Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang baru
Ibrar baru saja turun dari gedung MB. Dia hendak berkeliling melihat tenant. Ponselnya berdering. Ada nama Arden di sana.
"Ya, Arden."
"Aku akan ke gedung MB. Ada perlu."
"Aku ada di bawah. Di area city walk. Jika penting, aku akan mendatangimu," ujar Ibrar.
"Tidak perlu. Lebih baik kita bertemu di outlet depan.
"Baiklah Arden. Sebentar lagi aku akan kesana. Aku masih di depan Lengkuas resto."
"Oke."
Ibrar melihat ke sekeliling. Mencoba mengamati secara keseluruhan area city walk ini. Tidak perlu menunggu lama, Ibrar muncul di depan mereka. Awalnya Ibrar menganggap kedatangan Arden dan Yuta di sampingnya biasa saja. Namun saat Ibrar melihat seseorang di samping Arden, kening Ibrar mengerut.
Siapa pria itu? Aku merasa belum mengenalnya. Ibrar mendekat.
"Ada apa mencariku?" tanya Ibrar. Pria di samping Arden ikut menoleh ke arah Ibrar yang bertanya. Betapa terkejutnya Ibrar saat pria itu menoleh.
Eros! Kenapa dia berada di sini bersama Arden?
Ibrar masih terpaku menatap sosok Eros. Sepertinya pria itu pun juga sedang melihat Ibrar dengan rasa terkejut.
"Duduklah dulu, Brar," pinta Arden. Ibrar menarik kursi dan duduk. Manik matanya tak bisa lepas dari Eros.
"Mungkin Yuta sudah tahu, kalau manajer market akan ganti. Namun aku rasa kamu belum tahu. Jadi akan aku perkenalkan padamu ..."
"Dia? Manajer market yang baru?" serobot Ibrar sambil menunjuk pada Eros dengan dagunya.
"Ya. Dia yang menggantikan manajer lama." Arden memberitahu.
"Ibrar." Ibrar mengulurkan tangan. Eros pun menerima uluran tangan Ibrar. Mereka pun berjabat tangan. Mereka pun berbincang. Sesekali Ibrar melirik ke arah Eros.
Ai. Kamu akan sering melihat pria ini. Pastikan hatimu kuat. Takdir bukannya menjauhkan kalian, tapi justru mendekatkan kalian.
Ibrar hendak mengetik pesan untuk memberitahu Aira, bahwa Eros berada di sini. Pria ini akan menjadi manajer market. Namun jari-jari Ibrar terhenti. Dia tidak tahu respon apa yang akan dia terima saat memberitahu wanita itu.
Jari jemari Ibrar akhirnya memilih mengetik pesan untuk Aira. "Ai. Eros ada di sini. Dia akan menjadi manajer market. Semoga kamu baik-baik saja."
Aira melongok keluar jendela saat seseorang melintas di depan ruangan HRD. Kening wanita ini berkerut. Karena dia merasa ada yang janggal barusan. Kepalanya menggeleng, tidak mungkin. Lalu Aira kembali mengerjakan pekerjaannya.
Telepon kantor berdering. Aira yang kebetulan ada di samping pesawat telepon segera mengangkatnya.
"Ya. Aira di sini. Mbak Ghea enggak ada. Masuk siang. Baik." Rupanya telepon dari bagian personalia. Aira bergegas menuju ke sana. Karena Pak Aiden tengah menunggu.
Ada apa gerangan? Pasti itu hal yang penting.
Langkah kaki Aira terhenti di pintu. Kemudian jarinya mengetuk. Tok! tok! Ada suara dari dalam yang mempersilakan masuk. Saat pintu di buka, wajah pertama muncul adalah milik Yeri. Gadis itu melihat ke arah Aira dengan wajah ingin mengatakan sesuatu. Namun Aira tidak harus mengindahkannya. Di dalam ruangan ada pak Arden. Dia tidak harus toleh kanan kiri.
Aira menggerakkan kakinya melangkah masuk. Saat dia sudah berjalan menjauh dari pintu, sofa di dalam ruangan personalia terlihat. Benar. Di sana ada pak Arden, pak Yuta, Ibrar dan ... seseorang. Ada juga staff bagian lain yang ikut di panggil.
"Kamu sudah datang, Ai," ujar pak Arden. Yuta dan Ibrar ikut menoleh ke arah Aira.
"Ya, Pak," jawab Aira. Bersamaan dengan jawaban Aira, seseorang di sofa juga ikut menoleh. Deg! Bola mata Aira membulat. Kemudian segera mengerjap demi menutupi keterkejutannya. Disana. Duduk seorang pria yang sangat di kenalnya. Eros. Pria itu tengah duduk bergabung dengan para petinggi mall ini.
Yeri yang sejak tadi gelisah kini semakin tidak tenang. Dia yang sudah ingin memberitahu Aira lewat lisan tidak bisa diam. Yeri sebenarnya sudah memberitahu Aira lewat pesan ponsel. Namun sepertinya Aira belum membuka pesan dari Yeri.
Aira menelan ludah.
"Duduklah Ai," pinta pak Yuta. Aira mengangguk. Bola mata Eros terus saja memperhatikan mantan istrinya. Hingga Aira sampai di sofa. Ibrar juga menyaksikan itu. Dia tak henti-hentinya mengamati Eros yang terus saja melihat Aira. Ibrar gelisah.
Bisa di pastikan saat ini Aira tidak baik-baik saja. Wanita ini hanya berpura-pura. Mereka semua tidak sadar bahwa pria ini adalah mantan suaminya.
Yeri melihat Aira dengan cemas. Di kursinya dia terus saja gelisah. Membayangkan perasaan Aira saat menemukan wajah mantan suaminya yang menjadi pengkhianat itu berada di sini.
Aira mampu menyembunyikan apa yang di rasakannya. Buktinya dia bisa melakukan percakapan dengan baik meskipun berusaha menghindari tatapan langsung dengan pria itu. Ibrar membaca itu.
Wanita ini akhirnya keluar dari ruangan personalia setelah berbincang sekitar setengah jam di sana dengan beberapa staff. Rupanya Eros sedang mengejar Aira. Dia menunggu wanita itu sendirian.
"Lama tidak jumpa, Ai," tegur seseorang di belakangnya. Aira terkejut saat tahu itu suara Eros. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Dia yang baru saja berbincang dengan staff lain memeriksa apakah sudah tidak ada orang lain di sana.
"Memang seharusnya kita tidak berjumpa," sahut Aira dingin.
"Sebaiknya kita mencoba berkomunikasi dengan baik lagi. Karena kita akan lebih sering bertemu."
"Soal pekerjaan jangan khawatir. Aku bisa pisahkan itu dengan benciku padamu. Aku harus tetap profesional sebagai rekan kerja." Eros mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu terang-terangan bicara benci padaku."
"Lalu apa yang kamu harapkan? Aku mau menjawab pertanyaan tidak pentingmu saja seharusnya kamu sudah bersyukur." Aira menaikkan alisnya.
"Pria itu. Pria yang ada di sana. Ibrar. Dia kekasihmu bukan?"
"Maaf, ini jam kerja. Sebaiknya aku kembali ke ruanganku. Sepertinya kau juga harus kembali ke dalam." Aira tahu di ambang pintu ada Ibrar yang mendengar pembicaraan mereka. "Permisi."
Ibrar sengaja ikut keluar karena melihat Aira di dekati Eros.
"Selamat bekerja, Ai," kata Eros. Aira terus saja melangkah. Dia ingin segera kembali ke ruangannya. "Ternyata ada kamu di sini. Maaf aku agak lama berbincang barusan." Eros tersenyum saat menyadari ada Ibrar di belakangnya.
Sesampai di ruangannya, Aira langsung menghempaskan punggungnya pada badan kursi kerja. Kemudian memejamkan mata sejenak.
Eros! Kenapa dari sekian banyak pengganti manajer market harus dia? Itu akan menjadi hari-hari tidak menyenangkan bagiku. Aku pasti akan teringat lagi saat-saat dia menyakitiku.
Aira mengusap wajahnya. Lelah. Tiba-tiba saja dia merasa sangat lelah. Pertemuan dengan Eros sangat melelahkan. Setelah menghela napas panjang, Aira berdiri dan melanjutkan pekerjaannya tadi. Ponsel di atas keyboard komputer bergetar. Dia memang segera pergi ke ruangan personalia dan meninggalkan ponselnya di sana.
Ada beberapa pesan. Namun Aira memilih membaca pesan terbaru.
"Kamu baik-baik saja, Ai?" Sebuah pesan terbaru dari Ibrar masuk. Hhh ... Aira menghela napas.
"Ya."
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?