Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Sekedar untuk hiburan.
***
Ari seorang pemuda tampan penakluk wanita, suatu hari bertemu dengan gadis yang tak mudah ia taklukkan. Ia pun jatuh hati pada gadis polos bernama Vidya. Kesederhaan Vidya telah memikat hatinya dan iapun menikahi sang gadis.
Namun ternyata pernikahan tak mampu menghentikan petualangan cintanya. Ia merasa hambar dengan perasaannya terhadap Vidya. Diana, mantan kekasih terindah yang tak mampu ia hapus dari ingatannya, telah hadir menjadi orang ketiga dalam biduk rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuka aib
Pov Vidya.
Usai suamiku pulang, aku segera menghubungi Mey
"Mey tolong kamu temui Pak Yogi yang akan jadi pengacaraku. Aku sudah menghubungi beliau. Kau hanya tinggal menyerahkan berkas yang aku titipkan itu" Aku berbicara dengan Mey via telfon.
Aku sudah lelah memikirkan kemelut rumah tanggaku. Sudah cukup aku bertahan, dia yang ku anggap sudah berubah ternyata kelakuannya semakin menjadi. Aku sudah tak sanggup meneruskan rumah tangga ini.
Untuk saat ini, aku hanya ingin disini bersama kedua orang tua dan anak-anakku, menikmati tinggal di rumah orang tuaku yang berasa dilingkungan pedesaan. Aku bisa menikmati suasana alam yang asri.
Pasca menjual rumah mewah kami untuk membantu Kak Ibram kala itu, sisa uang hasil penjualan rumah sebagian kecil ditabung, dan sebagian lagi dipakai untuk membeli rumah yang sederhana di lingkungan pedesaan. Ya Mama sengaja membeli rumah di desa karena selain harganya yang lebih murah, Mama juga ingin menikmati hari tua dengan memiliki rumah yang dekat dengan alam, di kanan dan kirinya banyak terdapat hamparan sawah yang hijau.
Setelah sampai kembali di kota kelahirannya, suamiku segera memberi kabar padaku. Namun aku enggan mengangkat telefonnya, juga enggan membalas pesan darinya. Berhari-hari telfon dan pesannya ku abaikan. Sengaja aku melakukan ini untuk memberinya pelajaran. Aku hanya ingin menjauh darinya untuk mengobati luka hatiku.
"[Sayang kapan pulang?]" sebuah pesan darinya. ku lempar begitu saja ponsel tiap aku membuka pesannya. Muak rasanya.
"[Sayang pulanglah, aku tak bisa tanpamu]" pesan berikutnya yang juga kuabaikan. "Basi" Batinku.
"[Sayang, Mey mengajakku bertemu, dia ingin menanyakan suatu hal padaku, boleh aku menemuinya?]" Halah, bertemu dengan Mey minta ijin, coba kalau bertemu Diana atau Dista, apa ia ijin padaku? males membaca semua pesannya, akhirnya ku blokir nomernya.
Tak lama kemudian Mey telfon, bahwa ia baru saja bertemu dengan Ari dan Mey menceritakan padaku bahwa Ari terlihat sangat tertekan dan terlihat kusut.
Bodoh amat, aku sudah tak peduli.
...****************...
Pagi ini, usai menyiapkan sarapan, aku duduk santai di teras. Anak-anak sudah mandi dan makan, mereka sedang bermain bersama nenek dan kakeknya
Tetangga sebelah sudah membunyikan live musik, ya maklum hidup di desa, warga terbiasa menyalakan musik dengan suara kencang.
Lagu band Kotak jaman aku masih gadis dulu, mengalun dengan syahdu...
Mencoba...untuk ku mengerti...
Arti cinta yang telah kau beri
Diriku yang percaya semua dustamu...
Kini ku mampu berkata kau pergi saja dariku...
Aku terus bertahan, ku coba untuk lupakan
semua beban di hati, ku jatuh terhempas....
Tak sanggup ku lalui, jiwa ini tlah terluka
kekosongan yang ada, melingkupi raga diriku..
Lagu berjudul sendiri yang dipopulerkan oleh Band kotak sejak vokalis pertamanya yang bernama Pare, lalu di aransemen ulang dengan versi baru oleh Tantri, vokalis yang menggantikan Pare itu, seolah menggambarkan isi hatiku.
Tiba-tiba suara Mama memanggilku. Aku segera masuk ke dalam rumah, lalu mendekat ke arah Mama.
"Ari menelfon, Nak" ucap Mama sambil menyerahkan ponselnya padaku.
Aku tak menjawab dan hanya berlalu ke kamar.
"Vid, suamimu menelfon...mau bicara denganmu" Mama membuntutiku ke kamar.
"Aku sedang tak ingin bicara, Ma" ucapku merebahkan diri di kasur
"Kau kenapa, ini Bapaknya anak-anakmu yang mau bicara" ucap Mama lagi, tapi aku tak bergeming.
"Nak, Vidya sedang tak ingin bicara denganmu, ada apa dengan kalian?" ku dengar Mama berbicara pada Ari
"Papaaaaa...papaaaaaa...Ay mau bicaya sama papaaa...Ay tangen papa" aku segera bangun dari rebahanku begitu mendengar suara Al berlari ke arah Mamaku. Aku menarik tubuh Al agar ia tak berbicara dengan Papanya.
"Yepaskan Mama.. yepas, Ay mau nomong cama papa" Ia justru berontak dan berhasil lolos dariku
"Sini sayang, Al mau ngomong sama Papa ya?" ujur mamaku yang justru menyerahkan ponselnya dan membiarkan Al berbicara dengan Papanya.
"Hayo Papaaaaa....huaaaaaa...Papaaaaa...huaaaaa...huaaaaaaaaaa...ay tangen cama Papaaaa..ay mau puyang cetemu Papa tapi cama mama ndak boyeh... Huaaaaa"
"Pa...Papaa...Aira juga kangen sama Papa, Aira pengen pulang, Aira pengen ketemu Papa, tapi Mama ndak mau pulang, Pa. Papa kesini ya Pa?Aira sama Adek kangen Papa" Kedua anakku menumpahkan segala isi hati mereka kepada Papanya, ya selama seminggu disini, mereka merengek minta pulang kangen ingin bertemu Papanya. Selama ini hubungan anak-anakku dengan Ayahnya memang sangat dekat. Mereka tak pernah berpisah lebih dari tiga hari. Saat suami ada meeting diluar kota selama 2-3 hari saja anak-anak sudah rindu berat dengan Bapaknya.
Walaupun tak tega menjauhkan anak-anak dengan Papanya, tapi terpaksa aku melakukan ini, untuk sedikit memberinya pelajaran.
"Mama bilang gak boleh, ya gak boleh, KALIAN HARUS NURUT SAMA MAMA!" Aku segera menarik paksa tubuh Al dan Aira agar mereka tak berbicara lebih banyak lagi dengan Papanya.
"Mama..tapi Ay tangen papa..mau bicala cama Papa?!" rengek jagoanku itu, sebenarnya hatiku pun pilu mendengarnya. Mendengar segala ungkapan rindu anak-anak yang ingin bertemu dengan Ayahnya, hatiku seperti teriris, namun teringat rasa sakit akibat pengkhianatannya membuat hatiku sedikit mengeras.
"Kalo ga nurut, Mau Mama pukul, Hah?" aku mengancam anak-anakku agar mereka berhenti berbicara dengan Papanya.
"Vid...apa-apaan kamu ini!!!" bentak Mama padaku.
Aku hanya diam tak menjawab dan mengambil alih ponsel dari tangan Mama. Mama mempertahankannya.
Kita saling berebut ponsel, anak-anak menangis histeris dan mereka memeluk neneknya, Aku berhasil meraih ponsel dari tangan Mama lalu mematikan sambungan telfon dengan Mas Ari, segera saja ku blokir nomernya.
"Vidya apa-apaan kamu?istri macam apa kamu melarang anak-anak berbicara dengan Bapaknya! Katakan pada Mama ada apa denganmu ini?" Mama membentakku.
"Sejak kapan Mama punya anak yang durhaka pada suami? istighfar Vidya! istighfar! Mama tak mau kamu menemani kami disini bila justru kau mengabaikan tugasmu untuk menemani suamimu dan patuh padanya" Mama kembali membentakku dengan histeris. Aku hanya diam tak mau membuka suara.
"Ada apa kalian rame-rame begini?" tanya Papa yang keluar dari kamar usai mendengar suara kami ribut-ribut.
"Vidya ini Pa, Mama perhatikan sejak Ari pulang, dia melamun terus. Dia gak mau mengangkat telfon dari Ari. Mama liat berhari-hari panggilan telfon dari Ari diabaikan terus. Barusan Ari telfon ke nomer Mama, mau bicara pada Vidya tapi Vidya tidak mau bicara dengan suaminya. Istri macam apa itu kayak gitu? bahkan ketika Ari bicara dengan anak-anak, malah dilarang!" Mama menjelaskan duduk masalahnya pada Papa.
"Apa-apaan kau Vid..?" Papa pun menyudutkan ku.
"Kau pulanglah sana, kasian suamimu sendirian. Surgamu itu ada pada suami, berbaktilah padanya, bila statusmu sudah menjadi istri, kau tak lagi wajib berbakti pada kami. Baktimu adalah pada suamimu, baktimu ada pada ridho suamimu" kembali papa menimpali.
"Surga Macam apa yang harus ku harap?"
Bersambung
Btw ada yang masih inget lagu band kotak yang berjudul sendiri?hihi..ketawan umur author sudah senior ya..🤭🤫
Yuk baca karya pertamaku " Aku Seorang Mafia" silahkan cek di profilku. semangat berkarya author ♥️