Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Gita Cinta
"Kami akan tetap di pihak Pak Ardi, hanya saja kami akan meminta tambahan pendapatan 0,5% jika nanti pertumbuhan pendapatan perusahaan lebih tinggi dari tahun lalu."
Zion otaknya langsung bekerja.
Tingkat kecerdasannya memang sangat mumpuni, kecerdasan yang diwariskan dari kedua orangtuanya dan juga kecepatan dalam membuat keputusan yang didapatkan dari sang kakek.
"0,3% kami bisa berikan, karena setiap tahun akan ada peningkatan upah pekerja, kita juga harus taat pajak dan masih banyak yang harus dipikirkan demi jalannya perusahaan."
Tiga orang yang juga cukup banyak memiliki saham di Alpha Centauri Grup itu tampak berbisik-bisik, mereka juga membuat perhitungan sendiri. Pengusaha memang begitu, harus jeli dan harus pandai berhitung, jangan apa-apa iya saja... Hihihi
Zion menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini adalah pertemuan terakhirnya dengan pemegang saham dari 60 orang yang masih dianggap loyal pada kakeknya.
Zion menghela nafas. Ia mulai sedikit gelisah karena waktu terus bergerak.
Ia ingin pergi dengan Zia. Setidaknya satu kali. Ia ingin menikmati momen satu kali bersama Zia seperti kebanyakan pasangan.
Yah pasangan, itu jika Zion boleh menyebutnya begitu. Setidaknya, jika mengingat apa yang mereka lakukan semalam, di mana mereka hampir saja melakukan...
Ah' Zion menggelengkan kepalanya. Bayangan semacam itu harusnya tidak muncul di saat rapat bisnis, apalagi sedang dalam kondisi genting.
"Baiklah tuan Zion, kami bisa mempercayai anda karena kami tau kinerja anda selama ini. Anda orang yang muda namun cukup mampu mengurus perusahaan sebesar Alpha Centauri."
Zion berdiri lalu membungkuk memberi hormat.
Diam-diam Paman Salim mengamati semuanya, sejak mereka menemu satu persatu pengusaha itu, hampir tak ada yang paman Salim lakukan selain menyebutkan nama dan jumlah saham yang dimiliki mereka masing-masing, begitu bertemu langsung dengan pengusaha-pengusaha itu, semua seolah diambil alih Zion.
Paman Salim yang taunya laki-laki yang bersamanya itu adalah Ziyan rasanya sulit mempercayai seseorang bisa begitu cepat belajar tentang pengelolaan perusahaan.
Tapi Ziyan, bagaimana bisa ia mampu sebanding dengan Zion? Batin Paman Salim.
Tiga orang yang Zion temui itu akhirnya ikut berdiri. Zion mengulurkan tangan untuk menjabat mereka satu demi satu.
"Perjanjian selanjutnya akan kami urus setelah pulang dari Malaysia dan Singapur. Mohon bantuannya."
Kata Zion saat mereka berjabat tangan.
"Tenang saja tuan Zion, kami masih cukup setia."
Kata salah satu dari ketiganya, lalu terkekeh.
Pertemuan itu akhirnya berakhir. Zion bisa bernafas lega. Ia langsung meminta Paman Salim mengantarnya pulang. Sudah hampir jam 7 malam. Ia tidak mau kehilangan malam ini.
Paman Salim mengendarai mobilnya dengan kecepatan sesuai yang diminta tuan mudanya. Pasti ada sesuatu yang tuan mudanya ingin lakukan.
Apa kira-kira? Kencing atau BAB ? wkwkwk Paman Salim terlalu romantis.
Mobil akhirnya berhenti di pelataran komplek tepat di depan rumah mewah Zion, Paman Salim pamit untuk pulang ke tempat di mana Zion dirawat dan disembunyikan.
"Besok pagi saya jemput untuk ke bandara."
Kata Paman Salim saat melihat Zion akan melompat turun karena sudah tak sabar diajak bicara terus.
Zion berlari memasuki rumah, menuju lift dan langsung ke kamar Zia di lantai tiga. Tapi...
Zia tidak ada...
Ke mana dia?
Zion lari lagi masuk ke dalam lift, turun ke lantai bawah, ia menuju dapur, tadi ia tak sempat melihat ke arah sana, sepi.
Zion memukul meja.
Suara pukulan itu membuat mbak Wati di kamar mandi kaget.
Zion meraih hpnya dari saku, menghubungi nomor Zia, tapi tak aktif.
Ish sial !!! Zion menggila.
"Ada apa tuan muda?"
Mbak Wati muncul dari dalam kamar mandi, dan mendapati tuan mudanya uring-uringan di ruang makan.
Jangan-jangan dia lapar. Batin mbak Wati.
"Mbak, Zia ke mana?".
Tanya Zion panik.
"Zia..."
Mbak Wati celingak-celinguk.
"Kalau ngga di sini ya di kamarnya."
Jawab Mbak Wati.
"Dia ngga ada di kamar."
Kata Zion tak sabar, ia baru akan keluar untuk mencari, mungkin Zia pulang ke rumahnya, saat kemudian Zia tanpa bersalah muncul dari pintu samping.
"Lah itu Zia."
Kata Mbak Wati.
Zion mendengus. Ia kesal setengah mati melihat Zia yang berdiri bingung.
"Ada apa?"
Tanya Zia.
"Kamu ini, mau bikin aku mati dua kali?"
Zion benar-benar kesal.
"Aku cuma baru buang sampah."
Kata Zia, membuat Zion mendengus.
**-------**
Zia berdiri di depan cermin. Ia menuruti Zion untuk berganti pakaian.
Ia tak punya banyak pilihan baju, hampir semuanya celana jeans dan kaos saja. Sisanya hanya sweter, hoody dan jaket.
Satu-satunya baju yang feminim adalah baju yang dibelikan Umi tahun lalu, dan entah bagaimana baju itu bisa kebetulan terbawa, atau mungkin memang baju Zia hanya ada yang di dalam tas itu saja.
Zia kini menatap dirinya. Ini kali pertama ia memakai dres terusan warna biru langit itu. Dress lengan pendek yang sepanjang lutut.
Zia membiarkan rambut panjangnya tergerai, wajahnya ia poles bedak tipis saja.
Zia tak punya lipstik, ia menatap wajahnya. Apa yang aku harapkan dari malam ini? Apakah ini benar-benar kencan.
Jantung Zia berdebar tak karuan.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di luar pintu mengagetkannya.
"Zi, ayo keburu malam, aku juga takut Ziyan bangun."
Kata Zion dari luar.
Zia buru-buru meraih tasnya lalu memasukkan hpnya. Dipilihnya sepatu flat warna putih, lalu ia keluar dari kamar.
Zion menatap Zia sejenak.
Zion suka sekali melihat Zia yang tampak begitu manis dengan dress sederhana dan polesan polos.
Zion meraih tangan Zia lalu menariknya ke dalam lift.
"Kita mau ke mana?"
Tanya Zia.
"Ke mana saja, jalan-jalan, makan, nonton."
Kata Zion.
Begitu lift menutup Zion merangkul Zia, dan menciumnya hingga lift sampai ke lantai bawah.
Degup jantung Zia masih tak beraturan saat Zion menariknya keluar menuju mobil dan melakukannya sekali lagi di sana.
"Kamu kenapa sih?"
Tanya Zia sambil mendorong Zion lembut.
"Aku cuma ingin kamu tau, aku sudah jatuh cinta sepenuhnya pada putri ajudan Ayahku."
Zia menatap Zion.
"Kamu sudah tau semuanya?"
Zion mengangguk.
"Paman Salim menceritakannya padaku. Hubunganku dengan kalian. Hubungan orangtua kita."
Zia menunduk.
"Kita berada di tempat yang jauh berbeda,"
"Kamu manusia dan aku hantu?"
Tanya Zion.
Zia menggeleng.
"Aku miskin dan kamu kaya raya."
Zion menghela nafas. Lalu ia meraih tangan Zia.
"Kita pikirkan itu nanti, hari ini kita habiskan waktu bersama, sebelum bajingan ini bangun dan aku ditendang keluar dari tubuhnya."
Kata Zion.
"Dia saudaramu, kenapa selalu menyebutnya bajingan?"
Protes Zia.
"Karena dia mencuri bibirmu dua kali."
Kesal Zion membuat Zia tak bisa bicara apa-apa lagi.
**-------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .