Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.
Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.
Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Koridor dan Sinyal Bahaya
Atmosfer pagi ini terasa begitu mendebarkan daripada biasanya. Dimana pada hari ini, untuk pertama kalinya aku menghadiri sebuah undangan langsung dari seorang pria, dan yang lebih membuatku tidak sabar untuk segera pergi adalah, karena ini merupakan hari penting untuk pria yang sudah beberapa hari ini, menjadi semangat hidupku, yaitu Arga Wijaya.
Hari ini merupakan babak final turnamen basket akbar antar kampus, di mana tim basket Universitas Bakti Bangsa yang diketuai Arga, akan bertanding melawan juara bertahan tim basket dari Universitas Pelita Bangsa, guna memperebutkan gelar juara nasional.
Demi menyaksikan momen penting itu, aku dan Rara bahkan sudah sepakat untuk mengambil jatah cuti absen kuliah selama satu hari penuh. Tidak boleh ada satu pun kelas akuntansi yang mengganggu misiku hari ini.
Sejak pukul lima subuh, aku sudah super sibuk, aku sengaja bangun pagi banget, agar bisa berdandan dengan persiapan matang, agar Arga tidak menyesal telah mengundangku untuk menonton pertandingan petingnya.
Setelah hampir satu jam mematut diri di depan cermin, aku akhirnya memilih mengenakan kemeja katun biru langit lengan panjang yang longgar, pakaian yang waktu itu dipuji oleh Arga karena terlihat sopan dan rapi, dipadukan dengan celana jins putih yang kasual.
Rambutku kucatok lurus dengan wangi stroberi yang manis. Tak lupa, di atas meja belajar sudah siap satu tas kain besar berisi beberapa botol minuman isotonik dingin, camilan cokelat penambah energi, serta handuk kecil untuk Arga setelah dia lelah bertanding nanti.
Tidak terasa jarum jam berjalan terlalu cepat, aku mendadak diserang kepanikan. Sekarang jam sudak menunjukan pukul enam kurang seperempat, aku sudah meneror ponsel Rara tanpa ampun. Aku meneleponnya setiap lima menit sekali karena takut kami akan kesiangan dan kehabisan kursi di tribun depan.
"Halo, Rara! Kamu udah bangun belum?! Buruan, Ra, ini udah jam enam lewat sepuluh. Nanti jalanan macet, kita gak dapet parkir, terus tribun depannya penuh gimana?!" seruku heboh begitu panggilan teleponku akhirnya diangkat pada deringan kelima.
"Astaga, Shavia Aurelien!" suara lengkingan jengkel Rara langsung menyembur dari seberang telepon, terdengar sangat frustrasi.
"Ini baru jam enam lewat sepuluh menit, Via. Pertandingannya kan baru mulai jam delapan pagi. Kuping gue beneran budek ni, dari tadi denger HP gue getar terus gak berhenti-berhenti. Lo bisa tenang gak sih?!"
"Gak bisa, Rara. Ini babak final, Arga yang minta aku dateng langsung buat dukung dia, jadi kita gak boleh telat satu detik pun. Pokoknya buruan jemput aku ya!" cecarku tidak mau kalah.
"Iya, iya, ini gue otw! Bawel banget jadi cewek!" Pip. Telepon ditutup sepihak.
Tepat pukul setengah tujuh pagi, sebuah suara deru mesin sepeda motor yang cukup bising mendadak berhenti tepat di depan pagar rumah kosanku. Aku yang sudah menyandang tas kain besar langsung berlari keluar dengan terburu-buru. Namun, begitu mataku menangkap sosok Rara yang sedang duduk di atas motor matik merahnya, lalu menyodorkan sebuah helm cadangan, aku langsung menghentikan langkahku dengan dahi berkerut dalam. Aku menatap motornya, lalu beralih menatap wajah Rara dengan pandangan penuh rasa heran sekaligus ngeri.
"Lho, Ra? Kok... kok kamu bawa motor sendiri sih?" tanyaku dengan suara yang mendadak ragu, enggan menerima helm yang dia sodorkan.
"Sejak kapan kamu berani pegang setir motor lagi setelah insiden waktu dulu?"
Rara memutar bola matanya malas, menepuk jok belakang motornya dengan keras. "Buruan naik, gak usah banyak nanya. Katanya tadi takut kesiangan!"
"Ya tapi kan... Ra, kamu inget gak. Terakhir kali kamu nekat bawa motor sendiri, kamu ngebut kayak orang kesetanan, terus motor kamu oleng dan nabrak gerobak tukang bakso sampai kuahnya tumpah semua, dan berakhir ditilang polisi. Aku beneran trauma dibonceng sama kamu, Rara!" keluhku sambil bergidik ngeri membayangkan masa lalu kami yang tragis.
Rara mendengus jengkel, wajahnya memerah karena diledek. "Via, itu kan kejadian satu tahun yang lalu. Lagian sekarang gue udah punya SIM ya, resmi dan legal. Gue bawa motor hari ini sengaja biar kita bisa nyelip-nyelip di antara kemacetan rute ruko tua, jadi bisa sampai lebih cepat daripada naik angkutan umum atau taksi yang bakal tua di jalan. Tenang aja, gue jamin keselamatan lo aman terkendali di tangan gue. Buruan pakai helmnya!"
Mau tidak mau, aku akhirnya mengalah karena desakan waktu yang semakin mepet. Aku memakai helm bogo putih itu, mengancingkannya sampai berbunyi klik, lalu naik ke boncengan belakang sambil memeluk tas kain besar erat-erat ke dada.
"Inget ya, Rara. Pelan-pelan bawa motornya! Jangan ngebut, jangan asal nyalip mobil, dan yang paling penting... jangan sampai ada tukang bakso lain yang jadi korban kamu hari ini!"
"Iya, Shavia. Bawel banget sih, pegangan yang erat, gue jalan nih!" sahut Rara ketus.
Dia langsung menarik tuas gas, membawa motor kami melaju membelah jalanan pagi yang mulai merayap padat.
Sepanjang perjalanan, mulutku sama sekali tidak bisa diam. Aku menjelma menjadi instrukturnya yang super cerewet di jok belakang, berulang kali berteriak di balik angin yang berhembus kencang.
"Ra! Rem, Ra, di depan ada angkot berhenti mendadak. Kanan dikit, Ra, itu ada lubang jalanan. Jangan ngebut-ngebut, Rara. Aku belum mau mati muda sebelum liat Arga menang final!"
"Via, bisa diem gak sih?! Suara lo di kuping gue bikin pusing tahu gak. Ini gue jalannya cuma dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, gak ngebut sama sekali!" balas Rara dengan nada suara yang penuh kekesalan.
Meskipun dia tetap fokus mengendalikan setir motornya dengan hati-hati demi menuruti ketakutanku. Perdebatan kocak kami di atas roda dua itu terus berlanjut, hingga akhirnya kami tiba di area luar kompleks kampus Universitas Bakti Bangsa.
Tepat pukul 07.45 WIB, motor Rara berhenti dengan mulus di area parkir khusus roda dua, yang terletak tidak jauh dari gedung olahraga. Begitu kaki kami menapak di atas aspal, aku langsung melompat turun dengan semangat yang menggebu-gebu. Jantungku kembali bertalu-talu dengan sangat kencang, saat mendengar sayup-sayup riuh suara penonton yang mulai memadati area dalam gedung.
"Rara! Ayo cepat, Ra. Udah jam segini, ayo buruan masuk, nanti gak kebagian tempat duduk lagi!" seruku heboh, langsung menarik pergelangan tangan Rara dengan terburu-buru, menyeretnya berjalan cepat menuju koridor pintu masuk utama penonton.
"Eh, bentar, Via. Pelan-pelan jalannya, tas kain lo berat banget nih!" keluh Rara yang terpaksa melangkah lebar menyamai kecepatan langkahku yang seperti orang sedang kesurupan.
Baru saja kami melangkah beberapa meter menyusuri koridor, Rara mendadak menghentikan langkah dan meledakkan tawa renyahnya yang sangat keras sampai bahunya berguncang hebat.
Aku berbalik badan dengan dahi berkerut bingung. "Lho, Ra. Kenapa malah berhenti sambil ketawa-tawa gitu sih? Ayo cepat!"
"Hahaha! Astaga, Shavia Aurelien!" Rara menunjuk ke arah kepalaku dengan jari telunjuknya, tawanya semakin menjadi sampai beberapa mahasiswa yang lewat sempat menengok ke arah kami.
"Lo dandan emang udah cantik banget hari ini Vi, baju udah rapi... tapi lo sadar gak, kalau helm bogo putih lo itu masih nempel dengan sangat estetik di kepala lo. Lo mau nonton final basket atau mau ikut turing keliling kota, hah?!"
Aku refleks mengangkat tangan kanan, menyentuh bagian atas kepalaku. Benar saja, benturan permukaan plastik keras helm bogo langsung menyapa jemariku. Saking panik dan terburu-buru turun dari motor tadi, aku sampai lupa melepas helmku. Wajahku seketika memerah padam bagai kepiting rebus karena malu setengah mati.
"Eh-eh. Astaga. Kok bisa lupa gini sih!" ujarku gelagapan, buru-buru membuka kancing tali helm dengan tangan yang gemetar karena saking paniknya, lalu menyerahkan benda bulat itu ke tangan Rara sambil menyengir lebar.
"Hehe, sorry, Ra... beneran gak berasa kalau helmnya masih aku pakai, karena fokus aku cuma ke Arga."
"Dasar budak cinta tingkat akut, otak lo emang udah geser seutuhnya," cibir Rara sambil menggeleng-gelengkan kepala, memasukkan helmku ke dalam bagasi motor darurat yang terletak di dekat tiang koridor.
Karena fokus kami berdua terpecah oleh insiden helm tadi, kami kembali melanjutkan langkah kaki dengan setengah berlari membelah koridor kampus yang mulai padat oleh lautan penonton. Karena jalannya kami yang terlalu terburu-buru tanpa memperhatikan arah depan dengan jeli, sebuah petaka kecil mendadak terjadi di belokan koridor dekat pintu tribun barat.
Duk!
Bahu kanan tas kain besarku tidak sengaja menabrak lengan seorang gadis yang sedang berjalan santai dari arah berlawanan. Benturan yang cukup keras itu membuat tas kainku hampir terlepas, sementara gadis cantik itu terhuyung mundur dua langkah dan hampir saja kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.
Gadis itu mengenakan pakaian yang sangat modis, blus tanpa lengan berwarna merah marun dengan riasan wajah yang tebal dan sangat tajam. Begitu dia berhasil menstabilkan posisinya, sepasang matanya langsung melotot sempurna menatap ke arahku, dengan kilatan amarah yang luar biasa pekat.
"Heh! Punya mata gak sih lu?!" bentak gadis modis itu dengan volume suara yang sangat nyaring dan melengking, sukses memutus ketegangan di sekitar koridor penonton.
"Jalan tuh pakai mata, jangan asal tabrak orang sembarangan. Lihat nih, baju mahal gue jadi kusut gara-gara lu berdua jalan kayak orang kesurupan!"
Aku dan Rara langsung menghentikan langkah kami dengan tubuh yang menegang kaku. Sadar bahwa kami memang salah karena berjalan terlalu terburu-buru, aku langsung memajukan tubuhku, membungkukkan badan sedikit sebagai rasa bersalah yang tulus.
"Eh, aduh... Mbak, maaf banget ya. Sumpah, kami bener-bener gak sengaja. Tadi kami terlalu buru-buru karena takut telat masuk tribun. Maaf banget ya, Mbak..."
"Maaf, maaf. Lu pikir dengan kata maaf doang, baju gue bisa langsung rapi lagi, hah?!" ketus gadis itu lagi tanpa ampun, nadanya semakin meninggi dan merendahkan penampilanku.
"Lagian kasta cewek kayak lu berdua nih, ngapain sih lari-lari heboh begini di kampus elit? sampai harus merusak pemandangan di sini?!"
Sebelum aku sempat membalas, seorang pria bertubuh tinggi dengan jaket bomber mewah, yang sejak tadi berdiri di samping gadis itu langsung melangkah maju, memasang badan yang protektif untuk membela gadis itu. Pria itu menatap kami berdua dengan sorot mata yang penuh dengan keangkuhan dan arogansi yang amat sangat.
"Heh, cewek-cewek gak jelas. Lu berdua denger ya, kalau pacar gue sampai lecet atau terluka sedikit aja gara-gara kelakuan ceroboh kalian, lu berdua gak bakal bisa bayar ganti ruginya seumur hidup lu. Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat, jangan kayak orang udik yang baru pertama kali masuk kota!"
Mendengar bentakan beruntun dan untaian kalimat makian yang keluar dari mulut sepasang kekasih arogan itu, emosi Rara mendadak mulai tersulut hebat. Dia maju satu langkah, bersiap membalas makian mereka.
Namun, aku buru-buru menahan lengan kemeja Rara dengan erat. Aku melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 07.52 WIB. Latihan pemanasan Arga pasti sudah dimulai, dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktu satu menit pun hanya untuk meladeni drama keributan dengan orang asing di koridor ini.
"Ra, udah, Ra... jangan diladeni," bisikku cepat di telinga Rara dengan nada memohon yang mendalam.
"Gak ada gunanya kita ribut di sini. Kita bisa telat nonton final Arga. Yuk, masuk aja."
Rara menarik napas dalam, mencoba meredam amarahnya demi aku. Dia menatap tajam sepasang kekasih itu untuk yang terakhirnya kali sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah, yuk, Vi. Buang-buang energi aja urusan sama orang sombong."
Tanpa memperdulikan makian dan teriakan gadis modis itu yang masih terus mengoceh tidak terima di belakang kami, aku dan Rara langsung berbalik badan, mengabaikan mereka sepenuhnya, dan bergegas melangkah lebar menembus pintu akses tribun penonton untuk mencari tempat duduk yang strategis di barisan depan.
Sementara itu, di koridor yang mulai sepi, gadis modis itu menghentakkan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi ke lantai dengan sangat kasar, napasnya memburu karena merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak akibat diabaikan begitu saja setelah kami menabraknya. Mata tajamnya menatap punggungku yang berjalan menjauh dengan kilatan rasa benci dan dendam yang teramat sangat nyata.
"Sialan cewek-cewek udik itu... beraninya mereka mengabaikan gue setelah bikin kekacauan gini. Lihat aja nanti... kalau gue ketemu lagi sama mereka... gue gak bakal biarkan mereka pulang dengan tenang!" desis gadis itu tajam, menanam sebaris benih dendam yang siap memicu badai konflik baru di tengah-tengah perjuangan takdir cinta Shavia Aurelien di dunia nyata.