Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip
Dengan kepala yang masih terasa berdenyut, aku coba membuka mata. Ada rasa lega menyelimuti hati kala mendapati diri berada di kamar sendiri.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, mama masuk membawa nampan makanan di tangannya.
"Eh, princess mama udah bangun?" Suara mama lembut menyapaku. Nampan berisi makanan di letakkan di atas meja.
Princess mama? Aku mengulang laki kalimat itu dalam hati. Sudah lama sekali tak kudengar panggilan itu. Kusunggingkan senyum atas sapaan mama tadi.
"Gimana kepala Winda? Masih sakit?" tanya mama, lalu duduk di sampingku.
Aku mengangguk sebagai jawaban sambil memijit kepala.
"Mama bawa sarapan. Mama suapkan ya? Setelah makan baru makan obat." Mama membujuk lembut. Aku hampir lupa terkahir kali mama memberikan perhatian seperti ini. Jujur, sekarang ini aku malah merasa kikuk dengan perhatiannya ini. Dulu aku memang anak manja, tapi sekarang aku adalah anak yang liar.
Andai dulu. Ah, tidak. Aku tidak mau mengingat hal itu lagi. Hal yang membuatku begini. Aku ingin mengubur semua itu. Mengubur kenangan yang membuatku sakit sendiri bila mengingatnya.
"Nggak apa-apa, Ma. Nanti aja Winda makan." Aku tolak tawaran mama selembut yang aku bisa. Mama mengalah, menuruti kemauanku meski wajahnya tampak kecewa.
"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti Winda makan ya? Jangan kelamaan, nanti makanannya keburu dingin. Habis makan jangan lupa minum obat, setelah itu istrahat," ucap Mama sambil mengelus rambutku. Hatiku tersenyum dengan perhatiannya itu.
Setelah mama keluar kamar, aku bangun dan makan sarapan yang di bawa mama. Ada semangkuk bubur ayam kesukaanku, besarta segelaa susu.
Selesai makan kutelan obat yang di berikan dokter, lalu kembali melanjutkan tidur.
Semalam aku terjaga di rumah sakit. Mama dan papa ada di sisi menunggu aku sadar. Mama bilang aku di serang asma. Kekurangan oksigen akibat benturan di kepala menyebabkan tubuhku down dan pingsan. Memang begitulah kinerja tubuhku apabila tiba-tiba mengalami kekhawatiran yang berlebih.
Setelah mendapat pertolongan medis, barulah aku di bawa pulang. Aku bersyukur karna malam ini bisa bangun di dalam kamar sendiri dan merasa aman.
Jantung kembali berdebar hebat kala ingat kejadian menukutkan tadi malam. Perasaan takut yang berlibur itu nyaris membuatku trauma. Teman lelaki yang selama ini aku percaya dan nyaman berada di sisinya berubah sekelip mata di bawah pengaruh permen setan.
Mama bilang, dokter menyarankan aku agar istrahat selama seminggu penuh. Aku bersyukur karna sebenarnya aku belum mau menghadapi dunia luar. Sepanjang hari aku hanya mengurung diri di dalam kamar. Mama seolah memahami keadaanku, dia yang selalu membawakan makanan ke dalam kamarku
Sorenya mama bilang ada teman kuliahku datang ingin menjenguk. Sebelum meminta mama mengajaknya ke kamar, aku tanya dulu laki-laki atau perempuan, setelah mama bilang perempuan, barulah aku meminta mama mengajaknya ke kamarku.
Juliana. Teman satu fakultas, diantara temanku yang lain dialah yang paling dekat denganku. Jadinya pas melihat dia datang aku sedikit terharu.
"Babe, how are you?" tanyanya sambil menarik kursi di meja rias ke samping ranjang, lalu duduk di sana menghadap tepat padaku.
"Udah baikan. Thanks ya, udah datang," jawabku dengan senyum kecil.
"Oh my God! Kamu tau gak, Win? Pagi tadi satu kampus heboh membicarakan kamu."
Aku kaget mendengar berita yang di sampaikan Ana. Satu kampus? Atau Ana yang terlalu membesar-besarkan cerita?
"Heboh? Tentang apa?" Aku masih bersikap tenang, meski hati berdebar. Jujur, aku lebih suka dengan suasana kampus yang low profile. Karna aku tidak ingin orang tau bagaiman Winda di liat kampus dan Winda saat di kampus. Dikarenakan itu juga aku tidak begitu dekat dengan rekan-rekan kampus. Bagiku, teman di kampus tetaplah teman di kampus.
Kecuali Juliana.
"Sebenarnya, ada banyak versi yang aku dengar, sampai aku gak tau harus percaya yang mana. Jadi, aku memutuskan untuk mendengar bersimpuh saja."
"Memangnya apa yang kamu dengar?" tanyaku pelan. Ana bangun dari kursi dan pindah duduk di ranjangku. Wajahnya tampak ragu bercerita, tapi ada rasa penasaran juga ingin tahu.
"Oke, tapi kamu jangan marah aku ya?"
Aku mengangguk pelan.
"Jadi, yang aku ada dengar, kamu di manfaatkan oleh cowokmu. Ada lagi yang bilang, kalian ribut karna kamu selingkuh di belakang dia. Jadi dia emosi sampai berantem dengan selingkuhanmu itu. Trus, ada juga yang bilang, kalian sama-sama emosi dan saling menyakiti. Gila kan?"
Membulat mataku mendengar cerita Ana barusan, karna gosib yang beredar itu tidak ada satupun yang benar.
"So, mana yang benar?"
Ana coba mengorek lebih dalam karna aku masih diam.
Aku pandang dia dalam-dalam dan batinku berdebat. Haruskah aku ceritakan padanya? Pantaskah aku berbagi cerita dengannya?
"Win. Kok malah bengong sih?" Ana semakin mendesak.
"Oke. Aku akan cerita yang sebenarnya. Jadi tadi malam itu, cowokku ada memakan sesuatu." Aku jeda sesat. Aku harap dia paham maksudku tanpa aku terangkan dengan terperinci apa yang di konsumsi Adri malam tadi.
"Oke." Ana mengangguk seolah mengerti.
"Jadi saat kami bertengkar, dia main tangan dan memukulku. Aku rasa penyebabnya pil itu. Karna selama ini dia gak pernah kasar atau pun sampai main tangan," ujarku menceritakan secara gambaran saja pada Ana. Setidaknya dia tau yang terjadi sebenarnya berbeda dari gosip yang beredar.
"Oh My God! Aku rasa dia minum Ex."
Keningku berkerut mendengar dugaan Ana.
"Pil Ex ini akan melebih-lebihkan apa yang di rasa si pemakai. Kalau dia lagi seneng, maka rasa senengnya itu Doble. Tapi kalau marah, jelas marahnya juga doble, makanya cowokmu ngamuk. Singkatnya pil itu bisa melebih-lebihkan perasaan si pemakai."
Berarti benar dugaanku, perubahan sikap Adri malam itu di sebabkan permen neraka yang di telannya.
"Tapi, pil itu susah di dapat dan harganya sangat mahal. Dan setahuku, orang yang mengkonsumsi pil Ex itu karna ingin berhubungan sex dalam durasi yang lama. Seperti benar-benar ingin melipat gandakan kesenangan gitu." Ana kembali melanjutkan tentang jenis permen neraka itu. Aku jadi bertanya-tanya sendiri, dari mana dia tahu begitu detail tentang pil itu, tapi tanya itu hanya tercetus di hati saja.
"Benar. Masuk akal juga apa yang kamu katakan. Malam itu, dia memang coba bermesraan denganku, tapi aku gak mau dan menolak. Mungkin di sebabkan itu dia marah."
"So, artinya kalian ribut karna kamu gak mau bermesraan dengan dia? Bukan karna kamu selingkuh?"
Pertanyaan Ana secara tidak lansung menuduhku selingkuh. Namun, melihat riak wajahku yang agak berbeda dia merakat lagi ucapannya.
"Maksud aku, cerita kamu selingkuh itu hanya hanya gosib aja kan?"
Aku terperangkap dengan pertanyaannya. Jujur, malam itu aku memang telah selingkuh dari Adri karna memuaskan nafsu dengan Adam. Namun aku rasa keributan antara aku dan Adri malam itu berawal dari penolakanku untuk bermesraan dengannya, bukan karna masalah selingkuh.
"Ya, aku gak mau, tapi dia terus memaksa. Kami ribut, dia mulai emosi dan mulai main tangan."
Ana mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Kemudian mengambil tanganku dan menggenggammya.
"Yang sabar ya, Win. Aku tahu, kenapa orang-orang menggosipkan kamu sampai begitu. Karna kamu cantik, Winda. Orang cantik memang selalu jadi buah bibir. Banyak yang gak suka dan cemburu denganmu. Kamu udah di timpa musibah seperti ini aja masih ada orang sebar cerita jelek tentang kamu."
"Makasih ya, Ana, udah peduli dan mau datang menjengukku."
"Jangan ngomong gitu. Kita kan best friend. Selama ini kamu udah baik padaku. Aku harap berita cowokmu di tangkap polisi bukan sekedar gosip. Cowok seperti itu memang pantas di bui atau di gantung pun gak apa-apa."
Aku sendiri masih bimbang dengan perasaanku terhadap Adri. Masih mau kah aku bersamanya, meski trauma masih ada dengan perlakuan kasarnya malam itu?
"Win, sorry kalau kata kataku ini menyinggung hatimu. Tapi, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik darinya."
Kata-kata Ana mengingatkan aku pada Adam. Dia juga pernah bilang aku layak mendapatkan yang lebih baik dari Adri. Tapi apa kah aku benar-benar layak mendapatkan semua itu?
Selama ini, Adri selalu ada untukku. Dia memberikanku perhatian yang begitu besar. Dia selalu menghujamiku dengan kata sayang dan rindu. Dialah tempat aku bergantung mencari kesenangan ketika ada tekanan di rumah menyiksa pikiran. Haruskah aku menyimpan dendam padanya hanya karna satu kesalahannya malam itu?
"Boleh gak kalau kita bicara hal lain aja. Aku gak mau mengungkit kejadian malam itu," pintaku. Kepala ini terasa berdenyut memikirkan Adri. Jujur, aku belum bisa membuat keputusan kemana arah tujuan hubunganku dengan Adri. Yang jelas untuk sekarang aku ingin sendiri dulu.
"Oke, no problem. Lagian ada cerita yang lebih menarik yang ingin kuberitahukan," ucap Ana ceria.
Aku tersenyum dengan perubahan topik ini. Aku mengangguk, mempersilahkan Ana melanjutkan.
"Oke, aku singkat aja ceritanya ya? Jadi siang tadi, Mrs Lim berpamitan. Dia akan cuti dan di gantikan oleh oleh Lecturer baru. Gila, dosen baru kita ini ganteng banget. Kayak opa-opa Korea gitu. Bikin greget, tau!" Ana sampai menjerit histeris. Begitulah Juliana, kalau sudah membicarakan topik cowok, dia seperti ABG labil, begitu antusias. Meski begitu, An ininorangnya cerewet. Tidak sembarangan cowok bisa mencapai standar kraterianya. Jadi kalau dia sampai histeris begini, aku rasa dosen itu memang tampan.
"Sumpah ya, Win. Aku dan anak-anak lain benar-benar gemas waktu Mrs Lim memperlihatkan foto Lecturer yang akan menggantikannya. Sampai-sampai biodatanya aku lupa membaca." Ana kembali melanjutkan dan tertawa sendiri. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya sebahagia ini.
"Bagus lah. Setelah ini gak ada lagi dong ngantuk dalam kelas programming?" Sengaja aku menggodanya.
"Aku berharap mimpiku jadi kenyataan, Beb. Sudah lama aku menginginkan dosen muda dan tampan. Lecturer ini lah pengeran berkuda yang selama ini aku tunggu-tunggu. Nanti di kelas aku pura-pura bodoh lah. Seenggaknya aku punya alasan untuk bertemu dia selalu." Ana bahkan sudah merencanakan apa yang akan di lakukannya untuk mendekati dosen pengganti itu.
"Benar-benar nekat kamu ya?" candaku lagi.
"Sumpah, Beb. Aku merasa benar-benar udah jatuh cinta pada pandangan pertama,," jawab Ana. Matanya kulihat bercahaya, sebegitu gembira.
Aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri. Pernahkah mataku bercahaya seperti itu saat aku bersama Adri?