Pernikahan yang berawal dari perjodohan juga tanpa diiringi cinta.
"Bukankah kamu pernah bertanya, hal apa yang bisa membuatku bahagia. Jika sekarang aku menjawab apa kamu akan mengabulkannya?" kata Febriana Citrani, yang kerap dipanggil Anna.
Prasetyo mengangguk, "Jika aku bisa, aku akan melakukannya untukmu."
"Aku sangat yakin kamu pasti bisa," ujar Anna sejenak menatap suaminya. "Ceraikan aku, itu kebahagiaanku!"
Tatapan mata Prasetyo menajam.
"Selama ini aku tersiksa," ucapnya dengan nada rendah tapi terdengar menekan tiap kata yang diucapkannya, seraya tangannya menunjuk tepat di dada.
Sudut bibir Anna tertarik menciptakan senyum masam, tak mendapat respon ia pun bangkit memunguti pakaiannya hendak berlalu pergi.
"Baiklah tapi dengan satu syarat, aku ingin kamu memberiku anak lagi, laki-laki. Setelah syarat itu terpenuhi kamu bisa pergi."
Prasetyo pun bangkit berjalan melewati tubuh Anna yang mematung seakan tak mempercayai ucapan suaminya, Prasetyo pun berlalu masuk ke kamar mandi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Mas Pras kini datang dengan membawa dua cangkir susu coklat hangat, satu diletakkan diatas meja dan satunya lagi disesapnya.
"Coba Mas lihat hasil kerja kamu," ucapnya usai meletakkan cangkir diatas meja.
Akupun mengulurkan proposal skripsi yang sudah beberapa minggu ini aku kerjakan. Sambil Mas Pras membaca dan membolak-balikkan tiap-tiap halaman aku menyesap minuman pada cangkir miliku.
"Kamu yakin mau mengambil judul ini?" tanyanya hingga membuatku menoleh kearahnya, lalu mengangguk.
"Perancangan desain baru identitas dan logo Showroom Mister Mobilindo," kata Mas Pras membaca judul skripsiku.
"Iya, judul itu sudah di ACC oleh Bu Sinta dan juga rencananya mau aku ajukan ke PS," jelasku setelahnya dan kembali menyesap minumanku.
"Judul ini diambil dari mana?" tanya Mas Pras lagi masih menatap ke arah lembaran proposalku.
"Internet," sahutku kemudian meletakkan cangkir ke atas meja.
"Lalu tempat yang kamu teliti?" tanya Mas Pras kini menatapku.
Aku menggeleng. "Jakarta utara," sahutku ragu.
Kini Mas Pras menggeletakkan begitu saja proposal skripsi di meja tepat dihadapanku, membuatku terkaget akan tindakannya barusan. Saat aku ingin protes Mas Pras berujar, "Jalan Diwangkara No. 17 Jakarta Selatan, itu kantor pusatnya."
Mas Pras yang duduk di sofa kini mencondongkan tubuhnya ke arahku lalu tangannya menarik proposal skripsi dan menaruhnya tepat dihadapanku, sedang posisiku kini duduk lesehan di atas karpet bulu.
"Mas gak permasalahkan dengan judul yang akan kamu pakai, tapi untuk membuat sebuah proposal skripsi kamu butuh tahu lokasinya, tujuannya untuk meneliti perusahaan itu atau tempat itu. Ini karya ilmiah, bukan sekedar artikel yang asal comot saja. Buku inilah yang akan membawa kamu untuk lulus menjadi seorang sarjana," tukas Mas Pras membuatku tak bisa lagi berkomentar.
Rasanya saat ini sudah seperti berhadapan dengan rektor beneran sebab tubuhku sudah panas dingin dan rasa tegang menyelimuti diri. Mendengar ucapan Mas Pras barusan membuatku berfikir dan menyimpulkan bahwa hasil kerjaku tak guna dan sia-sia belaka.
"Jadi apa aku harus mengulang lagi?" cicitku.
Dan kurasa Mas Pras mendengarnya, sebab kini dia berkata, "Ya." Seraya menegakkan tubuhku.
Aku rasanya sudah ingin menangis menanggapi ucapannya yang singkat itu.
"Kalau itu gak guna gimana, masak aku harus ngulang dari awal lagi? Ketemu sama junior baru dan— Ahhh masak gak lulus?" kataku kini merengek.
Mas Pras justru tersenyum akan sikapku.
"Mas mengejekku! Bahagia ya, diatas penderitaan orang lain?" kataku menatapnya dengan raut wajah cemberut.
"Ya benarkan harus ngulang lagi," ucapnya dan membuatku makin kesal. Hingga aku bangkit dan memukulinya tapi Mas Pras malah menertawakanku.
"Ngeselin! kenapa aku malah diketawain!" protesku padanya seraya mengamukinya.
Mas Pras tertawa seraya menangkis tanganku, dia yang punya tenaga dan badan lebih besar seakan tak berefek akan tindakanku yang mengamukinya, akupun kini menangis karenanya. Setelahnya aku memilih untuk menarik diriku dan duduk menangis seraya menutupi wajahku.
"Kug malah nangis?"
"Ini kan gara-gara ulah Mas Pras," sahutku ketus.
Terdengar helaan nafas darinya. "Maksud Mas, kamu kerjakan dan buat lagi proposal baru dengan data yang akurat. Mencari narasumber yang tepat juga mendatangi lokasi untuk langsung survei," jelas Mas Pras dengan penyampaian yang pelan agar aku memahami tiap ucapannya.
Akupun menarik tanganku dan kemudian menatapnya. "Jadi gak ngulang lagi?" sahutku bertanya.
"Ngulang apa?" tanyanya yang juga menatapku meminta agar ucapanku diperjelas.
"Ngulang mata kuliah disemester baru?" cicitku.
Sudut bibir Mas Pras tertarik ke atas lalu berkata dengan santai, "Kalau kamu mau ngulang lagi ya gak papa, gak masalah buat Mas."
Akupun menggigit sudut bibirku dan menyipitkan mataku ke arahnya.
"Udah, gitu aja marah," sahutnya menjitak kepalaku hingga membuatku menatap kesal padanya, tapi ya begitulah dia selalu santai menyikapiku bila aku tengah cemberut atau pun kesal padanya.
***
Hari seakan berlalu dengan cepat, aku makin disibukkan dengan mendatangi beberapa narasumber untuk bahan isian skripsiku, hingga proses pengerjaannya satu persatu mampu aku selesaikan dengan waktu yang aku rasa begitu singkat.
Saat menyerahkan tugas itu pada PS-ku, waktu pengecekan pun tak banyak menerima kendala, hanya dia berkata banyak typo bertebaran di tiap paragraf yang aku tulis dan itu membuatku meringis seketika.
Dan hari yang dinanti-nanti telah tiba, tepat hari ini aku sedang berada di kampus untuk melaksanakan wisuda. Penantianku akhirnya terbayar sudah, 8 semester dan masih harus tertunda oleh cuti.
Inilah hari dimana aku mengenakan toga serta samir dan saat namaku disebut, euforia dihatiku seakan tak bisa lagi tertutupi sebab aku yang kini tengah berjalan kearah panggung tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
Langkahku kini terhenti dan setelah Dekan memindahkan tali toga, dia juga memberiku map ijazah, dan tak kuasa aku kini menitikan air mata. Diatas panggung aku masih bisa melihat Mas Pras dan Aqila dalam pangkuannya meski samar begitu pula dengan kedua orangtuaku yang turut hadir, mereka tampak bangga juga bahagia.
Saat acara usai aku juga kawan-kawanku berfoto bersama, turut hadir pula dua sahabatku Nisa dan Vera. Kini saat Mas Pras dan Aqila mendekat ke arahku semua mata tertuju padaku sebab Aqila tengah memanggilku dengan suara kecilnya yang terdengar lantang.
"Mama..."
Sontak aku menoleh ke arahnya dan tanpa ekspresi aku menatapnya, bukan karena malu sebab aku jadi pusat perhatian. Tapi tak lama senyumku merekah, sebab aku begitu bahagia melihat senyum putri kecilku, dan segera aku berjalan dengan sedikit menaikkan rok kebayaku agar segera sampai ke arahnya, meski terdengar nada mencibir ketika aku melewati sebagian kerumunan orang.
To be Continue
Babak baru telah dimulai...
Jangan lupa JEMPOL, KOMENTAR & VOTE nya