"Aku tidak butuh uangmu, Pak. Aku hanya butuh tanggung jawabmu sebagai ayah dari bayi yang aku kandung!" tekan wanita itu dengan buliran air mata jatuh di kedua pipinya.
"Maaf, aku tidak bisa!" Lelaki itu tak kalah tegas dengan pendiriannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan aku buktikan
"Bapak kenapa selalu saja bawa-bawa dokter Seno? Apakah bapak cemburu?" tanya Sofia.
"Ya aku cemburu!" jawab Axel terdengar tegas.
Sofia ternganga menatap tidak percaya. Ini polisi kesambet setan apa? Dia cemburu?
Sofia tersenyum tidak percaya. "Bapak cemburu?"
"Apakah perkataanku masih kurang jelas? Apakah aku tidak boleh cemburu saat melihat istriku dekat dengan adikku sendiri?" jawab Axel semakin mendekat dan berdiri di hadapan Sofia.
Sofia menjadi gelagapan dan jantungnya jadi tak karuan. Namun, ia tidak boleh percaya atau baper. Mana mungkin Axel menyukai dirinya.
"Sof, aku tidak tahu bagaimana caranya ngomong sama kamu. Aku benar-benar serius ingin memperbaiki hubungan rumah tangga kita," ungkap Axel.
"Hubungan serius seperti apa yang bapak inginkan?" tanya Sofia masih tidak paham.
"Seperti pasutri pada umumnya. Kita mulai dari awal, kita jalani hubungan ini dengan baik. Aku terima kamu apa adanya, dan begitu juga sebaliknya."
"Bapak yakin ingin memulai hubungan ini dengan serius?"
"Aku sangat serius Sofia," jawab Axel yakin sekali.
"Aku tidak bisa percaya begitu saja."
Axel memicingkan matanya. "Apa yang bisa aku lakukan agar kamu percaya?"
"Aku tidak butuh ucapan dan kata-kata, aku ingin bukti dan kerja nyata," jawab Sofia tenang.
"Apa yang harus aku buktikan, Sofia?" tanya Axel tidak paham. Kenapa lelaki satu ini tidak peka sama sekali.
Sofia memasok udara sepenuh dada agar ia tetap sabar menghadapi suaminya.
"Hubungan serius dengan status aku masih sebagai istri selundupan? Apakah seperti itu yang bapak inginkan? Kalau begitu biarkan dokter Seno yang akan memberi identitas dan pengakuan hukum untuk anakku."
"B-bukan begitu maksud aku, Sofia. Kenapa kamu sedikit-sedikit bawa Seno dalam hubungan kita. Tentu saja aku akan melegalkan pernikahan kita. Aku yang akan memberi identitas untuk anakku. Bikin muak aja," ujar polisi itu menatap malas pada sang istri.
"Yasudah, jika tidak ingin dokter Seno ada diantara kita, maka buktikan ucapan bapak, jangan omongan aja."
"Akan aku buktikan secepatnya. Dan aku minta kamu jangan lagi ketergantungan dengan adikku. Mulai sekarang apapun yang kamu butuhkan kasih tahu aku. Jika perlu tuh anak nggak usah nongol di hadapanku."
"Idih! Kayaknya pak Axel udah di lalap api cemburu!" seru Seno yang tiba-tiba nongol di depan pintu kamar pasangan itu.
"Eh bujang lapuk! Sejak kapan kamu ada disini? jangan-jangan dari tadi kamu disini ya?" ujar Axel menatap curiga. Hal itu membuat Seno ingin sekali ngakak.
"Kalau iya, emangnya kenapa?"
Axel menatap Sofia sangat tajam. sorot matanya menyala di bakar api curiga dan cemburu buta.
"Eng-nggak! Dokter Seno tadi nggak ada disini," ucap Sofia gugup.
"Sofia, kamu tidak ingin jujur denganku?" tanya Axel datar penuh penekanan.
"T-tapi memang tidak ada...."
"Udah biarkan saja dia ngamok, Sof. Raja Fir'aun memang suka nuduh tanpa bukti!" potong Seno.
"Kamu diam ya! Aku lagi ngomong sama istriku. Sembarangan ngomongin aku firaun. jika aku fir'aun, berarti kamu raja namrud!" sahut Axel Gedeg sekali melihat dokter kandungan itu. Kenapa selalu saja ada dia. Berasa ingin sekali memberinya pelajaran agar tidak lagi masuk dalam hubungannya dan istri.
"Hahaha.... Jelek banget ngomongin aku namrud. Padahal kata mama aku ini spek nabi Yusuf. Kalau Abang memang cocok speknya Fir'aun. Beruntung sofia memiliki sifat seperti asiyah," jawab Seno dengan kekehannya.
Axel semakin kesal saja melihat Seno yang cekikikan. Ia menghampiri Seno hendak memberinya pelajaran.
"Kamu dari kemaren-kemaren buat aku kesal Mulu ya. Mumpung nggak ada mama, sini biar aku tabok mulut kamu i..."
"Apa-apaan kamu, Axel!" seru mama membuat Axel mengurungkan niatnya.
"Mama disini juga?" tanya Axel sedikit lega. Berarti Seno dan mama baru saja datang. Ternyata Sofia jujur.
"Kamu udah berani main fisik sama adikmu?" tegur mama menghampiri kedua putranya. Memang sedari kecil ia tidak pernah mengajari kedua putranya saling menyakiti, apalagi main fisik. Kakak beradik itu memang saling menyayangi, jika marah mereka hanya adu mulut dan saling mengejek saja, tetapi sebenarnya mereka sangat peduli satu sama lain.
"Abisnya dia ngeselin banget, Ma. Dan mama kenapa diam saja melihat Seno gangguin istri aku. Emangnya nggak ada apa perempuan lain di dunia ini?"
"Banyak. Tetapi memang mama yang suruh," jawab mama membuat Axel tak habis pikir.
Bersambung....