Area 21++
Kekerasan
"Ka-kamu pembunuh?" Bulan tercengang
"Akhirnya kamu sudah tahu juga. sekarang, tanda tangani ini!" sebuah surat perjanjian dilayangkan kepadanya
"Mengurus kebutuhan lahir dan batin ku sampai waktu yang ditentukan. jika menolak, kabur dan mengadu pada orang lain, kau dan keluarga kau akan ku lempar ke Neraka!" ancam Guntur
Terikat Perjanjian menjadi Pembantu di kediaman pria psikopat yang gemar menyiksa siapa saja yang telah mengusik kehidupannya, untuk kedua kalinya kehidupan suram untuk Bulan yang terjerat dalam perangkap ini.
Bulan terpaksa menjadi tawanan pria itu, mulai mengurus hidupnya, hingga menjadi bual-bualan hasrat gairah dan siksaan tanpa melakukan kesalahan.
Rembulan, nama indah yang bersinar terang, seketika menjadi lebih suram bak kelabu cenderung hitam, tatkala terperangkap dalam Obsesi Majikan Psychopath
Apa yang terjadi pada pria bernama Guntur itu?
Apa misinya menjadikan Bulan sebagai tawanan?
****
Fllw ig @cece_virgo24
Add fb, elce kha
Baca juga karyaku yang lain, tekan profilnya 😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH!
🌺🌺🌺
Beberapa hari kemudian, segala persiapan telah selesai diurus dengan matang. yang ditunggu akan berlangsung beberapa menit lagi di Kantor Urusan Agama. Bulan menatap dalam-dalam wajahnya yang jelek dipoles dengan alat make up, menghasilkan kecantikan yang paripurna. ia sempat pangling, bagaikan barbie hidup dari hasil karya sang profesional yang lihai dengan bakatnya.
"Apakah ini aku?" ia takjub, wajar saja karena selama ini Bulan hanya mengenakan bedak tipis dan lipbalm saja. kecuali jika bertemu dengan klien Almarhum Papinya, polesan lipstik matte ia tambah agar terlihat lebih segar
"Tentu saja, Nona, anda cantik sekali."
"Terima kasih, ya." ucap Bulan seraya mengulum senyum manis kepada wanita yang mengubah penampilannya
Bulan berangkat bersama sahabatnya, Siska dan suami. keduanya kembali bertemu di sebuah Kafe saat Bulan dan Guntur baru saja selesai melakukan fitting baju. hanya kebaya berwarna biru langit kesukaan Bulan, terlihat lebih anggun dan elegan. hingga kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu begitu kegirangan saat kembali bertatap muka. kebetulan sekali, pihak Bulan belum memiliki saksi nikah. ia pun meminta bantuan kepada suami Siska untuk menjadi saksinya saat hari H mendatang.
Beberapa menit kemudian pihak mempelai wanita telah tiba di Kantor Urusan Agama yang menjadi pilihan sepasang insan itu untuk melakukan prosesi akad nikah. sudah ada Guntur, calon mertuanya beserta Assisten Dika. terdapat pula wali hakim dan pengurus KUA yang akan menikahkan keduanya.
Guntur tertegun melihat bidadari surga yang jatuh dari langit ada dihadapannya. matanya tidak sekalipun berkedip memandang indahnya pahatan sang Maha Kuasa. sosok yang selama ini ada bersamanya tidak pernah terlihat secantik ini, polesan rias benar-benar mengubahnya menjadi sosok bidadari yang diimpikan para kaum lelaki. perempuan itu melangkah semakin dekat dan sangat dekat, pandangannya terus mengikuti langkah kemana kaki itu berlabuh.
Deg!!
Jantungnya berdegup sangat kuat dan kencang, mungkin sebentar lagi akan copot tatkala terus berdetak tak karuan. perempuan ini membenamkan tubuhnya tepat disamping dirinya. ia tersenyum, senyum itu sangat manis dan rasanya Guntur ingin pingsan saat ini juga.
"Ehem!!"
Deheman seseorang sontak membuyarkan lamunannya. Guntur terhenyak dan tersenyum kikuk kepada semua orang di sekitarnya.
Argh! memalukan! dia cantik sekali, batinnya
"Bisa kita mulai ijab qabulnya, mempelai pria dan wanita?" Pak wali hakim bersuara, diangguki kedua insan itu secara bersamaan
Pak wali hakim yang akan menikahkan Bulan pun mengulurkan tangannya kehadapan Guntur, segera disambut lelaki itu dengan begitu semangatnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Sinar Rembulan Cakrawala binti Almarhum Cakrawala Biru dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sinar Rembulan Cakrawala binti Almarhum Cakrawala Biru dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucapnya dengan sekali tarikan nafas
Bulan dan yang lainnya bernafas lega, Guntur begitu lancar mengucapkannya tanpa adanya pengulangan ijab qobul.
"Bagaimana saksi?"
"SAH!!"
"Alhamdulillah ..." mereka semua menengadahkan tangan tepat didepan dada, membaca do'a baik untuk kedua pengantin baru yang telah menyandang status suami istri yang sah.
Bulan menyambut tangan suaminya dengan penuh suka cita, menyaliminya dengan penuh takzim. Guntur tersenyum senang, akhirnya Rembulan telah resmi menjadi miliknya selamanya. dan ia berharap hubungan mereka akan berlabuh sampai maut memisahkan mereka. entah akan ada cinta atau tidak, Guntur berjanji akan memperlakukan istri dan anaknya dengan baik sampai cinta itu akan datang dengan tersendirinya. Guntur juga tidak ingin ada kata perpisahan, perpisahan mampu memporak-porandakan hatinya seperti saat perceraian orang tuanya terjadi kala itu.
Sebelum melakukan acara kecil-kecilan berupa makan siang bersama dikediaman Perkasa, sepasang pengantin baru itu terlebih dahulu melakukan photoshoot disebuah Taman yang sering dikunjungi oleh Bulan. tentunya potret mereka diambil oleh suami Siska yang merangkap sebagai photografer untuk pasangan itu.
Berbagai macam pose mereka lakukan, diiringi tawa renyah oleh mereka semua. terkadang Bulan merasa kikuk saat melakukan pose romantis kepada suaminya, seperti tatap-tatapan. padahal keduanya sudah sering melakukan hal yang lebih intim. entah mungkin karena ini dilakukan dengan sadar, hingga ia merasa kaku untuk melaksanakan instruksi photografer.
Puas mengambil potret sepasang insan itu, kini ditambah sesosok lagi yang berdiri ditengah-tengah keduanya. Papa Perkasa menyempil diantara anak dan menantu, cekrekan potret pun diambil lagi oleh suami sahabatnya.
Siska, sahabat masa sekolah Bulan, tidak mau kalah. kini bumil dan suami juga ikut andil melakukan pemotretan bersama sepasang pengantin itu.
"Lihat nih, Bul, kamu cantik banget tapi sedikit kaku sama suamimu." godanya, menunjukkan hasil potret kepada Bulan
Bulan hanya tersenyum salah tingkah
"Namanya juga aku nggak pernah sedekat itu sama lelaki." pungkasnya, ah dia merasa munafik sekali. padahal hampir tiap hari mereka melakukan hal yang lebih dekat dan intim
Sahabatnya tersenyum. "Setelah ini kamu tidak boleh kaku, aku ada sesuatu hadiah yang akan membuat kamu terbiasa." ia mengerlingkan mata
🌺🌺🌺