Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Menunjukkan Tanggung Jawab
CLARISSA: Kamu ingin menemui mereka?, untuk apa sayang?
HADI: Melamar kamu.
CLARISSA: Apa???
HADI: Kenapa? Kamu gak mau dilamar ya?
CLARISSA: Bukan begitu maksudku, apa kamu bisa meyakinkan mereka?
HADI: Kita lihat nanti.
CLARISSA: Aku ikut kamu ke Jakarta.
HADI: Tidak perlu, biar aku hadapi orang tuamu sendiri.
CLARISSA: Tapi aku ikut kamu sayang.
********
Aaliyah terbangun dengan suasana hati yang suram setelah menangis semalaman. Setelah melaksanakan sholat subuh, ia membuka jendela kamarnya. Kemudian ia keluar menemui bundanya. Bundanya sedang mencuci pakaian sambil memasak di dapur.
"Aaliyah kamu sudah bangun nak, kamu nangis lagi?" tegur bundanya.
Aaliyah tidak menjawab pertanyaan bundanya. Ia mengalihkan pembicaraan.
"Bunda, Aaliyah ingin pulang kampung mungkin seminggu dua minggu, boleh ya bunda?"
"Kenapa kamu ingin pulang kampung? bagaimana skripsimu?. Lagian di kampung sudah tidak ada nenek." ujar bundanya.
"Aaliyah ingin belajar agama bund sama Ustadzah Farida, guru mengaji Aaliyah waktu SD SMP dulu."
"Kalau begitu bunda antar Aaliyah pulang kampung."
"Jangan bund, bagaimana dengan pesanan jahitan bunda. Biar Aaliyah pulang sendiri. Aaliyah kan sudah besar. Nggak mungkin nyasar, apalagi kampung sendiri. Aaliyah janji, setelah pulang dari kampung Aaliyah akan mengurus skripsi lagi."
Dengan berat hati akhirnya Ibu Rini mengiyakan permintaan anaknya.
*********
Sabtu siang Hadi mengendarai mobilnya menuju Jakarta bersama dengan Clarissa. Dalam perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Clarissa masih belum yakin orang tuanya akan menyambut baik maksud Hadi. Iya khawatir bila dugaannya itu benar.
"Sayang, bagaimana kalau orangtuaku tidak menyambut baik keinginan kita menikah," tanya Clarissa pada Hadi.
"Kamu tidak usah berpikir macam-macam, kita hadapi orang tuamu saja dulu," jawab Hadi datar.
Hadi sudah mengira-ngira apa yang akan terjadi bila ia bertemu orang tua Clarissa. Hadi sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Sebelumnya ia sudah beberapa kali bertemu dengan orang tua Clarissa. Namun orang tua Clarissa kurang begitu senang Hadi menjalin kasih dengan anaknya.
Mereka tiba di Jakarta sore hari. Hadi mengantar Clarissa ke rumahnya kemudian ia mencari hotel di sekitar rumah Clarissa untuk istirahat sebentar karena ia diterima Orang Tua Clarissa nanti pada pukul delapan malam.
***********
Hadi memandang sejenak rumah megah yang berdiri angkuh di depannya. Rumah itu berada di kawasan kelapa gading yang merupakan kompleks elite. Sungguh kehidupan Aaliyah dan Clarissa sangat kontras pikirnya. Aaliyah dengan segenap kesederhanaan dan keterbatasannya, dan Clarissa dengan kemewahannya.
Ia memencet bel di pintu pagar dan dibuka oleh security. Ia mengatakan sudah janjian dengan pemilik rumah, namun tetap dikonfirmasi ke dalam oleh security. Clarissa keluar menyambut Hadi dan mengajaknya masuk ke rumah. Ia mempersilahkan Hadi duduk di ruang tamu kemudian ia masuk ke dalam memanggil Orang Tuanya.
Tidak lama kemudian Ayah Clarissa keluar. Ayahnya hanya sendiri, tidak didampingi Ibu Clarissa. Clarissa mengekor di belakang Ayahnya. Hadi berdiri menjabat tangan Ayah Clarissa. Tak ada senyum atau basa-basi muncul dari mulut Ayah Clarissa. Ayahnya kemudian duduk di kursi tepat di depan Hadi.
"Clarissa bilang kamu ingin bertemu denganku?" tanya Ayah Clarissa.
"Iya betul Pak. Terimakasih sudah meluangkan waktunya Pak," jawab Hadi.
"Ada yang bisa saya bantu," tanya Ayah Clarissa kembali.
"Begini pak, saya dan Clarissa menjalin hubungan sudah dua tahun lebih. Kami sudah sepakat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Jadi maksud kedatangan saya kesini adalah untuk melamar Clarissa," kata Hadi.
Ayah Clarissa tersenyum simpul kemudian berkata "Yang saya tahu kamu berbeda keyakinan dengan anakku, kamu melarang anakku buka praktik dokter dan anakku sudah jarang pulang bahkan tidak mau kembali ke Jakarta lagi. Apa yang ingin kamu jelaskan tentang itu semua?."
Hadi berpikir sejenak kemudian menjawab pertanyaan Ayah Clarissa satu persatu.
"Ya memang benar saya melarang Clarissa untuk buka praktik, saya tidak ingin Clarissa terlalu lelah bekerja. Tapi saya tidak pernah melarangnya untuk pulang atau pindah ke Jakarta Pak. Dan soal keyakinan, kami memang berbeda. Saya mohon maaf sebelumnya Pak, bila kami menikah Clarissa harus ikut keyakinanku."
Muka Ayah Clarissa memerah mendengar kata-kata Hadi, lalu berkata: "Maaf anak muda, kalau alasanmu melarang Clarissa buka praktik karena kamu tidak ingin Clarissa lelah, saya bisa terima. Sebelumnya saya juga sudah menyelidiki latar, pekerjaan dan semua track record kamu, saya tidak ada masalah dengan itu semua. Tapi kalau Clarissa harus berpindah keyakinan, lebih baik kamu cari perempuan yang lain saja."
"Pak, saya kemari melamar anak bapak merupakan bentuk tanggung jawab saya karena sudah memacari anak bapak lebih dari dua tahun. Kalau keputusan bapak tidak menerima lamaran saya, itu hak bapak. Saya hargai dan sangat bisa maklumi itu. Saya cuman ingin memastikan sekali lagi, apa Bapak tidak menerima lamaran saya?"
"Sebaiknya kamu cari perempuan lain saja anak muda," kata Ayah Clarissa.
"Ayah, Ayah bilang apa sih? Rissa sudah dewasa Ayah. Beri Rissa kebebasan menentukan pilihan," pekik Clarissa. Air matanya mulai tumpah.
Melihat Clarissa menangis, keduanya terdiam sejenak.
Hadi kemudian memecah keheningan mereka berdua. "Baiklah Pak, kalau keputusan Bapak seperti itu, saya hormati dan saya turuti. Berarti mulai hari ini hubungan saya dan Clarissa telah berakhir. Maafkan bila Bapak dan Keluarga menjadi susah karena hubungan kami."
"Apa Hadi? kamu jangan bilang hubungan kita berakhir begitu saja setelah semua yang telah aku lalui," sekarang Clarissa menyerang Hadi.
"Ayah, kalau Ayah tidak merestui aku, aku akan pergi. Lupakan saja kalau aku anak Ayah dan Ibu. Ayo kita pergi Hadi," ajak Clarissa pada Hadi
"Maaf Clarissa, saya tidak akan pernah membawamu lagi tanpa seizin Orang Tuamu. Saya sudah menunjukkan tanggung jawabku padamu dengan datang melamarmu. Tapi kamu harus menghormati orang tuamu." kata Hadi pada Clarissa.
Ayah Clarissa geram dengan sikap anaknya.
Hadi berdiri kemudian berpamitan pada Ayah Clarissa. "Terimakasih atas waktunya Pak. Mulai malam ini saya mengakhiri hubungan dengan anak Bapak. Saya pamit," katanya sambil menjabat tangan Ayah Clarissa, kemudian menoleh ke arah Clarissa.
"Maakan saya Clarissa, saya tidak bisa bersamamu lagi. Permisi."
"Tidak Hadi!, jangan pergi!" teriak Clarissa. Clarissa bermaksud untuk mengejar Hadi namun tangannya ditahan oleh Ayahnya. Clarissa terus menangis memanggil Hadi, membuat Ayahnya emosi, kemudian menampar pipi Clarissa. Clarissa akhirnya duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.
Ayah Clarissa berpesan pada security untuk menahan Clarissa apabila Clarissa ingin keluar malam itu. Namun Clarissa hanya berlari ke kamar dan berusaha menghubungi ponsel Hadi. Namun nomor tujuannya sudah tidak aktif lagi. Clarissa pun menagis menjerit-jerit di kamarnya. Ibu dan dua orang adiknya masuk ke dalam kamar untuk menenangkan Clarissa.
2. e
3. d
4. a
5. b
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget