Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 3
Maharaja Agung Tingkat Akhir!
Kultivasi Tianchen telah mencapai tingkat yang bahkan di zaman kuno sekalipun hanya dimiliki oleh para penguasa benua. Matanya terbuka, memancarkan aura kosmik yang begitu pekat, membuat ruang di sekitarnya tampak distorsi.
Sesepuh Wen tersenyum puas melihat transformasi itu, meskipun bayangan spiritualnya kini mulai memudar akibat menguras sisa energi jiwanya. Dengan lambaian tangan terakhir, tiga buah benda kuno terbang keluar dari altar penyimpanan rahasia dan melayang di depan Tianchen.
Benda pertama dan kedua adalah sebuah pagoda kecil setinggi satu jengkal berwarna emas murni yang diselimuti kobaran api merah yang suci, Pagoda Emas dan Pedang Dewa Api. Benda ketiga adalah sebuah lonceng kuno berwarna perunggu dengan ukiran rune prasejarah yang memancarkan aura mistis, Lencana / Lonceng Kekacauan.
"Bawa ini," ucap Sesepuh Wen, suaranya semakin mengecil. "Pagoda Emas itu berisi ribuan teknik pedang elemen api kuno dan dapat digunakan untuk menempa mental para murid. Lonceng Kekacauan adalah artefak pelindung tingkat suci yang dapat mengisolasi rahasia sekte dari mata-mata luar. Pergilah, Tianchen... kibarkan kembali bendera Pedang Langit..."
Cahaya keperakan itu meredup, dan sosok Sesepuh Wen lenyap sepenuhnya, kembali ke dalam papan arwahnya yang kini kembali tenang.
Tianchen menggenggam ketiga artefak tersebut dengan tangan yang gemetar. Air mata tipis mengalir di pipinya, namun sedetik kemudian, ia menghapusnya dengan kasar. Matanya memancarkan tekad yang membara.
"Murid menerima perintah Leluhur. Tiga bulan dari sekarang... darah mereka akan menjadi pupuk bagi kejayaan sekte ini," ikrar Tianchen dengan nada dingin yang menusuk tulang.
Sementara itu, di wilayah barat benua kultivasi, atmosfer di dalam aula utama Sekte Gunung Barat dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa.
"Cepat! Bawa obat pemulih jiwa! Mana para tetua alkemis?!" teriakan histeris menggema di sepanjang koridor batu merah.
Di atas ranjang giok es, Ketua Puncak Merah, Zhao Jue, terbaring dengan wajah sepucat mayat. Seluruh lengan kanannya dibalut perban kain obat yang terus-menerus merembeskan darah hitam. Di sampingnya, sang Putri Suci, Lu Mingyue, duduk bersandar dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Rambutnya yang semula rapi kini hangus, dan meridian di sekujur tubuhnya dipenuhi sisa-sisa percikan petir ungu yang menolak untuk jinak.
Ketua Umum Sekte Gunung Barat, seorang pria tua bertubuh kekar bernama Guo Zhenhai, melangkah masuk dengan wajah murka. Aura tingkat Suci Puncak miliknya menekan seisi ruangan.
"Bagaimana bisa ini terjadi?!" gertak Guo Zhenhai, menatap tajam ke arah Mo Xuan Yu dari Sekte Tiga Naga yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat. "Kalian hanya pergi untuk menguji formasi pelindung sekte sampah yang sudah mati! Mengapa Zhao Jue dan Mingyue kembali dengan keadaan cacat seperti ini?!"
Zhao Jue terbatuk, memuntahkan seteguk darah hitam sebelum sempat berbicara. "Ketua... Sekte Pedang Langit... mereka... mereka tidak mati. Ada seorang monster di sana."
"Monster? Apa maksudmu?!" Guo Zhenhai mengerutkan dahi.
Lu Mingyue mengepalkan tinjunya yang gemetar, menahan rasa sakit yang menusuk jiwanya. "Dia... dia mengaku sebagai Ketua Sekte. Penampilannya seperti pemuda berumur dua puluh tahun, memakai baju murid luar, tapi... tapi kekuatannya tidak terbaca! Dia mengalahkan Han Feiyu dan Peng Yingyu dalam satu gerakan jari. Lalu... lalu dia memanggil petir ungu yang menghancurkan jurus andalan kami tanpa menggunakan pedang fisik! Ketua Zhao bahkan tidak bisa menahan satu tebasan bayangannya!"
Mendengar penuturan itu, para tetua sekte yang berkumpul di aula langsung gempar.
Seorang tetua alkemis berambut abu-abu maju setelah memeriksa denyut nadi Lu Mingyue. Wajahnya sangat suram. "Melaporkan kepada Ketua Sekte... luka mereka sangat aneh. Ini adalah luka akibat Ilmu Pedang tingkat tinggi yang dicampur dengan ilmu petir kuno. Meskipun kami bisa menyembuhkan luka fisiknya, sisa-sisa energi petir di dalam tubuh mereka akan mengunci meridian mereka selama bertahun-tahun. Ini... ini akan memperlambat atau bahkan menghentikan kemajuan kultivasi mereka untuk selamanya."
"Apa?!" Lu Mingyue berteriak histeris. "Hancur... masa depanku hancur?! Bajingan Li Tianchen itu! Aku akan membunuhnya! Aku akan mencabik-cabiknya!"
Guo Zhenhai terdiam, ekspresinya berubah sangat serius. "Seorang kultivator hebat yang bisa menyembunyikan kultivasinya dan mengalahkan tingkat Suci dengan begitu mudah... Apakah dia seorang Maharaja yang tersisa?"
"Kemungkinan besar iya, Ketua Guo," Mo Xuan Yu akhirnya angkat bicara, melangkah maju. "Namun, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Saya sudah menyelidiki tempat itu menggunakan jimat pelacak jiwa. Dia benar-benar sendirian! Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain di empat puncak gunung Perbukitan Wuji. Dia hanyalah harimau tua yang ompong tanpa pasukan."
Seorang sesepuh berwajah licik dari Sekte Gunung Barat maju dan memberikan saran dengan mata berbinar serakah. "Ketua, situasi kita saat ini sangat mendesak. Pasokan energi Qi di wilayah kita sudah mulai menipis karena terlalu banyak murid baru. Perbukitan Wuji memiliki mata air spiritual kuno yang sangat pekat. Ditambah lagi, sebagai sekte seribu tahun, Sekte Pedang Langit pasti memiliki ribuan harta karun, pusaka rahasia, dan sumber daya alam yang melimpah yang disimpan di wilayah terlarang mereka. Jika kita bisa merebutnya, sekte kita pasti akan naik tingkat menjadi pemimpin Aliansi!"
Guo Zhenhai membelai janggutnya yang panjang, matanya menyipit penuh ambisi. "Benar. Seorang Maharaja sekalipun tidak akan bisa bertahan jika dikeroyok oleh puluhan tingkat Suci dan para Leluhur Agung dari sepuluh sekte besar. Kirim surat perintah ke seluruh anggota Aliansi Sepuluh Sekte! Katakan pada mereka bahwa Sekte Pedang Langit menyimpan warisan kuno yang bisa membuat siapa saja menembus tingkat Maharaja dalam sekejap! Biarkan keserakahan mereka bergerak."
Guo Zhenhai menyeringai kejam. "Tiga bulan lagi, Perbukitan Wuji akan menjadi lautan darah."
Di saat aliansi musuh merencanakan konspirasi, Li Tianchen justru sedang berada di sebuah kota kecil yang makmur di kaki gunung, Kota Qingyun.
Dia terpaksa turun gunung untuk membeli beberapa perbekalan dan baju baru, penampilannya kini benar-benar berubah. Ia mengenakan jubah putih bersih bersulam benang perak halus di bagian kerahnya, dengan rambut hitamnya yang diikat rapi menggunakan tusuk konde giok hijau. Wajahnya yang tampan terkesan tenang namun memancarkan aura bangsawan yang samar. Setiap kali ia melangkah di jalanan kota, beberapa kultivator lokal tanpa sadar menyingkir, merasakan tekanan tak kasat mata yang membuat dada mereka sesak.
Tianchen baru saja selesai membeli beberapa keperluan sekte dan pakaian baru. Namun, saat ia hendak melangkah keluar dari gerbang kota menuju jalan setapak ke puncak gunung, sebuah keributan besar di depan sebuah kediaman megah menarik perhatiannya.
Di depan gerbang batu besar kediaman Keluarga Su, salah satu keluarga kultivator lokal yang cukup terpandang, atmosfer terasa sangat tegang.
Brak!
Sesosok tubuh mungil terlempar keluar dari gerbang kayu tebal, menghantam tanah yang berdebu dengan keras. Pakaian gadis itu, yang semula berupa gaun sutra ungu yang anggun, kini koyak di beberapa bagian dan dipenuhi noda tanah.
"Mulai detik ini, kamu bukan bagian dari keluarga Su lagi! Sampah sepertimu tidak dibutuhkan lagi oleh keluarga, masih untung kamu dibiarkan hidup, Ziyan!" sebuah teriakan dingin dan kejam menggema dari ambang pintu.
Seorang pria paruh baya dengan jubah mewah, Kepala Keluarga Su berdiri di sana dengan mata penuh kejijikan. Di sampingnya, beberapa pelayan berwajah sinis menatap gadis yang terkapar di tanah itu dengan pandangan merendahkan.
Gadis itu, Su Ziyan, berusaha menguatkan tubuhnya yang gemetar untuk berdiri, namun rasa sakit di bagian dadanya membuat ia kembali terjatuh. Air mata mengalir membasahi pipinya yang kotor, namun matanya memancarkan rasa tidak percaya dan kepedihan yang mendalam.
"Hanya karena... hanya karena akar rohku rusak demi menolong Ayah dari serangan klan iblis di tanah perbatasan... kalian tega membuangku seperti ini?" suara Ziyan bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya. Setahun lalu, ia adalah mutiara keluarga, jenius yang dipuja-puja. Namun hari ini, ia diperlakukan lebih rendah daripada seekor anjing kurap.
Kepala Keluarga Su mendengus dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau belas kasihan. "Tanpa akar roh, kamu tidak bisa kultivasi lagi, Ziyan! Kamu sekarang hanyalah manusia biasa, seonggok daging tak berguna! Meskipun akar rohmu bisa diperbaiki, itu akan membutuhkan banyak harta karun tingkat tinggi dan sumber daya yang tak ternilai harganya! Apakah kamu pikir Keluarga Su harus bangkrut hanya untuk menyembuhkan seorang cacat?"
Pria itu mencibir, menunjukkan sifat aslinya yang egois. "Kepala keluarga harus berpikir cerdas. Sumber daya itu lebih baik digunakan untuk membiayai saudaramu yang lain agar bisa masuk ke sekte tingkat atas!"
Ziyan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih dan berdarah, menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa daripada luka fisiknya. "Dasar kalian manusia tidak tahu balas budi! Ayah... aku mengorbankan masa depanku demi nyawamu! Kelak jika keluarga ini celaka atau hancur, aku bersumpah tidak akan pernah sudi menolong kalian!"
"Cih.. harusnya kamu pikirkan hidupmu sendiri, Ziyan!" salah satu pelayan senior maju sambil meludah ke samping. "Bisa hidup sepuluh sampai dua puluh tahun lagi sebagai manusia biasa sudah sangat beruntung bagimu dengan tubuh ringkih itu. Apalagi berharap keluarga Su akan memberikan jatah atau merekomendasikanmu untuk masuk ke sekte tingkat atas? Mimpi! Jangan bermimpi di siang bolong!"
"Masuk ke dalam! Tutup gerbangnya! Jangan biarkan sampah ini mengotori pemandangan kediaman kita!" perintah Kepala Keluarga Su dengan lambaian tangan yang kasar.
Kedua pelayan keluarga Su segera melangkah mundur ke dalam, dan dengan suara dentuman keras, gerbang pintu besi tebal itu ditutup rapat, mengunci mati segala hubungan masa lalu Su Ziyan dengan tempat yang pernah ia sebut rumah.
Ziyan terduduk lemas di atas tanah yang dingin. Dunia seolah runtuh di sekelilingnya. Hujan gerimis mulai turun, membasahi tubuhnya yang rapuh. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya, menangis dalam kesunyian yang menyakitkan. Diasingkan, dihina, dan dibuang oleh keluarga kandungnya sendiri... tidak ada rasa sakit yang lebih besar dari ini bagi seorang kultivator muda.
Tiba-tiba, rintik hujan yang membasahi kepalanya mendadak berhenti.
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit