Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mansion Fabrizio Lutero
Fabrizio Lutero
Setelah makan malam, aku mengajak Andrea berkeliling mansion. Aku harus menentukan batas, mana yang boleh dan tidak boleh dia masuki, supaya tidak ada kejutan yang tidak menyenangkan.
"Ruang makan dan ruang tamu sudah kamu kenal. Ini dapur. Kalau lapar atau mau minum air, kapan pun siang atau malam, silakan."
Saat kami masuk dapur, Solange dan para pelayan lain sedang merapikan semuanya setelah makan malam. Solange menatapku bingung, dan aku bisa menebak apa yang dia pikirkan. Aku nyaris tidak pernah masuk dapur, bahkan untuk minum air, dan sekarang aku mengajak keliling rumah seseorang yang baginya orang asing sepenuhnya. Andrea mengamati semuanya dengan saksama. Kutunjukkan ruang bermain, ruang TV, lalu kami ke area luar, kutunjukkan kolam renang dan garasi. Saat sampai di ruang penyiksaan yang selalu terkunci, aku berkata,
"Ruangan ini berisi peralatanku. Peralatan khusus dan berbahaya. Pintunya biasanya selalu terkunci, tapi kalau suatu saat kamu melihat lampunya menyala, jangan masuk dalam keadaan apa pun."
"Peralatan apa?"
"Peralatan tukang las, tukang kayu. Sangat tajam dan runcing."
Dan mematikan.
"Hmm, aku mengerti."
"Berjanjilah kamu tidak akan pernah masuk ke sini."
"Oke, aku janji."
Semoga dia penurut.
Dia bicara seolah aku akan tinggal di sini selamanya, pikir Andrea.
Kami kembali masuk ke mansion.
"Sekarang kita naik, kutunjukkan kamar-kamarnya. Ini semua kamar tamu. Itu kamarku, yang sudah kamu kenal, dan kamarmu yang ini, di sebelahku."
Saat kubuka pintunya, Andrea terpana melihat besarnya kamar itu.
"Tapi kamar ini besar sekali."
"Ini kamar paling kecil di sini."
"Apa?!"
Aku bisa tersesat di dalam sini.
"Barang-barangmu yang tadi ada di kamarku sudah ada di walk-in closet. Silakan mandi dan bersantai. Aku harus ke ruang kerja menandatangani beberapa dokumen."
"Terima kasih banyak, Tuan Fabrizio, dan maaf aku sudah sangat merepotkan."
"Kamu tidak merepotkan, gadis kecil."
Kukecup keningnya dan pergi tanpa menoleh.
Jantung Andrea berdegup kencang.
Hah?! Apa maksudnya gadis kecil?! Dan cium kening lagi!
Andrea menutup pintu, menjatuhkan diri ke kasur, dan memikirkan semua yang sedang terjadi.
Di ruang kerja, aku mengambil segelas wiski dan duduk di sofa.
"Rasanya aku ingin merangkul pinggang gadis kecil itu, menutup pintu, dan menunjukkan ciuman yang sebenarnya. Tapi kalau kulakukan sekarang, aku bisa menakutinya. Dia sangat polos. Aku harus pelan-pelan."
Aku menenangkan diri, lalu mengirim pesan pada Pepi.
Pesan
*Fabrizio:* Pepi, aku perlu kamu cari pemilik Caffe. Aku mau bernegosiasi untuk membelinya.
*Pepi:* Pemiliknya sudah kutemukan. Kamu ada pertemuan dengannya besok pukul 16.00.
*Fabrizio:* Oke, makasih, Bro.
*Pepi:* Sama-sama, Saudaraku. Dan bagaimana keadaan di sana dengan Andrea?
*Fabrizio:* Biasa saja.
*Pepi:* wkwkwkwkwkwk
*Fabrizio:* Selamat malam.
Kadang Pepi punya bakat membuatku kesal. Kuambil segelas wiski lagi dan tenggelam dalam pikiranku.
Aku sudah lupa berapa gelas wiski yang kuminum sambil duduk di sini. Akhirnya aku memutuskan naik, mandi, dan tidur. Aku menaiki tangga dengan sempoyongan. Aku sedang di koridor menuju kamarku ketika Andrea membuka pintu. Dia hanya memakai baby doll hitam dengan handuk membungkus rambutnya.
"Tuan baik-baik saja, Tuan Fabrizio?"
Aku langsung mendorongnya ke dinding dan menciumnya. Lidahku memaksa masuk, dan dia melawan. Aku terus memaksa, dia terus melawan. Lalu kulepaskan dia dan menatapnya seolah memerintahkan agar dia membuka mulut. Kulihat setetes air mata mengalir dari matanya. Saat itu aku tersadar dan menjauh. Dia membiarkan tubuhnya merosot di dinding, ketakutan. Aku pergi tanpa berkata apa-apa, masuk, menutup pintu kamarku, menghempaskan diri ke kursi berlengan, dan tertidur di situ juga.
Andrea Gutierrez
Setelah puas melongo melihat besarnya kamar itu, aku memutuskan mandi. Aku masuk kamar mandi dan terpesona oleh ukurannya. Tidak ada bak mandi, tapi ukurannya tidak bisa dibandingkan dengan kamar mandi yang dulu kupunya di loteng. Aku mandi lama dan mencuci rambut. Setelah keluar, aku mengeringkan badan dan melilitkan handuk di kepala. Kupakai baby doll yang dibelikan Bu Solange untukku, lalu aku memutuskan turun mengambil buah, karena Tuan Fabrizio sudah memberiku izin penuh untuk keluar-masuk dapur. Saat kubuka pintu kamar, kulihat Tuan Fabrizio berjalan sempoyongan di koridor. Aku khawatir dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia tidak menjawab, mendorongku ke dinding, dan menciumku. Aku begitu ketakutan sampai membeku. Bau alkoholnya sangat kuat sampai kepalaku pusing. Lidahnya berusaha menerobos mulutku, tapi aku kaku, tidak bisa bergerak. Aku hanya ingin pergi dari sana. Aku tidak mau ciuman pertamaku seperti ini. Tiba-tiba dia berhenti dan menatapku seolah ingin membunuhku. Aku begitu ngeri sampai setetes air mata jatuh begitu saja dari mataku. Dia pun melepaskanku dan pergi tanpa berkata apa-apa. Aku terduduk lemas di lantai dan mulai menangis. Entah berapa lama aku duduk di lantai itu. Kurasakan sebuah tangan lembut menyentuh bahuku. Aku mendongak dan melihat Bu Solange.
"Ayo, Nak, kutidurkan kamu."
Aku berdiri dan mengikutinya ke kamarku, lalu berbaring di kasur. Dia duduk di sampingku. Aku menangis sedikit lagi, lalu berkata,
"Kenapa hal-hal seperti ini terjadi padaku? Kupikir dia pria baik, dengan semua omongannya soal melindungiku."
"Jangan bicara begitu, Nak. Tuan Fabrizio pria yang baik, tapi dia terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, kapan pun dia mau. Dia tidak tahu cara lain. Tapi kurasa denganmu dia akan belajar."
"Aku tidak mengerti, apa hubungannya denganku?!"
"Fabrizio jatuh cinta padamu, dan perasaan itu baru baginya. Dia tidak tahu cara menghadapinya."
"Bagaimana dia bisa jatuh cinta padaku kalau baru kenal? Itu tidak masuk akal."
"Tenang, Nak. Seiring waktu kamu akan mengerti."
Bu Solange terus membelai rambutku, dan akhirnya aku tertidur.