Dibuang bak sampah, dipungut bak berlian!!
****
"Jadilah pacarku! Jika suamimu bisa berselingkuh di belakangmu, kamu pun juga bisa melakukan hal yang sama. Aku akan membantumu."
****
Kehidupan Lingga Sari Andini seketika berubah setelah pertemuannya dengan seorang pemuda yang ia temukan terdampar di tepian sungai yang tidak jauh dari kediamannya. Ia yang baru saja pulang dari berkeliling berjualan jamu, terpaksa harus menyelamatkan pemuda itu terlebih dahulu.
Namun siapa sangka setelah pertemuannya ini justru menyeretnya ke dalam pusaran rasa dan peristiwa yang tidak pernah terbesit di dalam pikirannya.
Kehidupan seperti apakah yang sebenarnya dijalani oleh Lingga? Dan bagaimanakah akhir ceritanya dengan sang pemuda?
Ikuti saja ya ceritanya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Hei, Kalian Sedang Apa?
Lingga mempercepat langkah kakinya untuk bisa segera tiba di rumah. Namun wanita itu nampak sedikit jengah karena sedari tadi Banyu mengikutinya. Seperti seekor anak ayam yang membuntuti kemana induknya pergi.
"Astaga, kenapa kamu mengikutiku? Rumah pak Pras belok ke kiri, bukan ke kanan!"
Tiba di percabangan jalan, Lingga menghentikan langkah kakinya dan mengajukan sebuah protes kepada pemuda ini. Banyu seharusnya belok ke kiri untuk bisa sampai ke kediaman Prasojo, namun ini yang terjadi justru sebaliknya, pemuda itu belok kanan untuk membuntutinya.
"Aku akan mengantarkanmu pulang terlebih dahulu. Baru setelah itu aku pulang ke rumah pak Pras!" jawab Banyu santai sembari meniup kelopak bunga dandelion di depan wajah Lingga.
Lingga berdecak pelan sembari mengibas-ibaskan kelopak-kelopak bunga itu yang menerpa wajah. Geli sekali rasanya saat bunga dengan kelopak kecil, halus nan lembut itu mengenai hidungnya. Rasanya, ia ingin bersin saat itu juga, tapi sayang tidak bisa.
"Aku sudah besar dan aku tidak perlu diantar. Aku bisa pulang sendiri!" ucap Lingga dengan nada sedikit ketus.
Diayunkannya kembali tungkai kaki itu untuk melanjutkan perjalanannya yang hampir sampai di kediamannya. Namun lagi-lagi Banyu masih terus membuntuti Lingga dan hanya bisa membuat wanita itu geleng-geleng kepala.
"Aku takut kamu diculik orang. Maka dari itu aku akan memastikanmu selamat sampai rumah terlebih dahulu baru aku pulang ke rumah pak Pras," jawabnya santai.
"Jangan mengada-ada. Tidak ada penculik yang berkeliaran di tempat ini. Jadi, lebih baik kamu segera pulang ke rumah pak Pras."
"Ini langkah preventif saja. Karena kejahatan itu bisa terjadi setiap saat. Aku pastikan kamu tiba di rumah dengan selamat, setelah itu baru aku akan pulang ke rumah pak Pras," terang Banyu sembari menaik-turunkan alis matanya.
Lingga sedikit bergdik dengan tingkah genit pemuda ini. Ia pun mencoba untuk mengacuhkannya dengan terus menyusuri jalanan ini. Sedangkan Banyu, masih setia mengekor di belakang punggung Lingga.
Jarak dari makam dengan kediaman Lingga semakin terpangkas di saat jejak-jejak kaki itu tercetak di jalanan hingga pada akhirnya mengantarkan si pemilik ke kediamannya.
Betapa terkejutnya Lingga saat melihat motor milik Heru sudah terparkir di halaman dan dari kejauhan, Heru juga nampak duduk di sebuah amben yang berada di depan rumah.
"Lebih baik saat ini kamu pulang. Aku sudah tiba di rumah dengan selamat," ujar Lingga ketika berada di bahu jalanan kampung yang masih berupa tanah.
Banyu sedikit melirik ke arah area depan rumah Lingga dan ia pun menangkap sosok lelaki yang sedang duduk di bagian teras.
"Itu suamimu?" tanya Banyu masih sambil menatap lekat lelaki itu dari kejauhan.
"Iya, itu mas Heru. Jadi lebih baik kamu segera pulang daripada nanti timbul pemikiran-pemikiran yang burukmengetahu jika aku pulang dengan lelaki lain." Lingga menjawab pertanyaan Banyu sembari mengawasi pergerakan Heru, khawatir jika suaminya mengetahui dirinya masih berhenti di bahu jalan bersama seorang pria.
"Loh itu justru malah bagus. Dengan begitu, aku bisa berkenalan langsung dengannya. Aku ingin tahu bagaimana wajah suamimu itu. Apakah ia jauh lebih tampan dariku?" seloroh Banyu.
Dahi Lingga mengernyit. "Memang apa yang akan kamu lakukan dengan membanding-bandingkan wajahmu dengan wajah mas Heru? Tidak akan berfaedah juga kan?"
"Oh itu semua tentu merupakan hal yang sangat penting bagiku. Jika aku lebih tampan dan rupawan darinya, bisa aku pastikan bahwa akan ada peluang yang besar bagiku untuk dicintai olehmu dan kamu jatuh cinta kepadaku," ucap Banyu dengan penuh percaya diri.
Lingga hanya bisa terperangah mendengarkan perkataan Banyu. Ia pun melepas sandal siallowww yang ia pakai dan segera memukulkannya di bokong milik pemuda ini.
"Ahhhhhhh ... sakit Sayang!" pekik Banyu sembari mengusap-usap bokongnya setelah mendapatkan ciuman dari sandal milik Lingga.
"Jangan bercanda kamu. Sudah, pulanglah. Aku tidak ingin mencari keributan dengan mas Heru jika sampai ia berpikiran yang macam-macam ketika melihat keberadaanmu!"
"Justru aku ingin memastikan dia itu ada main belakang dengan wanita lain di luar sana atau tidak, Sayang. Aku bisa membaca gerak-gerik kebusukan seorang laki-laki hanya dengan melihat sorot matanya saja."
"Aku tidak butuh itu Banyu. Sekarang kamu pulanglah!"
"Tidak, Lingga!"
"Pulang!"
"Tidak!"
Dua orang itu saling adu mulut di pinggir jalan. Tanpa mereka sadari volume suara keduanya semakin keras hingga menarik perhatian lelaki yang duduk di depan teras rumah Lingga. Heru sedikit terkejut dengan suara ramai dua orang yang tengah beradu argumen. Ia menoleh ke arah sumber suara dan...
"Hei, apa yang sedang kalian lakukan di sana!"
.
.
. bersambung...
karena aq mengalaminya