NovelToon NovelToon
Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lunoxs

Aku pernah gagal jadi manusia, tapi aku tidak ingin gagal jadi seorang ibu--Anin.

Setelah pergi membawa luka untukku sendiri, kini aku datang lagi dan memberi luka untuk mas Haris. Setelah 6 tahun waktu berlalu, setelah dia memiliki kehidupan yang baru, tiba-tiba aku datang dan mengatakan bahwa kita punya Anak.

Bagaimana ini, bersediakah dia menerima Alena?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AGKK Bab 35 - Tidak Bisa Aku Tebak

Dengan wajah yang ditekuk, akhirnya aku melangkah cepat menyusul Mas Haris. Kami berdua masuk ke dalam kamar Alena yang sedang beristirahat.

Saat Magrib datang Mas Haris mengajak kami shalat berjamaah. Kekesalan yang ku rasakan beberapa saat lalu kini seketika sirna saat melihat mas Haris jadi imam.

Hatiku justru melunak dan lebih banyak berdebar.

Selesai shalat, Mas Haris pun menciumi pipi Alena dengan penuh kasih sayang.

"Mama tidak dicium juga, Pa?" tanya Alena dengan gamblangnya. Membuatku tersentak dan nyaris tersedak ludah sendiri.

"Sekarang Mama belum boleh dicium dulu sayang, nanti setelah Mama dan Papa menikah baru Papa boleh mencium Mama," terang mas Haris.

"Kalau begitu kenapa tidak menikah sekarang? Biar Papa bisa mencium Mama," jawab Alena, seolah kukuh sekali dia ingin mas Haris agar mencium ku.

Astaghfirullahaladzim, hanya membayangkannya saja sudah berhasil membuatku merinding.

"Nanti setelah kita pulang, Papa akan langsung menikahi Mama," balas Mas Haris, dia bicara dengan suaranya yang terdengar penuh keyakinan. Membuatku tak bisa menolak apalagi membantah, apapun keputusannya aku hanya mampu mengikuti.

"Alhamdulillah, itu tidak akan lama. Karena aku yakin, sebentar lagi kita akan pulang," kata Alena tak kalah yakin dengan ayahnya.

Membuatku tersenyum penuh haru sendiri. Sepertinya aku memang harus bersikap egois, bersikap seolah tak tau diri. Sebab hanya dengan bersama mas Haris lah aku bisa benar-benar bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk Alena.

Ku alihkan pandangan ku, yang awalnya tertuju pada Alena kini kuubah ke arah mas Haris. Menatap wajahnya yang terduh dengan hatiku yang bergemuruh.

Ya Allah, semoga memang benar bahwa mas Haris adalah jodohku. Jodoh sampai maut memisahkan kami, bukan hanya jodoh sementara karena adanya Alena. Batinku penuh harap.

Meski semuanya demi Alena, tapi aku juga tidak ingin pernikahan ini nanti berujung jadi ladang penderitaan untuk kami berdua. Aku juga ingin memiliki pernikahan yang sesungguhnya.

Maaf ya Allah, maafkan aku jika begitu egois.

Karena sekarang aku pun berharap, nanti, suatu saat nanti Mas Haris bisa mencintai aku juga.

Dan betapa terkejutnya aku saat dalam sekejap, mas Haris membalas tatapan ku ini.

Deg! aku yang gugup dan malu sontak menunduk demi menghindari tatapannya.

Deg deg! Deg deg! Ya Allah kini jantungku seperti ingin meledak.

"Sekarang ayo kita makan malam, dokter Anton akan datang jam 8 nanti," kata mas Haris.

Dan aku langsung membuang nafas lega.

"Siap Pa!" jawab Alena penuh semangat, dia bahkan melepaskan mukenahnya sendiri dengan buru-buru. Sementara aku masih merapikan sajadah kami dan barulah melepas mukenah ini.

"Aku duluan," kata mas Haris, dia menyentuh lenganku sebagai tanda pamit.

Ya Allah, bagaimana bisa tiba-tiba Mas Haris bersikap lembut seperti ini. Sungguh, tentang mas Haris tidak pernah bisa aku tebak apa isi kepalanya.

"Iya Mas," jawabku pula.

Kulihat Mas Haris dan Alena keluar bersamaan, meninggalkan aku yang belum melipat mukenah.

Sekarang aku sadar, aku memang telah menusuk Namira dari belakang. Sebab bagiku, ini semua bukan tentang Alena, tapi juga tentang hatiku sendiri. Tak bisa ku pungkiri, aku menikmatinya, hati yang berdebar-debar.

Satu-satunya cara agar aku tidak terlalu merasa bersalah pada Namira adalah dengan cara memperlakukannya dengan baik.

Ya, seperti itu.

Jam 8 malam Dokter Anton benar-benar datang, dia melakukan serangkaian pemeriksaan pada Alena, sampai membuat keputusan tentang rencana kami besok.

"Oke, Alena boleh pergi ke taman," putus dokter Anton.

"Ye! Alhamdulillah," kata Alena dengan lucunya.

"Tapi_"

"Tapi apa Dokter?" tanya Alena dengan cepat, sampai memotong ucapan sang dokter.

"Tapi cukup pergi selama 3 jam, mulai dari jam 7 dan pulang di jam 10, ya?"

"Siap!" jawab Alena, hampir saja dia murung.

Aku melirik Mas Haris dan ternyata dia sedang menatapku.

Deg!

1
jinnie
indosiram 🤣🤣🤣
jinnie
cieeee..berarti dulu mas haris sering curi curi pandang ke anin dong
jinnie
buseeeh, sat set das des mas haris 🤣
jinnie
Udah berkali² baca, tetep aja bikin meleleh
jinnie
Dalam hati mas aris : anak ku pintar sekali 😄
jinnie
Mas haris pasti senyum senyum tu, dipijat anin
Tira Aneri
suuukaaa
Alaina Sulifa Kaplale
lah.. kok keluar jalur 🤣
Alaina Sulifa Kaplale
cih.. modus mah ini😆
Nita Aja
Tidak ada drama resleting nyangkut 😄😄
imoe nawar
👍
Eli sulastri
ko tamat aja ceritanya bagus lho
Eli sulastri
mau apa Namira?
Eli sulastri
ikut meleleh dengan perasaan cinta mereka
Eli sulastri
mungkin Haris mencintai Anin dalam diam nya dan menutupinya dengan sikap dingin nya
Eli sulastri
semoga lambat laun ibu mertua Anin menyayangi Anin dan menerimanya menjadi menantu
Eli sulastri
ternyata Harus sangat rindu sama Anin
ceritanya sangat bagus dan alurnya tidak ribet tidak bertele tele suka sekali
Eli sulastri
Anin Alena kalian pantas bahagia setelah berlarut dalam. kesedihan
Eli sulastri
ya Allah sedih Alena semoga mama papamu bersatu dalam, ikatan pernikahan😭
Eli sulastri
jangan terlalu kaku dong biasa aja ntar lebih sakit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!