yang membuat kesalahan fatal. Dan hukuman itu sudah turun-temurun di desa kita, dan semua baik-baik saja." Mang Karim menyela.
"Betul! Nggak usah di sangkut-sangkutkan dengan masalah dulu. Yang dulu sudah lama berlalu." Prapto pun ikutan menyela.
Keempatnya kembali menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa suara.
Tiba-tiba angin dingin berhembus, suara ranting bergesekan dan daun-daun berjatuhan menerpa tubuh mereka. Suasana yang tadi nya biasa saja, kini berubah mencekam.
"Kok aku merinding ya, Embah. Tadi perasaan biasa saja." Ucap Sobirin mulai ketakutan.
"Halah... anak muda sama gituan aja takut. Gimana mau cepet dapat pasangan kamu, Rin." Karim tersenyum mengejek.
Yang lainnya pun ikut tersenyum, tiba-tiba...
Wush...!!!
Sekelebat bayangan hitam terlihat dari sudut mata mereka.
"Apa tuh!" Sobirin terkejut.
Semua yang sama-sama melihat terpaku.
Lalu munculah sosok tinggi besar dengan kepala
bertanduk berdiri di hadapan mereka dengan sorot mata merah yang menjulur keluar menata mereka.
Keempatnya seketika mematung sejenak. Lalu.
"HAAAA....!!!" Sobirin berbalik lalu mengambil langkah seribu kabur.
Ketiganya pun ikut menyusul Sobirin. "Jangan ikuti kami! Jangan... ganggu kami! Pergi...! Pergi...!" Rofik yang larinya tak secepat mereka ketakutan melihat tubuh tinggi hitam itu mengikuti dengan suara tawa yang menggelegar meruntuhkan pepohonan.
BRUAK!
BRUAK!
Dua pohon tumbang hampir mengenai mereka. Dan pepohonan lainnya terlihat juga porak poranda oleh amukan makhluk mengerikan itu.
"GEERRRRR...!!!" Terdengar suara erangan mengerikan dari makluk itu. Lalu melempar pohon besar ke arah Karim.
BRUUGGHH!
"Awas, Rim!" Teriak Prapto yang berada di belakang Karim. Mendengar seruan itu, Karim pun dengan sigap menghindar, hingga pohon itu jatuh tepat di hadapannya.
Karim dan Prapto membeku di tempat.
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Saat tersadar, mereka mengelus dada.
"Hah! Syukurlah." Ucap keduanya.
sampai akhirnya rombongan pembawa Jenazah tiba bersama warga.
Mereka bingung melihat keempat lelaki berlarian dengan wajah yang terlihat tegang, tersengal seperti sedang di kejar setan.
"Ada apa, Sobirin, Prapto, Karim, dan Embah? Kok kalian kayak orang habis di kejar jurig aja." Tanya Seno, yang berada di sebelah Pak Imam.
"Hosst!"
"Hosst!"
Keempatnya mencoba mengatur napas mereka yang tersengal. "Bukan Jurig lagi, tapi Gendruwo! Astaga... untung kami masih bisa selamat. Dua pohon besar di tumbangkan oleh Gendruwo itu." Karim menjelaskan, sambil menunjuk kebelakang tanpa menoleh.
Semua orang yang baru sampai pun melihat kedepan.
Semuanya heran dengan pernyataan Karim.
"Mana, Rim? Nggak ada yang aneh di depan." Ucap Seno lagi.
Keempatnya pun menoleh kebelakang. Lalu mereka saling tatap.
"Tapi, kita tadi beneran di kejar makhluk tinggi besar, dan hampir tewas tertimpa pohon besar itu." Kali ini Prapto yang menjelaskan. Namun saat melihat ke arah pohon di belakang mereka yang roboh, ternyata masih berdiri kokoh di tempatnya. Prapto menelan ludah kasar, tegang.
Sobirin dan Embah Rofik saling tatap heran. Perasaan tadi sangat nyata. Pikir mereka.
"Astagfirullahhalazim. Sudahlah... ayo kita cepat
makamkan Almarhum, keburu malam semakin larut."
Ucap Pak Imam, yang kemudian di ikuti oleh semuanya.
Sarini tak hentinya terisak masih belum bisa ikhlas dengan kepergian suaminya yang baru nikah empat bulan.
Sobirin yang awalnya ingin pulang pun ia
urungkan. Ah dari pada pulang sendirian mending bareng mereka saja pulangnya.
Pemakaman pun telah usai tanpa halangan apa pun lagi. Semuanya pulang bersama-sama. Prapto dan Karim masih tidak percaya dengan kejadian tadi yang ia rasa sangat nyata. Di periksa nya lagi pohon besar yang menjulang tinggi, yang hampir menimpa tuguh mereka tadi.
"Nggak ada tanda-tanda pohon itu bergerak, Prap."
"Iya, padahal tadi nyata sekali ya?" Keduanya mendongak keatas, lalu tiba-tiba.
Mata merah menyala pun nampak jelas di mata mereka. Keduanya lari terbirit-birit mengejar rombongan yang sudah agak jauh.
"HUAAAA!!!" Teriak keduanya ketakutan.
Sosok pria berpakaian serba hitam tersenyum mengerikan menatap mereka, lalu dia melangkah pergi dan hilang di kegelapan malam.