Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.
Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.
Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.
Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.
Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....
Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria-pria berhati malaikat
Jonathan langsung mengerjakan seluruh perintah atasan sekaligus si pemilik perkebunan, Jonathan merupakan tangan kanan langsung si pemilik kebun walaupun ia jarang bekerja secara terang-terangan akan tetapi seluruh tanggung jawab akan ribuan hektar perkebunan Puak adalah tanggung jawabnya.
Seluruh karyawan selalu melapor kepada Jonathan. Ia langsung menemui Dr.dr.Johny Munthe, spOG, membayar semua keperluan dan alat-alat yang dibutuhkan dengan menggunakan mobil ambulans dr. Johny dan dua orang perawat juga Jonathan kembali ke Dusun Puak. Empat jam perjalanan mereka tempuh, pengerasan dan pengaspalan sudah mulai terlihat hanya saja masih menghambat lalu lintas.
Sesampainya di Puak, mereka menuju rumah Bidan Naijam. Semua warga terheran-heran karena baru kali ini ada ambulans memasuki dusun mereka, semua warga berlarian untuk melihat.
"Kenalkan Bu Bidan, saya Johny ingin memeriksa Ibu Lili Omnya menyuruh saya. Saya mohon izin Bu" pamit Johny.
"Alhamdulillah syukurlah! Ayo silakan!" Bidan Naijam senang, ia sudah cemas karena Lili belum sadar juga.
Dylan beranjak dari sisi Lili menatap nanar, " Uda Johny?" lirihnya
"Dylan? Ngapain kamu di sini?" tanyanya heran.
"Ceritanya panjang, tolong periksalah! Sejak semalam Lili belum bangun" ucap Dylan sedih.
Mak Upik di sisi Dylan pun sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa selain do'a.
Johny memasang semua alat-alat yang ia bawa memeriksa Lili dan menyuntikkan cairan ke botol infusnya Pak Kadus menyuruh perangkat dusun menghidupkan PLTD, karena butuh daya untuk menghidupkan alat-alat sang dokter.
Secara berlahan napas Lili teratur begitu juga detak jantungnya, Johny memeriksa perut Lili dengan alat USG, " Siapakah suami Lili Dylan? Panggillah kemari?" tanya Johny.
"Aku suaminya!" ucap Dylan
Johny menghentikan sejenak pekerjaannya menatap lekat ke retina Dylan ia tersenyum, " Lihatlah anakmu! Sama nakal dan kuatnya sepertimu. Mungkin ia akan lebih menyusahkanmu dari pada dirimu kelak dan kau harus membayar mahal untuk itu karena menjadi orang tua." Ucap Johny.
"Yang mana? Aku tidak melihat anakku? Hanya titik hitam!"
"Makanya kalau sekolah jangan main-main terus! Kuliah gak kelar-kelar! Hadeh ... yang titik hitam itu adalah anakmu. Tunggu dulu ... sepertinya bayimu kembar!"
"Apa? Kembar!" Dylan sudah membayangkan anak-anaknya yang cantik-cantik ataupun tampan-tampan.
"Bersiap-siaplah kau akan menghadapi kenakalan anakmu. Hahaha" tawa Johny.
Setelah selesai memeriksa Lili, " Lalu mengapa istriku belum sadar juga?" tanya Dylan.
"Sebentar lagilah, sabar!" ucap Johny. Ia kembali ke ruang tengah rumah bidan berbicara panjang lebar mengenai Puak dan kondisinya.
Johny sangat takjub dengan perjuangan bidan desa yang luar biasa ini, ia rela diceraikan oleh suaminya karena ia lebih mengabdi di pedalaman. Johny Munthe merupakan adik bungsu Andrian ia adalah paman Dylan Johny seorang duda istrinya sudah meninggal sekitar lima belas tahun yang silam, hingga kini ia belum berniat mencari gantinya.
Johny seorang dokter kandungan yang terkenal ia memiliki rumah sakit sendiri di Jakarta akan tetapi ia lebih senang tinggal di Pasir Panjang. Ia juga baru mengetahui jika Dylan ponakannya di sini. Abangnya Andrian juga tidak pernah mengatakan ia memiliki perkebunan di Puak, ia hanya meminta tolong untuk memeriksa seorang gadis anak temannya yang sudah meninggal dan menjadi anak angkat mereka. Siapa sangka anak temannya merupakan menantunya sendiri.
Johny dan Naijam berbicara banyak hal juga tentang pembangunan puskesmas mereka memiliki mimpi dan visi yang sama, hingga suara azan Maghrib berkumandang mereka menyudahi pembicaraan dan menunaikan ibadah Maghrib bersama-sama juga memakan ala kadarnya hidangan para warga yang disuguhkan. Johny begitu bahagia melihat kekompakan dan sikap kekeluargaan Dusun Puak. Johny merasa betah di sini walaupun, baru beberapa jam kakinya menginjak Puak apa lagi sang bidan yang cantik rupawan tanpa disadari si pemilik wajah. Ia selalu sibuk ke sana kemari mengurusi semua warga tanpa pandang bulu, Johny sendiri sudah membantu bidan itu menolong tiga orang ibu melahirkan, menjahit luka anak dan juga luka-luka kecil lainya.
****
Sementara Dylan dengan telatennya membersihkan tubuh istrinya membelai wajahnya yang lebam mengompresnya.
"Aku akan membunuh pria bajingan ini, yang sudah melukai anak dan istriku." batinya kesal, baru kali ini ada niat jahat di hati Dylan.
"Astaghfirulloh Ya Allah ampuniLah hambaMu ini." Sesal batinnya.
"Hmmmm ... bayiku, ja-jangan bayiku!" rintih Lili.
"Sayang ... tidak apa-apa! Tidak ada yang terjadi dengan bayi kita sayang. Ayoo bukalah matamu lihatlah! Bayi kita baik-baik saja!" ucap Dylan membelai wajah cantik istrinya bekas lebam masih membekas di sana.
"Bang, bayi kita?" ucap Lili memandang suaminya.
"Bayi kita baik-baik saja! Jangan khawatir." hibur Dylan mencium kening istrinya.
"Emak ... mana Emak?" tanya Lili ia rindu Mak upik
" Mak! Mak!" Dylan memanggil Mak upik.
"Ada apa Nak?"
"Lili mencari Emak!" ucap Dylan berdiri duduk di sisi kepala Lili, Mak Upik duduk di kursi di sebelah brangkar.
"Iya Nak! Kamu mau makan apa? Biar emak masak?" tanya Mak upik dengan lembut tangan keriputnya membelai wajah Lili yang lebam, hatinya sakit mengingat siapa yang sudah melukai wajah cantik putrinya.
"Aku pingin makan sup ayam Mak." ucap Lili manja.
"Tunggulah sebentar! Sudah emak masak." Mak Upik tersenyum dan secepat kilat ia ke dapur kembali lagi dengan semangkuk sup ayam dan nasi hangat.
Mak Upik menyulangi Lili dan Dylan menyisir dan mencocang rambut Lili.
"Aduh bang, sakit?" teriak Lili saat Dylan menyisir rambutnya benar saja rontok rambutnya terlalu banyak.
"Apa yang sebenarnya terjadi Lili?" tanya Dylan sedikit marah siapa yang sudah berani berbuat kurang ajar kepada anak dan istrinya.
Lili menceritakan setiap kronologis kejadian demi kejadian hingga ia pingsan.
Mak Upik termenung amarahnya membuncah di dadanya hanya saja ia tak mampu untuk berbuat banyak.
"Siapa yang sudah berani menyakiti Lili Mak?" tanga Dylan.
"Emak pun tidak tahu, selama ini Puak begitu aman. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?" suara Mak Upik seperti gumaman saja kepada diri sendiri.
"Makanlah lagi Nak, biar cepat sembuh!" Ucap Mak Upik, kembali Mak Upik menyuapi Lili.
"Aku juga dong Mak? Masa Lili saja?" manja Dylan. Akhirnya Mak Upik menyulangi keduanya.
"Siapa yang sudah membawa alat-alat ini kemari Bang?" tanya Lili.
"Entahlah, yang aku tahu Bang Jo membawa Uda Johny kemari bersama ambulans dan alat-alat ini. Aku juga belum berbicara kepada Uda" Dylan sudah lupa akan Uda Johnynya.
"Selamat malam! Bagaimana keadaanmu Lili?" Johny memeriksa kembali keadaan Lili, Mak Upik menghentikan sulangannya.
"Tidak apa-apa Mak! Lanjutkan saja agar si Ibu dan bayinya sehat! Tapi mengapa Ayahnya juga disulang? Kamu ini Cok" Johny geleng-geleng kepala.
"Mak, Lili kenalkan ini Uda Johny adik Papaku, Uda kenalkan ini Lili istriku dan Ini Emak mertuaku." Ucap Dylan.
Mereka saling bersalaman dan tersenyum, kembali Mak Upik menyulangi anak-anaknya.
"Uda, siapa yang membawa Uda kemari?" tanya Dylan dengan mulut penuh.
"Habiskan dulu makanmu! Kau ini ga ada berubahnya, sudah mau jadi Bapak juga masih seperti anak-anak"
"Bang Jonathan dan ... Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Cok? Sejak kapan kamu di sini? Apa yang telah kau lakukan? Hingga kau bisa terdampar di sini?" tanya Johny.
Dylan terdiam rasanya makanannya sudah tercekat di tenggorokannya, Mak Upik mengambil minuman dan memberikan kepada Dylan, Lili mengelus lengan suaminya, ia juga sama penasaran dengan Johny apa yang sebenarnya sudah terjadi, hingga Dylan berada di Puak.
"Apakah kau membunuh seseorang?" tanya Johny walaupun ia tak yakin keponakannya yang satu ini akan nekad karena di balik nakalnya ia merupakan anak yang pintar dan baik juga polos.
Ia hanya suka bermain dan mengikuti kemauannya saja.
Bbruuuppp!
Dylan menyeburkan minuman di mulutnya, "Apa? Aku membunuh? Yang benar saja Uda! Senakal-nakalnya aku, aku tidak pernah berbuat sejauh itu." bela Dylan.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Johny lagi menghakimi Dylan.
"Aku di buang Papa kemari, aku hanya diberi tiket pesawat, bus, kapal ferri, Papa hanya mengatakan aku harus pergi ke Kota A dan carilah Bang Jo di Puak, hanya itu saja!"
"Apa yang telah engkau lakukan, Cok hingga Papamu membuangmu? Kalau masih ringan ga mungkin Kak Zizi akan membiarkan putra kesayangannya di sini?" Tanya Johny.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu Uda, malam itu setelah aku pulang balapan seorang teman menyetopku ia ingin aku mengantarkannya ke diskotik AA. Sepulang aku mengantarnya polisi menangkapku di ranselku ada dua ji sabu. Semalaman aku mendekam di penjara Papa datang dengan pengacara membebaskanku dan di sinilah Papa membuangku, menarik semua fasilitasku." Ucap Dylan.
"Apakah kau memang pemakai Cok?" tanya Johny lagi.
"Tidak Uda! Aku bersumpah demi Mamaku, aku tidak pernah menyentuh barang haram itu Uda." Balas Dylan.
"Lalu mengapa temanmu bisa menjebakmu?" tanya Johny lagi.
Dylan mulai mengingat-ingat awal mula semua kejadian.
Bersambung ...
Terima kasih jangan Lupa Like, comen dan votenya🙏😘
menarik