Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Besar Keluarga Alex
Sarapan pagi ini tak seperti biasanya. Mamah Alex yang biasanya semringah, kini terlihat gelisah sambil terus mengaduk makanannya.
Alex seketika menghentikan suapannya, setelah melihat mamahnya yang bersikap tidak biasa. Bahkan beliau tidak menyadari kalau Alex terus menatapnya.
“Mamah sakit?” tanyanya lembut sembari menggenggam tangan Mamahnya.
“Eh— nggak kok, Mamah cuma kepikiran sesuatu Nak,” jawab Mamah Alex.
“Kepikiran apa sih Mah.” Alex kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Nak, sebentar lagi kamu akan menikah. Bukankah sudah seharusnya kita kembali ke rumah?” ujarnya. “Kita sudah berhasil merebut kembali perusahaan papah dari pamanmu.”
Alex yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya pun seketika terhenti. Dia meletakkan sendoknya dan mulai tersadar akan tanggung jawabnya meneruskan perusahaan, peninggalan papahnya.
“Benar Mah. Alex harus melanjutkan perjuangan papah untuk mengembangkan perusahaan,” ungkap Alex.
“Tentu, jika masih hidup, papah pasti bangga padamu Nak,” sahut Mamah Alex tersenyum.
Lalu, keduanya melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Setelahnya mereka berencana untuk kembali ke rumah mereka yang sebenarnya.
Alex segera menelpon Mars dan Venus untuk berkumpul di rumah Meli. Dia bermaksud memberi kejutan kepada teman-temannya.
***
Tak lama kemudian, seorang pria berperawakan tinggi datang dengan mobil mewah. Dia terlihat begitu hormat dengan mamah Alex.
“Siang Nyonya,” sapa pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Siang, Tom,” balasnya. “Terima kasih ya udah membantu saya dan Alex untuk merebut kembali perusahaan almarhum suami saya.”
“Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Nyonya.”
“Ayo Tom, kita berangkat sekarang. Ikuti saja aku,” perintah Alex.
“Baik Tuan. Silakan, ini kuncinya.” Tomi mengulurkan kunci mobil mewah yang sedari tadi dia genggam.
“Tak perlu, aku akan menggunakan mobil baruku,” ujar Alex sambil menunjuk mobil barunya.
***
Sementara itu, Mars dan Venus sudah berkumpul di rumah Meli. Mereka penasaran dengan apa yang direncanakan Alex.
Tak lama kemudian, Alex dan Tomi turun dari mobil dan menghampiri mereka yang masih terpesona dengan penampilan Alex yang tidak biasa.
Alex terlihat semakin tampan dan berwibawa dengan blazer semi formal dan sepatu pantofel hitam yang berkilat-kilat.
“Sayang, mau kondangan ya?” seloroh Meli yang masih terbius oleh ketampanan kekasihnya.
“Hahaha, ya nggak lah Sayang. Yaudah yuk kita berangkat, nanti aku ceritain semua,” terang Alex.
“Oh ya, sebagian ikut denganku, sebagian lagi ikut dengan Tomi. Kemudikan mobilnya dengan hati-hati Tom,” perintah Alex.
“Baik Tuan,” jawab Tomi.
“Tuan?” ucap Mars dan Venus serempak.
Mereka saling memandang heran. Sungguh, Alex berhasil membuat mereka penasaran. Mulai dari meminta berkumpul, pakaian yang dikenakan, bahkan kini seorang pria di sampingnya memanggilnya dengan sebutan tuan.
“Kok malah pada bengong sih, kasihan mamah udah nunggu di mobil,” ucap Alex.
“Mamah juga ikut?” Meli semakin penasaran.
“Iya, nanti kalau udah sampai, aku ceritain semua,” ucap Alex.
Mars, Venus dan Dian mengikuti arahan Alex. Mamah Alex menyambut mereka dengan senyum ramahnya.
“Sini Sayang, kamu temani Alex di depan,” pinta Mamah Alex seraya turun dari mobil.
“Nggak usah Mah, Meli di belakang aja,” ucap Meli sungkan.
“Ayolah Sayang,” bujuk wanita paruh baya itu.
“Baik Mah.” Meli hanya bisa pasrah menuruti calon mertuanya itu.
***
Setelah dua puluh menit di perjalanan, mobil yang dikemudikan Alex berhenti di depan rumah besar nan mewah.
Pagar besi yang tinggi dengan ukiran berwarna emas yang meliuk indah itu, terlihat sangat kokoh.
Di sisi kanan dan kirinya, terdapat pagar beton yang mengapitnya. Sungguh sebuah desain yang sempurna, bagaikan benteng yang melindungi sebuah istana.
Dengan sigap, security yang sedang berjaga, sedikit membungkuk dan melihat ke arah Alex. Lalu gerbang itu terbuka dengan kendali remot kontrol.
Alex dan Tomi menghentikan mobil di halaman rumah. Sedangkan Mars dan Venus masih terbelalak dengan kemegahan yang disuguhkan di hadapan mereka.
Halaman yang luas dengan sebuah taman indah yang terawat begitu menyegarkan mata mereka. Beberapa pelayan menyambut mereka dengan senyum profesionalnya.
Rumah lantai dua itu memiliki dua buah pilar besar di sisi kanan dan kirinya. Seperti halnya pintunya yang tinggi, bahkan jendela-jendela di rumah itu juga berukuran besar.
“Selamat datang kembali Nyonya, Tuan Muda,” sapa seseorang dengan penuh rasa hormat.
“Terima kasih, Pak Gio,” balas Mamah Alex ramah.
“Terima kasih, Paman,” imbuh Alex.
“Oh iya, Paman, mereka adalah sahabatku. Tolong layani mereka dengan baik,” pinta Alex.
“Baik Tuan Muda,” jawabnya.
Alex dan mamahnya mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah. Mereka yang masih bingung, terlihat celingukan sambil terus berjalan ke dalam rumah.
Setelah mempersilakan duduk, Alex dan mamahnya mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi selama ini.
“Singkatnya, papahku adalah seorang pengusaha yang cukup berhasil kala itu. Namun, tanpa sepengetahuan kami, ternyata paman memiliki niat buruk untuk menguasai perusahaan papah. Dia menjebak papah untuk menandatangani sebuat surat. Bahkan dia juga merencanakan kecelakaan yang merenggut nyawa papah,” ungkap Alex sedih.
“Mereka mengusir kami berdua, dan menguasai perusahaan serta rumah ini. Beruntung, kami berhasil merebutnya kembali dan menjebloskannya ke penjara, meskipun memakan waktu yang lama,” imbuh Mamah Alex.
“Jika kalian berkenan, bekerjalah di perusahaan kami. Bantu kami dalam mengembangkan dan menjaga perusahaan ini,” ucap Mamah Alex.
Mars dan Venus turut prihatin dengan apa yang telah terjadi pada keluarga Alex. Dengan senang hati mangiyakan permintaan mamah Alex, yang sudah mereka anggap seperti orang tua sendiri.
“Maaf Nyonya, makan siang sudah dipersiapkan,” ucap Pak Gio.
Mamah Alex tersenyum kepada pak Gio dan menganggukkan kepalanya.
“Mari kita makan dulu,” ajak Mamah Alex.
“Yuk gaes, kita makan dulu,” imbuh Alex.
***
Mereka berjalan ke sebuah ruangan yang luas, dengan berbagai furniture yang melengkapinya. Ada meja makan panjang lengkap dengan beberapa kursi. Terlihat ukiran yang berliuk indah di beberapa sisi dari meja dan kursi itu.
Di meja makan, sudah berjejer rapi aneka makanan yang tak biasa mereka lihat. Tak lupa, bermacam-macam buah juga tertata apik di sana. Mars, Venus dan Dian terlihat canggung saat bersantap di meja makan yang mewah itu.
“Ayolah gaes, jangan canggung gitu. Anggap saja seperti rumah sendiri,” ujar Alex.
“Oke Lex,” jawab Mars dan Venus bersamaan.
Setelah selesai makan, Alex mengajak teman-temannya untuk berbincang di taman. Saat itulah Alex kembali menceritakan kisah hidupnya secara lengkap.
“Gaes, terima kasih udah menemaniku saat susah. Aku belajar banyak hal dari kalian, dari persahabatan kita,” ucap Alex.
“Sama-sama Lex,” jawab Yogi mewakili teman-temannya.
“Sayang, maaf. Bukan maksudku menyembunyikan apa pun. Tapi memang setelah bertahun-tahun, kami baru berhasil merebut kembali perusahaan papah.” Alex menggenggam tangan Meli.
“Tak apa, tak masalah bagiku. Entah seorang pengusaha atau karyawan swasta, perasaanku tetap sama,” ucap Meli tersenyum.
Alex dan Meli saling menatap penuh cinta, rasa bahagia tergambar jelas pada senyuman mereka.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget