Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
..."Kasih tidak menunggu dunia menjadi ramai. Ia selalu memulai pekerjaannya ketika hanya ada dua hati yang saling menemukan."...
Fajar pertama di Banua Tonga datang tanpa nyanyian. Tidak ada Burung Erung yang membangunkan pagi. Tidak ada denting Lonceng Angin dari cabang-cabang Hariara Bolon.
Hanya sinar Matahari yang perlahan muncul dari balik cakrawala, memantulkan warna keemasan di permukaan Samudra Purba.
Deak berdiri di atas Batu Sipangoluon. Satu malam yang sunyi telah berhasil ia lewati. Kini ia memandang dunia yang masih kosong dengan sendu. Tidak ada pohon. Tidak ada bunga. Tidak ada bayangan dedaunan yang menari diterpa angin.
Hanya batu, air dan langit.
Namun ia telah menyadari, bahwa sejak tiba di Banua Tonga, ia tidak lagi merasa asing. Ia mulai mengenali irama ombak. Mulai memahami arah angin. Mulai mengerti bahwa kesunyian pun memiliki bahasanya sendiri. Bahasa Alam.
...****************...
Saat matahari semakin tinggi, terdengar suara lirih. Sangat pelan. Hampir teredam dan tenggelam oleh debur ombak.
Deak menoleh untuk mencari sumber suara. Suara itu datang dari celah batu karang yang dipenuhi rumput laut. Ia mendekat dengan perlahan.
Di sana, terbaring seekor makhluk kecil. Tubuhnya tidak lebih besar dari kedua telapak tangan Deak yang dirapatkan. Bentuknya menyerupai perpaduan antara anak kura-kura dan ikan.
Kulitnya bening kebiruan, sehingga aliran cahaya halus di dalam tubuhnya tampak berdenyut. Di punggungnya tumbuh tiga sirip tipis menyerupai daun muda. Matanya bulat besar, penuh ketakutan. Salah satu siripnya terluka, mungkin karena terhempas ombak ke sela-sela batu yang tajam dan keras.
Makhluk kecil itu berusaha mundur menghindar ketika melihat Deak. Namun tubuhnya terlalu lemah. Ia hanya mampu mengeluarkan suara lirih yang terdengar seperti desir air.
Deak berlutut. Ia tidak segera menyentuhnya. Ia hanya duduk diam. Seakan membiarkan makhluk kecil itu mengetahui bahwa ia tidak datang sebagai ancaman.
"Aku tidak akan menyakitimu." Bisiknya lembut.
Makhluk itu masih gemetar.
Deak tersenyum. Lalu ia pergi sebentar dan ketika kembali, ia membuka telapak tangannya perlahan. Beberapa tetes air dari mata air kecil yang mulai muncul di Batu Sipangoluon ia biarkan mengalir ke luka makhluk itu.
Lama-kelamaan, gemetarnya mulai berkurang. Dengan ragu-ragu, makhluk kecil itu maju selangkah. Kemudian, untuk pertama kalinya, ia menyentuhkan ujung kepalanya ke telapak tangan Deak.
Terasa hangat dan lembut. Seperti menyampaikan salam. Air mata tipis tiba-tiba menggenang di mata Deak.
Sejak meninggalkan Banua Ginjang, inilah sentuhan pertama yang ia rasakan dari makhluk lain.
"Aku juga sendiri." Katanya lirih, "Kalau engkau mau... kita bisa belajar untuk hidup bersama."
Makhluk kecil itu mengeluarkan bunyi pelan. Bukan suara yang dapat dimengerti Deak, seperti ucapan makhluk-makhluk di Banua Ginjang.
Namun bunyi sang makhluk kecil itu cukup untuk membuat Deak tersenyum.
Ia lalu memberinya nama, "Siula."
Dalam bahasa para tetua, nama itu berarti "teman yang datang tanpa diminta, tetapi tinggal karena kasih."
Sejak hari itu, ke mana pun Deak berjalan di sekitar Batu Sipangoluon, atau daratan tanag di sekitarnya, Siula selalu mengikuti.
Terkadang ia berenang di genangan air laut, namun terkadang juga ia bersembunyi di balik batu, bahkan terkadang ia bisa tertidur di lipatan Ulos Cahaya yang dikenakan Deak.
Banua Tonga masih tetap sunyi. Namun dengan kehadiran Silua, kesunyian itu kini tidak lagi terasa begitu kosong. Karena kehidupan pertama yang hadir di kehidupannya di Banua Tonga ini, telah memilih mempercayai Deak. Dan deak dapat menyebutnya sebagai sahabat.
...****************...
Jauh di dasar Samudra Purba, dua mata hijau kebiruan kembali terbuka. Makhluk purba yang selama ribuan musim menjaga kedalaman memandang ke arah Batu Sipangoluon.
Ia melihat seorang Putri Langit yang sedang mengobati makhluk kecil tanpa meminta imbalan.
Gelombang laut berdesir perlahan ketika untuk pertama kalinya sejak musim pertama keberadaanya, penjaga kedalaman itu merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Sebuah harapan.
Ia kembali memejamkan mata. Belum saatnya untuk muncul. Namun ia mulai percaya, bahwa mungkin saja, anak langit itu benar-benar datang bukan untuk menguasai dunia. Melainkan untuk mengasihinya.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/