NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan

Farhan berjalan pulang dengan dada terasa hancur lebur. Seharusnya ia merasa lega, bahkan bahagia karena semuanya berakhir tanpa perlu ia bertindak apa‑apa. Namun kenyataannya justru sebaliknya rasa puas tidak dia rasakan, malah berganti rasa bersalah yang dalam setiap kali wajah ketiganya itu terbayang di kepalanya. Tanpa sadar, tangannya menghantam dadanya sendiri berulang kali, seolah ingin melenyapkan rasa sesak yang tumbuh di sana. Farhan merasa dirinya adalah manusia paling jahat di dunia ini.

Ini kali kedua ia melangkahkan kaki masuk ke rumah sejak Amira mengembalikan segalanya ke tempat semula. Dulu, saat semua masih terlihat biasa saja, ia tak pernah merasakan kehilangan, karena sama sekali tak tahu bahwa istrinya diam‑diam telah merencanakan kepergian. Sekarang, saat rumah kembali seperti sedia kala, ia justru harus tinggal di rumah besar ini sendirian dingin dan sepi menyapa setiap sudut yang dilaluinya.

Saat memasuki ruang tamu, kebiasaannya dulu selalu disambut barisan bingkai foto kenangan bersama Amira. Kini dinding itu kosong melompong. Ia terus berjalan menuju ruang keluarga di sana dulunya tergantung potret pernikahan mereka yang indah menurut Amira, namun kini tak tersisa satu pun.

“Apa dia… benar‑benar membakar semuanya?” gumam Farhan pelan, suaranya bergetar tertahan kesedihan.

Rumah memang kembali seperti awal, namun hatinya tidak. Sesuatu yang berat dan asing menyelimuti dada rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan dengan kata‑kata.

Ia bergegas menuju kamar kedua adik‑adik iparnya. Benar saja semua barang yang pernah ia berikan tersusun rapi di sana, dikembalikan sempurna. Kamar itu kembali kosong, hanya menyisakan perabot yang ada sejak awal mereka datang. Air mata Farhan akhirnya jatuh membasahi pipi, tak sanggup lagi ia tahan.

“Aku telah menyakiti hati anak‑anak yang polos…” ucapnya lagi, kali ini lebih terdengar seperti bisikan yang menyayat.

Tak lama kemudian telepon genggamnya berdering asisten kantor menelepon karena sejak izin pergi tadi, Farhan tak kunjung kembali. Ia menjawab singkat, datar dan dingin

“Saya tak akan kembali lagi hari ini. Saya sedang kurang enak badan.”

Kini ia berada di dalam kamar tidurnya tempat di mana ia dan Amira berbagi ruang selama pernikahan. Di sini mereka melaksanakan kewajiban suami istri layaknya pasangan lain, meski Farhan selalu melakukannya tanpa ada rasa cinta, sering kali membayangkan wajah wanita lain saat berdekatan dengan istrinya. Bukankah itu dosa yang tak termaafkan? Udara di ruangan itu terasa begitu dingin dan sunyi. Di atas meja rias yang dulunya dipenuhi peralatan kecantikan sederhana milik Amira, kini tak tersisa apa‑apa. Ia berjalan perlahan menuju lemari, baru sadar bahwa seluruh pakaian Amira hanya memenuhi dua rak saja tak lebih. Dan kini rak itu kosong, kecuali satu potong baju tidur seksi yang dulu pernah ia belikan untuknya.

Di sanalah penyesalan demi penyesalan mulai menyerbu habis‑habisan. Ia sadar betapa ia tak pernah peduli pada istrinya. Ia kira memberikan kartu ATM berisi uang cukup banyak setiap bulan sudah lebih dari cukup. Namun kini ia tahu uang itu masih utuh, tak pernah dipakai Amira sedikit pun untuk keperluan pribadinya.

Lamunannya terputus saat teleponnya bunyi lagi nama Clarisa terlihat di layar. Namun Farhan tak berniat mengangkatnya. Ia membiarkan suara itu hilang, lalu berbaring di sisi tempat tidur yang biasa ditempati Amira, merasakan sisa bayang kehangatan yang tak lagi ada.

“Aku bajingan…” bisiknya parau. “Bahkan aku sudah lama tak memeluknya dengan tulus. Hanya terus mengabaikan keberadaannya…”

Tiba‑tiba ia teringat pada rekaman dari CCTV yang sempat ia minta dari petugas keamanan rumah. Segera ia membukanya lewat hpnya, mencari hari‑hari saat ia sering pulang terlambat atau tak pulang sama sekali. Ia melihat Amira datang berkali‑kali, yang membuat dia terkejut Amira pernah masuk ke kamarnya cukup lama dan keluar dengan raut wajah sedih dan kecewa. Amira terekam untuk yang terakhirnya saat dia bersama sepupu

dan saat dia bicara serius dengan Farhana. amira pun pulang dalam keadaan sedih. Farhan refleks menonjok tembok kamarnya sampai Jari-jarinya berdarah.

“Lo sungguh bajingan, Farhan!” teriaknya melampiaskan amarah pada dirinya sendiri, memukul dinding berulang kali meski rasa sakit mulai menjalar. Namun tak ada yang berubah. Penyesalan tetaplah penyesalan yang datang terlambat.

#

Darah menetes perlahan dari buku-buku jari ke lantai keramik, meninggalkan noda merah yang makin melebar. Farhan tak peduli ia justru menekan tangannya semakin keras ke dinding, seolah rasa sakit fisik ini bisa sedikit mengikis rasa sesak di dadanya. Napasnya tersengal, bahunya terguncang isak tangis yang tak lagi bisa ia tahan.

Belum sempat ia tenang, terdengar suara pintu terbuka dari depan. Bi Sumi datang atas perintah Ayumi untuk melihat keadaan Amira dan kedua saudaranya. Namun, ia dikejutkan oleh keadaan Farhan laki-laki itu berjalan gontai dengan tangan yang masih berlumuran darah. Awalnya Farhan mengira Amira yang datang. Wajah Bi Sumi tampak cemas melihat keadaan tuannya.

“Mas Farhan… ya Tuhan, tangan Mas berdarah!” serunya terkejut, lalu segera memeriksa tangan Farhan. “Mari saya bersihkan dulu, nanti bisa infeksi.”

Farhan hanya diam, membiarkan wanita tua itu menarik tangannya pelan menuju dapur. Ia masih terhanyut dalam rasa bersalah.

“Bi… Amira pergi. Dia sudah tahu semuanya,” ucap Farhan lirih saat Bi Sumi mulai mengompres lukanya dengan air bersih.

Wanita itu mengangkat wajah sejenak, matanya tampak sendu. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. “Yang sabar, Mas. Ini ujian rumah tangga Mas dan Mbak Amira. Seharusnya Mas jujur sejak awal mungkin kejadian seperti ini tak akan terjadi.”

Kalimat itu menghantam dada Farhan lebih keras dari pukulan apa pun. Ia menunduk dalam, suaranya bergetar saat kembali bicara.

“Apa saat itu Amira masuk ke kamarku cukup lama? Apa dia menangis?” tanya Farhan memastikan.

Bi Sumi berhenti sejenak, menatapnya dengan pandangan iba namun tegas. “Iya, Mas. Di dalam kamar Mas, Mbak Amira menangis kencang; saya mendengarnya dari luar… Saat keluar, ia berusaha menutupi kesedihannya. Ia tak pernah mengeluh atau menceritakan masalah pernikahannya. Mbak Amira cukup baik sebagai seorang istri.”

Farhan meremas ujung meja dengan tangan yang tak terluka, matanya kembali memanas. “Aku bodoh… aku kira memberinya kemewahan sudah cukup. Aku tak sadar ia merasa sendirian di rumah yang besar ini.”

“Mas, kesalahan memang sudah terjadi,” ucap Bi Sumi lembut sambil membungkus luka dengan perban kasa. “Tapi selama masih ada waktu, masih ada kesempatan untuk berubah. Mungkin Mas harus berusaha memperbaiki semuanya; semoga Mbak Amira mau memberi kesempatan itu.”

Saat ucapan itu terucap, ponsel Farhan kembali berbunyi. Kali ini nama ayahnya tertera di layar. Ia mengangkatnya dengan tangan yang gemetar.

“Farhan, kenapa kamu tak ada di kantor?” suara ayahnya terdengar tegas dari seberang. “Kamu di mana?”

“Aku di rumah,” sahut Farhan dengan suara parau. Jawaban itu langsung menarik perhatian Arhan ia menduga sesuatu telah terjadi.

“Ada apa?” tanya Arhan terus terang.

Farhan menelan ludah susah payah. “Dia pergi, Pah. Dia sudah keluar dari rumah ini.”

Hening sejenak menyelimuti sambungan telepon, sebelum terdengar desah napas berat ayahnya. “Kenapa dia pergi? Apa kamu menyakitinya?”

“Maaf… aku baru sadar sekarang betapa jahatnya aku pada Amira,” jawab Farhan parau, air matanya jatuh membasahi perban baru di tangannya. “Aku akan berusaha memintanya kembali, Pah. Aku akan minta maaf dan berusaha memperbaikinya, apa pun yang terjadi.”

1
falea sezi
obati hati yg luka ya fachri😕 kasian dia menderita terus.. eh gmna kabar mantan durjana nya uda nikah kah am mantan terindaj🤣🤣 up banyak donk Thor
rasahaz
kmu psti bsa amira mmbuka hati bt fahri,,,, 🥰🥰🥰
rasahaz
ayo fahri semngat kmu psti bsa mengobati luka amira,,, tunjukn pda ny klu dia brharga bt mu,,, 💪💪💪💪💪😅
Emily
bagus
Emily
Amira kamu kuat...jgn lemah di hadapan Farhan
Emily
merasa kehilangan kau farhan
Emily
kenapa gak ada yg like padahal ceritanya bagus banget..klo novel sering ku skip sampe berbab bab
Emily
Farhan msih ngarep Clarissa yg udah berkhianat
Lilis Yuanita
kok gk up
Emily
pergi yg jauh amira
Lilis Yuanita
lmjut
falea sezi
nnggu up. bolak. balik😒 lama amat thor.. bkin amira. move on
rasahaz
gpp amira mulai buka hati mu bt yg lain,,, 💪💪💪
falea sezi
mah mantan nya inisial f ini jg f🤭🤣
rasahaz
mantan misua farhan calon misua baru ny fahri,,, 😅😅😅
Masha 235: iya, serba fah.. fah..😁
total 1 replies
falea sezi
bner g usa bahas farhan
falea sezi
akirnya up jg 🤭 q kirim hadiah tp banyak up ya thor bolak balek nunggu up q pdhl banyak novel yg q baca tp ehh nyantol disini
Lilis Yuanita
lnjut
rasahaz
bgus thor lupakn ja laki2 modeln c farhan mh ngga ush dbhas lgi,, bkin esmosi ja dbhas jg,,, 😅😅😅
rasahaz
mng kmu mh laki2 plin plan farhan,,, slama dua tahun kmu nyakitin amira krn msh cinta sma masa lalu mu, tpi stlh amira pergi kmu bru sadar aaaaahhhk alasan basi kmu mh, nnga konsisten,, 😅😅😅😜😜😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!