NovelToon NovelToon
Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Romansa / Dosen / Tamat
Popularitas:7.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: dtyas

Spin Off Menikahi Pamanmu

Kisah cinta karena perjodohan antara Reka (adik dari Kayla) dengan Nara seorang wanita berprofesi sebagai dosen di kampus Reka. Keduanya tidak menyetujui perjodohan tersebut, mengingat Reka dan Nara sempat berseteru bahkan Reka menyebut Nara Perawan Tua.

Namun, kembalinya mantan Nara membuat wanita ini meminta Reka mempercepat pernikahan mereka. “Please, jangan batalkan perjodohan ini. Aku minta sama kamu untuk bantu bicara dengan keluarga agar pernikahan kita dipercepat,” ungkap Nara.

Reka menatap sinis pada Nara. “Jangan bilang kalau kamu hamil dan aku ketiban sial harus bertanggung jawab.” Nara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak hamil. Reka, tolong aku. Setelah kita menikah aku akan biarkan kamu tetap berhubungan dengan kekasih kamu. Sampai kondisi aman kamu boleh ceraikan aku. Please, bantu aku,” pinta Nara.

Follow medsos Author
instagram : dtyas_dtyas
facebook : dtyas auliah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Nara (1)

Reka sudah mandi dan mengganti pakaiannya, berdiri menatap Nara yang sudah tertidur. Aneh amat, nggak biasanya mengeluh gue bau rokok, batin Nara. Perlahan dia menaiki ranjang dan merebahkan diri di samping Nara.

Tengah malam, Reka yang sedang tertidur terusik dengan pergerakan di sampingnya. “Ra, kenapa?” tanya Reka yang melihat Nara gelisah. Nara diam saja, tapi Reka melihat wajah Nara yang semakin pucat.

Menyibak selimut lalu beranjak duduk, “Kita ke dokter sekarang, nggak ada penolakan.” Nara menggelengkan kepalanya, “Nggak usah, aku mau tidur lagi tapi nggak bisa.”

“Ra, wajah kamu pucat banget,” tutur Reka sangat khawatir.

“Reka, nggak usah berisik bisa kan?” Nara menarik tangan Reka agar kembali merebahkan diri di sampingnya. Tanpa diduga Reka, Nara memeluk tubuhnya dan membenamkan wajahnya pada tubuh Reka.

“Kamu sudah mandi belum sih?”

“Astaga Nara, ya sudahlah. Tadi waktu kamu tidur aku mandi.”

Nara menjauhkan wajahnya meskipun masih dalam posisi memeluk Reka, “Tapi baunya masih nggak enak.”

“Bau apa? Atau aku pakai parfum dulu?” tanya Reka.

“Nggak usah, begini aja. Aku mau tidur lagi,” tutur Nara.

Keesokan paginya, Nara masih membuat drama. “Kamu berangkat naik motor, parfum kamu baunya nggak enak. Bikin aku mual,” keluh Nara yang sudah rapi dan siap berangkat.

“Hmm.” Reka hanya bisa berdeham memaklumi keluhan Nara yang dipikir karena kondisinya yang kurang sehat.

“Tapi aku mau minum teh manis hangat dulu, buatan kamu,” pinta Nara.

Reka hanya bisa menghela nafasnya, tapi tetap melaksanakan perintah Nara meskipun merasa aneh. “Ini tehnya, Bu Dosen Reka yang cantiknya kebangetan,” ejek Reka sambil meletakan cangkir dihadapan Nara.

Reka duduk di samping Nara yang sedang menyesap isi cangkirnya. “Sudah, ini kamu habiskan,” titah Nara mengembalikan cangkir yang dipegangnya pada Reka.

“Hah,”

Reka sudah mematikan mesin motor. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah Papihnya. Setelah menemui dospem untuk kembali konsultasi masalah skripsinya, Reka memutuskan pulang ke rumah. “Loh, kamu nggak kuliah?” tanya Meera saat melihat Reka datang.

“Nggak, Bun. Tinggal selesaikan skripsi aja, lalu anak Bunda yang ganteng ini bakal jadi sarjana. Aku mau tidur Bun, kalau sore belum bangun juga bangunkan ya Bun," pinta Reka.

"Memang mau ke mana nanti sore?" 

"Pulang, Nara kelakuannya lagi aneh Bun. Nanti aku telat pulang jadi masalah lagi," keluh Reka.

"Aneh, gimana?" tanya Meera.

"Pokoknya aneh aja, nggak kayak biasanya." 

"Ya udah sana naik, Bunda mau lanjut nonton," titah Meera. 

Sedangkan di kampus, Nara merasakan kembali tidak nyaman pada tubuhnya. Rasa mual yang kembali melanda, juga aroma parfum dari orang disekitarnya cukup sukses membuat dia ingin mengeluarkan isi perutnya. 

Semakin siang rasanya semakin aneh, ditambah sakit kepala yang dirasakannya. "Mau kemana?" tanya Ardi melihat Nara membereskan mejanya. “Pulang, aku sepertinya nggak enak badan.”

Ardi hanya tertawa sinis, “Suami kamu nggak ada perhatiannya banget. Jelas-jelas istrinya kemarin hipotermia masih diijinkan kerja aja,” ejek Ardi.

Nara mengabaikan ucapan Ardi, meskipun rasanya ingin mencakar wajah yang barusan menghina Reka. “Aku duluan,” pamit Nara sambil berlalu meninggalkan ruangan. Beruntungnya jalanan tidak macet, membuat Nara sampai lebih cepat. Namun, sebelum masuk ke lobby, Nara melipir menuju minimarket yang berada di area apartemen.

Berada di depan rak aneka permen, mencari rasa yang bisa menetralkan mual yang dia rasakan. Setelah mendapatkan yang diinginkan, Nara menuju kasir. Melewati rak berisi pembalut wanita, dia berhenti dan mengingat persediaan miliknya. Lalu mengecek ponsel dimana dia menandai siklus periode kewanitaannya.

Nara mengernyitkan dahinya, mengingat selama dia tinggal bersama Reka belum mendapatkan siklusnya. Lalu menghitung tanggal yang sudah terlewat.

Apa aku hamil? Ini sudah telat juga keluhan yang aku rasakan seperti gejala ....

Nara segera menuju kasir, membayar permen yang dia beli. Lalu berpindah ke apotik di ruko sebelah mini market. Membeli alat tes kehamilan dengan merek berbeda.

Sesampainya di unit, Nara bergegas ke kamar mandi setelah melepaskan sepatu dan meletakan tasnya di sofa. Benar-benar tidak sabar untuk menguji keakuratan alat yang sudah dibelinya. Menunggu beberapa menit, lalu tiga buah alat dihadapannya sudah menampakan hasil.

Suara bel pintu, menyadarkan Nara. “Siapa sih? Kalau Reka pasti langsung masuk,” ujar Nara. Nara membuka pintu dan terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya. Refleks dia langsung menutup kembali pintu yang baru dibuka sebagian, tapi rupanya kalah cepat. Pria yang berdiri di depan pintu menahan agar pintu tidak tertutup dan mengganjal dengan salah satu kakinya.

“Buka, atau aku dobrak.”

“Reno, pergilah atau aku akan panggilkan keamanan,” ancam Nara.

“Keamanan apa? Buktinya aku bisa sampai sini,” ejek Reno. Nara menyerah lalu menghentikan aksinya berusaha menutup pintu yang jelas kalah dengan tenaga Reno yang menahan pintu.

“Kamu yang keluar atau aku yang masuk?” ancam Reno pada Nara. 

1
Lastoyo Titik
👍👍👍
Mini Amora
udah baca... 👍👍👍
Repi ganz
🤭😄ketauan rekaaaa🤣🤣
Fat Imah
👍👍
Shee_👚
nikah sama Cindy juga boleh sama-sama g tau malu
Maya Mawardi
ternyata reka butuh kepastian cinta....hahay nggak nyangka banget
Maya Mawardi
ini lagi sapa coba
Maya Mawardi
bolehlah asal aman nggak diganggu oleh Reno
Maya Mawardi
ah sedikit kecewa
Maya Mawardi
ah reka ternyata kamu nggak sebrengsek gitu
Maya Mawardi
nah emang dah jodoh
Maya Mawardi
waduh untung reka cepat datang, kalo nggak masuk jurang si nara
Maya Mawardi
inilah yg Kusuka dari semua novel MBK author
Maya Mawardi
mulai salah paham
Maya Mawardi
harusnya Nara berterus terang agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari
Maya Mawardi
duh reka ....kok kamu kelewatan sih
Maya Mawardi
si reka kena batunya
Maya Mawardi
waduh reka...nggak punya akhlak
Maya Mawardi
kok reka gitu sih
echa purin
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!