Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Pisah KK
Margaret tidak suka menunggu musuh mengetuk pintu.
Kalau Vincent mulai mencari KK Jason, berarti ia sedang mencari celah. Celah bisa berupa alamat, status cerai, nama mantan istri, atau tanda tangan yang bisa dipelintir menjadi urusan panjang.
Maka dua hari setelah makan dengan Inspektur Felix, Margaret membawa satu map tebal ke Kelurahan.
Daniel ikut dengan wajah bingung. Adrian ikut dengan wajah terlalu tenang. Jason ikut karena dipaksa, meski sejak pagi ia terus bertanya kapan bisa ke pasar mencari harga kerupuk.
"Kita mau apa sebenarnya?" tanya Jason di halaman Kelurahan.
"Merapi-kan KK," kata Margaret.
"KK bisa berantakan?"
Adrian menatap adiknya. "Kalau namamu ada di dalam, apa pun bisa berantakan."
"Ko, kau pagi-pagi sudah pahit."
"Aku realistis."
Di ruang pelayanan, petugas Kelurahan memeriksa berkas satu per satu. KK lama keluarga Lim sudah penuh nama: Daniel, Margaret, anak-anak, menantu, cucu, perubahan status nikah, pindah alamat yang belum dirapikan. Bagi banyak keluarga, kertas itu hanya dokumen. Bagi Margaret, itu pintu yang bisa dibuka orang luar jika ia lengah.
"Adrian sudah berkeluarga sendiri," kata Margaret. "Pisah KK."
Adrian menunduk melihat formulir.
Kata itu sederhana, tetapi terasa seperti garis ditarik di lantai rumah.
Selama ini, meski sudah punya istri dan anak, ia tetap berada di bawah KK orang tuanya. Praktis, nyaman, dan membuat semuanya terasa masih satu atap. Pisah KK bukan berarti tidak lagi anak. Tetapi di atas kertas negara, ia mulai menjadi kepala rumah tangga sendiri.
Vanessa pasti akan senang sekaligus panik.
"Mama," kata Adrian pelan. "Ini perlu sekarang?"
Margaret tidak menatapnya. "Perlu."
"Karena Vincent?"
"Karena kau sudah dewasa. Vincent hanya mengingatkan Mama."
Adrian diam.
Jawaban itu lebih berat daripada teguran.
Daniel mengisi bagian tanda tangan dengan hati-hati. Tangannya lambat, tetapi kali ini ia tidak membantah. Sejak mendengar keluarga Tan mencari data Jason, ia akhirnya mengerti bahwa dokumen keluarga bukan urusan kecil.
Ia dulu selalu menganggap kertas sebagai urusan kantor dan pegawai. Di rumah, yang penting semua makan, semua tidur di bawah atap yang sama, semua anak masih memanggilnya Papa. Tetapi Margaret menunjukkan bahwa satu lembar KK bisa menentukan siapa yang boleh meminta salinan, siapa yang bisa memakai alamat, dan siapa yang bisa menyeret masalah lama kembali ke meja keluarga.
Jason duduk di kursi plastik, kaki bergerak-gerak.
"Kalau Ko Adrian pisah, aku juga pisah?"
"Belum," kata Margaret.
"Kenapa?"
"Karena KK dan KTP-mu Mama pegang."
Jason langsung duduk tegak. "Lho? Itu dokumenku."
"Nyawamu juga nyawamu. Tapi kalau kau bawa sendiri ke jalan, sering hampir hilang."
Petugas Kelurahan menunduk, pura-pura tidak mendengar.
Adrian menutup mulut dengan map.
Jason protes, "Aku bukan anak kecil."
"Anak kecil tidak punya mantan istri yang keluarganya sedang mencari celah," kata Margaret. "Livia hamil. Keluarga Tan masih marah. Vincent sudah terbukti bermain dari belakang. Kalau suatu hari ada orang datang membawa surat, meminta salinan KK-mu, tanda tanganmu, atau mengaitkan namamu dengan urusan Livia, kau akan tahu harus bilang apa?"
Jason membuka mulut.
Tidak ada jawaban keluar.
Margaret menutupnya untuk dia. "Kau akan bilang, tanya Mama."
Daniel batuk pelan.
Jason mengusap wajah. "Jadi aku umur dua puluh lima, cerai, tidak kerja bengkel lagi, tapi masih harus bilang tanya Mama?"
"Betul."
"Memalukan."
"Hidup lebih penting daripada gengsi."
Petugas meminta biaya administrasi dan fotokopi. Totalnya Rp 100.000. Margaret membayar tanpa tawar-menawar. Ia menyimpan tanda terima, salinan formulir, dan KK lama dalam map terpisah. Untuk dokumen Jason, ia memasukkan ke amplop cokelat dan menulis besar: A KUN, JANGAN DIPEGANG SENDIRI.
Jason membaca tulisan itu dengan wajah sakit hati.
"Mama, itu seperti tulisan di barang bukti."
"Memang."
Adrian tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak datang, ketegangan di wajahnya pecah.
Namun saat formulir pisah KK miliknya selesai, ia memegang salinan itu lama. Di atas kertas, namanya berdiri di baris kepala keluarga. Di bawahnya Vanessa, Ryan, Kevin, Chloe.
Tanggung jawab itu tiba-tiba terasa nyata.
Margaret melihatnya, tetapi tidak melembutkan suara.
"Adrian, mulai sekarang rumah tanggamu kau atur. Uang bulanan tetap setor, tapi istri dan anakmu tanggung jawabmu. Jangan semua dilempar ke Mama."
Adrian mengangguk. "Aku mengerti."
"Mengerti saja tidak cukup. Lakukan."
"Ya, Mama."
Di perjalanan pulang, Jason masih menggerutu tentang amplop cokelat. Daniel mencoba menenangkan, tetapi Margaret tidak menanggapi. Ia sedang menghitung hal lain.
Uang dari pengembalian lamaran.
Uang dari keluarga Png.
Uang dari keluarga Tong.
Uang dari keluarga Tan.
Uang dari kerja dan rumah Susan.
Rp 15.000.000 yang ia ambil dari buntalan Solo.
Semua potongan itu, jika disusun dengan hati-hati, sudah cukup untuk langkah yang lebih besar.
Sore itu di rumah, Margaret mengumpulkan Daniel, Adrian, Jason, Oscar, dan Vanessa. Elisa duduk di sudut, masih memegang buku catatan kecilnya. Sophie membantu menuang teh.
Margaret meletakkan map Kelurahan di meja.
"Urusan KK selesai untuk sementara. Sekarang urusan berikutnya."
Oscar langsung tegang. "Masih ada?"
"Ada. Mama mau beli ruko."
Ruang tengah hening.
Daniel menatap istrinya. "Ruko?"
Adrian lebih cepat menangkap maksudnya. "Untuk toko?"
"Untuk toko dan rumah. Di Pecinan."
Vanessa yang tadi siap mengeluh tentang pisah KK langsung lupa napas. "Pecinan? Gang Pinggir sana?"
Margaret mengangguk.
Jason bersiul pelan. "Ma, itu tempat orang kaya berdagang."
"Kalau kita mau berdagang, jangan takut berdiri di tempat orang berdagang."
Daniel memegang gelas tehnya dengan dua tangan. "Uangnya cukup?"
"Cukup kalau kita tidak bodoh."
Jason langsung tersinggung tanpa tahu kenapa.
Margaret melanjutkan, "Mama sudah lihat satu tempat. Sekitar tiga ratus meter persegi, ada halaman, bisa jadi toko depan dan rumah belakang. Pemiliknya masih muda, delapan belas tahun. Dia butuh jual cepat."
Adrian duduk lebih tegak. "Sertifikatnya?"
"Itu tugasmu periksa."
Matanya menyala.
Untuk pertama kalinya hari itu, Adrian tidak merasa pisah KK seperti didorong keluar. Ia merasa sedang ditarik masuk ke urusan yang lebih besar.
Margaret menutup map Kelurahan, lalu mengetuk meja sekali.
"Besok kita ke Pecinan."
Di luar, suara penjual bakso lewat pelan.
Di dalam rumah Lim, semua orang akhirnya mengerti: Margaret tidak sedang merapikan dokumen saja.
Ia sedang memindahkan seluruh keluarga ke papan permainan yang lebih besar.