"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
...***...
"Dimana dokter Tara?" tanya Arfen yang belum tau apa-apa.
"Untuk apa mencari dokter Tara, dia hanya pria dengan senyuman manis. Di sini ada aku dengan semua yang kau butuhkan," Deyna melepas ikatan rambutnya, membiarkannya terurai begitu saja. Dua kancing atas miliknya, sudah dia buka sendiri, dia berjalan lembut ke arah Arfen. Tanpa malu mengalungkan tangannya di leher Arfen.
Arfen menaikkan sebelah alisnya, mencoba menerka maksud si gadis. "Kau ingin jadi cepat kaya? Dengan berfikir tidur bersama ku, maka aku akan menanggung jawabi seumur hidup mu?"
"Ya kira-kira bisa di bilang begitulah, aku bosan dan cape kerja, mau berhenti, jadi apa pak Arfen siam menemani saya?" Mata Deyna sedikit melirik kamera, memastikan bahwa inu semua terekam jelas. Namun bodohnya Deyna, dia tidan tau Arfen itu siapa. Tanpa Deyna sadari, Arfen sudah menyadari ada kamera di sana.
"Maaf sekali, tapi kau kotor, aku tak suka." Arfen melepas kalungan tangan Deyna dengan kasar. Dia mengambil kotak hitam berisikan kamera itu. Jantung Deyna sudah lagi berdegub tak beraturan. Dia bukan takut Arfen marah, dia hanya sedih karna Tara akan kecewa, dan pastinya tak ingin menghabiskan malam dengannnya.
Brakkk!!
Tanpa ragu Arfen melemparkan kamera itu ke lantai, di injak sampai berubah menjadi serpihan. Arfen mengambil memory cardnya lalu berjalan pergi begitu saja. "Kamu salah target."
Deyna yang sudah merasa gagal, jatuh terduduk di lantai, dia menangis, semua khayalan tentang malam yang indah bersama Tara lenyap begitu saja, itu semua karna dirinya yang ceroboh. Belum lagi Tara yang akan marah padanya.
Di tengah keterpurukannya, Deyna mendengarkan suara pintu terbuka. Mata sembabnya menoleh, ah itu Tara. Tara menghampiri Deyna, dia menunduk menyentuh serpihan-seerpihan itu. Deyna tidak tau harus mengatakan apa lagi, memang tidak ada yang bisa di katakan.
Tara kembali berdiri, dia diam tanpa sepatah kata pun, menambah kegugupan Deyna.
Tara tiba-tiba mengambil sesuatu di mejanya.
"Kamera cadangan?" gumam Deyna saat melihat Tara mengambil memory card dari benda itu.
"Jangan terkejut begitu, aku sudah mengantisipasi semuanya. Bukan cuma dua atau tiga kamera, di sekeliling ruangan ini sudah banyak kameranya. Agar bisa menghasilkan gambar terbaik dari sudut manapun." Kata Tara enteng, seolah dia sudah menduga semua ini akan terjadi.
Deyna bangkit berdiri, dia melihat sekeliling. Benar saja, ada sekitar 6 atau 7 kamera tersembunyi di ruangan itu. Tara benar-benar terniat.
"Apa itu artinya aku tidak gagal? Kau akan menghabiskan malam dengan ku kan?" tanya Deyna dengan semangat dan mata berbinar.
"He'em, kita akan menghabiskan nya, sebagai teman. Terima kasih ya Deyna." Tara menepuk kepala Deyna pelan lalu berjalan pergi.
Maaf Deyna, aku hanya akan melakukan hubungan dengan orang yang ku cintai, bukan kamu.
Tanpa Deyna sadari, dirinya sudah mengalirkan air mata yang begitu deras. Deyna sadar sejak dulu bahwa Tara hanya menganggapnya teman, tapi entah mengapa itu rasanya sesak sekali.
Aku tau, lalu apa yang ku harapkan? Bukankah menjadi teman sudah lebih dari cukup.
...***...
Besok pagi adalah kepulangan Arfen dan Thifa ke rumah mereka. Dan malam ini adalah kesempatan terbaik Tara untuk menghancurkan hubungan keduanya.
"Dokter Tara? Ada apa ya? Kenapa manggil aku?" tanya seorang perenpuan memecah keheningan di taman rumah sakit itu.
Tara melihat perempuan itu, perempuan yang di tunggunya sedari tadi di kursi taman ini.
"Iya, duduk aja dulu. Ada yang mau saya sampaikan."
Thifa duduk di kursi sebelah Tara. "Jadi, apa?"
"Gimana ya..., saya juga bingung mau mulainya gimana, cuma kalau ga di kasih tau, kasihan kamunya."
Thifa mengerutkan keningnya heran. "Bilang aja, gapapa kok." Katanya mulai tak sabaran.
"Gak bisa bilangnya, mending kamu langsung liat aja deh." Tara menyerahkan beberapa lembar foto pada Thifa.
Thifa melihatnya dengan seksama, ada dua orang yang terlihat bermesraan, dan Thfia kenal orang itu, salah satunya adalah suaminya.
"Saya tau, pasti berat menghadapi semua ini. Apalagi kamu sedang hamil, jangan emosi dulu, tahan. Tapi, begitulah sebagian pria, mereka tidak tahan dengan godaan hawa nafsu, tidak peduli sudah punya istri, masih saja ingin menyentuh perempuan lain." kata Tara, mencoba menambah panas suasana.
Krekkkk!!
Thifa mengoyak rabak semua foto itu. Tara terkejut,
"Kenapa kamu robek? Ini adalah bukti perselingkuhan suami kamu."
Plakkkkk!!!
Tangan Thifa begitu ringan langsung menampar wajah Tara.
"Selama ini saya sudah begitu menghormati anda, tapi tolong jaga batasan anda dan jaga mulut anda itu. Saya istrinya, sayalah yang paling mengenal suami saya. Saya yakin seumur hidup, bahwa suami saya tidak akan berpaling. ARFEN GAK AKAN PERNAH BERPALING DARI THIFANYA! NGERTI?!"
...***...
IPA dan IPS besanan