Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.
Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.
Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sepulang dari psikiater, sesuatu di dalam diri Nayla akhirnya mereda. Bukan karena semua pertanyaan terjawab, melainkan karena Nayla berhenti melawan kenyataan.
Ia berhenti menyebut dirinya Nayla, setidaknya di hadapan dunia.
Ia menerima bahwa kini, ia adalah Arlena.
Nayla yang dulu telah mati bersama tubuhnya, terkubur bersama kenangan pahit, luka, dan ketidakadilan. Sedangkan Arlena… entah di mana jiwanya berada. Mungkin telah pergi, mungkin memilih beristirahat. Yang jelas, sejak Roy mendekam di penjara, Nayla tidak lagi bermimpi bertemu Arlena. Tidak ada tatapan diam itu lagi. Tidak ada bayang-bayang yang menghantui tidur malamnya.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla merasa diizinkan untuk hidup.
Sebagai Arlena, ia mulai memperbaiki kesalahan masa lalu, bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketulusan. Ia belajar mencintai Davin tanpa rasa bersalah, tanpa takut dianggap mencuri kebahagiaan orang lain. Davin tidak pernah menuntut, tidak pernah membandingkan Arlena yang dulu dan sekarang. Ia hanya menerima, dan itu membuat Arlena ingin menjadi versi terbaik dari dirinya.
Kepada Xavier, Arlena memberikan waktu yang tidak pernah diberikan sebelumnya. Mengantar sekolah, mendengarkan cerita sederhana tentang mainan dan teman-temannya, memeluk tanpa alasan. Setiap senyum Xavier adalah pengingat pahit sekaligus indah tentang betapa kejamnya Arlena dulu, dan betapa berharganya kesempatan kedua ini.
Hubungannya dengan Kanaya pun perlahan membaik. Tidak instan. Tidak hangat sepenuhnya. Kanaya masih sering bersikap dingin, tatapannya masih penuh curiga. Emosinya yang labil membuatnya sulit menerima perubahan Arlena yang terlalu drastis. Namun Arlena tidak lagi tersinggung. Ia memilih sabar, memilih diam, memilih membuktikan lewat waktu.
Ayu, ibu mertua yang dulu paling keras padanya, saat kasus hukum, akhirnya membuka kembali pintu hatinya. Ia melihat Arlena bukan dari kesalahan masa lalu, melainkan dari usaha yang konsisten. Dari cara Arlena merawat rumah, menyayangi cucunya, dan menjaga Davin. Penerimaan Ayu adalah pelukan yang tidak diucapkan, tetapi sangat terasa.
Arlena tahu, tidak semua orang akan langsung percaya. Tidak semua luka bisa sembuh cepat. Namun kali ini, ia tidak ingin kabur.
Karena meskipun Nayla telah mati, ia tidak ingin hidup Arlena kembali sia-sia.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh orang lain, Arlena merasa ia pantas bahagia.
Malam harinya, Arlena terlelap di pelukan Davin. Dadanya naik turun tenang, kepalanya bersandar nyaman di dada pria yang kini menjadi rumahnya. Bagi Nayla, ini adalah mimpi yang dulu bahkan tak berani ia sebut doa, memiliki suami yang hangat, perhatian, dan tidak pelit kasih sayang.
“Mas,” panggil Nayla pelan, suaranya hampir tenggelam oleh detak jantung Davin.
Davin hanya berdehem kecil, lengannya mengencang sedikit, seolah berkata aku dengar.
“Kamu cinta nggak sama aku?”
Davin tersenyum tipis dalam gelap. Tangannya mengusap rambut Arlena dengan lembut.
“Cinta,” katanya mantap. “Cinta banget malah.”
Nayla menelan ludah. Ada satu pertanyaan yang sejak lama mengendap di dadanya.
“Kamu cinta aku yang sekarang… atau aku yang dulu?”
Davin terdiam sejenak, bukan karena ragu, melainkan mencari kata yang paling jujur.
“Waktu awal ketemu, aku cinta sama kamu. Terus sempat kecewa, iya,” ucap Davin pelan. “Tapi sekarang… aku sangat cinta. Ingat ya, Nay eh Arlena,” Davin terkekeh kecil, “kecewa itu bukan berarti nggak cinta.” Davin sering bercanda memanggil istrinya itu Nayla, karena memang dulu Arlena sering ngeyel kalau dia Nayla.
Jawaban Davin menembus pertahanan terakhir di hati Nayla. Hangat. Utuh. Tanpa syarat.
Di pelukan Davin, Nayla merasakan cinta yang baru, di raga yang baru, dengan nama yang baru. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menerima bahwa ia adalah Arlena. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai anugerah.
Nayla tersenyum kecil, memejamkan mata. Dalam hatinya, Nayla mengingat semua doa yang pernah ia panjatkan, tentang hidup yang lebih baik, tentang cinta yang tidak menyakitkan, tentang rumah yang aman.
Ternyata Tuhan tidak sekadar menjawab doanya.
Tuhan memberinya jauh lebih baik dari yang pernah ia bayangkan.
"Sayang." Davin memanggil istrinya.
"Iya." jawab Nayla.
"Bagaimana kalau kita pergi berdua, kita bangun rumah tangga kita dari awal, kita pergi bulan madu, kita kembali saling mengenal." mendengar perkataan Davin, Nayla merasa malu sendiri, Nayla pernah punya impian pergi berbulan madu, tapi semuanya hanya mimpi belaka, hidup Nayla jangankan memikirkan bulan madu, untuk bayar kontrakan dan kebutuhan hidup yang lebih penting saja masih suka kurang.
"Engga usah lah mas, kita bukan pengantin baru." jawab Nayla.
"Ya bulan madu kan ngga cuma buat pengantin baru, pengantin lama juga boleh. Siapa tahu dengan kita pergi bulan madu nanti ada adiknya Xavier."
Mendengar perkataan Davin membuat pipi Arlena memerah, tentunya adik untuk Xavier, Nayla sudah membayangkan prosesnya.
"Bagaimana?" tanya Davin.
"Nanti aja lah mas, aku juga masih harus ke psikiater." jawab Nayla.
Davin tersenyum, dan merasa lega, karena istrinya tidak keberatan pergi ke psikiater dan sekarang benar-benar berubah.
Pagi harinya, seperti biasa, Arlena adalah orang paling sibuk, mengurus anak dan suaminya, apalagi Davin lebih manja daripada Xavier.
"Ayok pakai sepatunya." kata Arlena yang sudah selesai membantu memasangkan kaos kaki ke Xavier.
"Sayang tolong..." teriakan dari Davin terdengar.
"Iya mas, sebentar." Arlena menggandeng tangan Xavier keluar dari kamar dan sudah mendapati suaminya didekat meja makan.
"Pasang dasi." kata Davin dan menyerahkan dasi yang ia bawa.
Arlena menerima dasi dari suaminya dan Davin mencondongkan tubunya, karena tentunya Davin sangat tinggi, Arlena tidak mungkin berjinjit.
"Sudah." Arlena menepuk dada suaminya.
"Kamu sudah rapi?" Davin melihat penampilan Lena dari atas sampai bawah.
"Yah, aku mau ke makam Nayla, sekalian mampir ke rumah ibu." jawab Arlena.
Davin tidak keberatan, selama hal yang dilakukan istrinya adalah hal positif. Maka Davin mendukung penuh, dan soal Nayla, Davin tidak keberatan, selama nama Nayla membawa sisi positif untuk istrinya, maja Davin mendukung penuh.
Arlena turun dari mobil dan sebelum masuk ke pemakaman, Arlena terlebih dahulu membeli bunga baru kemudian masuk mencari makam Nayla.
Arlena duduk didepan makam Nayla, dan tidak lupa menabur bunga.
"Nayla, kamu sudah menyatu dengan tanah, tapi aku masih disini." kata Nayla.
Nayla kemudian membaca dibawah nama Nayla ada nama Rama, dan Nayla berjanji akan menyelesaikan soal Rama, dan kali ini Nayla akan membicarakan dengan Davin. Entah nanti Arlena akan dianggap gila atau apa, tapi pada kenyataanya, Arlena rutin datang ke psikiater.
Setelah puas berada dimakam Nayla, Arlena mengajak Davin untuk keluar, kali ini tujuan Arlena adalah rumah bu Farida, jiwa Nayla sangat merindukan ibunya.
Selama perjalanan dari pemakaman ke rumah bu Farida, Nayla menceritakan apa yang terjadi pada Nayla ke Davin. Tentang kecelakaan palsu dan rencana Arlena untuk membongkar topeng Rama.
Davin mendengarkan denga seksama, tanpa menyela, Davin mendapatkan saran dari dokter, kalau Arlena sedang bicara kalau dia Nayla, maka di iyakan saja, jangan di hakimi, karena belum jelas apa yang menyebabkan Arlena merasa kalau dirinya Nayla, karena dokter juga tidak percaya dengan bertukarnya jiwa.
"Baiklah, nanti mas bantu." jawab Davin
"Makasih mas, I love you." kata Arlena yang membuat Davin tersenyum tipis, Davin merasa hubungannya dengan Arlena benar-benar baru, karena banyak sekali tingkah Arlena yang baru, bukan Arlena yang dulu, tapi jujur Davin suka Arlena yang sekarang.