Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Inka terus menggenggam tangan Inara.
"Bangun sayang, jangan bikin bunda khawatir nak!" Ucap Inka sambil mengusap kepala Inara.
Marvel pun masih setia menemani Inka, demi perannya menjadi suami yang baik, dia harus sabar melihat drama yang sedang di tayangkan depan matanya. Sebenarnya dia sudah muak dan ingin segera mengakhirinya, tapi tujuannya belum tercapai untuk menghancurkan keluarga Inka.
Dia menghela nafas. "Sayang kamu makan dulu ya, kamu belum makan dari pagi, kamu juga harus pikirin anak kita yang ada dalam kandungan kamu." Ucap Marvel sambil mengusap perut Inka.
"Tapi aku gak laper kak!" Jawab Inka sambil menatap Marvel.
"Sayang kamu harus nurut sama suami, kamu harus makan. Kamu tunggu di sini ya, saya beli makanan dulu."
Marvel pun beranjak dan tidak menunggu persetujuan dari Inka, dia keluar ruangan Inara. Dia bergegas ke kantin untuk membeli makan. Tapi saat dia sedang berjalan menuju kantin tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
Marvel kaget dan dia langsung menoleh. Ternyata dia istri pertamanya, Marvel langsung membawa wanita itu ke tempat yang sepi.
"Kamu ngapain di sini? Kalo ketahuan sama Inka gimana?"
"Aku kangen sama kamu!" ucap wanita itu manja.
"Kemarin kan baru ketemu sayang." Ucap Marvel sambil mengusap pipi wanita.
"Tapi aku masih kangen sayang!" Marvel mengecup kening wanita itu. Wanita itu tersenyum dan membalas mencium bibir Marvel.
"Kamu suka kan kejutan dari aku?" tanya Wanita itu. Marvel tersenyum dan mengangguk.
"Iya sayang saya sangat suka, kamu memang hebat!" Ucap Marvel. Wanita itu tersenyum senang.
"Episode selanjutnya giliran Inka!" Ucap Wanita.
"Jangan!" sergah Marvel tiba-tiba. Membuat wanita itu mengernyit heran.
"Kenapa? Apa kamu gak suka aku ngerjain Inka?"
"Bukan begitu sayang, saya cuma ingin melihat dia menangis setiap harinya karena menangisi keluarganya, dia biar jadi episode terakhir!" Jawab Marvel.
"Benerkan kamu gak bohong? Atau jangan-jangan kamu masih cinta sama dia?" Tanya wanita itu kesal.
"Enggak sayang, sekarang hanya kamu wanita yang aku cintai." ucap Marvel sambil mencium bibir wanita itu.
Wanita itu masih merengut kesal, Marvel segera memberi kecupan bertubi-tubi pada wanita itu membuat dia tersenyum lalu memeluk Marvel.
"Minggu depan saya pulang, kamu tunggu di rumah ya." Ucap Marvel sambil mengusap kepala wanita itu.
Wanita itu menghela nafas. "Ya udah tapi janji ya, Minggu depan pulang?"
"Iya sayang ku."
Marvel pun menyuruh wanita itu pulang dan wanita itu pun pergi meninggalkan Marvel.
Marvel bergegas membeli makanan ke kantin.
Saat dia kembali ke ruangan Inara, ternyata Inara sudah sadar. Saat Inara melihat Marvel dia kaget, dia menatap tajam Marvel.
"Pergi!! Aku benci sama om Marvel!" pekik Inara. Inka kaget tiba-tiba Inara berteriak seperti itu pada Marvel.
"Om Marvel jahat." teriak Inara.
"Sayang, jangan teriak-teriak nak, ada apa sayang? Kenapa dedek marah-marah sama om Marvel?"
"Aku gak mau liat om Marvel, aku benci sama om Marvel."
Inka semakin bingung melihat anaknya tiba-tiba histeris seperti itu, tapi Marvel hanya terdiam sambil menatap tajam Inara.
Inka menoleh ke arah Marvel. Marvel masih terdiam lalu menatap Inka. Lalu dia menghampiri Inka.
"Sayang kamu makan dulu ya, saya udah beliin makanan."
"Tapi kak-"
"Gak ada penolakan, inget anak kita yang ada di sini!" Ucap Marvel sambil mengelus perut Inka.
"Inara biar saya yang jagain." Inka pun mengangguk dan menuruti perkataan suaminya.
Saat Inka sedang makan di sofa, Marvel berbisik di telinga Inara.
"Sebaiknya kamu diam dan jangan ngomong macam-macam atau nasib bunda kamu sama seperti ayah dan mama kamu," bisiknya di telinga Inara dia sudah mulai terang-terangan dengan Inara.
Inara terbelalak mendengar bisikan Marvel.
"Kenapa om Marvel ngomong seperti itu? Apa dia yang udah membunuh ayah? Dan dia juga yang membunuh mama? Siapa sebenarnya dia?" hati Inara bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya ini. Kenapa dia mengancamnya?
Inara teringat kejadian semalam, bagaimana teganya Marvel meninggalkan dia di saat dia sedang kesakitan dan butuh pertolongan, Inara yakin Marvel orang jahat.
"Jahat!" lirih Inara pelan.
Marvel segera menaruh telunjuknya di bibir Inara, lalu Marvel menunjuk Inka, lalu dia mengarahkan tangannya ke lehernya memberi isyarat jika dia ngomong macam-macam maka bundanya akan mati.
Inara menggeleng. Marvel tersenyum dan mengusap kepala Inara namun sedikit menekankan tangannya ke kepala Inara, sebagai peringatan.
Inara pun mengangguk sambil meneteskan air matanya, Marvel tersenyum sambil menghapus air mata Inara.
"Anak pintar," Ucap Marvel tanpa bersuara namun cukup membuat Inara paham dengan ucapan Marvel dari gerakan bibirnya.
***
Setelah di periksa dan tidak ada penyakit serius, Inara sudah di perbolehkan pulang. Inka senang karena Inara tidak perlu di rawat inap.
Saat pulang Inara minta di antar ke rumah Argan. Inka pun menurutinya, sesampainya di rumah Argan Inara bergegas turun. Tapi dia sempat menoleh ke arah Marvel. Marvel menaruh jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar tidak ngomong macam-macam sama siapa pun. Inara bergegas mengalihkan pandangannya dan segera masuk ke rumah Argan.
Inara duduk di sofa dan menangis, dia masih bingung kenapa Marvel sejahat itu? Kenapa dia membunuh ayah dan mamanya?
"Sayang ada apa?" tanya Rafa tiba-tiba.
Inara langsung berhambur ke pelukan Rafa dan menangis.
"Ada apa lagi sayang?" tanya Rafa sambil melepaskan pelukannya dan menatap Inara.
"Kakak gak mau liat kamu sedih dan menangis terus!" Ucap Rafa sambil menghapus air mata Inara yang mengalir.
Dada Inara terasa sesak, dia ingin bercerita tentang apa yang terjadi dengannya dan bundanya, tapi dia takut jika Marvel mencelakai Inka.
Rafa segera memeluk Inara saat Inara hanya terdiam dan menangis.
Dia membawa Inara duduk di sofa dan membiarkan Inara memeluknya dan menangis. Rafa terus mencium pucuk kepala Inara.
"Maafin kakak ya, kakak belum bisa bahagiain dedek!" Ucap Rafa.
Inara melepaskan pelukannya dan menatap Rafa. Rafa mengusap pipi Inara.
"Maafin kakak karena kakak belum bisa nepatin janji kakak untuk bahagiain dedek."
Inara semakin terisak bahkan tangisannya pecah, dia menangis bukan karena Rafa. Rafa mengusap pipi Inara, lalu dia mengecup kening Inara.
"Kakak tidak ingin melihat bidadari kakak menangis!" Inara memeluk erat tubuh Rafa. Hanya pelukan Rafa yang bisa membuatnya tenang.
"Cup cup sayang, jangan nangis lagi ya," Ucap Rafa.
Inka dan Marvel pun sampai rumah, tapi tiba-tiba mereka melihat seorang wanita sedang berdiri di depan rumah. Inka dan Marvel bergegas keluar dari mobil.
"Cari siapa ya?" tanya Inka.
Wanita itu pun menoleh, Inka dan Marvel terbelalak kaget saat melihat siapa wanita itu.
"Dara!" pekik Inka kaget. Wanita itu tersenyum menatap Inka. Sedangkan Marvel hanya terdiam mematung melihat istri pertamanya ada di rumah Inka.
"Hai sahabat lama, apa kabar? Ternyata kamu masih inget aku!" Tanya Dara sambil menepuk pundak Inka. Namun pandangannya tertuju pada Marvel, dia mengedipkan matanya pada Marvel.
Marvel menatap tajam Dara, kenapa dia ada di sini? pikir Marvel.
Sedangkan Inka dia hanya terdiam, dia tidak menyangka jika Dara hadir kembali dalam kehidupannya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Inka tegas.
"Ya ampun apa seperti ini kamu menyambut sahabat dan tamu kamu? Kita sudah lama tidak ketemu apa kamu tidak rindu?" Ujar Dara sambil berbisik di telinga Inka.
"Pergi dari rumah saya! Jangan ganggu keluarga saya lagi!" Pekik Inka kesal. Dara hanya terkekeh.
"Sayang kita masuk ya!" Ucap Marvel dia takut jika Dara keceplosan dan membongkar semuanya.
"Biar dia jadi urusan saya!" Ucap Marvel sambil menatap tajam Dara.
Inka menatap Dara dengan tatapan tajam, dia sangat kesal melihat Dara kembali lagi. Dara hanya membalas tatapan Inka dengan senyuman manis di bibirnya.
Setelah mengantar Inka kedalam, Marvel segera menghampiri Dara. Dia segera menarik Dara dan membawanya agak jauh dari rumah Inka.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Marvel.
Dara merengut kesal. "Kenapa kamu gak bilang kalo Inka hamil? Kenapa sampai dia hamil Marvel!" Pekik Dara kesal.
"Kamu tau dari mana?"
"Aku denger sendiri waktu kamu bicara sama Inka di rumah sakit." Marvel mengacak rambut frustasi. Kenapa sampai ketauan oleh Dara.
"Gugurkan kandungan dia atau kalian semua mati, termasuk kamu!" Ucap Dara menatap tajam Marvel.
Bersambung..
...Gimana nih, kandungan Inka bakal keguguran atau enggak ya?...
...Terima Kasih yang masih setia di cerita receh author dan terima kasih atas dukungan kalian semua 😘😘...