Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.
Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.
Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.
Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35. Mulai Menata Hidup
Lalu pagi itu, saat semua orang sedang sibuk pada kegiatannya masing-masing, Doni menghampiri wanita itu, yang masih dia panggil dengan sebutan ibu. Dia berkata,
"Bu, aku ingin melihat ibu kandungku. Aku ingin tahu seperti apa rupanya dan keadaannya sekarang. Aku ingin tahu kenapa ayahku sampai mencintainya begitu besar. Tolong antarkan aku kesana bu."
Wanita itu kaget mendengar perkataan itu. Dia bahkan sampai tersendak saat meneguk secangkir tehnya. Sehingga teh di dalam mulutnya keluar, muncrat dan membasahi bajunya. Dia cepat-cepat membersihkannya dan bangkit berdiri lalu berkata,
"Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu dengannya nak? Apa kau hanya sekedar ingin tahu atau ada hal lain yang kau sembunyikan dari ibu? Kau tidak akan berpaling dari ibu kan setelah melihat ibu kandungmu nanti?"
Tapi setelah mengatakan itu, mendadak pola pikirnya berubah dan dia merasa menyesal. Lalu berkata lagi,
"Ah...
Ada apa denganku?
Kenapa aku jadi egois begini?
Ibu minta maaf. Perasaan ibu sedikit tak stabil sejak kejadian tragis itu. Ibu jadi mudah iri hati. Pikiran ibu selalu negatif pada ibu kandungmu. Maafkan ibu nak.
Ibu akan mengantarmu kesana.
Panggil juga Jina. Dia juga harus tahu rupa ibu mertuanya yang lain."
Maka dia segera berbalik dan menemui Jina tanpa membalas perkataan wanita itu. Wajahnya masih menyiratkan banyak tanda tanya besar yang sulit terpecahkan.
Lalu ketika dia mengutarakan keinginannya itu kepada istrinya, istrinya pun bingung harus bereaksi seperti apa. Antara bertanya kenapa begitu tiba-tiba? Atau merasa senang? Karena suaminya sudah mau berbicara dan tak sedih lagi. Dia sangat bingung. Karena itu dia diam saja dan meninggalkan pekerjaannya dan pergi mengikuti suaminya ke ruang tengah. Karena setelah mengutarakan keinginannya itu, dia segera pergi kepada ibunya.
Lalu mereka pun segera bersiap pergi.
Wanita itu mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Doni yang duduk di sampingnya. Sedangkan istrinya, Jina duduk sendiri di belakang. Doni masih terlihat lesu, sedih dan murung.
Wanita itu membawa mereka ke sebuah rumah besar yang jauh dari pemukiman warga. Halamannya sangat luas. Dan jarak dari gerbang ke rumah itu sekitar 200 meter panjangnya. Gerbangnya terbuka otomatis ketika mobilnya mendekat.
Lalu setelah dia memarkirkan mobilnya, dia mengajak Doni dan Jina masuk, tapi bukan melalui pintu utama rumah itu. Mereka masuk dari pintu kecil yang langsung menuju kamar ibu kandung Doni. Karena jika lewat pintu utama, Doni akan melihat orang-orang jalanan yang ayahnya tawan untuk diambil sumsung tulang belakangnya. Mereka telah dicuci otaknya, sehingga tidak akan lari dan tetap di rumah itu melakukan kegiatan apapun yang mereka sukai. Mereka dipelihara dan dirawat dengan baik agar organ tubuh mereka juga sehat sehingga berguna kelak untuk mengganti organ tubuh istrinya yang rusak.
Sesampainya di sana, Doni melihat ibu kandungnya itu duduk di kursi roda sambil melihat foto seorang anak kecil. Dan seorang dokter yang berjaga di situ, segera keluar begitu melihat mereka masuk.
Perlahan Doni melangkahkan kakinya menuju ibu kandungnya. Namun dia masih terlihat begitu gugup, tegang, dan ragu untuk mendekat. Tapi ibunya menyemangatinya untuk terus maju.
Lalu seraya dia mendekat, ibu kandungnya perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya. Dia bertanya,
"Kau siapa? Apa kau perawat baru yang dikirim untuk merawatku?"
"Bukan!" Balas Doni.
Dia melihat rupa ibu kandungnya itu cukup lama sebelum akhirnya menangis dan berlari ke luar. Istrinya yang melihatnya pun segera pergi menyusulnya. Namun dia hanya mengusap-usap punggung suaminya untuk menghiburnya, karena dia bingung harus berkata apa untuk menghiburnya.
Lalu wanita itu berjalan mendekat kepada kakak iparnya, ibu kandung Doni. Dia berkata,
"Laki-laki itu adalah putra kecilmu, Doni."
Seketika ibu kandungnya menangis mendengarnya. Melihat putranya telah tumbuh dewasa, rasanya sulit dipercaya. Sudah puluhan tahun terlewat sejak penyakitnya datang menggerogoti tubuhnya sehingga dia tidak bisa melihat putranya bertumbuh dewasa. Suaminya juga tidak pernah memperlihatkan padanya seperti apa rupa putranya kini. Karena suaminya tidak ingin perhatian istrinya terbagi dan emosinya menjadi tidak stabil kerena selalu merindukan putranya sehingga memperlambat proses penyembuhannya.
Wanita itu sulit memercayainya sekaligus menyesal. Dia berkata,
"Sudah dua puluh tahun lebih aku terkurung di kamar ini. Penyakit ini membuatku jijik. Aku kehilangan segalanya karenanya. Aku melewatkan masa-masa indah melihat putraku bertumbuh dan orang lain yang mengasuhnya."
"Bukan orang lain. Tapi ibunya. Aku adalah ibunya. Dia memanggilku ibu dan sangat menyayangiku. Aku mencurahkan semua kasih dan perhatianku juga masa mudaku demi mengurusnya. Jadi dia adalah putraku. Kau memang ibu yang melahirkannya, tapi aku lebih berhak. Lagipula kau tidak bisa berbuat apa-apa."
"Dimana ayahnya? Biasanya dia selalu datang berkunjung. Sudah beberapa hari ini dia tidak pernah kemari."
"Kakak sudah meninggal. Tubuhnya hancur terlindas kereta api. Dan potongan tubuhnya melayang terpencar ke berbagai arah. Darahnya mengalir membasahi besi rel kereta."
"Bicara apa kau ini? Kenapa kau bicara buruk tentang kakakmu sendiri?"
"Itu kenyataan! Dia sudah mati! Lihat artikel ini!"
Wanita itu menyodorkan ponselnya pada ibu kandung Doni, dan memperlihatkan padanya berita tentang kecelakaan maut itu.
Maka ibu kandung Doni pun menangis keras sampai dadanya merasa sesak dan dia jatuh pingsan. Seketika dokter yang sejak tadi berdiri di depan pintu, berlari dan memberikan pertolongan padanya. Dokter itu segera menggendong wanita itu dan membaringkannya di tempat tidur lalu memberi suntikan obat.
Lalu tak lama, Doni juga segera berlari ke kamar wanita itu ketika mendengar jeritannya.
Dia bertanya pada ibunya dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran,
"Apa yang sudah terjadi bu? Kenapa dia pingsan?"
"Dia tidak kuat mendengar berita kematian ayahmu."
"Kenapa ibu mengatakannya sekarang?"
"Dia yang bertanya. Maka ibu menjawabnya. Lagipula itu tidak bisa terus disembunyikan."
"Tapi bagaimana keadaanya sekarang bu?"
"Seperti yang kau lihat. Dokter sudah memeriksanya. Dia akan segera pulih dan sadar. Tenanglah. Sekarang, ayo kita keluar."
"Tidak! Aku akan tetap di sini menunggu sampai dia sadar."
"Terserah kau sajalah." Balas wanita itu lalu pergi. Dia juga memanggil dokter itu ke luar dan mengumpulkan dokter lainnya ke sebuah ruangan. Dia berkata,
"Sudah sejauh mana perkembangan kesehatan wanita itu?"
"Sudah 70% nyonya. Tinggal sedikit lagi kesehatannya akan membaik. Sekitar 85% dia sudah bisa melepaskan semua pengobatan dan terapi itu. Namun dia tidak boleh stress dan juga lelah."
"Itu artinya anak-anak jalanan itu sudah tidak dibutuhkan lagi kan?"
"Kami rasa tidak nyonya. Hanya kami tidak bisa melepaskan mereka semua tanpa persetujuan tuan atau nyonya."
"Biarkan saja mereka di sini. Aku akan mengubah tempat ini mejadi yayasan untuk menampung semua anak-anak jalanan sebagai tanda permohonan maafku ataupun kakakku kepada mereka semua yang telah mati karena kepentingan dan keegoisan kakakku. Agar kelak tidak ada lagi yang memanfaatkan mereka dengan cara yang brutal dan biadab seperti kakakku. Aku akan mempekerjakan orang-orang yang bisa menjadi guru untuk mengajar dan mendidik mereka menjadi terampil sehingga kelak punya masa depan. Jangan apa-apakan mereka lagi."
"Tapi nyonya, masih dibutuhkan sedikit lagi donor sumsung tulang belakang."
"Jangan! Setiap orang berhak untuk hidup dan tetap sehat. Wanita itu sudah banyak mendapatkan donor. Dia harus menanggung akibat dari penyakitnya sendiri. Jangan apa-apakan lagi anak-anak jalanan itu."
"Baiklah nyonya."
Maka setelah rapat singkat itu, wanita itu kembali menemui Doni yang sejak tadi menunggu ibu kandungnya sadar dari pingsannya.
lanjut