Clarissa adalah seorang mahasiswi kedokteran di Prancis. Tidak sengaja ia bertemu dengan lelaki bernama Jio, yang berprofesi sebagai Bodyguard profesional, yang juga hidup di Kota Paris, Prancis.
Jio lelaki dingin yang pernah patah hati, membuat Clarissa menjadi penasaran. Dengan segala cara, Clarissa mencoba mencari perhatian Jio.
bagaimana kisah Clarissa dan Jio?
Novel ini adalah sekuel dari novel sebelumnya yang berjudul Oh My Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34# Dasar penghianat..!
Tubuh Clarissa kaku terdiam. Ia tidak menyangka bila Jio, lelaki yang ia sukai mencium bibirnya dengan lembut pada malam ini dan yang paling tidak Clarissa sangka-sangka adalah, Jio mencium dirinya di lift. Tempat dimana pertama kali ia bertemu dengan lelaki tampan itu.
Jio menatap kedua bola mata Clarissa saat ia baru saja melepaskan ciumannya dari bibir tipis Clarissa.
"Kau." Ucap Clarissa.
Plaakkkkkk!
Clarissa menampar Jio.
"Aduh!" Jio pun mengusap pipinya yang memerah karena ditampar oleh Clarissa.
"Mengapa ditampar?" Tanya Jio.
"Aku menyukaimu bukan berarti kau bebas mencium ku." Ucap Clarissa dengan sorot mata yang marah.
"Ma-maaf." Ucap Jio dengan panik.
"Kau mengabaikan ku, tapi kau langsung mencium ku saat kau pertama kali mengajak ku jalan-jalan! Memang nya, aku wanita seperti apa di mata mu!" Ucap Clarissa.
Jio mulai salah tingkah, lalu ia kembali meraih kedua bahu Clarissa dan menatap gadis itu dengan seksama.
"Aku bingung, ini perasaan apa. Jadi, aku mencoba mencium mu." Ucap Jio dengan polos.
Clarissa mengeryitkan dahinya dan menatap Jio dengan tak percaya.
"Kau ini gila ya?" Ucap Clarissa.
"Iya aku rasa aku sudah gila. Kau sama gila nya dengan ku. Maukah kau menjadi kekasih gila ku?" Tanya Jio.
Clarissa mengangkat kedua alis nya dan mengerjapkan kedua matanya.
"Tidak, sepertinya kau mabuk." Ucap Clarissa.
Jio menggelengkan kepalanya.
"Aku berjanji tak akan mencium mu tanpa seizin mu lagi." Ucap Jio.
Ting!
Pintu lift pun terbuka.
Clarissa menjadi salah tingkah dan melepaskan tangan Jio dari bahunya, lalu melangkah keluar dari dalam lift meninggalkan Jio.
Jio menatap punggung Clarissa dan menghela napasnya. Lalu, ia keluar dari lift dengan langkah yang gontai.
"Apakah kau mau menjadi kekasihku?" Tanya Jio.
Clarissa menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang dan menatap Jio dengan seksama.
"Kau benar-benar serius?" Tanya Clarissa mencoba untuk mengukur keseriusan Jio.
Jio mengangguk dengan cepat.
Clarissa terdiam dan menatap kedua mata Jio dengan seksama. Lalu, Clarissa pun tertawa terbahak-bahak.
Jio mengangkat kedua alisnya saat melihat Clarissa tertawa terbahak-bahak, lalu ia menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di depan Clarissa yang masih menertawakan dirinya.
"Ada apa? Apa yang lucu?" Tanya Jio dengan wajah yang bingung.
"Kau yang lucu." Ucap Clarissa sambil terus tertawa.
Jio pun tersenyum kikuk, lalu memberanikan diri untuk menggandeng tangan Clarissa.
"Ayo," Ucapnya sambil mengajak Clarissa keluar dari gedung tersebut.
"Kita kencan kemana malam ini?" Tanya Jio.
"Kita ke menara Eiffel!" Sahut Clarissa.
"Ok." Jio tersenyum dan mereka berdua pun menghentikan sebuah taksi.
Di dalam taksi, mereka berdua saling tersenyum dan salah tingkah. Jio terus menggenggam tangan Clarissa, seakan dirinya tak mau melepaskan gadis itu.
Hati Clarissa terasa berbunga-bunga. Ia benar-benar merasa bahagia malam ini. Kebahagiaan ini tak dapat ia rasakan pada sosok Felix.
Cinta memang unik, ia datang dengan cara memilih seseorang secara acak. Walaupun ada orang yang mencintai kita dengan tulus, tetapi hati tetap mengatakan 'tidak' maka tidak akan pernah kita sanggup untuk memilihnya. Tetapi, bila hati sudah memilih, walaupun apa pun yang terjadi, kita akan tetap berusaha untuk memperjuangkan dirinya.
Siapa pun bisa berubah menjadi orang bodoh, pintar, baik, tulus dan jahat, bila sudah bertemu dengan kata CINTA. Entah mengapa, cinta perasaan yang sangat besar untuk mengendalikan sikap dan sifat manusia itu sendiri.
..
Jio menggandeng tangan Clarissa dengan erat, saat berjalan menyusuri jalan sekitar menara Eiffel. Tidak ada kata yang terucap, namun senyuman terus menghiasi wajah mereka berdua.
"Mengapa kamu berubah pikiran?" Tanya Clarissa.
Jio menghentikan langkahnya dan menatap Clarissa begitu dalam.
"Aku tidak pernah berubah pikiran. Aku rasa, aku sudah jatuh cinta dengan mu. Namun, aku berusaha untuk menutupinya," Ucap Jio berterus terang.
"Jadi? Selama ini kamu...."
"Iya, aku cemburu saat kau bersama Felix. Aku tidak mau kehilangan kamu, walaupun seberapa keras aku berusaha untuk mengabaikan perasaan ini."
Jio menundukkan wajahnya dan mulai merasa menyesal.
Clarissa tersenyum dan memeluk Jio dengan erat. Jio membalas pelukan Clarissa, lalu mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan sikapku selama ini. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu. Kamu adalah wanita yang paling tulus di dalam hidupku, setelah orang tua kandung ku dan orang tua angkat ku," Ucap Jio sambil mendekap Clarissa lebih erat lagi.
"Terima kasih sudah membalas cinta ku Jio," Ucap Clarissa.
Jio tersenyum, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Clarissa. Lalu, ia meraih kedua pipi Clarissa yang memerah karena suhu udara yang sangat dingin.
"Kau tahu, aku kalau sudah mencintai seseorang, aku akan sangat serius dalam mencintainya. Berjanjilah untuk tetap disamping ku Clarissa."
Clarissa merasa terharu saat Jio mengucapkan kata-kata yang di luar bayangannya saat itu.
"Jio......."
Jio tersenyum dan mengecup kening Clarissa dengan lembut.
"Aku akan terus mencintaimu, sebagaimana aku terus meyakinkan dirimu, bila aku sangat mencintaimu."
Jio tersenyum dan memeluk Clarissa sekali lagi. Lalu, mereka berdua pun melanjutkan langkah mereka dengan hati yang bahagia.
Dreeetttt...! Dretttt...!
Ponsel Jio berbunyi. Lelaki itu pun merogoh saku mantelnya dan melihat layar ponselnya dengan seksama.
"Felix?" Gumamnya.
Lalu, Jio kembali mengantongi ponselnya. Ia tidak ingin mengangkat panggilan dari Felix. Ia benar-benar ingin menikmati malam ini bersama dengan kekasih hatinya, Clarissa.
Mereka berdua pun mampir di sebuah Coffe shop dan menikmati kopi bersama sebelum mereka kembali ke apartemen mereka.
...
Felix meremas ponselnya dan terdiam saat melihat Jio tidak mengangkat panggilan dari dirinya. Felix kembali menatap Jio dan Clarissa yang berjalan di sekitar menara Eiffel. Ia benar-benar merasa geram dengan Jio.
Flashback on
Felix merasa sangat gelisah di kamarnya, ia merasa tak sanggup untuk menunggu jawaban Clarissa hingga besok pagi. Akhirnya, Felix memutuskan untuk menyambangi apartemen Clarissa malam itu juga.
Saat ia hampir saja sampai di depan gedung apartemen Clarissa, Felix melihat Clarissa bersama Jio memasuki taksi yang mereka hentikan.
"Mereka? apa yang mereka lakukan? mengapa Clarissa pergi bersama Jio?" Gumam Felix.
Akhirnya, Felix memutuskan untuk mengikuti taksi yang Clarissa dan Jio tumpangi.
Taksi itu berhenti di sekitar menara Eiffel. Lalu, Felix pun turun dari mobilnya dan mengikuti Clarissa dan Jio dari belakang. Felix sengaja tidak memergoki mereka berdua. Agar ia bisa menilai sikap mereka berdua secara diam-diam.
Felix terkejut saat melihat Clarissa dan Jio berpelukan, lalu Jio mengecup kening wanita yang ia cintai itu.
Hati Felix terasa terbakar cemburu. Lalu, ia mencoba menghubungi Jio. Tetapi, lelaki itu mengabaikan panggilan dari dirinya.
"Dasar penghianat..!" Gumam Felix. Ia meremas ponselnya dan merasa geram dengan Jio.
Flashback off