Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. SATU NAMA YANG MENGANCAM SEGALANYA
DOR!
Suara tembakan menggema di sepanjang koridor rumah sakit.
Arka segera menjatuhkan tubuhnya ke samping. Peluru itu melesat melewati bahunya, menghantam dinding, lalu meninggalkan lubang kecil di permukaannya.
Hanya beberapa sentimeter.
Jika ia terlambat bergerak sedikit saja, peluru itu mungkin sudah menembus tubuhnya.
Namun, Arka tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tersebut.
Sebelum pria berjaket hitam itu sempat mengangkat senjatanya kembali, Arka menerjang ke arahnya. Ia menghantam lengan pria itu hingga pistolnya terlepas dan jatuh ke lantai.
Pria itu mengumpat keras.
"Brengsek!"
Ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Arka. Arka menangkis serangan tersebut, lalu mendorongnya hingga punggung pria itu membentur dinding.
Keduanya bergulat di koridor yang sempit.
Pria itu ternyata memiliki tenaga yang cukup besar. Ia berhasil melepaskan diri, lalu mencoba meraih pistol yang terjatuh di dekat kaki mereka.
Arka segera menendang senjata itu menjauh.
"Jangan bergerak!" bentaknya.
Pria itu tidak menghiraukannya. Ia kembali menyerang, kali ini dengan mengayunkan siku ke arah dada Arka.
Arka terhuyung mundur, tetapi ia segera membalas dengan menghantam tubuh pria tersebut hingga keduanya kembali terjatuh ke lantai.
Suara langkah kaki dan jeritan masih terdengar dari arah lobi.
Namun, bagi Arka, perhatian utamanya hanya tertuju pada pria di hadapannya.
Ia harus mengetahui siapa yang mengirim orang-orang ini.
Dan yang lebih penting, ia harus memastikan Sara masih selamat.
Arka menekan bahu pria itu agar tidak bisa bangkit.
"Siapa yang mengirimmu ke sini?"
Pria tersebut menyeringai, meskipun napasnya tersengal.
"Kau pikir aku akan memberitahumu?"
Arka mencengkeram kerah jaketnya.
"Aku bertanya sekali lagi. Siapa yang mengirimmu?"
Pria itu tertawa pendek.
"Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, Khontacron."
Tatapan Arka mengeras.
"Apakah ini perintah Phat?"
Senyum pria itu menghilang sesaat.
Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Arka untuk menyadari bahwa nama kakaknya bukanlah tebakan yang sepenuhnya salah.
"Jawab aku!" desak Arka.
Pria itu tiba-tiba menghantamkan kepalanya ke wajah Arka.
Arka terpaksa melepaskan cengkeramannya. Ia mundur beberapa langkah sambil merasakan nyeri di sekitar hidungnya.
Pria itu segera bangkit dan berusaha melarikan diri.
Namun, sebelum ia sempat mencapai persimpangan koridor, suara bentakan terdengar dari arah belakang.
"POLISI! BERHENTI!"
Pria itu membeku.
Beberapa anggota polisi muncul dari ujung lorong dengan senjata terarah. Mereka bergerak cepat, menyebar untuk mengamankan koridor dan memastikan tidak ada warga sipil yang terjebak di antara mereka.
"Angkat tanganmu! Sekarang!"
Pria berjaket hitam itu menoleh, lalu mencoba meraih sesuatu di balik pinggangnya.
Salah seorang polisi yang berada paling depan langsung bereaksi.
DOR!
Tembakan itu mengenai tubuh pria tersebut. Ia terhuyung, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh ke lantai.
"Jangan bergerak!" teriak polisi itu.
Dua petugas segera mendekat untuk mengamankan senjata dan memeriksa kondisinya. Seorang petugas medis yang ikut bersama rombongan langsung dipanggil untuk memberikan pertolongan.
Arka berdiri terengah-engah.
Ia menatap pria yang kini tergeletak di lantai, lalu mengangkat kedua tangannya ketika seorang polisi menghampirinya.
"Anda terluka?" tanya petugas tersebut.
"Hanya sedikit."
"Jangan bergerak dulu. Kami perlu memastikan Anda bukan bagian dari kelompok itu."
Arka mengerutkan kening.
"Kau serius?"
"Maaf, Pak. Kami harus memeriksa semua orang sampai situasi benar-benar aman."
Arka menghela napas kesal, tetapi ia tidak melawan.
"Baiklah. Tapi ada seorang perempuan dan anak kecil di ruangan itu."
Ia menunjuk pintu ruang pemeriksaan yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Orang itu tadi berusaha masuk ke sana."
Dua petugas segera bergerak menuju pintu.
"Saya akan memeriksanya, Pak."
Salah seorang dari mereka mengetuk pintu dengan hati-hati.
"Polisi! Apakah ada orang di dalam? Situasi sudah kami amankan. Silakan buka pintunya jika aman."
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian terdengar suara Sara dari dalam.
"Arka?"
Arka langsung mendekat.
"Sara, aku di sini!"
"Arka!"
Suara itu terdengar bergetar.
Pintu akhirnya terbuka sedikit. Sara muncul sambil menggandeng seorang anak kecil yang masih menangis. Begitu melihat Arka berdiri di koridor, ia segera menghampirinya.
"Kau terluka!"
Sara memperhatikan wajah Arka yang memerah akibat benturan tadi. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pipinya, tetapi ia berhenti ketika melihat para polisi masih sibuk mengamankan area.
"Aku baik-baik saja," jawab Arka.
"Kau menyebut itu baik-baik saja?" Sara menatapnya kesal sekaligus lega. "Aku mendengar tembakan. Aku pikir—"
Kalimatnya terhenti.
Ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Arka memandangnya beberapa saat.
"Aku masih di sini."
Sara menunduk, berusaha mengendalikan napasnya yang belum teratur.
Kemudian, ia memeluk Arka.
Pelukan itu berlangsung singkat, tetapi cukup erat untuk menunjukkan betapa takutnya ia beberapa menit sebelumnya.
Arka sempat terdiam karena terkejut. Setelah itu, ia meletakkan satu tangan di punggung Sara.
"Sudah," bisiknya. "Kau aman sekarang."
Sara tidak langsung melepaskannya.
"Aku benar-benar takut," gumamnya.
"Aku tahu."
"Kau hampir tertembak."
"Tapi aku tidak tertembak."
"Arka!"
"Baiklah. Maaf."
Sara akhirnya melepaskan pelukannya, lalu menatap Arka dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bercanda tentang hal seperti itu."
Arka mengangguk pelan.
"Baik. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Di samping mereka, anak kecil yang tadi bersembunyi bersama Sara masih menggenggam tangan Sara erat-erat.
Seorang petugas perempuan segera menghampiri anak tersebut.
"Sayang, apakah kamu tahu siapa namamu? Kami akan membantumu mencari ibumu."
Anak itu mengangguk sambil mengusap air matanya.
Sara berjongkok di hadapannya.
"Kamu sudah sangat berani," katanya lembut. "Sekarang ikut Ibu Polisi, ya. Mereka akan membantumu."
Anak itu menoleh kepada Sara.
"Kakak ikut?"
Sara tersenyum tipis.
"Kakak akan menyusul setelah memastikan semuanya aman."
Anak itu akhirnya mengikuti petugas tersebut.
Arka memperhatikan mereka sampai menghilang di balik pintu koridor.
Lalu ia kembali menatap Sara.
"Apakah kau melihat siapa saja yang datang?"
Sara mengangguk.
"Ada dua orang di lobi. Lalu satu orang mengejarku. Aku tidak tahu apakah mereka semua bagian dari kelompok yang sama."
Arka memandang para polisi yang sedang bergerak menuju lobi.
"Sepertinya kita akan segera mengetahuinya."
Beberapa menit kemudian, keadaan rumah sakit mulai terkendali.
Polisi mengamankan pintu masuk, memeriksa setiap koridor, dan mengarahkan para pasien serta pengunjung menuju tempat yang lebih aman. Petugas medis berusaha menolong orang-orang yang terluka, sementara beberapa anggota polisi mencatat keterangan saksi.
Suasana rumah sakit masih dipenuhi tangisan dan suara komunikasi melalui radio.
Arka berdiri di dekat dinding bersama Sara ketika seorang polisi berpangkat perwira menghampiri mereka.
"Siapa Arka Khontacron?"
"Saya."
Perwira itu menunjukkan kartu identitasnya.
"Saya Inspektur Darel Mhonbar. Kami menerima laporan dari Kepala Polisi Bastian Baert mengenai adanya kelompok bersenjata di rumah sakit. Tim kami tiba beberapa menit setelah panggilan diterima."
Arka mengangguk.
"Bagaimana keadaan Bastian?"
"Belum ada laporan bahwa beliau terluka. Beberapa anggota kami sudah memeriksa kamar beliau dan mengamankan satu orang yang mencoba masuk."
Arka langsung menoleh.
"Jadi, ada orang lain di lantai tiga?"
"Benar. Petugas kami menemukan seorang pria di depan kamar pasien. Ketika diperintahkan menyerah, dia mencoba menyerang salah satu anggota kami. Petugas terpaksa menembaknya untuk menghentikan ancaman tersebut."
Arka mengembuskan napas lega.
Setidaknya, Bastian masih aman.
Namun, kelegaan itu segera digantikan oleh pertanyaan lain.
"Berapa banyak orang yang kalian amankan?"
"Saat ini, tiga orang sudah berada dalam pengawasan kami. Kami juga sedang mencari kemungkinan adanya anggota kelompok lain yang melarikan diri."
"Tiga orang..." gumam Arka.
Ia mengingat pria yang tadi bergulat dengannya, dua orang yang terlihat di lobi, dan seseorang yang berusaha masuk ke kamar Bastian.
Jumlahnya cocok dengan perkiraan awal, tetapi ia tidak berani memastikan bahwa mereka semua telah tertangkap.
Inspektur Darel melanjutkan, "Kami juga menemukan beberapa senjata api. Untuk sementara, semua orang yang diduga terlibat akan diperiksa secara terpisah."
"Apakah ada korban?"
Ekspresi perwira itu berubah lebih serius.
"Ada beberapa korban luka. Kami masih mengumpulkan informasi lengkap dari petugas medis. Salah satu korban adalah pengunjung yang tidak terlibat dalam kejadian ini."
Sara menunduk.
Bayangan pria yang terbaring di dekat pintu masuk kembali muncul dalam pikirannya.
"Kenapa mereka melakukan itu?" tanyanya lirih. "Mereka hanya datang untuk mencari satu orang. Kenapa harus menembak orang-orang yang bahkan tidak mengenal mereka?"
Inspektur Darel tidak langsung menjawab.
"Saya tidak bisa memastikan motif mereka sebelum pemeriksaan selesai, Bu. Namun, kami akan menyelidiki semua kemungkinan."
Arka menatap perwira tersebut.
"Saya ingin memberikan keterangan."
"Tentu. Tetapi sebelum itu, kami perlu memastikan Anda dan Ibu Sara tidak membutuhkan perawatan medis."
"Saya baik-baik saja," jawab Arka.
Sara menoleh tajam.
"Kau akan diperiksa."
Arka memandangnya.
"Sara—"
"Tidak ada tawar-menawar."
Inspektur Darel berdeham kecil, berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Kurasa Anda sebaiknya mengikuti sarannya, Pak Arka."
Arka menghela napas panjang.
"Baiklah."
Sara melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bagus."
Untuk sesaat, di tengah kekacauan yang belum sepenuhnya berakhir, Arka hampir tersenyum.
Namun, senyum itu menghilang ketika ia teringat pesan yang diterimanya sebelum serangan terjadi.
Jangan biarkan Bastian melewati malam ini.
Seseorang telah mengetahui keberadaan Bastian di rumah sakit. Seseorang juga mengetahui bahwa Arka berada di sana.
Artinya, serangan ini mungkin bukan rencana spontan.
Mereka telah mengawasi pergerakan Arka.
Dan jika demikian, ada kemungkinan seseorang telah membocorkan informasi tentang penyelidikan mereka.
Buku catatan Pak Thom.
Nama Tiara Chenzae.
Semua itu mungkin sudah diketahui oleh pihak yang mengirim para penyerang.
Arka menoleh kepada Sara.
"Apakah kau masih membawa ponselmu?"
Sara mengangguk, lalu mengeluarkannya dari tas.
"Kenapa?"
"Jangan berikan kepada siapa pun kecuali polisi yang bertugas secara resmi. Kalau ada pesan mencurigakan, jangan hapus."
Sara mengerutkan kening.
"Kau pikir mereka akan menghubungi kita lagi?"
"Aku tidak tahu."
Arka menatap layar ponselnya sendiri.
"Tapi aku mulai berpikir bahwa mereka tidak hanya ingin membungkam Bastian."
"Maksudmu?"
"Mereka juga ingin memastikan kita tidak menemukan sesuatu."
Sara terdiam.
Keduanya tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Buku catatan Pak Thom.
Nama yang ditulis dengan tinta merah.
Dan orang-orang yang hilang dari Sagara.
Ketika situasi di lantai dasar mulai terkendali, Arka meminta izin kepada Inspektur Darel untuk kembali ke kamar Bastian.
Sara ikut bersamanya.
Mereka menaiki tangga dengan pengawalan seorang petugas polisi. Sepanjang perjalanan, Arka melihat beberapa pintu kamar yang terbuka dan para pasien yang sedang ditenangkan oleh perawat.
Di salah satu sudut, seorang pria menangis sambil memeluk anaknya.
Arka memalingkan wajah.
Ia pernah mendengar orang-orang berbicara tentang bisnis gelap keluarganya seolah-olah itu hanya urusan uang, kekuasaan, dan persaingan.
Namun, malam ini ia melihat akibatnya secara langsung.
Orang-orang biasa harus ketakutan.
Anak-anak harus menyaksikan kekerasan.
Dan keluarga yang datang ke rumah sakit untuk mencari kesembuhan justru harus berjuang menyelamatkan diri.
Jika semua ini benar-benar berkaitan dengan keluarganya, Arka tidak bisa lagi berpura-pura bahwa dirinya tidak memiliki hubungan dengan kejahatan tersebut.
Ia mungkin tidak pernah memerintahkan penculikan siapa pun.
Ia mungkin tidak pernah mengetahui bagaimana orang-orang itu menghilang.
Namun, ia membawa nama keluarga yang sama.
Dan selama ia terus diam, orang-orang akan tetap menjadi korban.
Ketika mereka tiba di lantai tiga, dua polisi sedang berjaga di depan kamar Bastian.
Salah satunya segera menghampiri mereka.
"Pak Arka?"
"Bagaimana keadaan Bastian?"
"Dia selamat. Pria yang mencoba masuk sudah kami amankan. Saat ini, ia sedang berbicara dengan anggota kami untuk memberikan keterangan."
Arka langsung membuka pintu.
Bastian sedang duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya tampak pucat, tetapi ia masih sadar sepenuhnya. Seorang polisi duduk di kursi dekat jendela, mencatat keterangannya.
Begitu melihat Arka dan Sara masuk, Bastian menghela napas lega.
"Akhirnya kalian kembali."
Arka mendekati tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Menurutmu bagaimana? Aku hampir dipindahkan oleh seseorang yang tidak bisa menyebutkan nama dokternya, lalu beberapa menit kemudian seorang pria berusaha mendobrak pintu kamarku."
Bastian menggeleng.
"Aku mulai berpikir bahwa rumah sakit ini membutuhkan sistem keamanan yang lebih baik."
Sara duduk di kursi dekat tempat tidurnya.
"Kami mendengar ada korban dari kalangan warga sipil."
Wajah Bastian berubah serius.
"Aku juga baru diberi tahu. Polisi sedang memeriksa semuanya."
Ia menatap Arka.
"Berapa orang yang berhasil ditangkap?"
"Tiga orang sudah diamankan. Mereka sedang diperiksa."
"Dan orang yang kau hadapi?"
"Dia mencoba melarikan diri. Polisi menghentikannya sebelum dia sempat kabur."
Bastian mengangguk perlahan.
"Apakah dia mengatakan sesuatu?"
Arka terdiam sejenak.
"Dia tidak sempat menjawab pertanyaanku."
"Apa yang kau tanyakan?"
"Aku bertanya siapa yang mengirim mereka."
Bastian menatapnya lekat-lekat.
"Dan kau menyebut nama kakakmu?"
Arka tidak menjawab secara langsung.
"Aku bertanya apakah itu perintah kakakku. Dia tidak menjawab, tetapi reaksinya membuatku curiga."
Bastian mengusap wajahnya.
"Kalau memang kakakmu yang mengirim mereka, ini bukan lagi sekadar usaha menghalangi penyelidikan."
"Aku tahu."
"Dia menyerang rumah sakit, Arka. Ada warga sipil yang terluka. Ini sudah jauh melampaui ancaman pribadi."
Sara menunduk, mengingat jeritan yang didengarnya beberapa menit sebelumnya.
Arka memandang lantai.
"Aku akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab."
Bastian menggeleng.
"Jangan melakukan sesuatu yang gegabah. Kita punya polisi untuk menangani kasus ini."
"Dan bagaimana kalau ada seseorang di dalam kepolisian yang bekerja untuk keluargaku?"
Pertanyaan itu membuat Bastian terdiam.
Arka melanjutkan dengan suara rendah.
"Bagaimana jika mereka sudah tahu tentang buku catatan itu? Bagaimana jika informasi kita bocor sebelum kita sempat menemukan Tiara?"
Bastian tidak langsung menjawab.
Ia melirik polisi yang duduk di dekat jendela. Petugas itu tampak tidak memperhatikan percakapan mereka, tetapi Bastian tetap memilih berhati-hati.
"Jangan sebut nama Tiara di sini," katanya akhirnya.
Arka memahami maksudnya.
Ia mengangguk pelan.
Bastian kemudian menatap Sara.
"Apakah buku catatan Pak Thom masih aman?"
Sara mengangguk.
"Aku menyimpannya di tempat yang tidak mudah ditemukan."
"Bagus. Jangan membawanya ke rumah keluarga Khontacron. Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui lokasinya."
Arka menyilangkan kedua tangannya.
"Kalau mereka benar-benar mengincar kita karena buku itu, kita tidak bisa hanya menunggu."
"Kita tidak akan menunggu," jawab Bastian. "Tapi kita harus bergerak dengan kepala dingin."
Ia menarik napas panjang, lalu menatap Arka dengan serius.
"Mulai sekarang, kita tidak bisa menganggap serangan ini sebagai kejadian terpisah. Pak Braun meninggal. Pak Thom meninggal. Aku ditembak. Sekarang orang-orang bersenjata menyerang rumah sakit dan melukai warga sipil."
Bastian berhenti sejenak.
"Semua kejadian itu memiliki satu kesamaan."
Arka menyelesaikan kalimatnya.
"Keluarga ku."
Tidak seorang pun membantah.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala seperti biasa. Kendaraan terus melintas, dan kehidupan perlahan kembali bergerak meskipun rumah sakit baru saja mengalami malam yang mengerikan.
Namun, bagi Arka, tidak ada lagi yang terasa biasa.
Ia kini tahu bahwa musuh mereka bersedia melangkah sejauh apa pun untuk melindungi rahasia yang tersembunyi di Sagara.
Dan ia tidak akan membiarkan mereka menang.
Hampir satu jam kemudian, Inspektur Darel kembali ke kamar Bastian.
Wajahnya serius ketika ia meminta Arka dan Bastian mendengarkan laporannya.
"Kami sudah mengamankan tiga orang yang diduga terlibat dalam serangan ini. Dua di antaranya ditemukan membawa senjata api. Satu orang lainnya terluka saat berusaha melawan petugas."
"Apakah mereka sudah diperiksa?" tanya Bastian.
"Pemeriksaan awal baru dimulai. Mereka belum memberikan keterangan lengkap."
Arka segera bertanya, "Apakah salah satu dari mereka mengaku bekerja untuk seseorang?"
Inspektur Darel menggeleng.
"Belum. Mereka tidak membawa dokumen yang dapat mengidentifikasi tempat kerja atau pihak yang mempekerjakan mereka."
"Bagaimana dengan ponsel mereka?"
"Sudah kami amankan sebagai barang bukti. Tim penyidik akan memeriksa perangkat tersebut sesuai prosedur."
Arka mengangguk, meskipun ia tidak puas dengan jawaban itu.
Inspektur Darel kemudian mengeluarkan sebuah kantong bukti transparan. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel hitam yang layarnya retak.
"Kami menemukan ini pada salah satu tersangka. Sebelum ditangkap, dia sempat menerima panggilan masuk dari nomor yang belum teridentifikasi."
Bastian langsung menegakkan tubuh.
"Apakah panggilan itu sempat dijawab?"
"Menurut petugas yang mengamankan ponsel tersebut, panggilan itu terputus sebelum sempat dijawab."
Arka menatap benda di dalam kantong bukti.
"Apakah ada pesan?"
Inspektur Darel terdiam sebentar.
"Ada satu pesan yang berhasil dilihat petugas sebelum perangkat diamankan."
Ia mengeluarkan selembar kertas kecil yang berisi salinan pesan tersebut.
Kemudian, ia meletakkannya di meja.
Arka membaca tulisan itu.
Hanya ada satu kalimat.
"Pastikan Arka tidak menemukan Tiara Chenzae."
Ruangan mendadak sunyi.
Sara menutup mulutnya.
Bastian menatap tulisan itu dengan wajah pucat, sementara Arka merasa seluruh kecurigaannya berubah menjadi kenyataan yang jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.
Serangan itu bukan sekadar upaya membunuh Bastian.
Bukan pula hanya ancaman dari Phat karena pertengkaran mereka.
Seseorang telah menghubungkan serangan ini dengan Tiara Chenzae.
Dan orang tersebut tahu bahwa Arka sedang berusaha menemukan perempuan itu.
Arka mengangkat kepalanya, menatap Inspektur Darel.
"Pak Inspektur, saya ingin Anda menyelidiki siapa yang mengirim pesan tersebut."
"Kami akan melakukannya."
"Dan satu hal lagi."
"Apa?"
Tatapan Arka berubah dingin.
"Jangan berikan informasi tentang penyelidikan ini kepada siapa pun sebelum identitas pengirimnya diketahui."
Inspektur Darel mengernyit.
"Apakah Anda mencurigai seseorang di kepolisian?"
Arka tidak menjawab.
Ia hanya menatap kembali tulisan di atas meja.
Nama Tiara Chenzae.
Nama yang telah membuat ayahnya ketakutan.
Nama yang membuat Phat diperintahkan untuk menghentikan langkahnya.
Dan kini, nama yang menjadi alasan seseorang bersedia menumpahkan darah di rumah sakit.
Arka mengepalkan tangannya.
Jika seseorang begitu takut dirinya menemukan Tiara, berarti perempuan itu bukan sekadar saksi. Ia mungkin satu-satunya orang yang mengetahui siapa sebenarnya dalang di balik hilangnya orang-orang dari Desa Sagara