NovelToon NovelToon
Suamiku Tak Terlihat

Suamiku Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Evhae Naffae

Apa jadinya kalau suamimu tak terlihat orang sekitar dan hanya kamu yang bisa berinteraksi dengannya? Sehingga banyak beranggapan kalau kamu itu gila, seperti pasangan Vanesa dan Rikuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 (Part 12)

Suamiku Tak Terlihat (Season 2)

Part 12

”Paduka Raja, apa sudah dipikirkan masalah permintaan Putri Sahara kemarin?” tanya Perdana Menteri sambil menemani Raja Macan bersantai di taman istana.

Raja Macan yang sedang menikmati pijitan-pijitan oleh dayang, dengan senyum yang mengembang, mendadak memudar mendengar ucapan dari Perdana Menteri. Ia menegakkan tubuh dan memberi isyarat untuk berpindah memijat ke bagian kaki saja.

“Kalau menurutmu bagaimana, Perdana Menteri?” Raja Macan malah melotarkan kembali pertanyaan itu.

Perdana Menteri mengusapnya wajahnya lalu berujar, “Sebaiknya turuti saja keinginan Putri Sahara, wahai Paduka Raja yang mulia. Dengan menjadikan Rikuh sebagai santapan, Putri Vane juga tak akan kembali. Ada baiknya, kita berusaha memperbaiki keadaan ini. Tak ada gunanya terus menabuh genderang permusuhan dengan sesama bangsa gaib.”

“Hahhh, jadi kau mengusulkan aku menerima Rikuh sebagai menantu, begitu?” Raja Macan menatap berang sang Perdana Menteri.

“Demi Putri Sahara, cobalah berdamai dengan Rikuh si orang limunan itu, Paduka!”

“Ahhh, omong kosong. Aku Raja Macan yang tiada tandingannya di jagat lelembut, akulah yang paling kuat dan berkuasa. Aku tak sudi menjadikan Rikuh sebagai menantu, cihhh!!! Raja Macan berdiri dan meninggalkan taman istana.

Perdana Menteri menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya di kursi taman.Taklama berselang, Putri Sahara menghampirinya dan duduk di hadapannya.

“Bagaimana, Perdana Menteri?” tanya Putri Sahara dengan raut wajah cemas.

“Putri Sahara bersabar saja, untuk sekarang raja masih belum bisa luluh. Tapi, hamba yakin nanti ... beliau akan luluh juga!” jawab Perdana Menteri.

“Sampai kapan, Perdana Menteri? Apa sampai Rikuh menjadi santapannya?” Putri Sahara menahan tangis lalu berlari meninggalkan taman istana.

“Ah, ayah dan anak-anak sama keras kepala!” Perdana Menteri membatin sambil melangkah meninggalkan taman.

*****

Di dalam penjara bawah tanah, Rikuh masih berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melepas rantai besi yang melilit seluruh tubuhnya. Berhari-hari ia mencoba melepas ikatan itu, namun kekuatannya seakan tak dapat mampu melawan rantai besi itu.

Tinggal satu hari lagi, maka ia akan menjadi santapan Raja Macan. Ia tak mau sampai itu terjadi, sekuat tenaga ia akan melawan kebengisan raja tak tahu diri itu.

Tiba-tiba, Raja macan telah berdiri di depan jeruji besi tempat Rikuh mendekam. Ia menyipitkan mata mengamati pria yang telah berhasil mencuri hati putrinya itu. Ia tak habis pikir dengan Putri Sahara, apa yang membuatnya begitu menginginkan pria limunan itu sebagai suaminya?

Rikuh terkejut melihat kedatangan Raja Macan yang secara tiba-tiba. Ia menatap tajam sang raja angkuh itu.

“Ada apa, Raja pengecut? Apa kau ingin menyantapaku sekarang? Silakan saja!” Rikuh tersenyum sinis.

Raja Macan membalas senyuman Rikuh lalu berkata, “Apa kau punya permohonan terakhir terhadapku? Katakanlah, sebelum hari esok tiba!”

Rikuh tersenyum masam lalu berkata, “Aku menatangmu bertarung satu lawan satu, hanya kau dan aku. Kalau aku kalah, kau boleh menyantap tubuhku.”

Raja Macan tertawa mendengar permintaan Rikuh, lalu mengerutkan dahi menatap pria limunan sok jago yang berani menantangnya itu.

“Hahahaaa, jangan membuat dirimu mati konyol! Bagaimana jika kau kupinang saja menjadi menantu? Putriku Sahara mencintaimu.”

“Hahaaa, maaf ... aku masih tak berminat dengan tawaran itu. Lebih baik aku mati dari pada harus menjadi bagian dari keluargamu yang laknat ini!”

‘Prakkk’ Raja Macan memukul jeruji besi dengan marah, perkatan Rikuh sungguh membuatnya terhina dan tersinggung.

“Beraninya kau berkata seperti itu! Jangan kau kira bangsamu itu suci! Awas saja, besok dagingmu akan kusate!” Raja Macan menendang sel penjara itu lalu bergegas meninggalkan ruang bawah tanah. Hatinya begitu murka saat ini.

Rikuh tersenyum puas karena telah berhasil menghina Raja Macan yang bongkak itu, ia kembali memejamkan mata sambil menundukkan wajah.

Taklama kemudian, di saat Rikuh sedang asyik mengenang Vanesa, Putri Sahara memanggilnya. Ia masih terus menundukkan wajah tanpa menghiraukan sang putri.

“Rikuh!!!” panggil Putri Sahara untuk kesekian kalinya.

Rikuh bergeming, tak berminat menatap putri raja macan yang menurutnya centil itu. Sungguh berbeda dengan Vanesa yang kalem, ia tak suka dengan wanita yang terlalu agresif.

“Rikuh, kumohon ... pandanglah aku!” Putri Sahara memohon.

“Ada apa lagi?” bentak Rikuh kasar.

“Rikuh, kumohon ... jangan kasar padaku! Aku mencintaimu, apa itu salah?”

“Jelas salah! Aku tak menyukai bangsa macan dan sama sekali tak tertarik denganmu! Jadi berhentilah mengemis cinta! Aku hanya mencintai istriku, Vanesa,” bentak Rikuh dengan pandangan penuh benci, hatinya begitu risau dengan ulah putri ganjen itu.

“Oh, jadi istrimu bernama Vanesa? Apa dia seorang manusia?” Putri Sahara teringat akan Putri Vane yang tempo hari ada di kerajaannya.

“Iya, dia diculik ayahmu! Mana dia?”

“Jadi, manusia yang ada di sini tempo hari itu ... istrimu?”

“Iya, dia istriku.”

“Tapi, dia telah menghilang pas di malam penyeranganmu malam itu.”

“Benarkah demikian?”

“Iya, dia telah melarikan diri bersama seorang dayang dan sampai hari ini belum diketahui keberadaannya.”

Rikuh tertegun mendengar penuturan Putri Sahara. Ia sedikit senang mengetahui kalau Vanesa sudah berhasil melarikan diri dari raja bejat itu. Ia semakin bersemangat untuk melarikan diri dari kerajaan ini demi menyusul sang istri dan berharap bisa berkumpul dan menjadi keluarga bahagia.

”Rikuh, aku bersedia menjadi istri keduamu. Bagaimana? Aku akan membantumu melarikan diri dari sini, lalu kita mencari Vanesa secara bersama-sama.” Putri Sahara menatap Rikuh dengan sungguh-sungguh.

Rikuh memutar otak dan memikirkan tawaran dari Putri Sahara. Sepertinya ia memang takkan bisa bebas dari rantai besi ini kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Tapi, bukan berarti ia lantas setuju untuk menikahi putri centil itu, ia hanya akan memanfaatkannya saja agar bisa bebas dan mencari sang istri. Sebab, ia takkan bisa membagi cinta yang seutuhnya hanya untuk Vanesa seorang.

“Rikuh, bagaimana?” Putri Sahara menatapnya serius.

Rikuh masih bergeming.

“Kalau kau setuju, tengah malam nanti aku akan menyusup ke sini dan membebaskanmu!”

Sambil tersenyum tipis, Rikuh menganggukkan kepala. Putri Sahara langsung tersenyum senang dan menatapnya penuh cinta.

“Kalau begitu, aku pergi dulu dan akan bersiap-siap untuk rencana kita nanti malam.” Dengan senyum ceria, Putri Sahara meninggalkan ruang bawah tanah. Ia sudah tak sabar menanti datangnya malam, ia sudah tak sabar untuk dapat memeluk pria limunan itu.

*****

Sedangkan di alam manusia, Vanesa masih berusaha mencari keberadaan Sari yang menghilang bersamaan dengan hilangnya si nenek penanggal. Ia menyusuri hutan, sambil terus berusaha menemukan sahabatnya bangsa macan itu.

"Sari, kau di mana?" teriak Vanesa.

“To-tolong, aku di sini .... “ Terdengar suara dari balik semak belukar.

Vanesa menghentikan langkah dan menajamkan pendengarannya.

“Vanesa, tolong aku .... “ Suara itu terdengar lagi.

Vanesa mengedarkan pandangan ke segala arah dan berusaha mencari sumber suara, sebab ia yakin itu suara Sari.

“Sariiii, kamu di mana?” teriak Vanesa lagi.

“Aku di sini,” jawab Sari dari balik rerumputan di samping pohon besar.

Vanesa langsung menghampiri Sari yang wujudnya sudah kembali seperti semula itu, setengah macan dan setengah manusia. Ia sedang terbaring meringkuk diantar semak-semak.

“Sari, kamu kenapa?” Vanesa membantu Sari untuk bangun.

Sari terduduk dan menyandarkan dirinya di pohon besar di sampingnya. Tubuhnya seperti terkena luka bakar.

“Nanti kuceritakan. Sekarang aku mau air, tolong!” jawab Sari sambil memegangi dadanya.

“Kamu di sini dulu, aku akan mencarikan air untukmu!” Vanesa berlari mencari sungai.

Taklama kemudian, ia pun berhasil menemukan sungai dan mengambil air menggunakan daun yang ia lipat sebagai wadah penampungan air. Vanesa segera berlari kembali menemui Sari.

“Ayo, minum dulu!” Vanesa menuangkan air itu ke mulut Sari, lalu mengusapkannya ke wajah juga.

Sari menghela napas. Kini tubuhnya sudah terasa dingin. Kini ia bisa tersenyum menatap Vanesa.

“Sari, ceritakan padaku, mengapa kau bisa menjadi seperti ini?” Vanesa masih penasaran.

“Vanesa, tidak hanya nenek penanggal itu yang terbakar karena ayat suci yang kamu baca saat itu, aku juga .... “

Vanesa menutup mulutnya, ia turut prihatin dengan keadaan Sari. Ia tak tahu jika siluman macan itu juga takut dengan ayat suci Al-quran.

“Maafkan aku, Sari .... “

“Tidak apa. Oh iya, bagaimana punggungmu bekas gigitan nenek penanggal itu? Mana aku lihat!” Sari menyuruh Vanesa untuk membalikan tubuhnya.

Vanesa membalikkan tubuh dan menyibak rambut panjangnya, membiarkan Sari untuk melihat lukanya yang memang terasa nyeri.

“Ya ampun, luka gigitannya sungguh dalam. Ini pasti sangat sakit,” ujar Sari.

“Iya, sakit. Tapi, gak apa kok, yang penting kita bisa terbebas dari nenek penanggal itu.”

“Vanesa, antar aku ke sungai tempat kamu mengambail air tadi, aku mau mencuci wajah di sana.” Sari berdiri dan mengajak Vanesa ke sungai.

Keduanya melangkah menuju sungai, lalu membersihkan tubuh di sana. Sari tak hanya mencuci wajah, tapi ia juga mandi dan berendam di sungai itu. Sedang Vanesa, ia hanya menunggu di pinggir.

Setelah mandi, Sari kembali mengubah wajahnya menyerupai manusia. Kini ia telah terlihat segar dan siap memulai perjalanan kembali.

Vanesa dan Sari kembali menyusuri jalan, mereka sangat bersemangat untuk bisa keluar dari hutan ini. Dengan sambil bergantengan tangan, mereka mencoba saling tersenyum dan optimis bisa sampai ke jalan raya sana.

Setelah sekian lama berjalan, kini langkah kaki telah membawa keduanya di tepi jalan raya. Vanesa langsung tersenyum senang, usaha gigih mereka telah membuahkan sidikit hasil.

“Sari, kita telah sampai di jalan raya,” ujar Vanesa senang.

“Oh, jadi jalan raya alam manusia? Terus rumah kamu di mana?” Sari semakin terlihat bersemangat.

“Kita harus bisa sampai ke kota dulu,” jawab Vanesa lagi, sebenarnya ia juga lupa di mana rumahnya. Tapi, ia tak mau Sari tahu akan hal itu. Yang terpenting, mereka harus bisa sampai di sana dulu dan berharap ada yang bisa mengenalinya sesampai di kota nanti.

Vanesa mulai mengingat petunjuk dari Qirey, ia harus naik bus untuk bisa sampai di Kota. Berarti ia harus menunggu bus lewat, atau kendaraan lainnya yang akan membawanya sampai ke kota.

“Sari, ayo kita lanjutkan perjalanan!” Vanesa kembali menarik tangan Sari.

Taklama kemudian, sebuah bus terlihat dari kejauhan. Vanesa mengajak Sari untuk melambaikan tangan. Bus berhenti dan mereka naik. Perjalanan kembali dimulai. Ia tak peduli akan tatapan aneh dari para penumpang lain, ia tetap berusaha tenang.

“Vanesa, ini kendaraan apa namanya?” bisik Sari.

“Ini Bus, kita akan bisa cepat sampai di kota dengan kendaraan ini,” jawab Vanesa.

Dua jam perjalanan sudah terlewati, para penumpang bus sudah sebagian berkurang karena sudah turun di tempat tujuan masing-masing. Vanesa mulai kebingungan, di mana ia akan minta diturunkan.

Kini bus telah berhenti di sebuah terminal. Semua penumpang turun, seorang kernet bus menghampiri Vanesa dan Sari.

“Sudah sampai, Mbak. Silakan turun dan bayar ongkosnya!” ujar si kernet.

“Hah, bayar? Aku gak punya uang,” gumam Vanesa sambil menggaruk kepalanya.

Vanesa dan Sari saling pandang untuk beberapa saat.

“Ada uang gak buat bayar ongkos?” tanya sang kernet lagi, menatap curiga penumpangnya yang memang rada aneh itu.

“Maaf, Bang, kami gak punya uang,” jawab Vanesa pelan.

Si abang kernet menggaruk kepalanya dengan kesal lalu berkata, “Ya sudah, buruan turun! Jangan sampai bos gue tahu kalo lo berdua gak bayar.”

“Jadi, kami boleh turun walau gak bisa bayar?" Vanesa tersenyum senang.

“Hanya berlaku untuk Mbak-mbak cantik kayak kalian berdua saja. Jangan bilang siapa pun. Doakan gue murah rezeki, ya!” Kernet bus itu melambaikan tangan pada Vanesa dan Sari.

Vanesa dan Sari turun dari bus. Keduanya celingukan di terminal yang lumayan ramai itu. Mereka kebingungan.

“Vanesa, kita mau ke mana lagi?” Sari menatap semburat kebingungan di wajah temannya itu.

Vanesa menghela napas lalu mengusap wajahnya, lalu berkata, “Ayo, kita jalan saja ke arah sana!”

Sari mengikuti langkah Vanesa. Keduanya berjalan tanpa arah.

“Ternyata semuanya tak seindah yang kubayangkan. Walaupun sudah sampai di alam manusia, kini aku malah bingung mau ke mana, apalagi tanpa uang sepeser pun. Masih untung, naik bus bisa gratis.” Vanesa membatin sambil memegangi perutnya yang mulai terasa lapar.

Kini langkah keduanya terhenti di sebuah warung kosong, mereka melepas lelah sejenak sambil memikirkan arah jalan yang harus di lalui. Vanesa merenung dan masih memikirkan cara untuk bisa sampai di rumahnya.

“Maaf, Bu, apa ibu kenal dengan saya? Apa ibu tahu di mana rumah saya?” tanya Vanesa pada seorang ibu-ibu yang berjalan di pinggir jalan.

Ibu-ibu tersebut menggeleng, sambil mempercepat langkahnya. Ia menatap risi penampilan Vanesa yang berantakan dengan gaya bicara yang aneh.

Vanesa terus mempertanyakan hal yang sama kepada setiap orang yang lewat di depannya. Orang-orang semakin menatap aneh padanya dan beranggapan kalau ia gila. Hingga menjelang malam, mereka masih terluntak-lantung di jalanan.

“Vanesa, kita harus bagaimana?” tanya Sari lemas, ia kasian melihat keadaan Vanesa yang semakin berantakan, dan kini malah duduk manyun di pinggir jalan.

“Sari, belum ada yang mengenaliku? Aku bingung kita harus ke mana.”

“Ya sudah, sebaiknya kita cari tempat untuk tidur saja, sebentar lagi malam.” Sari menggandeng tangan Vanesa menyusuri jalan yang ramai kendaraan lalu lalang.

“Ya tuhan, aku mau pulang dan berkumpul kembali dengan ayah. Tunjukkanlah jalan menuju rumah hamba. Hamba rindu rumah, hamba rindu berkumpul dengan keluarga. Hamba tak mau selamanya berkumpul dengan makhluk gaib. Kecuali Sari, dia sahabatku yang telah menolongku keluar dari alam gaib itu.” Vanesa terus berdoa sepanjang jalan dan berharap untuk bisa kembali ke rumahnya.

Bersambung ....

( Kalau suka dengan cerita ini, jangan lupa like, koment dan votenya, ya, gaes 🤗

Salam kechup manja dariku, Author amatiran modal halu wae 😘 )

1
Mega Siregar
aku jadi teringat ada film barat, yg si cowok terlahir gk bisa terlihat oleh semua orang yang jatuh cinta pada seorang gadis buta🤔...

dikomenan filmnya, banyak yg bertanya 2 apakah dia pakai baju atau tidak mengingat dia tidak terlihat bahkan di cermin sekali pun🤔😅
Waryuti Yuti
kok minum nya darah ya kaya vampir
Waryuti Yuti
waduh, jangan2 suami bangsa genderuwo hiii serem
Eko Priyosantoso
kapan cerita ini ending ?
Nabila Aulia
hmm
aurora ara
alurnya menggantung, trus kelanjutan ya bagaimana?, pembaca jadi bingung endingnya kurang pas/Frown/
Eko Priyosantoso: Ya emang nggantung karena blm ending.
total 1 replies
Anik Chiffon
kenapa rikuh gk pernah dibuat ngikuti rahma lg,biar terkuak tentang fiolisa,kasihan kalau jd anak raja iblis,mending ikut opa rukuh aja..
aurora ara
Keren bnget, ak suka /Smile/
Anik Chiffon
nggantung..
duoNaNa
merinding mlh 😬😬😬
Cornelia Damayanti Sakti
bangsa gaib malah lebih setia dri manusia,eh manusia kelakuan Kya siluman macan g setia
Imberl~
Maaf thor menurut aku cerita nya terlalu di paksain, harus ada intro nya dlu sih kenapa si vanessa bisa gini , jadi kesannya alurnya maksa bgt gtu hehehe 🙏🙏
Mmh Neng Tea
semoga rikuh ketemu sama vania dan anak nya rahma
Mmh Neng Tea
qirey kenapa ga di temuin sama ibu nya vanesa
Mmh Neng Tea
cerita nya ko rahma doang yg lain donk thoor anak nya si rikuh yg pertama ceritain juga biar nyampur yg lain nya
Mmh Neng Tea
kasihan si riuh nya dan anak nya ga mendapat kn kebahagiaan
Mmh Neng Tea
lebih baik sama rikuh .kn awal nya sama rikuh udah di satuin aja sama sumi dan anak nya tapi rikuh nya menjelma kaya awal seperti manusia
Auliarosyida
alur ceritanya bagus. cuma jadi kepanjanngan akhirnya ngak berujung. author kemmana saja kau
Auliarosyida
komen paling akhir 27-5-2023😂
segitu lamanya ngegantung pecintamu thooorrr
Auliarosyida
ngak salah nyebutin usian vanesa. awal! ketemu ustad fajar sudah 40 tahun. eh sekarang anak2 udah pada kuliah vanesa usia 43
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!