NovelToon NovelToon
Melahirkan Di Rumah Mertua

Melahirkan Di Rumah Mertua

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:605.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Evi Listriani

Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.

Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Bilang Aku Orang Miskin

#Melahirkan_di_Rumah_Mertua

#Part5

Tak mau menjadi anak durhaka, itu alasan Bang Rafi untuk memaksaku tetap bertahan di rumah Ibu. Tapi, dia tidak takut menjadi suami dzolim.

"Ibu sayang sekali sama Marisa, Ning," ujar Bang Rafi.

Kuakui Ibu memang begitu perhatian pada putri kami, Marisa. Semua kebutuhannya Ibu yang menyediakan. Tapi, sebagai mertua dan sesama perempuan Ibu tak punya empati, tak punya hati.

Aku meminta Bang Rafi memangil tukang urut. Untuk mengurangi sakitku. Kebiasaan di kampungku, Ibu yang melahirkan itu diurut paraji (dukun beranak) agar otot dan syaraf yang tegang bisa kembali rileks.

Ibu mengizinkan karena tak punya pilihan, dia bosan melihatku hampir seharian di tempat tidur karena meriang, badanku panas.

Jam dinding besar di rumah Ibu baru saja berdentang enam kali saat seorang wanita paruh baya datang bersama Bang Rafi. Postur tubuhnya mirip pemeran Atun dalam film Si Doel. Wajahnya manis dengan senyuman hangat yang menghiasi.

Kebaya kuning bermotif bunga-bunga, serasi dengan kain sarung yang dipakainya. Kerudung panjang model pasmina jadul melekat menutupi rambut perempuan yang memiliki tahi lalat di kening itu.

Marisa kususui hingga terlelap, dan kutitipkan pada Ibu. Aku mulai bersiap dengan memakai sarung. Urusan urut mengurut biasanya memerlukan waktu yang cukup lama.

Mak Piyah, begitu ia menyebut dirinya. Mulai memijatku dari bagian punggung, kepala, tangan hingga kaki.

"Anak pertama ya, Neng?" tanyanya.

"Ya. Saya Ayuning, Mak. Panggil saja Ning," jelasku.

Selama melakukan pekerjaannya, Mak Piyah bercerita tentang dirinya yang telah belajar pijat urut sejak masih gadis, Ibu Mak Piyah dulu berprofesi sebagai dukun beranak juga.

"Habis melahirkan itu, gak boleh kerja berat dulu Ning. Ngomong aja gak boleh kenceng-kenceng. Di luar kelihatan sehat, nah dalamnya kan masih luka," tuturnya

Aku membatin. Kalau saja bisa, tentu aku memilih diam dan menjadi ratu pasca persalinan ini. Tapi, siapa yang bersedia melayaniku? Aku tak makan jika tidak mengambil sendiri. Tak ada pakaian bersih jika tak kucuci, dan Marisaku tentu akan kehabisan popok dan pernel jika aku tak mencucinya segera setelah dia pipis atau pup. Senangnya jika bisa pakai popok sekali pakai, tapi Ibu tak mengizinkan.

"Perutnya Ning kembung, Mak. Mules kaya masuk angin. Terus sakit sampai bikin merinding. Ning Meriang," keluhku. Aku seperti sedang bicara dengan Mamah. Pijatan lembut Mak Piyah membuat hati dan tubuhku terasa nyaman.

"Peranakannya masih bengkak itu, Ning. Nanti Mak bikinin godogan daun sembung sama daun sirih, biar lukanya cepet kering," imbuhnya.

Kata Mak Piyah, sekarang dia jarang sekali menangani persalinan. Sudah ada bidan desa yang lebih profesional dengan ilmu kesehatan modern. Tapi, Mak Piyah tetap dipanggil orang-orang untuk mengurut di hari ketiga, ketujuh, lima belas, tiga puluh dan keempat puluh, pasca melahirkan.

"Sudah berapa hari kamu lahiran, Ning?" tanya Mak Piyah.

"Mau dua minggu," jawabku.

"Ko baru diurut?" selidik Mak Piyah. "Ini peranakannya juga masih bengkak, belum sembuh kaya yang baru lahiran tiga hari," tutur Mak Piyah kala dia mengurut bagian perutku.

"Ning belum tahu, yang biasa ngurut di sini, Mak, gak kenal." Aku beralasan. Tak mau bercerita terlalu banyak, biar bagaimanapun nama baik keluarga Bang Rafi harus aku jaga.

"Gimana rasanya lahiran di rumah mertua, Seneng ya? kalau Mak gak mau, takut. Lebih enak lahiran di rumah orang tua atau di rumah sendiri. Itu pasti karena Bu Sukma sayang banget ya sama kamu?" terka Mak Piyah.

"Hehe ... " Aku hanya tertawa hambar. "Rumah Mamah Ning jauh Mak, di kampung. Kasihan Bang Rafi nanti susah kalau mau ketemu anaknya," jawabku.

Aku jujur soal jawabanku itu. Aku kasihan sama Bang Rafi kalau harus bolak-balik untuk menjenguk kami. Tiga jam perjalanan dengan medan terjal bukanlah sesuatu yang mudah dilalui. Aku juga berpikir tentang kondisi di rumah Mamah. Rumah berdinding bilik dengan kamar mandi di luar. Juga ruang kamar yang terbatas, kasihan Wening adikku, pasti gak kebagian kamar kalau aku tinggal di rumah Mamah. Walaupun aku yakin, di sana Mamah akan merawatku sepenuh hati.

Ada rasa sesal saat aku mengingat kembali nasihat Mamah dulu. Mamah kurang setuju aku menikah dengan Bang Rafi. Usia kami yang seumuran, gaya hidup Bang Rafi yang terlalu mementingkan penampilan luar, juga karena Bu Sukma, Ibu Bang Rafi yang dinilai Mamah sangat arogan. Sekali pandang saja, orang sudah dapat menebak bahwa Ibu memiliki watak yang keras. Urat di keningnya menonjol, tatapan mata tajam dan bibirnya tak pernah simetris jika tersenyum.

Menurut Mamah, aku akan lebih bahagia jika menikah dengan Bang Hendra putra sahabat Mamah yang terang-terangan menyatakan suka padaku. Tapi, aku terlanjur cinta pada Bang Rafi. Aku terlalu percaya diri jika cinta mampu membuatku menerima segalanya tentang dia, termasuk Ibunya.

"Ning, malah ngelamun." Tepukan Mak Piyah di pahaku membuatku kembali ke alam nyata. Menyesal memang tiada guna.

Hampir dua jam prosesi pijat urut itu berlangsung. Rasanya ringan. Sakit kepala dan pegal di seluruh tubuh tak lagi kurasakan walaupun seluruh badan terasa lengket dengan minyak kelapa yang dibalurkan Mak Piyah ke seluruh tubuhku.

"Terima kasih ya, Mak," ucapku tulus.

"Sama-sama, Ning. Nanti air godogan sembung dan sirihnya Mak suruh anak Mak antar ke sini ya, harus di minum!" ucapnya dengan tatapan seolah mengancam.

"Siap!" Aku mengangkat ibu jari tanda menyanggupi.

Aku menyelipkan amplop yang telah kusiapkan saat kami bersalaman. Mak Piyah berterima kasih dan pamit pulang.

Kain yang kupakai basah, ASIku menetes. Kata orang, itu pertanda kalau bayinya lapar. Aku kembali mengenakan pakaian. Biarlah lengket-lengket begini sampai nanti siang, pesan Mak Piyah aku gak boleh langsung mandi setelah diurut.

Aku menyusul Ibu yang tengah mengasuh Marisa di halaman. Dia terlihat sedang mengobrol dengan sesorang.

"Si Ning itu orang miskin Tin, beruntung saya ajak di sini. Kalau ngelahirin di rumah orang tuanya, bisa-bisa gak makan dia!"

"Astagfirulloh ... Ibu ...."

1
cookie_23
Heh abis lahiran makan nasi garam itu yang kau bilang makan, mending di rumah orang tua sendiri walaupun miskin pasti akan dicarikan untuk anak tercinta
Lilis Yuliningsih
Mengapa sih jadi ada selingkuh ? lebih baik sudah saja sampai disini buat keluarga mereka samawa karena Ning bisa membuat Rafi jadi lebih baik.... aur selingkuh ,aut pelakor🏃🏃🏃🏃
🔵✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ ⏤͟͟͞RAsthee
wah ini ga di lanjut lagi?
Olive Livi
Dih org di tumah lo juga malah makannya mi mulu, sehat lo.. buat apa kaya tapi pelit
Olive Livi
Amit amit ya allah, mertuanya minta di ruqyah
Adi Ty
uajsisi
Adi Ty
apap
Nova Hasibuan
lanjutannya mana
Nova Hasibuan
bagus
Nova Hasibuan
ok
SNF
tuhkan bpknya pasti tau apa yg lagi terjadi
Sri Wahyuni
ia emang repot klo ngikutin ortu jadul.
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
Mawar
kok gak ada lanjutannya kak?
Indah Taa
sama persis yg aku alami, bahkan aku pipis/bab/mandi dibantu sama suami saja dimarahi ibu mertua.
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang
Indra Fiantikara
haduuuu udah semangat2 bc gantung pas seru lagi,thor semangat up dong😊
elisabeth sembiring
seru kayaknya
Yati Bae
othoure orangjawa ya kok adat melahirkan sama kaya di kampungku sama persis klo habis lahiran duduk di awu anget bungkus daun
Retno Ayu Puspitasari
kelanjutan nya mana thor
Nelli Susilawati
lanjjoit kk
Sulastri
lanjut kan
N@t@ D€ ©o©o: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya

"Extraordinary Husband (Suami Yang Luar Biasa)"

thanks 🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!