NovelToon NovelToon
Jerat Tumbal Pesugihan

Jerat Tumbal Pesugihan

Status: tamat
Genre:Thriller / Iblis / Harem / Hantu / Roh Supernatural / Tumbal / Horor / Tamat
Popularitas:507.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti H

wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.

Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.

Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lara-2

Andana kembali mengemudikan motornya menuju ke rumah ustaz Guntur, dan ia yakin jika Bagas sedang berada disana karena mencari keberadaan Laila dan juga Meli.

Ia merasa khawatir akan kondisi bocah laki-laki tersebut. Namun ia tak habis fikir bagaimana Juni juga dapat menyusul kedua adiknya dengan cepat. "Apa yang harus aku lakukan? Jika dibiarkan, maka sama saja halnya aku membiarkan nyawa anak-anak Kang Sugi dalam bahaya," gumam Andana dalam hatinya.

Ia masih mencari cara untuk membongkar kedok pesugihan yang dilakukan oeh Ayu. Namun masalah hal ghaib tidak dapat dilaporkan ke polisi, sebab tidak ada bukti yang dapat diterima akal oleh pihak kepolisian.

"Jasad Juni? Mengapa tidak disempurnakan? Jika benar Juni meninggal, maka jasadnya harus disempurnakan? Aku harus ke sana," Andana membatalkan niatnya untuk mencari Bagas, sebab ia yakin jika bocah itu dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Sang Bidan mengendarai motornya dengan kecepatan yang sedang, sebab jalanan yang belum tersentuh pengaspalan banyak terdapat bebatuan kecil yang dapat membuat laju motornya terhalang.

Sementara itu, Bagas terus berlari melalui jalanan kebun yang mana kakinya yang kini tanpa alas terus ia tapakkan meskipun terkadang tumbuhan berduri ikut menggoresnya.

"Mudah-mudahan Bang Yudi dirumah," gumannya dengan penuh harap. Ia tak memiliki orang yang dapat dipercayanya untuk membantunya mengangkat jasad Juni.

Nafasnya yang tersengal terdengar begitu memilukan hati saat ia harus berpacu dengan waktu.

Yudi baru saja pulang dari apotik untuk membeli obat neneknya yang terkena sesak nafas. Saat menuju kalan pulang, ia melihat bidan Andana sedang melintasi jalanan, dan ia tersenyum sumringah.

Dengan niat jahil, maka ia mengklakson sang bidan dengan suara yang sangat kencang,

Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn....

Suara klakson yang terlalu kencang itu membuat sang bidan tersentak kaget dengan apa yang dibuat oleh pemuda.

"Astaghfirullah...!" Andana istighfar dengan wajah kesal melirik pada Yudi yang sudah sengaja menjahilinya.

"Mau kemana Bu Bidaaaannn...," sapa Yudi dengan menyengirkan senyum yang membuat Andana semakin sewot.

"Iiih, Bang Yudi bercanda tidak pada tempatnya, kalau saya kaget trus nyungsep gimana?" omel Andana sembari terus mengemudikan motornya.

"Ya aku tangkap, dong Bu..." sahut Yudi terus menggoda.

"Gak, Lucu!" balas Andana lalu menambahkan kecepatan laju motornya.

"Jangan ngambek lah, Bu... Saya cuma bercanda," ucap Yudi yang terus saja menjaga kesejajaran mereka.

Setibanya didepan rumah Ayu, Andana menghentikan motornya, dan Yudi juga ikut berhenti.

"Mau ngapain ke sini, Bu? Mau kontrol si Ayu, ya?" tanya Yudi penasaran.

Andana menatap Yudi dengan pandangan ragu. "Katanya Juni meninggal dunia," ucap sang bidan dengan suara berbisik.

"Hah! Masa sih!" ucap Yudi dengan wajah kaget.

Dengan cepat Andana membekap mulut Yudi dengan telapak tangannya. "Jangan berisik!" gadis itu memberikan peringatan kepada Yudi dengan nada penuh penekanan.

Yudi menganggukkan kepalanya, lalu mengatur nafasnya yang tersengal, sebab Andana membekap mulut sekaligus hidungnya.

"Ya jangan bekap hidung saya juga donk, Bu.. Untung saja gak mati penasaran saya," omelnya.

Andana menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya kasar.

"Tapi apa bener Juni juga meninggal?" Yudi mengulangi pertanyaannya. Ia tak dapat mempercayai hal tersebut.

"Tapi janji jangan disebar dulu, sebab takutnya jika tidak benar, atau Ayu beralasan, bisa berbalik menjadi boomerang bagi kita," pesan Andana. Pemuda itu menganggukkan kepalanya.

"Mau ikut, gak?" tanya Andana pada pemuda itu dengan tatapan serius.

"Kemana? Ke KUA?" jawab Yudi dengan nyengir kuda.

Andana mendengus kesal. "Ke rumah kang Suuuugi...!" jawab gadis tersebut dengan nada kesal.

"Hehehehehe...,"

Andana memutar mata malas dan melangkah memasuki rumah Ayu. Setibanya didepan pintu rumah, Ia mempersiapkan diri untuk mencari alasan kepada Kang Sugi.

"Assalammualaikum...," ucap Andana setenang mungkin. Ia harus membuat Sugi dan juga Ayu tidak mencurigainya

Ayu yang sedang menangis menghentikan tangisnya dan menatap Sugi sembari menyeka air matanya.

Sugi seolah mengerti, ia beranjak pergi dan melihat siapa yang datang.

"Waalaikum salam," sahut Sugi sembari berjalan melihat siapa.yang saat ini berada didepan rumahnya.

Sesaat jantung Sugi bergetar. Ia melihat Andana dan juga Yudi berada diambang pintu depan. Ia bersikap gugup dengan keduanya.

"Oh, Bu Bidan, ada perlu apa, ya?" tanya Sugi mencoba setenang mungkin. Sedangkan Yudi jelalatan mengamati ruangan. Ia melihat tidak ada tanda-tanda berduka, terlihat lengang dan sepi.

"Oh, saya dengar kabar Juni sakit parah, dan sebagai petugas kesehatan didesa ini, saya bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan bagi warga desa ini," Andana beralasan.

Sesaat Ayu yang mendengar ucapan sang bidan, merasa ini sangat berbahaya. Ia tidak ingin ada warga yang mengetahui keberadaan Juni saat ini.

Ia berjalan dengan tertatih, sebab jahitan di anunya masih basah.

"Juni tidak ada," Sergah Ayu dari ruang tengah yang berjalan menghampiri Andana dan juga Yudi. "Dia dibawa berobat ke kota untuk mendapatkan dokter yang lebih baik dibanding harus dirawat oleh kamu," Ayu menimpali ucapannya dengan nada sinis.

Ucapan wanita itu begitu sangat menyakitkan. Tetapi ia mencoba menahan hatinya agar tidak terpancing emosi oleh apa yang diucapkan oleh wanita tersebut.

"Oh, begitu. Dirumah sakit mana jika saya boleh tau?" tanya Andana tak mau kalah. Ia melihat kegelisahan terpancar diwajah Sugi, dan bahasa tubuh tidak dapat membohongi apa yang terjadi.

"Mau tau saja, Kamu! Yang jelas rumah sakit mahal lah, kan saya banyak uang, mana level saya ke puskesmas, apalagi pakai gratisan dari pemerintah, Cih," jawab Ayu dengan sinis.

"Eh, Mbak Ayu, jangan songong. Ingat, waktu itu juga numpang motor saya! Belagu amat!" Yudi menyela ucapan Ayu dengan sangat kesal. " Lagian Mbak Ayu itu kerja apaan, sih,? Masa iya bisa kaya mendadak gini? Jangan-jangan pakai pesugihan!" Yudi kembali mencibir.

"Yudi! Jaga mulut kamu!" hardik Sugi dengan kasar. Ia tidak suka jika orang-orang menghakimi istrinya.

"Huhuhuhuhu.....," Ayu menangis saat Yudi menudingnya dengan kata tersebut.

Seketika Sugi menghampiri sang Istri dan memeluknya. "Sayang, sebaiknya kamu masuk saja ke kamar, biar ini menjadi urusan Akang," titah pria teesebut pada istri cantiknya.

Air.mata yang jatuh disudut matanya menjadi tameng bagi dirinya dari segala tuduhan yang ada.

Andana mencubit gemas pinggang Yudi sembari membolakan kedua matanya.

"Aaaaawww...," ringisnya kesakitan, lalu Andana melepaskan cubitannya, dan tanpa menunggu lama ia berpamitan pada Sugi dan tidak digubris oleh pria tersebut.

Yudi mengekori Andana yang terlihat marah padanya. "Bu, kenapa maraj sama saya?" tanya Yudi penansaran sembari mengusap.pinggangnya yang sakit akibat cubitan dari sang bidan.

"Abang itu gegabah! Ngapain juga ngomong gitu!" gadis itu terlihat sangat kesal.

"Trus, aku harus ngomong apa?" tanya Yudi dengan wajah polosnya.

"Gak usah ngomong apa-apa?" jawab Andana kesal.

Ia harus mencari tau dimana Juni sebenarnya. Tidak mungkin dirumah sakit kota,

"Heeei, kenapa mereka tidak berduka?" tanya Yudi penasaran.

"Kang Sugi terlihat jika ia sangat hancur karena kehilangan anak-anaknya satu persatu, tetapi ia seperttinya memyimpan sebuah kebohongan tentang keberadaan Juni.

1
Rika Yudesni
🤣🤣🤣🤣
henidiyanpuspitosarilistianingrum tembem
segoblok goblok nya seorg suami.. trnyata gak segoblok suami ny ayu ini.. meski dia sdah mengetahui banyak kejanggalan yg trjadi sejak istriny melakukan ritual pesugihan..
henidiyanpuspitosarilistianingrum tembem
baru diawal mnjalani pesugihan.. lngsng beli rumah n motor pdhal sblm ny khidupannya miskin serba kkurangan.. itu namanya sengaja bikin curiga orang2 trlebih anak2 nya mati satu prsatu.. Dimana2 yg namany pesugihan di tutup2in.. bukan lngsng di umbar beli kemewahan..
Pelangi Senja
sebenarnya ceritanya TK beralur...tp drpd gabut ya baca aja🤣🤣🤣
Um Andri
banyak pelajaran yang bisa d petik
syska
Luar biasa
Febby Sadin
hi mampir yuk di novelku Mega J, Tafsir Mimpi Sang Inspirator, Doris Hart dan Vyren.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: @⍣⃝ꉣꉣAndini Andana @Ai Emy Ningrum bisa bawa pasukan ke novel kakaknya🙏
total 1 replies
Rahima Nurlaela
Luarrr Biasaaa
A Aa
Luar biasa
Ree Prasetya
cakep
pelajaran apa gess?? ya benar ustad
Aprillia Novianti
aduh thor jadi bingung
sampe baca 2x
Roewina
senengnya Sugi dapet rumah gratis,😀 Thor dimana ada rumah gratis mau dong Thor🤭🙏🙏
Ridho Widodo
kisah nyata yg harus dijauhkan dr man7sia beriman
Sri Keren Mutamimah
Luar biasa
Wahyu Kasep
pelajaran apa benar nya


oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya

hidup Sugi
Wahyu Kasep: hihihi hihihi hihihi
total 2 replies
Wahyu Kasep
harusnya Sugi mati
Wahyu Kasep
biasa aja
baru kali ini ana baca novel gini amat

Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Wahyu Kasep
semoga Sugi selamat dan menyalahkan semua orang termasuk bagas insyaallah
Wahyu Kasep
Sugi pintar
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!