NovelToon NovelToon
Until The End

Until The End

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:39.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mirna Samsiyah

Prolog

Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong tidak mempedulikan guyuran hujan yang menimpa tubuh mungilnya. Ia berjalan tanpa alas kaki melewati jalanan penuh kendaraan yang berlalu-lalang.

Gadis malang itu berjalan tanpa arah. Bahkan ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri, tubuhnya seperti melayang tanpa beban.

"Sayang.. jangan takut, kau tidak akan sendiri, aku akan menyusulmu." Gumamnya dalam hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Hamparan daun teh menyambut Gysta saat mobil nya sampai di area villa keluarga Arkan. Gysta meraih tas nya dan keluar dari mobil karena mobil nya tidak bisa masuk lebih jauh. Gysta tidak menyadari bahwa kaos kaki putih nya berubah merah akibat semburan darah dari kaki nya. Otak Gysta sibuk mencari keberadaan Arkan dari pada merasakan sakit di kaki nya.

"Maaf, Arkan ada disini?" Tanya Gysta pada seorang perempuan berumur 30 tahunan yang ia tahu merupakan penjaga villa tersebut.

"Maaf Mbak, Mas Arkan nggak bisa diganggu." Terang perempuan.

"Kim, Kimberly." Gysta membaca nama yang tertulis pada name tag perempuan di depannya, Kim.

"Saya bukan Kimberly." Protes Kim. "Just Kim."

"Kim, saya udah ada janji sama Arkan, kamu mau dipecat sama Pak Alex karena nggak bolehin aku ketemu sama anaknya?" Gysta memasang wajah garang, bukan gaya nya sama sekali.

"Eh nggak mau mbak." Kim menggeleng. "Duh tapi gimana ya, tadi pagi Mas Arkan kesini muka nya galak banget, mata nya bengkak seperti habis nangis semalaman, dia bilang nggak mau diganggu." Jelas Kim dengan ekspresi serba salah.

"Kamu masih betah kerja disini nggak?" Tandas Gysta.

"Ya masih lah mbak."

"Ya udah kalau gitu kasih tahu Arkan ada dimana?"

"Mas Arkan ada di kamar lantai tiga paling kiri."

"Oke Kim, awas kalau kamu bohongin aku!" Gysta menatap tajam pada Kim dan membuat gerakan menggores leher dengan jari nya lalu pergi dari sana. Gysta bangga pada dirinya sendiri karena ternyata ia juga pandai berakting hingga berhasil membuat Kim ketakutan.

Pemandangan dari lantai tiga begitu indah dengan daun teh yang memenuhi lahan seluas 3 hektar ditambah kabut menghiasi kawasan tersebut membuat nya seperti negeri di atas awan. Namun Gysta tidak tergoda dengan hal itu, ia hanya ingin melihat Arkan. Gysta memutar knop pintu dan seketika mata nya menangkap sosok Arkan tergeletak di atas lantai dengan pil berserakan di sekitarnya.

"Arkan!" Gysta berlari menghampiri kekasih nya. "Kamu kenapa kayak gini sih?" Mata Gysta basah untuk ke sekian kalinya.

"Gysta...." Arkan meraih tubuh Gysta dengan mata sedikit terbuka dan memeluknya. "Jangan tinggalin aku." Lirih nya.

"Iya." Gysta mengusap rambut Arkan yang acak-acakan, hidung Arkan merah pasti karena terlalu lama menangis. Tidak ada balasan dari Arkan, hanya terdengar suara dengkuran halus dari sana. Arkan terlelap karena pengaruh pil ekstasi yang diminum nya. "Mana mungkin aku ninggalin cowok setampan kamu." Ujar Gysta pada Arkan yang bersandar pada lehernya seperti anak kecil.

Gysta merogoh saku seragam nya untuk mengambil ponsel nya yang bergetar panjang. Tertulis Mama pada layar ponsel nya, dengan satu kali gerakan ibu jari, Gysta menjawab telepon tersebut.

"Udah sampe rumah?" Suara Mama Gysta menyerbu gendang telinga Gysta.

"Belum, emang Mama dimana?"

"Di rumah Arkan, kamu cepetan pulang terus susulin Mama kesini, kasihan Mama Arkan sampai pingsan tuh apalagi anak kedua mereka nggak ada di rumah, Arkan ilang Gys!" Mama Gysta nyerocos membuat telinga Gysta seketika berdengung.

"Aku sama Arkan Ma."

"Apa!"

Gysta menjauhkan ponsel dari telinga demi menyelamatkan telinga nya yang masih terasa berdengung.

"Mama tenang, aku sama Arkan baik-baik aja." Gysta segera menutup percakapan sebelum Mama nya memberondongi nya dengan pertanyaan lain.

Gysta menunduk melihat Arkan masih terpejam dengan napas tidak beraturan yang menerpa lehernya. Gysta mengusap keringat di wajah tampan kekasihnya, entah berapa banyak pil ekstasi yang Arkan minum sekaligus. Pasti Arkan mencapai masa paling terpuruk dalam hidup nya saat orang tersayang pergi untuk selamanya.

Gysta menyandarkan kepalanya pada kaki tempat tidur, ia lelah. Hati dan pikiran Gysta lelah akibat kejadian hari ini apalagi setelah menghadapi si botak tadi, itu benar-benar menguras tenaga nya. Gysta ingin tidur, sebentar saja.

*****

"Gysta... Gys."

Gysta membuka matanya saat mendengar namanya dipanggil. Pandangan Gysta menyapu seluruh ruangan yang tampak asing baginya. Otak Gysta berpikir keras berusaha mengingat tempat tersebut.

"Kaki kamu berdarah!" Arkan mengangkat tubuh Gysta memindahkan nya ke atas tempat tidur.

"Hm?" Gysta membelalak melihat Arkan di hadapannya. Akhirnya Gysta ingat bahwa sebelum tidur tadi ia berada di villa bersama Arkan, sudah berapa lama mereka tidur. Gysta melihat keluar jendela, gelap. Pukul berapa sekarang?

"Arkan, kamu udah bangun?" Gysta melihat Arkan yang berlutut di atas lantai meneliti kaki nya.

"Kenapa kaki kamu berdarah?" Arkan mendongak melihat Gysta.

"Kamu tenang dulu, aku nggak apa-apa." Gysta mengusap bahu Arkan untuk menenangkannya. "Bangun."

Arkan menurut, ia beranjak dan duduk di samping Gysta.

Gysta menceritakan semua kejadian siang tadi sepulang sekolah saat dirinya mencari keberadaan Arkan. Selama Gysta bercerita, Arkan mengepalkan tangannya penuh emosi, ia sudah berniat untuk membalas perlakuan si botak pada Gysta apalagi sampai berani melukai gadis kesayangannya.

"Maaf." Lirih Arkan, ia merasa sangat bersalah karena telah lalai menjaga Gysta.

"Kamu janji sama aku jangan berantem sama dia." Gysta menggenggam tangan Arkan, takut Arkan akan menghabisi tak hanya si botak melainkan semua orang yang ada disana.

"Enggak." Arkan menggeleng, aku nggak bakal berantem sama mereka karena mereka nggak akan berani melawan.

"Sekarang kita pulang ya." Gysta memandang intens ke arah Arkan, menatap wajah tampan yang mampu menenangkannya dari segala kepenatan hidup.

"Kepala aku sedikit pusing, ini udah malem kita pulang besok aja, sekarang aku harus obatin luka kamu."

"Berapa banyak pil yang kamu minum tadi?" Tanya Gysta, pertanyaan yang dari tadi ingin diutarakannya pada Arkan.

"Entah lah." Arkan mengedikkan bahu, ia beranjak mengambil alat pertolongan pertama di dalam nakas.

Arkan melepas sepatu dan kaos kaki Gysta lalu meletakkan kedua kaki gadis itu di pangkuannya.

"Aku bisa obatin sendiri." Ujar Gysta.

"Iya aku tahu." Arkan cuek, ia tetap membersihkan luka Gysta dengan rivanol dan menutup luka tersebut dengan perban setelah diberikan obat merah. "Perih ya?"

"Sedikit." Gysta memperhatikan Arkan yang menunduk serius memasang perban di betis nya.

Gysta tidak berani menginggung tentang Sarah sama sekali padahal sebenarnya tadi ia ingin melihat Sarah untuk terakhir kalinya. Gysta takut Arkan kembali lepas kendali jika ia nekat membahas Sarah.

"Udah." Arkan mengusap pipi Gysta yang kemerahan karena perih dan malu akibat baru saja mendapat hal romantis seperti di film-film. "Jangan pernah pergi ke tempat itu lagi." Tegas Arkan pada Gysta, ia tidak mau kejadian seperti ini akan terulang lagi.

"Asal kamu nggak ngilang kayak tadi." Gysta menatap Arkan, siapa yang tidak bingung saat orang terkasih nya hilang tanpa jejak. Tadi Gysta sama sekali tidak memikirkan keselamatannya, yang terpenting Arkan ditemukan.

"Aku bukan anak kecil, ketika aku hilang maka aku pasti kembali." Arkan tersenyum tipis, mata nya teduh membalas tatapan Gysta.

"Aku nggak mau kamu hilang walaupun cuma sedetik." Gysta menggeleng-geleng.

"Kemanapun aku pergi, kamu adalah rumah ku, kamu adalah tempat ku kembali." Arkan mengecup kedua telapak tangan Gysta lembut, menenangkan gadis itu bahwa ia tidak akan pernah pergi barang sebentar.

"Enggak, kamu nggak boleh pergi." Sergah Gysta posesif, Arkan tertawa melihat kelakuan kekasihnya yang sangat menggemaskan itu.

"Iya-iya." Arkan menyerah. Walau bagaimanapun berdebat dengan perempuan akan membuatmu kalah, sungguh, turuti saja kemauannya, iyakan saja keinginannya.

1
Reena Azza
aku sllu setia bca kok thor...
tiap bca psti nyesek
di episode trkhr ini lbh nyesek lg coz sad ending 😭😭😥😥
Mirna: Gak semua cerita berakhir indah bukan? 😌
total 1 replies
Tusini Anwdmk
rajin up y thor..kumenunggumu...👍👍👍💪💪💪
Reena Azza
sad ending 😭😭🥺🥺
aku pkr arkan msh hidup smpe sneng aku thor...😥😔
Mirna: Berat banget pisah sama Arkan 😭
total 1 replies
Tusini Anwdmk
Dikit banget sih Thor...CPT up LG y Thor..💪💪💪💪
Mirna: Ini kan update nya satu abad sekali 😂
total 1 replies
Tusini Anwdmk
Mewek aku thooor 😭😭😭😭😭😭
Tusini Anwdmk
Aaaaaaaaaa baper aku Thor😭😭😭😭😭 so sweeet banget...
Tusini Anwdmk
Ada y Thor cowok Ky Arkan ...😀😀😀😀
Tusini Anwdmk
cocok Thor visualny ....aku suka👍👍👍
Mirna: Eh masih ada yang baca novel ini ya. makasih akak 😘
total 1 replies
Reena Azza
jgn lama2 lah thor up nya...
Mirna: Masih ada yang baca novel ini yak
total 1 replies
untari mustofa
aq harus senyum apa nangis.....
Reena Azza
smoga gysta gpp...
untari mustofa
kemarin masih berharap mereka dapat melukis cerita yg manis tenyata 😭😭😭 masih berharap ini hanya mimpi
OFF
knpa sad ending yaallah😭😭😭😭
Reena Azza
bau2 sad ending ini...😭😭😭
untari mustofa
masih berharap arkan baik2 saja😭😭
untari mustofa
lup yu kak
untari mustofa
aq masih setia kak jan lama2 upnya 😘😘
Reena Azza
jgn lma2 lah thor up nya...
roman2nya ni nnti sad ending deh...🥺🥺🥺
untari mustofa
biarkan arkan sembuh ya neng otor 😘😘 jan kejem2 deh ya 😂😂 upnya diseringin dong aq masih setia loh
Mirna: Makasih udah setia sama otor yang up nya seabad sekali 😍
total 1 replies
untari mustofa
setelah sekian purnama menanti....💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!