Wanita yang dijodohkan dengannya adalah tersangka utama meninggalnya kekasih dan calon anaknya?
Zion dipaksa menikahi Elin oleh sang kakek yang sekarat. Pernikahan tanpa alasan yang jelas ini membuat Zion merasa terjebak dan membenci Elin.
Kebencian Zion semakin mendalam ketika Elin menjadi tersangka utama dalam kasus kematian kekasihnya yang tengah mengandung anaknya.
Setelah kakeknya meninggal, Zion pergi dari rumah dan tak mau lagi bertemu Elin.
Namun, takdir mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang sangat berbeda. Elin yang dulu terlihat kusam dan kurang menarik kini menjelma menjadi wanita yang cantik dan sempurna.
Pertemuan tak terduga ini membuat Zion terpesona dan tanpa sadar jatuh cinta hingga terlibat dalam hubungan terlarang dengan Elin. Karena takut kehilangan Zion, Elin menyembunyikan kebenaran identitasnya.
Rahasia apa lagi yang tersimpan di balik perubahan drastis Elin? Mampukah Zion menerima kenyataan bahwa selingkuhnya adalah istri yang dibencinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Susah Dinasehati
"Ka-kami sudah menyelidiki perempuan itu lebih detail sesuai keinginan-"
"Cepat katakan intinya! Jangan berbelit-belit! Atau kamu pengen aku hajar, hah?" bentak Franky murka memotong kata-kata anak buahnya.
"Pe-perempuan itu sudah menikah, Bos," ucap anak buah Franky tergagap.
Franky membulatkan matanya menatap pria di depannya. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal erat.
Mampus lah gue! Duh ... alamat kena hajar ini, batin pria didepan Franky menelan salivanya kasar saat melihat Franky beranjak dari duduknya dengan wajah suram dan tatapan mata tajam. Tanpa sadar pria itu beringsut mundur.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Franky dengan suara dingin seraya mencengkram kerah kemeja anak buahnya.
"Pe-perempuan itu sudah menikah lima tahun yang lalu, Bos," sahut anak buah Franky dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya. Ekspresinya sudah seperti orang yang mau menangis.
"Dasar brengseek! Bodoh!" umpat Franky.
"Bukg"
"Bukg"
"Bukg"
Franky meninju wajah anak buahnya, memukul perutnya bertubi-tubi. Tendangan pun ia layangkan, menjadikan anak buahnya layaknya samsak untuk melampiaskan amarahnya. Pria itu terhuyung ke sana kemari, tapi tetap saja dipukul dan ditendang Franky.
"Ampun, Bos ...! Saya mengaku salah!" pinta anak buah Franky memelas.
Namun Frank tidak menghiraukannya. Ia terus menghajar anak buahnya. Sang anak buah hanya pasrah tak berani melawan majikan yang memberinya makan. Bahkan saat ia jatuh dan Franky menginjaknya, ia tetap tidak melawan.
"Am-ampun, Bos! Selama ini identitas wanita itu seperti ditutup seseorang, jadi kami kesulitan mencari informasi lebih detail tentang dia," ucap anak buah Franky menahan rasa sakidadanya diinjak.
Franky menjauh dari anak buahnya. "Dasar bodoh! Arghh ...!"
"Prang ...!"
Franky memekik, lalu melempar vas bunga di atas mejanya ke dinding. Ia terlihat benar-benar murka. "Katakan semuanya!" bentaknya emosi.
"Se-selama ini kita hanya tahu kalau namanya adalah Aprilia, tapi nyatanya namanya adalah Elina Aprilia. Dia menikah dengan Zion Mahendra lima tahun yang lalu," jawab anak buah Franky setelah susah payah berdiri.
"Lalu ... kenapa selama ini pria itu tidak pernah terlihat bersama Lia?" tanya Franky dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Selama lima tahun Zion Mahendra berada di luar negeri dan baru sekitar satu bulan ini pulang, Bos."
"Maksudmu ... selama ini mereka tidak tinggal bersama?"
"Iya, Bos. Kami tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang alasan mereka tinggal di negara yang berbeda. Ta-tapi, saya sarankan Bos untuk berhenti mendekati perempuan itu. Keluarga Mahendra bukan keluarga yang bisa Bos singgung," ujar anak buah Franky berusaha bicara hati-hati agar tidak kena hajar lagi.
"Aku Franky tidak takut dengan siapapun," ucap Franky dengan suara berat yang terdengar dingin.
"Tapi, Bos-"
"Diam!" sergah Franky menatap tajam pada anak buahnya, "jangan mengatur hidupku! Pergi dari sini sebelum aku mematahkan tulang-tulangmu!" ancamnya dengan suara yang terdengar berat dan dingin.
"Ba-baik, Bos," ucap anak buah Franky, kemudian bergegas keluar dari ruangan Franky.
Pria itu menutup pintu ruangan Franky seraya menghela napas kasar. "Bos memang susah dinasehati. Kalau sudah maunya kagak bisa dihalangi. Aku dengar keluarga Mahendra punya pelindung yang namanya Pak Hadi, orang yang katanya sangat berbahaya. Kalau terjadi sesuatu sama bos, aku juga yang kena imbasnya. Aku bakal terancam kehilangan pekerjaan," gerutu anak buah Franky.
***
Di villa pinggir pantai milik Zion.
Semalaman penuh bumi bercumbu dengan hujan dan langit yang hitam pekat hanya dihiasi kilat dan petir yang menyambar menyilaukan mata. Kini akhirnya sang mentari nampak mengintip, hingga perlahan keluar dari peraduannya. Memancarkan cahaya keemasan diantara dedaunan yang basah oleh hujan semalam.
Suara kicauan burung dan debur ombak yang membentur karang terdengar begitu menyegarkan indra pendengaran.
Sepasang suami-isteri masih berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, hanya tertutup selembar selimut. Saling berpelukan seolah takut terpisahkan.
Mata mereka masih terpejam karena baru tidur saat sang fajar mulai menyingsing. Fajar yang merupakan cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur saat menjelang matahari terbit Mereka sama sekali tidak terganggu saat wajah mereka di terpa oleh sinar mentari yang menyusup dari balik gorden yang tersingkap ditiup angin.
Elin mulai terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matanya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Tatapan matanya tertuju pada suaminya.
Kak Zion masih tidur? Perutku laper banget. Kak Zion benar-benar ganas, batin Elin.
Tubuhnya meremang saat mengingat bagaimana Zion menguasai tubuhnya dan membuatnya melayang-layang terbuai kenikmatan surga dunia hingga fajar tiba. Ia berusaha melepaskan pelukan Zion, hendak membersihkan diri.
"Kamu sudah bangun?" tanya Zion dengan suara serak khas bangun tidur.
Elin terhenyak mendengar suara suaminya. "Aku ingin membersihkan diri, Kak."
"Bareng, yuk!" tawar Zion melepaskan pelukannya pada istrinya, mulai beranjak dari tempatnya berbaring.
"Nggak mau," sahut Elin cepat.
Zion menampilkan wajah masam mendengar penolakan cepat dari Elin.
Elin pun ikut beranjak dari tempatnya berbaring. "Auwh ...! Ssttt ...." pekik dan desisnya saat baru saja bergerak. Tulang- tulang di tubuhnya terasa remuk dan bagian inti tubuhnya terasa sakit.
"Yang mana yang sakit?" tanya Zion nampak khawatir, bergegas membantu istrinya duduk.
Elin menarik selimut agar tubuhnya yang polos tidak terekspos. "Semuanya sakit. Ini semua gara-gara Kakak. Aku sudah bilang udah, tapi Kakak masih mau minta nambah." Elin mendengus kesal.
Sudah beberapa kali Elin menolak saat Zion ingin lagi, tapi dengan berbagai macam cara Zion menggodanya, hingga akhirnya ia kembali meracau tak jelas di bawah kungkungan Zion.
"Ya ... gimana? Enak, sih! Bikin nagih," sahut Zion tersenyum tanpa dosa, bahkan memeluk Elin dari samping dan mengecup leher yang tak lagi putih mulus itu, karena sudah banyak lukisan berwarna merah dan juga keunguan yang dibuatnya di sana.
"Kak ... udah! Badanku beneran sakit semua ini." Elin berusaha mendorong Zion menjauh darinya, tak ingin berakhir di bawah kungkungan pria itu lagi.
"Iya ... iya ... takut amat, sih? Ayo, aku bantu ke kamar mandi!"
"Srakk ....!"
"Kak ...!" pekik Elin dengan wajah yang memerah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Karena tiba-tiba Zion menarik selimut yang ia kenakan, hingga tubuhnya yang semalaman dijadikan kanvas tempat Zion melukis pun terekspos sempurna dan semua hasil lukisan Zion pun terlihat.
"Kenapa harus malu? Aku sudah melihat semuanya, tak ada yang terlewat satu pun, bahkan aku sudah memasuki tubuhmu," ucap Zion tersenyum tipis merasa bangga.
Elin tak punya pilihan lain selain membiarkan suaminya menggendong dirinya ke kamar mandi, karena Zion memaksa.
Dengan hati-hati Zion membawa Elin ke kamar mandi. Ia mendudukkan Elin di pinggir bathtub, lalu mengisi bathtub dengan air hangat, setelah itu membantu Elin masuk ke dalam bathtub.
"Mandilah! Aku akan mandi di bawah shower," ucapnya kemudian mengecup lembut kening Elin. Tanpa merasa malu sedikitpun, Zion yang tak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya itu berjalan menuju shower, lalu membersihkan diri.
"Astagaa ...! Apa Kak Zion nggak merasa malu?" gumam Elin lirih dengan pipi yang bersemu merah.
***
Acara liburan tinggal wacana. Dua hari di villa itu, Elin hanya berdiam diri di dalam kamar karena tubuhnya pegal semua akibat ulah Zion. Minggu sore mereka kembali ke rumah Elin.
Pagi menyapa dan Elin membersihkan diri bersama Zion. Sejak mereka berhubungan intim, mereka sering mandi bersama.
"Aku masih ingin berendam. Kakak cepetan mandinya. Aku nggak bisa bantuin Kakak memakai pakaian kantor. Nanti kita sarapan bersama, aku sudah delivery order," ujar Elin yang bangun kesiangan karena lagi-lagi Zion minta full service.
"Hum. Jangan terlalu lama berendamnya," ujar Zion seraya keluar dari bathtub meninggalkan Elin yang masih berendam.
"Hum," sahut Elin.
Zion menyelesaikan mandinya di bawah shower, lalu keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe. Ia memilih stelah kantornya sendiri.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu kamar itu membuat Zion mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang mengetuk pintu? Sebelumnya tidak ada siapapun yang datang ke rumah ini," gumam Zion, lalu berjalan menuju pintu yang masih di ketuk.
"Ceklek"
Zion membuka pintu dan melihat seseorang berdiri di depan pintu.
"Siapa kamu?" tanyanya pada sosok di depannya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued