NovelToon NovelToon
SECOND LOVE

SECOND LOVE

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Duda / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:363.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: poppy susan

Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.

Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.

Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?

Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

💔

💔

💔

💔

💔

Ceklek...

Tiba-tiba pintu ruangan rawat inap Livia pun terbuka....

"Selamat pagiiiiii!" teriak Bee dan Erika bersamaan membuat Gibran dan Livia terkejut.

"Astaga, kalian berdua ya bisa ga sih ga teriak-teriak? ini rumah sakit, bukannya hutan," kesal Gibran.

"Yaelah Bang, jangan sok-sokan kagetlah bukannya Bang Gib sudah biasa mendengarkan teriakan kami berdua," seru Bee.

"OMG, kok wajah Bang Gib sama Bebebnya pagi-pagi sudah memerah kaya gitu? jangan bilang kalian sudah-----"

Ucapan Erika terhenti karena Gibran mengusap wajah Erika dengan tangannya.

"Berisik bule, suaramu sudah kaya toa aja," kesal Gibran.

"Ih, kok tangan Bang Gib bau iler sih? Astaga, sayang coba kamu cium wajahku jangan-jangan bau ilernya nempel di wajahku," seru Erika dengan menghampiri Rayyan dan menyuruh suaminya untuk mencium wajahnya.

Gibran sudah menggeretakan giginya, Gibran sudah sangat kesal dengan kelakuan istri-istri dari para sahabatnya yang sangat jahil itu. Sedangkan para suaminya merasa acuh dan tidak peduli dengan kelakuan istri mereka.

"Hai, aku Bee aku istri dari Kakaknya Alsya," seru Bee.

"Hai juga, aku Livia."

"Aku Erika, istrinya Polisi paling tampan di Jakarta ini," seru Erika.

"Cih, percaya diri sekali anda tampanan juga aku," sahut Gibran.

"Iyalah-iyalah, ngalah aja sama duda sekarang kan duda makin terdepan," ledek Erika.

Dengan gemasnya Gibran memiting leher Erika membuat Erika merengek dan berontak.

"Sayang, tolongin duda tengil ini berusaha menyakitiku. Bang Gib, kamu ga takut menganiaya istri dari seorang Polisi," seru Erika.

"Ckckck...Polisi kaya si Rayyan mah ga takut."

Gibran pun melepaskan Erika, sedangkan Livia terlihat tersenyum.

"Jangan aneh ya Liv, melihat kelakuan kami. Kami memang seperti ini ga bisa diam kalau sudah kumpul," seru Bee.

"Tidak apa-apa, justru aku senang punya teman baru yang sangat heboh seperti kalian," sahut Livia.

"Ya ampun Bang, kayanya Livia ga cocok sama kamu," seru Bee.

"Kenapa?"

"Livia itu lemah lembut, sedangkan Bang Gib kaku banget kaya kanebo kering."

Gibran sudah mau menghampiri Bee, tapi Bee dengan cepat berlari dan duduk di samping suaminya Alta.

"Oh iya Gib, wanita yang sudah menculik Livia sudah aku amankan ternyata wanita itu sudah benar-benar gila masa Papanya sendiri mau dia bunuh sih," seru Rayyan.

"Apa? Monica mau membunuh Papanya?" seru Livia kaget.

"Iya, dan pria yang bersamanya menghalanginya dan akhirnya pria itu yang terkena tusukan."

"Pria? siapa?" tanya Livia.

"Namanya Damar Sugiono."

Lagi-lagi Livia membelalakan matanya. "Terus sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Livia kembali.

"Dia sudah meninggal, karena mengalami pendarahan," sahut Rayyan.

"Inalillahi wainailaihi roji'un," sahut semuanya bersamaan.

Tiba-tiba airmata Livia menetes, bagaimana pun Damar adalah seseorang yang pernah mengisi hatinya dan juga pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Gibran pun menghampiri Livia dan duduk di sampingnya, disekanya airmata Livia membuat Livia menatap Gibran.

"Jangan nangis, ini sudah menjadi suratan takdir."

"Aku merasa sedih saja Mas, bagaimana pun Damar sempat menjadi bagian dari hidupku. Tolong bawa aku ke rumahnya, aku ingin melihat Damar untuk yang terakhir kalinya," seru Livia.

Gibran menggelengkan kepalanya. "Tidak Livia, luka jahitan kamu belum kering aku tidak mau mengembil resiko."

"Tapi Mas----"

"Bisakah untuk kali ini kamu memikirkan kesehatan kamu sendiri?"

Livia pun terdiam dan menundukan wajahnya, Gibran mengusap kepala Livia.

"Walaupun kamu datang ke rumahnya, tidak akan membuat Damar kembali hidup jadi aku mohon fokus saja sama kesehatan kamu jangan mikirin yang lain."

Livia pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan Gibran pun tersenyum.

"Bang Gib, kamu mandi dulu sana ini aku bawakan baju ganti soalnya tadi pagi Mommy Tasya memberitahuku kalau Abang ga pulang," seru Bee.

"Oke...sebentar ya, aku mandi dulu."

Livia kembali menganggukkan kepalanya. Bee dan Erika kembali menghampiri Livia dan mengajaknya berbincang-bincang.

Beberapa saat kemudian, Gibran pun keluar dari kamar mandi. Gibran terlihat lebih segar dan tampan kalau menurut Livia.

"Oh iya, Seno sama Tante Zia kemana? kok ga ikut kesini?" tanya Gibran.

"Si Seno sibuk ada meeting dia, sementara bininya lagi ngurusin yang mau melahirkan," sahut Rayyan.

"Oh....Hai bule dan kamu Bee, jangan coba-coba kalian mencuci otak Livia ya. Livia itu wanita baik-baik dan kalem jangan sampai otaknya terkontaminasi dan berubah bar-bar kaya kalian," ancam Gibran.

"Idih, santai Bang! tapi kan mendingan Livia kaya kita daripada pendiam seperti ini," sahut Erika.

"Enggak, enak saja ada kalian berdua saja sudah pusing apalagi ditambah satu orang. Lagipula Livia itu ga cocok jadi bar-bar, dia itu cocoknya jadi istri yang lemah lembut dan penurut," seru Gibran.

"Liv, nanti kalau kamu sudah menikah dengan Bang Gib dan dia melakukan KDRT sama kamu, kamu jangan sungkan-sungkan bilang saja sama kita biar kita yang kasih pelajaran sama duda ngenes itu," seru Bee.

"Enak saja duda ngenes."

"Sudah-sudah, kalian bisa diam ga sih? pusing tahu, dari tadi bertengkar mulu," seru Alta.

***

Di lain tempat...

Bu Lastri baru saja kembali dari rumah duka, ia sudah melayat ke rumah Damar dan rencananya siang ini Bu Lastri juga akan ke rumah sakit untuk menjenguk Livia.

Bu Lastri mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah panti asuhannya itu.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Nah, Nyonya, Tuan, ini Bu Lastri pemilik panti asuhan ini kalau begitu saya pamit ke belakang," seru Bi Ani.

Sepasang suami istri itu pun menyalami Bu Lastri. "Silakan duduk Bu, Pak."

"Terima kasih."

"Maaf, Bapak dan Ibu ini ada perlu apa?" tanya Bu Lastri.

"Maaf Bu, apa Ibu mengenal bayi ini?" seru pria itu dengan menyodorkan sebuah foto kepada Bu Lastri.

Bu Lastri mengambil foto itu dan memperhatikan dengan seksama wajah bayi yang ada di dalam foto itu, dan beberapa saat kemudian Bu Lastri membelalakan matanya.

"Maaf, Bapak dan Ibu ini siapanya bayi ini?" tanya Bu Lastri.

"Kami orang tuanya, kami kehilangan bayi kami puluhan tahun yang lalu dan kami selama ini sudah berusaha mencarinya namun hasilnya nihil bahkan istri saya ini sampai sakit-sakitan akibat kehilangan puteri kami satu-satunya itu," sahut pria itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca sedangkan istrinya sudah menangis tersedu-sedu.

"Maaf, kalau boleh saya tahu kenapa anak kalian bisa sampai hilang?" tanya Bu Lastri.

"Begini Bu, dulu Ayah saya menginginkan cucu laki-laki untuk meneruskan perusahaan tapi istri saya justru melahirkan anak perempuan dan Ayah saya tidak mau menerimanya, akhirnya disaat istri saya sedang berada di kamar mandi, Ayah saya memerintahkan pengasuh anak saya untuk membawa bayi kami dan membawanya pergi dari rumah."

"Padahal bayi itu adalah harta yang paling berharga untuk kami karena istri saya sudah di vonis tidak akan bisa mengandung lagi karena penyakit yang dideritanya mengharuskan rahim istri saya diangkat. Puluhan tahun saya mencari anak kami tapi kami sama sekali tidak bisa menemukannya karena pengasuh itu menghilang bagaikan di telan bumi."

Pria itu menghentikan ucapannya, dadanya seakan sesak jika mengingat puteri satu-satunya itu. Sedangkan sang istri tidak berhenti menangis.

"Hingga akhirnya satu bulan lalu, Ayah saya meninggal dan minggu lalu saya tidak sengaja menemukan alamat pengasuh anak saya itu. Saya dan istri saya langsung pergi ke kampung tempat tinggalnya, beliau menangis dan meminta maaf kepada kami tapi sayang kami tidak bisa mendapatkan jawabannya karena beliau lupa soalnya kejadianya sudah lama sekali. Kami sudah sangat putus asa, dan harapan kita untuk bertemu dengan puteri kami sudah sangat kecil tapi kemarin beliau mengjubungi saya dan beliau ingat kalau beliau menitipkan puteri kami ke panti asuhan ini."

Bu Lastri menghela napasnya. "Memang benar bayi ini dulu saya temukan di depan pintu Panti."

"Alhamdulillah, sekarang dimana dia? apa kami bisa bertemu dengannya?" seru wanita itu dengan antusias.

"Kebetulan saat ini saya akan menemuinya, soalnya dia sedang dirawat di rumah sakit."

"Apa? dia sakit apa?"

"Kemarin Livia diculik dan dan si penculik sudah melukainya."

"Livia?"

"Iya, nama anak itu Livia."

Suami istri itu tersenyum bahagia. "Ya sudah Bu, apa kita bisa berangkat sekarang?"

Bu Lastri pun menganggukkan kepalanya, akhirnya Bu Livia dan suami istri itu pun segera pergi menuju rumah sakit tempat dimana Livia dirawat.

💔

💔

💔

💔

💔

Jangan lupa

like

gift

vote n

komen

TERIMA KASIH

LOVE YOU

1
Milk banana
wahai damar Dajjal. mending Lo Ama Monica aja, soalnya sama ( sama-sama Dajjal!!! )
Patrick Khan
.monica buang kelaut aja
Milk banana: ya setuju, jika anda bosan dengan kelakuan Monica, lemparkan saja ke laut~
total 1 replies
Patrick Khan
.monica gk berubah blas ya😠
Patrick Khan
.anak kecil selalu jujur😁
Patrick Khan
wah gk bener ini damar nie😡😡
Lila Susanti: apakah yg namanya sugiona suka selingkuh ??/Silent/
total 1 replies
Patrick Khan
.pindah siniiii😊
we
alur cerita menarik seru semangat kakak
we
jailnya gilsya
Maria Magdalena Indarti
tengkyuu thor.
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: Cerita Gilsya di judul "THE BEST COUPLE"
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
conggrat Livia & Gibran. rukun, setia, bahagia
Maria Magdalena Indarti
Gibran was was nih saingan sm anaknya
Lila Susanti: suka ma karakter bee , ceria bw energi postif
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
syukurlah Livia ktm ortu yg kaya raya
Maria Magdalena Indarti
jadi deh Livia n Gibran.
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila
Lila Susanti: pantes neneknya demir benci bgt sama demir. anknya di bunuh monica, ud dr awal abis lahiran di tinggal , jd makin tambah benci ke monica. pelampiasannya ke demir
total 1 replies
Maria Magdalena Indarti
Monica sdh gila
Maria Magdalena Indarti
kenapa ada orang jahat spt Monica. apa ga punya hati
Maria Magdalena Indarti
Livia sgt tulus
Maria Magdalena Indarti
semoga Livia n Gibran jodoh
Maria Magdalena Indarti
nasib Livia malang
Maria Magdalena Indarti
Livia termakan omongan monica. bodoh
Maria Magdalena Indarti
gilsya jail
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!