Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Diam-diam Demi Mencapai Impian
"Aku latihan jam 4, jadi aku harus berangkat saat Adzan berkumandang," gumamku pelan sambil menyimpan bola yang tadi kupegang.
"Apa aku berangkat sekarang!! Tapi ini masih jam setengah tiga?!" gumamku sambil terus berpikir.
"Hmm... Apa aku ke rumah Andika atau Azzam dulu ya, sambil bawa sepatu bola?!" batinku sambil memandangi sepatu bolaku.
"Oke... Aku ke sana aja!!" seruku pelan.
"Krek!!" suara pintu kamarku yang kubuka.
"Apa ibu masih di kamar?!" batinku sambil terus mengawasi kamar ibu.
Aku berjalan pelan keluar kamar. Sampai di depan kamar ibu, aku membuka pintu sedikit dan melihat ibu sedang tidur.
"Bagus, ibu lagi tidur!!" batinku sambil berjalan meninggalkan kamar ibu.
Aku berjalan pelan ke pintu depan. Sesampainya di pintu depan aku langsung memakai sepatu bolaku.
"Cepet... Cepet!!" gumamku sambil memakai sepatunya.
"Selesai juga," gumamku.
Setelah selesai memakai sepatu, aku langsung pergi ke rumah Azzam.
"Semoga Azzam ada di rumah," gumamku sambil berjalan.
Matahari masih sangat panas, angin sepoi-sepoi mulai ada, awan mulai bergerak karena angin. Aku terus berjalan menuju rumah Azzam, sesampainya di sana.
"Azzam!!" panggilku dari luar rumah Azzam.
"Iya!!" sahut Azzam dari dalam rumah.
Azzam lalu keluar.
"Ada apa, Van?!" tanya Azzam.
"Mau main, sekalian berangkat latihan bersama," ujarku.
"Latihan?! Ini kan masih jam setengah tiga," seru Azzam.
"Iya, makannya aku kesini buat main dulu!!" ujarku sambil mendekat ke Azzam.
"Yaudah, masuk aja!!" seru Azzam sambil berjalan masuk ke rumahnya.
Aku melepaskan sepatu bolaku dan langsung masuk ke dalam rumah Azzam.
"Duduk, Van!!" seru Azzam sambil mengarahkanku untuk duduk di sofa.
Aku melihat sekeliling rumah Azzam, lantai keramik yang dingin, sofa, dan ada televisi yang besar di ruang tamu. Berbeda dengan rumahku yang sederhana, lantai dari kayu, hanya memakai kursi kayu, dan televisi juga yang produksi tahun 2000an.
"Mau minum apa, Van?!" tanya Azzam.
"Nggak usah, Zam!!" jawabku yang agak tidak enak.
Aku menolak bukan karena tidak haus, tapi karena aku tidak enak jika harus minta minum di rumah orang lain.
"Oh, oke. Jadi, kita mau main apa nih?!" tanya Azzam sambil duduk di sampingku.
"Terserah," jawabku singkat.
"Gimana kalau kita ke rumah Andika, dia kan punya konsol game?!" usul Azzam.
"Boleh," jawabku singkat.
"Oke, aku ambil sepatu bolaku dulu biar kita bisa langsung berangkat setelah main," ujar Azzam sebelum pergi ke kamar.
Aku lalu keluar dan memakai sepatuku. Setelah beberapa saat akhirnya Azzam keluar setelah memakai sepatu bolanya.
"Maaf, lama ya?!" tanya Azzam yang merasa dia terlalu lama memakai sepatunya.
"Nggak kok," jawabku.
"Syukur deh, kalau gitu ayo berangkat ke rumah Andika," ujar Azzam sebelum berangkat.
"Oke," sahutku.
Aku dan Azzam lalu berangkat ke rumah Andika. Perjalanan ke rumah Andika terasa agak panjang, karena rumah Andika agak jauh dari rumahku dan Azzam.
"Zam, udah pernah ke rumah Andika belum?!" tanyaku sambil terus berjalan.
"Udah, emangnya kamu belum?!" tanya Azzam balik.
"Belum. Kalau kamu udah pernah kesana ya pasti tau jalannya kan?!" tanyaku lagi ke Azzam.
"Ya pastinya," sahut Azzam.
Aku dan Azzam terus berjalan ke rumah Andika. Sesampainya di sana, aku agak kaget saat melihat rumah Andika.
"Apa... Ini rumah Andika?!" tanyaku spontan.
"Iya," sahut Azzam.
Aku terkejut saat melihat rumah Andika dari luar. Rumah Andika memiliki dua lantai, dan di garasi rumahnya terlihat ada beberapa mobil dan motor yang sangat bagus.
"Astaga... Ternyata temanku yang kadang pinter kadang nggak, itu anak orang kaya?!" batinku yang kagum melihat rumah Andika yang megah.
"Andika!!" panggil Azzam.
"Iya," sahut Andika dari dalam rumah.
Andika lalu keluar dari dalam rumahnya.
"Eh, kalian. Masuk!!" seru Andika yang menyuruh kami untuk masuk.
"Iya," sahutku.
Kami lalu masuk ke dalam rumah Andika. Tapi pertama-tama yang kami lakukan sebelum masuk adalah melepaskan sepatu bola yang kami pakai.
Setelah melepaskan sepatu, aku dan Azzam langsung masuk ke dalam rumah Andika.
Di dalam aku terkejut lagi karena rumahnya memiliki AC, dan juga dia memiliki seorang asisten rumah tangga.
"Langsung ke kamarku aja ya," seru Andika.
"Iya," jawab Azzam.
Aku dan Azzam lalu masuk ke kamar Andika, di dalam kamarnya berkilau karena lampu RGB yah terpajang, ada televisi besar di dalam kamarnya, dan dia juga memiliki konsol game.
"Omong-omong, ada apa nih kalian kesini?!" tanya Andika.
"Kita kesini sebenarnya mau ajak kamu berangkat latihan bareng, tapi karena masih lama jadinya kita mau main!!" jawab Azzam.
"Oke, mau main konsol game nggak?!" tanya Andika lagi.
"Kalau kamu izinin," sahutku pelan.
"Pasti dong," sahut Andika.
Aku, Azzam, dan Andika lalu bermain. Kami bermain dengan bahagia dan sangat senang, karena keasyikan bermain sampai-sampai lupa waktu.
"Eh, ini jam berapa?!" tanyaku saat bermain.
"Tunggu... Aduh, udah jam 15.40!!" ujar Andika.
"Aduh, yaudah ayo kita latihan. Kalau nggak berangkat sekarang pasti telat," sahut Azzam.
"Oke, aku ambil sepatu bolaku dulu," ujar Andika.
"Oke," sahutku pelan.
Aku dan Azzam lalu keluar. Kami menunggu Andika untuk memakai sepatu bolanya dan juga saring tangan kipernya. Setelah beberapa saat, akhirnya Andika keluar.
"Yuk berangkat," ujar Andika sebelum pergi.
"Oke," jawabku dan Azzam secara bersamaan.
Aku, Azzam, dan Andika lalu berangkat ke lapangan untuk latihan. Singkat cerita, setibanya di sana.
"Woi!! Oper!!" teriak Teo yang sedang berlatih.
“Liat tuh, pemain kesayangan pelatih baru nyampe. Jangan lupa digelar karpet merahnya!!" ejek Egy yang melihatku, Andika, dan Azzam yang baru datang.
"Egy, jangan ejek adek kelas kayak gitu!!" tegur Pak Slamet, selaku pelatih sepak bola kami.
"Iya, Egy jangan kek gitu. Mereka masih kecil nanti nangis loh!!" ujar Alfian yang mendengar.
"Ternyata kakak kelas kayak gitu ya?!" tanyaku pelan ke Azzam dan Andika.
"Nggak semua kok," jawab Azzam.
"Prit!!! suara peluit Pak Slamet.
"Semuanya kumpul di sini!!" teriak Pak Slamet.
Aku dan yang lain langsung mendekat ke Pak Slamet.
"Semuanya, karena sudah lengkap kita akan langsung latihan. Latihan di hari pertama ini adalah latihan passing atau mengumpan!!" seru Pak Slamet memberi komando.
"Dan, Khusus untuk Ivan. Kamu akan latihan shooting ya?!" seru Pak Slamet.
"Siap Pak!!" jawabku.
"Semuanya bisa langsung dimulai," teriak Pak Slamet.
"Andika!!" panggil Pak Slamet.
"Iya Pak," sahut Andika.
"Ada apa Pak?!" tanya Andika.
"Kamu latihan nepis dan nangkep bola yang ditendang Ivan ya?!" seru Pak Slamet.
"Baik," jawab Andika.
"Ayo, Van!!" seru Andika.
"Oke," sahutku.
Aku dan Andika mulai latihan. Aku mulai menendang dengan sangat kuat, bola melesat tepat ke arah wajah Andika, beruntung Andika bisa menghalau bola itu.
"Sengaja ya?!" ujar Andika sebelum melemparkan bolanya.
"Maaf, nggak sengaja!!" jawabku sambil menerima bola.
Aku menendang lagi. Kaki kananku berayun cepat, mataku lurus melihat sudut kosong di gawang. Dan saat aku mulai menendang, yang tadinya aku inginkan adalah menendang menggunakan punggung kakiku, malah menggunakan bagian dalam kaki, yang membuat bola awalnya lurus malah berbelok ke sudut kanan atas.
"Yes, gol!!" batinku saat melihat bola itu masuk.
"Hah? Kok bisa?!" ujar Andika, yang melihat golku itu. Dia hanya bisa berdiri diam bagaikan patung saat bola datang.
Sementara itu terlihat Pak Slamet yang tadi melihat tendanganku tadi.
"Bagus... Tidak salah sekolah menempatkannya sebagai striker!!" gumam Pak Slamet.
Aku terus berlatih bersama yang lainnya, sampai Pak Slamet meniup peluitnya.
"Prit!!" suara peluit Pak Slamet.
"Semuanya kumpul!!" teriak Pak Slamet.
"Latihan hari ini selesai, kalian bisa pulang!!" seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" jawab semua.
Aku lalu berjalan pulang ke rumah. Di perjalanan aku takut ibu akan tahu kalau aku bermain bola.
"Kalau ibu tahu, pasti aku dimarahi lagi!!" batinku cemas sambil melihat bajuku yang agak kotor karena latihan tadi.
Sesampainya di rumah, aku langsung melepas sepatu bolaku dan berjalan pelan ke kamar mandi untuk mandi.
"Semoga ibu masih tidur!!" batinku sambil berharap.
Aku berjalan pelan, berharap tidak ada suara langkah kakiku di lantai yang terbuat dari kayu ini. Langkah demi langkah aku lewati, sampai akhirnya aku sampai di kamar mandi. Begitu sampai aku langsung masuk dan mulai mandi.
"Sepertinya ibu nggak ada di rumah," batinku saat mandi.
Seusai mandi, aku kembali ke depan rumah untuk mengambil sepatu bolaku agar bisa kusimpan di dalam kamarku.
"Aman," batinku saat mengambil sepatu bola.
Setelah menyimpan sepatu, aku lalu masuk kamar untuk langsung tidur walaupun sekarang masih jam 18.28.
"Langsung tidur, agar nggak dicurigai ibu!!" batinku sebelum menutup pintu kamarku.
Aku langsung tidur, tanpa makan malam, dan tanpa belajar untuk besok. Aku tertidur pulas dengan cepat.
Ivan tertidur pulas, sementara itu ibunya yang baru pulang dari warung.
"Krek!!" suara pintu kamar Ivan terbuka.
"Udah pulang, tapi Ivan dari mana?!" gumam Ibu Ivan saat melihat anaknya yang sudah tertidur pulas.
Setelah mengecek Ivan, ibu Ivan langsung memasak untuk dirinya sendiri karena Ivan tertidur. Jadi, apakah besok Ivan bisa latihan sepak bola lagi dengan lancar?!
Bersambung...