ikatan pernikahan yang pada umumnya dilakukan oleh manusia normal, adalah ikatan yang memiliki kekuatan dasar yakni tujuan dan perasaan yang sama, keterikatan seseorang dengan pernikahan tentunya sudah melalui proses yang matang dan melibatkan logika yang kuat, tidak hanya emosi semata. seseorang berani mengambil sikap untuk menikah tentunya sudah mempertimbangkan baik dan bahkan buruknya. maka aku melakukan hal yang berbeda. menikah bagiku adalah menikah. tidak ada perdebatan dan pertimbangan karena memang tidak ada yang bisa dipertimbangkan dan diperdebatkan semua seakan sudah harus dipaksa seperti itu, mengalir begitu saja. bahkan aku muallaf pun seakan berjalan begitu saja tanpa ada paksaan dan kesadaran dari diri. semua sudah seperti diskenariokan begitu, aku hanya mengikuti arahan sutradara kemana hidupku akan dibawa dan harus menerima ujian begitu saja, sampai aku harus benar - benar masuk dalam peran dan menjiwai dengan begitu nikmat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Siboro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merangkak
Ketika aku bangun, sudah tidak ada satupun ponakanku dirumah. Aku kekamar mandi dan membersihkan diri.
Aku melihat sudah tersedia makanan di meja dapur, dan yang paling membuat aku terharu, ponakanku menyelipkan uang dibawah piring tempat lauk dengan meninggalkan catatan kecil disana.
Aku segera membaca,
..." Bou...hari ini jadwal kuliahku padat, mungkin sampai malam, adik juga pulang malam karena ada ekskul, jika bou butuh sesuatu ada warung didepan gang, beli sendiri! Jangan cengeng!❤....
Ponakanku memang yang terbaik.
Aku makan sambil berpikir, apa yang harus aku lakukan sekarang?.
Aku kepikiran untuk menghubungiku kakak satu kamarku dulu waktu ngekost. Saat aku kuliah, dia kerja. Kami satu kampung juga.
Aku segera mencari nomor kontaknya di hpku, aku beruntung masih ada.
Aku mengambil uang yang ditinggalkan ponakanku dan segera mengisi pulsa seadanya.
Aku mencoba menghubungi nomornya dan ternyata masih aktif.
Tak perlu waktu yang lama bagiku menunggu kak dian mengangkat telponnya.
" Hallo dek...apa kabar? Masih hidup kau rupanya? ",
Celoteh kak dian, ternyata nomorku masih disimpannya sehingga ia langsung tau bahwa itu aku.
" Masih kakak simpan nomorku rupanya, kakak lagi kerja?", tanyaku.
" Iya tapi bukan di hotel lagi, aku dipindahkan ke taman hiburannya", jawab kak dian.
" Wah...bagus dong kak...berarti meningkat jenjang karir kan?", tanyaku lagi.
" Puji syukur lah dek...oh iya, tumben menghubungi kakak, ada apa?", tanyanya.
"Aku tadinya mau main kekostan kakak, tapi aku pikir kakak pasti sudah pindah dan seandainya pun belum, hari gini kakak pasti masih kerja", ucapku.
" Iya kakak sudah pindah, lebih dekat ketempat kaka kerja sekarang, datanglah...",
Kak dian memang orang yang baik, tapi sekilas terlihat cuek. Jika orang yang tidak mengenalnya, kesan pertamanya pasti dibilang judes karena tatapan mata yang terlihat sinis.
Aku sekamar dengan kak dian, setelah kami sama - sama dipertemukan dikampung saat tahun baruan, cerita - cerita dan pada akhirnya sering saling mengunjungi kekostan masing - masing, yang ternyata saat itu kakak kamarku yang sebelumnya memilih untuk pindah kamar dengan alasan kenyamanan.
Aku menjadi sendiri dan itu sangat sulit karena biaya kamar yang jadinya harus tanggung sendiri, begitu juga dengan kak dian saat itu, maka kami pun memutuskan untuk tinggal dikamarku saja , karena kata kak dian lebih nyaman.
" Kalo aku datang kemana kak? gak tau aku kost kakak?", tanyaku lagi.
" Iya juga sih, kalau gak ketempat kerjaku aja dek...kan tempat wisata...bisa sambil nyantai gitu...", kak dian antusias.
"Tapi kak, aku lagi punya masalah...aku hanya ingin cerita saja...", ucapku jujur.
" Oh ya? Udah kemari aja dulu, istirahat siang kita bisa leluasa ngobrol....",
Akhirnya aku pun meninggalkan rumah kontrakan ponakanku, dengan meninggalkan catatan agar mereka tidak bertanya - tanya nantinya.
***********
Aku menceritakan pada kak dian masalah rumah tanggaku semuanya, Kak Dian hanya bertanya apa rencanaku. Aku ingin mencari pekerjaan dan tempat tinggal.
Kak Dian langsung memintaku untuk tinggal bersamanya, sampai aku mendapatkan pekerjaan. Aku juga memberitahunya jika aku tidak memiliki uang sepeser pun, Kak Dian hanya bilang untuk makan dan tempat tinggal yang penting aman lainnya akan dipikirkan lagi.
Begitulah pada akhirnya aku kembali bersama Kak Dian
Tempat tinggal dan makan bahkan sampai biaya untuk aku melamar kerja kemana - mana pun dibantu sama Kak dian.
Entah bagaimana ceritanya kabar tentang perpisahanku segera menyebar dikalangan teman - teman kuliah dan teman satu kampung. Bahkan mereka tau aku tinggal bersama Kak Dian.
Hingga setelah beberapa hari aku bersama Kak Dian, Kina datang menemui aku lagi.
Begitu Kina melihatku, ia langsung memelukku dan menangis, ( Kina adalah temanku yang kuceritakan diawal tulisanku).
Awalnya aku bingung, melihat reaksinya yang berlebihan, namun setelah ia bercerita baru aku mengerti, ternyata entah bagaimana takdir menyapa , kami bisa mengalami hal yang sama, yakni permasalahan rumahtangga. Hanya saja saat itu Kina secara garis besarnya sudah bisa dikatakan cerai , yang artinya Kina adalah janda kembang.
Sementara aku saat itu masih berharap Aan dan keluarganya ada niat baik untuk menemuiku dan mengajak aku kembali bersama, tentunya dengan persyaratan yang bisa membuat rumahtangga menjadi lebih baik, tapi belum ada tanda - tanda itu.
Kina lalu bercerita, ternyata kehidupan pernikahan itu sangat sulit dan melelahkan. Cinta sebanyak apapun tidak bisa dijadikan modal bertahan, ibarat daging terbaik manapun tidak akan lezat jika tidak ada racikan bumbu yang tepat didalamnya terkandung.
Aku menyetujui pemikirannya itu, yang membuat aku merasa berbeda ketika ia menyatakan hidup jadi janda lebih menyenangkan, dan mengajakku menikmati status baru itu.
Aku masih berstatus istri orang dan seorang ibu, aku hanya sedang mencoba cara untuk membuat kehidupan rumahtanggaku lebih baik.
Dan itu pula yang membuat aku untuk tetap datang ke kota yang sama, dan tidak mengganti nomor hp, agar mereka mudah menemukan aku.
Aku tetap mencari lowongan dan melamar dimana - mana tetapi hasil nihil, aku sudah meminta Kak Dian untuk memasukkan aku ditempat ia bekerja, namun Kak Dian menolak karena saat itu yang dibutuhkan ditempat kerjanya hanya sebagsi Cleaning Service, Kak Dian tidak mau membuat pendidikan yang telah kuperjuangkan sia - sia.
Kak Dian selalu menyemangatiku untuk tetap melamar kerja, jikapun nantinya harus ditempat ia kerja tetapi setidaknya sudah maksimal mencoba untuk mendapatkan yang sesuai dengan latar belakangku.
Hingga pada suatu saat, aku mendapatkan panggilan wawancara kerja, tentu saja membuat aku semangat dan memiliki harapan baru. Aku segera bersiap untuk berangkat.
Hp berbunyi,
Kak pin memanggil, aku angkat.
" Hallo tadi Aan kemari, mengambil semua barang - barang yang ada dirumah kontrakan",
Deg! Jantungku berdetak tak karuan mendengar kakak bicara,
" Kami malu dan sudah tidak punya muka menghadapi keluarga Aan, kamu sebenarnya bagaimana sih?",
Mendengar hal itu membuat aku semakin berdebar dan bingung, nada kakak itu kesal dan kecewa.
" Maksudnya apa kak? Malu kenapa? Yang jelas ngomongnya...aku tidak mengerti...", ucapku.
" Aan bilang bahwa kamu bertemu dengannya dilingkungan dunia malam, dan kamu udah tidak perawan saat bersamanya, makanya keluarganya sekarang ragu bahwa putrimu itu bukan anak kandungnya",
Sakit sekali kata - kata itu. Sampai aku merasa aku sudah tidak berpijak dibumi lagi. Aku seakan sudah dibawa terbang bersama kesakitan yang tidak dapat diuraikan.
" Oh...begitu, melempar batu sembunyi tangan! Ya sudah lah kak....aku tidak tau harus bagaimana untuk menanggapinya, hanya saja jika memang seperti itu, mengapa mereka mau dan bahkan memaksa untuk bertanggung jawab saat itu? ",
Aku menahan amarah yang pada akhirnya mengeluarkan airmata, lagi dan lagi.
" Siapa yang meminta mereka bertanggung jawab? Aan datang sendiri kakak dan mengakuinya didepan temanku....trus sekarang mereka mengarang dan membuat seakan aku yang tidak benar, luar biasa! Terserah mereka sajalah kak, aku pasrah!, udah dulu ya kak aku lagi ada wawancara kerja ntar aku terlambat, nanti malam lagi kita sambung",
Aku akhirnya menyadari biar bagaimanapun aku tidak boleh lengah, aku harus makin berjuang membuktikan diri. Telepon segera kututup setelah mendengar kakakku mengiyakan.
Kuhapus airmataku sambil berjalan mencari angkot yang akan membawaku ketempat wawancara.
Semakin aku berusaha menahan rasa sakit semakin deras pula air mataku mengalir. Aku sangat kacau pada saat wawancara dan berakibat tidak lulus.
Lunglai tiada berdaya, menerima semua kenyataan.
Pada saat aku berpikir masih ada kesempatan untuk berubah lebih baik, dan akan datang menjemputku, ternyata sebaliknya yang mereka lakukan adalah mencari segala bentuk kekurangan dan kelemahanku sampai memfitnah.
Tuhanku...mengapa aku lagi dan lagi?
Tidak cukupkah dengan segala kegagalan yang telah kulalui?
Tidak cukupkah dengan semua yang telah terjadi? Mengapa begini?
Sakit Tuhan, sakit...., Mengapa harus aku????