Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Tertahan Gengsi
Malam ini Naya berniat menanyakan langsung pada Indra tentang perkataan Dante siang tadi. Setelah makan, Naya memenuhi janjinya untuk menemani Indra di kamarnya. Ketika Naya mengetuk pintu, Haris membuka pintu seraya menempelkan telunjuknya di bibir.
“Bapak baru saja istirahat. Sebaiknya kamu kembali besok.”
“Tapi pagi tadi Naya sudah janji akan menemani bapak malam ini, Mas. Kenapa bapak? Bahkan tadi tidak keluar untuk makan bersama kami.”
“Tadi siang sempat mengeluh dadanya sesak. Sudah diperiksa oleh dokter Lyla dan menurutnya, bapak harus segera menjalani operasi dan kemo agar sel kanker tidak makin menyebar. Mas minta, kamu bujuk bapak untuk segera berangkat ke Singapura dan menjalani pengobatannya.”
“Baiklah, besok Naya akan bicara dengan bapak.” Naya berbalik dan berjalan menuju ke balkon yang menghadap ke taman.
Naya berdiri termenung menempel pada pagar besi, memandangi lampu taman yang jauh di bawahnya, lama dia memandang tanpa berkedip hingga lampu itu nampak buram oleh airmatanya. Mendengar Indra mengalami sesak
napas, membuat Naya teringat akan bapaknya sendiri yang sering mengalami sesak bila penyakit asmanya kambuh.
Naya mengusap airmatanya dan berdiri tegak. Menghirup sebanyak-banyaknya udara yang bisa ditampung paru-parunya dan menghembuskan dengan kasar. “Pergilah kau sedih, pergilah kau susah.” Ucapnya. Diulangnya dua kali tindakannya itu sebelum akhirnya berbalik dan terkejut mendapati sepasang mata tajam milik Alan menatapnya tidak berkedip.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Sejak kamu diam termenung memikirkan siasat selanjutnya, mungkin.”
“Siasat?” enggan menanggapi komentar Alan yang bernada sinis, Naya melangkah mendekat. “Permisi, aku akan turun.”
Tubuh Alan yang tegap, berotot dan jangkung menutup setengah jalan walau bahunya sudah menyandar pada kusen pintu. “Lewat saja, cukup untuk tubuh mungilmu.”
Tidak mau mengalah pada intimidasi yang Alan berikan, Naya melewati pintu dengan perasaan tenang yang dipaksakan. Sesaat tubuh mereka berdesakan karena ternyata Alan merubah posisinya lebih menutup jalan.
“Sebaiknya kamu hilangkan hobi anehmu memeluk setiap pria yang kamu temui.” Alan menatap sinis pada Naya yang baru berhasil melewati tubuhnya.
“Baik. Tapi perlu kau catat baik-baik, aku tidak memeluk setiap pria.” Tanpa berbalik, Naya mempercepat langkahnya. Mengambil tasnya di sofa depan dan berjalan meninggalkan rumah besar dan dingin di belakangnya. “Hobi aneh? Memeluk setiap pria? Buktinya barusan aku tidak memeluknya. Dia pikir aku perempuan apa?! Huhh!” Naya menggerutu sambil terus melangkah.
Rumah Indra Hartawan berada di kawasan elit yang tidak dilewati angkutan umum, memiliki gerbang masuk dengan pos satpam di tengah jalan yang membagi jalan menjadi dua bagian dan terdapat portal di tengahnya. Setiap malam, di atas pukul dua belas malam, seperti malam ini, portal akan di tutup dan dijaga oleh tiga orang sekuriti.
“Neng, mau ke mana?” seorang satpam dengan tag nama Ujang menyapanya.
“Saya mau pulang ke apartemen, Pak. Tolong portalnya dibuka sebentar.”
“Maaf neng, bisa saya lihat dulu kartu identitasnya?” Ujang mengulurkan tangannya. “Kerja di rumahnya siapa?”
“Saya bukan pekerja, Pak. Saya,” Naya kesulitan menyebutkan siapa dia sebenarnya. Dikeluarkannya Kartu Pelajar miliknya dari dompet, sengaja agar Ujang tahu dirinya masih pelajar, dan menyerahkannya pada Ujang.
“Kanaya Basuki? Setahu saya di daerah sini tidak ada pemilik rumah bernama Basuki.” Dahi pria itu berkerut. “Kalau bukan kerja di sini, bukan juga anak salah satu pemilik rumah di sini, lalu kamu siapa?” Kesopanan sudah mulai terkikis dari nada bicara Ujang. Matanya menyelidik Naya dari atas hingga ujung kakinya.
“Saya,” Naya tidak bisa menyebutkan siapa dirinya, karena dia sendiri ragu siapa dirinya sekarang. “Kalau begitu saya akan kembali ke tempat saya datang.”
“Maaf, untuk keamanan seluruh penghuni di sini, sebaiknya kamu tinggal malam ini di pos. Di dalam ada kursi yang bisa kamu pakai untuk duduk dan tidur sejenak.”
Merasa dicurigai karena tidak bisa menjelaskan siapa dirinya, Naya merasa marah. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Haris. Tidak ada jawaban. Naya menghubungi Dante, tidak ada jawaban. Naya melirik jam analog di layar ponselnya, 01:35. Kecil kemungkinannya ada orang yang akan merespon panggilannya. Kecuali seseorang yang baru beberapa menit lalu berbincang dengannya.
Haruskah aku menghubungi Alan? Atau lebih baik aku tidur di sini? Naya melirik ke arah Ujang dan dua temannya yang sedang menatap ke arahnya penuh curiga.
Naya membuka kontaknya dan mencari nama Alan. Geser ke bawah, geser lagi ke atas, ke bawah lagi dengan perlahan. Tidak ada nama Alan dalam kontak di ponselnya. Sial!
“Kalau begitu, saya akan menginap di sini malam ini. Mohon maaf merepotkan.” Ucap Naya sambil melangkah masuk ke dalam pos.
Tin. Tin. Klakson mobil mengagetkan mereka. Sebuah mobil bergerak mendekat mendekati portal. Ujang mendekati kaca kemudi diiringi tatapan menyelidik Naya.
“Selamat malam, Mas Alan. Mau keluar, Mas?”
“Iya. Ada sesuatu yang harus saya kerjakan di kantor. Bisa tolong buka portalnya?”
“Siap, laksanakan!” Ujang berjalan ke depan pos dan membuka ikatan tali dan mengulurkannya ke atas hingga besi penghalang jalan itu bergerak ke atas.
“Siapa wanita itu, Pak?” tanya Alan melirik ke arah Naya yang sedang memandangnya dengan tajam sambil menyungging senyum miring.
“Entahlah, Mas. Dia ingin keluar dari sini tapi tidak bisa menyebutkan keperluannya dan di keluarga mana dia tinggal.”
“Bagus. Lebih berhati-hatilah pada jenis seperti itu. Kejahatan sedang marak di mana-mana. Jangan sampai kalian berbuat kesalahan dan membahayakan penghuni di sini.”
“Siap, laksanakan.”
Apa aku harus minta tolong padanya? Tidak. Lebih baik aku mati membeku di sini daripada meminta pertolongan padanya. Naya membuang muka dan memutuskan kontak mata dengan Alan.
Owh, kau membuang muka. Baiklah, aku akan dengan senang hati meninggalkanmu di sini. “Pak, saya tidak akan kembali dalam waktu dekat. Tidak perlu menjaga portal. Lakukan sebagaimana biasa.”
“Siap, laksanakan.”
Setiap dua jam sekali, Ujang dan salah satu temannya melakukan pemeriksaan keliling secara bergilir yang mengharuskan mereka meninggalkan pos penjagaan dan menyebar, menyisakan satu orang petugas jaga di pos. Kali ini giliran Ujang dan Rojak yang berkeliling, sedangkan Dedi berjaga.
“Neng, tidur saja. sebentar lagi pagi. Neng bisa meninggalkan pos saat hari sudah terang.” Dedi mempersilahkan Naya duduk.
“Iya, Pak.” Naya duduk bersandar pada didinding dan mencoba memejamkan mata.
Kepalanya pusing dan matanya berat saat seseorang mengguncang bahunya dengan keras beberapa jam kemudian.
“Nay, Naya. Bangun woi!”
“Ishh. Apaan sih, berisik tau.” Naya menepis tangan di bahunya dan membuka mata. “Kamu!”
“Kamu ngapain sih tidur di pos satpam begini?”
Naya menatap pemuda di depannya yang berpakaian olahraga dengan marah. “Kamu yang ngapain aja?! Semalam aku telepon kamu tapi tidak kamu hiraukan.” Omelnya.
“Benarkah?” Dante mengambil ponsel di saku celananya dan menemukan tiga panggilan dari Naya. “Sori, aku tidak enak badan semalam. Jadi aku tidur lebih cepat. Aku kira kamu sudah tidur di kamar tamu atau meminta Haris mengantarmu pulang. Maaf.”
“Sudahlah, tidak penting lagi. Tolong katakan pada bapak itu kalau kamu mengenalku.” Naya menunjuk Ujang yang sedari tadi mengamati mereka bercakap-cakap.
“Pak, kenalkan dia Kanaya Basuki anak angkat papa. Dia akan sering datang ke sini, jadi tolong ingat wajahnya baik-baik agar kejadian seperti ini tidak terulang.”
“Baik, Mas. Maafkan kami. Kami hanya menjalankan tugas.” Dante mengangguk dan berbalik meraih lengan Naya dan menuntunnya pulang.
“Jadi sejak kapan kamu tidur di sana?”
“Setengah dua malam.”
“Setelah ini kamu bisa melanjutkan tidurmu. Ada lingkaran hitam di bawah matamu.”
Di pos jaga, tiga sekuriti saling pandang dengan tatapan aneh. “Bang, kalau neng tadi anak angkat pak Indra, masa mas Alan tidak kenal?” Rojak bertanya karena penasaran.
“Mungkin karena sudah malam, jadi tidak bisa mengenalinya. Sudah, jangan ikut campur urusan orang atas. Kita orang bawah nurut saja.” Ujang berlalu meninggalkan Rojak yang masih memandang Dante dan Naya yang sedang berjalan menjauh.
“Kau tau, semalam Alan keluar dengan mobilnya dan membiarkanku. Berlagak tidak mengenalku.” Adunya.
“Kenapa kamu tidak meminta tolong padanya?” Dante menoleh Naya sekilas.
“Tidak. Lebih baik aku mati kedinginan di pos daripada harus meminta tolong padanya.”
“Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.”
“Jangan sembarangan bicara.”
****
Sudahkah mengupdate versi noveltoon terbaru? Ritualnya dilakukan dulu yuk. Like, komen dan vote. Terima kasih.
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..