NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Kerling Sukma Ajak Nikah

*Gadis Bermata Hijau* 

Setelah jaring mulai terputus, tangan Sukma semakin leluasa dan kemudian membuat lubang yang lebih lebar pada jaring yang menjerat mereka.

Hingga akhirnya, Sukma bisa bergerak leluasa lalu melompat turun ke tanah, meninggalkan Joko sendirian di atas jaring yang sudah robek besar. Sukma memadamkan kembali sinar ilmu Irisan Tapak Pedang di telapak tangannya.

Perginya Sukma darinya membuat Joko Tenang lega. Dalam kondisi menahan rasa denyut sakit dari bawah perutnya, Joko segera memulihkan keadaannya.

Sementara itu, alam mulai meremang teduh. Sebentar lagi gelap akan menyelimuti hutan itu.

Pandangan Sukma tanpa sengaja menangkap warna biru-biru yang tidak begitu jauh dari lokasi mereka terperangkap.

“Buah cumil,” ucap Sukma lirih.

Sambil senyum-senyum sendiri mengingat pergulatan di dalam jaring, Sukma berlari-lari kecil seperti kancil menemukan makanan menuju tempat buah-buah biru tumbuh.

Buah cumir memiliki daun seperti rumput, tetapi helainya lebih pendek dan tebal. Namun, ia memiliki batang dan ranting kayu.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Sukma langsung memetik sejumlah buah cumir. Namun, ia berhenti. Sukma harus memiliki wadah untuk menempatkan buah cumir yang cukup banyak. Ia pun memandang ke sana dan ke mari mencari.

“Tangkap!” seru Joko yang telah melempar sesuatu kepada Sukma.

Sukma segera menangkap benda itu dengan agak terkejut. Ternyata sebuah kulit kayu yang cukup keras berbentuk setengah silinder yang satu ujungnya ditutup menggunakan lapisan daun-daun.

Joko Tenang sudah sehat kembali, terlihat dari wajahnya yang sudah cerah seperti matahari senja.

“Telima kasih,” ucap Sukma seraya tersenyum malu kepada Joko.

“Kenapa kau senyum-senyum sepelti itu?” tanya Joko dengan wajah agak merengut.

“Maaf tadi di atas,” ucap Sukma. Ia tersenyum menahan tawanya.

“Balu kali ini aku dipellakukan sepelti itu,” gerutu Joko yang berdiri lima langkah dari Sukma.

“Supaya kita tidak sama-sama malu, kita halus menikah,” kata Sukma.

“Tidak!” tegas Joko.

“Tidak bagaimana? Bibilku, dadaku, dan semua tubuhku ada halganya. Halganya itu adalah dengan pelnikahan!” tandas Sukma dengan nada tinggi. Ia sewot kepada Joko. Lalu lanjutnya, “Jangan-jangan, bulungmu tidak ada halganya.”

“Sembalangan!” rutuk Joko. “Aku tidak mau bahas kejadian yang membuatku menjadi olang tidak belguna.”

“Ya sudah, tapi maafkan aku ya, Joko,” kata Sukma sambil maju selangkah.

“Tidak!” tegas Joko. Namun, tiba-tiba ia berubah sikap, “Eh, iya iya iya!”

“Hm?” Perubahan sikap yang mendadak itu membuat Sukma kerutkan kening. Namun, kemudian ia tersenyum. Lalu katanya, “Jika begitu, itu altinya kau setuju kalau kita menikah.”

“Tidak. Kau pikil belapa usiamu? Apakah kau mau jualan anak sehingga mau bulu-bulu menikah?” debat Joko.

“Menikah itu tidak halus langsung punya anak. Yang penting kita bahagia,” kata Sukma.

“Di mana-mana, yang namanya lelaki dan pelempuan menikah, untuk punya anak. Semakin cepat menikah, anaknya semakin banyak. Aku belum siap jika halus melahilkan,” ujar Joko, tidak mau kalah argumen.

“Hihihi...!” tertawa panjang Sukma. Lalu katanya di dalam tawanya, “Aku lebih semangat untuk menikah denganmu jika kau yang melahilkan. Hihihi!”

“Jangan teltawa sepelti itu!” hardik Joko.

“Kita sudah beljodoh. Apalagi yang bisa kau bantah? Kau tiba-tiba muncul jadi dewa penyelamatku. Kita beldua sekalang. Kita sudah saling sentuh-sentuhan, bahkan belciuman. Apa lagi dalihmu untuk membantah bahwa kita tidak beljodoh?” kata Sukma.

Dalam hati Joko membenarkan kata-kata gadis cantik bermata hijau itu. Akhirnya, tanpa menjawab pertanyaan Sukma, Joko memilih pergi ke kumpulan tanaman buah cumir.

“Aaah, belalti kau membenalkan aku!” kata Sukma girang. Dengan riang ia juga mulai memetiki buah cumir. Lalu katanya lagi, “Besok kita pulang menemui Ayah dan memintanya untuk menikahkan kita.”

Joko diam, tidak menanggapi perkataan Sukma. Ia kesal, tetapi ia bingung sendiri di dalam pikirannya.

Melihat keterdiaman Joko, Sukma jadi menyimpulkan bahwa Joko Tenang sedang marah.

“Kau masih malah, Joko?” tanya Sukma dengan nada suara pelan dan lembut.

“Tidak!” jawab Joko agak ketus.

“Jawabanmu menunjukkan kau masih malah padaku,” kata Sukma dengan suara sedih.

Nada sedih Sukma tiba-tiba mengingatkan Joko pada Kusuma Dewi. Ia teringat insiden di dalam sungai saat menangkap ikan bersama Kusuma Dewi dan Curaina. Joko tanpa sengaja pernah membuat Kusuma Dewi menangis karena ia pura-pura tidak menerima maaf gadis yang mencintainya itu.

“Ti... tidak, aku tidak marah,” kata Joko cepat lalu memaksa bibirnya untuk tersenyum, sehingga terlihat kocak di mata Sukma.

Sukma tersenyum lebar melihat senyum terpaksa Joko.

“Baik, aku tidak akan mendesakmu,” kata Sukma akhirnya. Ia sadar bahwa Joko telah berkorban nyawa untuk menyelamatkannya. Seharusnya ia tidak mengintimidasi perasaan pemuda berbibir merah itu.

“Hali mulai gelap. Kita halus cepat,” kata Joko.

“Iya,” sahut Sukma.

Keduanya pun bersegera memanen buah cumir yang tingginya seperti tanaman cabai.

Sebelumnya buah cumir itu telah dipanen sebagian oleh Nara.

Akhirnya, kegiatan panen mereka selesai. Tidak ada yang mereka sisakan lagi. Perlu dua wadah kulit pohon untuk menempatkan semua cumir yang mereka petik. Keduanya pun pulang menjelang gelap.

“Ada yang aku helankan,” kata Joko yang berjalan berdampingan dengan Sukma, tapi dalam jarak empat langkah.

“Apa?”

“Padahal kau punya kesaktian, tapi kenapa kau tidak melawan waktu di keleta kuda?”

“Aku memang punya ilmu, tetapi telbatas. Aku tidak sepelti kedua kakakku. Aku gadis penakut. Aku lebih banyak tinggal di dalam pelguluan. Jika aku kelual, aku halus dikawal. Tapi ketiga olang itu begitu kejam, semua olang yang menemaniku pelgi dibunuh tanpa ampun,” tutur Sukma. Ia sedih dengan kondisinya.

“Apa nama pelguluanmu?”

“Pelguluan Tiga Tapak.”

“Ayah ibumu pasti sedang menangis mencalimu. Pasti meleka menduga kau sudah mati.”

“Makanya, besok aku halus pulang.”

“Apakah Bibi Nala akan mengizinkan kita pelgi?”

“Entahlah. Sehalusnya kita boleh pelgi. Kita tidak punya ulusan lagi dengan Bibi.”

“Tapi kenapa Bi Nala tinggal di sini sendilian?”

“Kau bisa menanyakannya nanti. Aku tidak belani menanyakannya,” kata Sukma.

“Aneh. Tapi kau belani kepadaku, padahal aku adalah lelaki. Malah belani mengajak buat anak,” kata Joko menggerutu.

“Siapa yang mengajak membuat anak? Aku hanya mengajak menikah. Kau mau mulai lagi?” tanya Sukma, mata indahnya mulai mendelik lagi.

“Tidak tidak tidak, hehehe!” ucap Joko mengalah sambil cengengesan.

Sukma tersenyum merasa menang.

“Kau mau ke mana pakai keleta kuda?” tanya Joko.

“Ke kediaman Kakek Gulu.”

“Siapa kakek gulumu?”

“Pendekal Selibu Tapak.”

“Sukma, ilmu lompat apa yang tadi kau lakukan menangkapku?”

“Lompatan Latu Belalang. Ibu yang mengajaliku.”

“Kenapa kau pakai cala itu? Dengan cala itu kau pasti tahu bahwa kau akan memelukku. Kenapa kau belani?”

“Setelah kau belkolban dili untuk menolongku, aku melasa bahwa aku ini sudah menjadi milikmu. Kalena jika tidak, pasti aku sudah mati. Dengan demikian, aku pun melasa kau juga adalah milikku. Jadi aku tidak akan malu kepadamu, tapi aku akan malu kepada olang lain. Tellebih, dipelkuat dengan kejadian di dalam jaling,” jelas Sukma seraya tersenyum-senyum malu. Hatinya memang berbunga-bunga jika membahas masalah insiden-insiden memalukan di antara mereka berdua.

“Kenapa kita bahas masalah itu lagi?” protes Joko.

“Bukankah kau yang beltanya, aku hanya menjawab dan menjelaskan,” kilah Sukma.

Joko akhirnya hanya hempaskan napas panjang.

“Joko, apakah kau sudah punya kekasih?” tanya Sukma, sangat ingin tahu, karena itu menyangkut masa depan cintanya juga, yang sudah mulai tumbuh teruntuk Joko.

“Entahlah. Tapi...” jawab Joko ragu. “Tapi dia akan menungguku. Tapi lagi, sekalang dia hilang jatuh ke julang. Tapi lagi, dia juga tidak mati kalena ada yang menyelamatkannya.”

“Siapa namanya?”

“Kusuma Dewi.”

“Belalti hubungan kalian sudah tidak jelas. Lebih baik denganku. Aku sudah siap, bahkan jika halus menikah. Apalagi namaku sedikit milip dengan nama Kusuma.”

Joko Tenang jadi berpaling memandang wajah Sukma yang masih terlihat kecantikannya dalam keremangan gelapnya hutan. Dipandangi tanpa berkedip seperti itu, Sukma hanya memberikan senyuman tercantiknya.

Selanjutnya Joko meluruskan kembali pandangannya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran belianya.

Akhirnya mereka telah sampai di pokok pohon yang menjadi pintu masuk ke dalam kediaman Nara. Mereka pun dihadapkan soal baru, yaitu bagaimana cara membuka pintu tersebut. (RH)

 

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!