Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemelut Dalam Hati
"Nyonya Muda Sonya... beliau sama sekali tidak berpikir dua kali, Tuan," bisik Kevin lagi, tubuhnya perlahan diturunkan oleh Jevan. "Beliau langsung merebahkan diri di samping ranjang Anda dan membiarkan dua labu penuh darahnya dialirkan ke tubuh Anda. Dan kami... kami semua yang terlibat dalam operasi malam itu dipaksa oleh situasi untuk menyembunyikan rapat-rapat rahasia ini dari Tuan Besar Batara atas permintaan dari Nyonya Sonya sendiri. Karena jika Tuan Besar sampai tahu bahwa kami membiarkan Nyonya Sonya mempertaruhkan nyawanya demi Anda... seluruh tim medis dan pengawal yang berjaga pasti akan langsung mendapatkan hukuman pancung dari Tuan Besar... Dengar-dengar... Nona Talitha juga meminta sebuah syarat kepada Tuan Besar jika ingin darahnya didonorkan..."
Mendengar seluruh rangkaian penjelasan yang jujur dan mengerikan dari mulut perawat itu, kekuatan di kedua kaki Jevan seolah lenyap seketika. Tubuh tegapnya mendadak lemas. Dia melangkah mundur dengan terhuyung-under, lalu terduduk ambruk di atas sebuah kursi besi di dekat meja farmasi. Kedua tangannya yang besar kini bergetar hebat. Dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah ada sebongkah batu besar yang menghantam ulu hatinya dengan telak.
"Ja-jadi... jadi Nyonya Muda Sonya... dialah yang sebenarnya menjadi penyelamat hidupku yang tidak berharga ini...?" ucap Jevan dengan nada suara yang bergetar penuh penyesalan dan rasa bersalah yang teramat pekat.
Ketiga perawat pria itu hanya bisa mengangguk-angguk lemah dengan wajah tertunduk, tidak berani menatap mata sang tangan kanan klan yang sedang dilanda guncangan batin yang hebat.
"Hahaha... Hahahaha..." Jevan mendadak tertawa. Tawa yang terdengar sangat getir, kosong, dan sarat akan kegilaan batin. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang dialiri oleh sisa-sisa kehidupan. "Lalu... lalu darah wanita jalang bernama Talitha itu... apa cairan menjijikkan miliknya juga sempat masuk ke dalam tubuhku ini?" Tanya Jevan dengan bentakan yang kembali meninggi, menatap Kevin dengan tatapan menuntut.
Kevin menganggukkan kepalanya dengan ragu. "Ada... ada, Tuan Jevan. Tapi jumlahnya hanya setengah labu kecil di bagian akhir proses transfusi. Dan setelah itu... Anda langsung sadar dan melepaskan sendiri selang transfusi tersebut karena menolaknya."
"Tapi yang menjadi penolong utamaku di saat-saat paling kritis antara hidup dan mati... itu adalah Nyonya Muda Sonya, kan? Katakan padaku yang sebenarnya!!!" teriak Jevan, dia bangkit berdiri kembali dengan sisa tenaganya, mencengkeram kedua bahu Kevin dengan sangat kuat dan mengguncang-guncangkan tubuh perawat itu dengan brutal.
"I-iya... iya, Tuan Jevan! Demi Tuhan, saya bersumpah! Nyonya Muda Sonya yang paling berjasa atas keselamatan nyawa Anda! Beliau yang memberikan darahnya untuk Anda!" jawab Kevin dengan suara melengking ketakutan.
"Hahaha! Hahaha! Sialan... sialan kalian semua!!! Bisa-bisanya seorang Jevan tertipu, Hahahahaha."
Jevan melepaskan cengkeramannya dari bahu Kevin dengan sentakan kasar. Tanpa memedulikan rasa sakit di bahunya yang kini kembali mengeluarkan darah segar merembes di balik perban, dia membalikkan badannya dan melangkah lebar meninggalkan ruang farmasi tersebut dengan langkah kaki yang dipenuhi oleh kemarahan yang membara sekaligus rasa hormat yang tak ternilai kepada sang nyonya muda.
Ketiga perawat pria itu seketika terduduk lemas di atas lantai marmer, napas mereka terengah-engah penuh kelegaan karena baru saja lolos dari cengkeraman maut sang tangan kanan Inferno.
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya dari ketegangan Mansion Moretti, di sebuah villa peristirahatan sederhana yang terisolasi di pinggiran hutan kota Baston, atmosfer di dalam kamar utama bangunan itu dipenuhi oleh hawa panas yang menyesakkan dan ketegangan yang luar biasa.
Batara Moretti duduk bersandar di lantai kayu di samping tempat tidur besar, punggungnya menempel pada dinding. Kemeja hitamnya telah terbuka sepenuhnya, memperlihatkan dada bidangnya yang dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar dengan warna keunguan yang tidak wajar. Sepasang matanya yang biasanya hitam tajam, kini berkilat memancarkan warna kemerahan yang liar dan dipenuhi oleh gejolak gairah diri yang sangat pekat.
Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata yang memegang tas medis dan beberapa botol ampul obat kimia. Pria itu adalah Dokter Lucky, dokter pribadi yang telah mengabdi pada garis keturunan Moretti selama puluhan tahun.
"Tuan Besar... kondisi racun di dalam tubuh Anda ini tidak bisa Anda biarkan begitu saja dengan menahannya seperti ini!" tegur Dokter Lucky dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran medis yang mendalam. "Obat-obatan kimia dosis tinggi yang saya suntikkan sejak tadi sama sekali tidak akan pernah bisa membersihkan sistem peredaran darah Anda dari pengaruh zat afrodisiak konsentrasi tinggi tersebut! Ini adalah jenis racun gairah!"
"Diam, Lucky! Aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan dengan tubuhku sendiri!" bentak Batara, suaranya terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar hebat menahan gelombang panas yang aneh dan menjijikkan yang terus menerus menghantam sistem saraf pusatnya. "Kamu... jangan berisik di depanku!"
Batara mencengkeram pinggiran lantai kayu hingga retak. Setelah malam terkutuk di sayap barat bersama Talitha, malam di mana dia terpaksa membiarkan dirinya terlibat dalam sandiwara agar wanita itu mau menolong Jevan, seluruh sistem tubuhnya terus menerus merasakan sensasi terbakar yang tidak nyaman. Sarafnya menuntut pemuasan yang liar, sebuah efek samping dari wewangian dan ramuan memabukkan yang sengaja disebarkan oleh Talitha di dalam kamar tersebut.
Beraninya wanita jalang dari keluarga Munic itu menggunakan racun afrodisiak sialan ini untuk mencoba menguasai dan mengunci kesadaranku! Dia pikir dia bisa menjinakkan harimau Moretti dengan trik kotor seperti ini? kutuk Batara di dalam hatinya yang dipenuhi murka.
Dokter Lucky menghela napas panjang, melangkah mendekat selangkah. "Sebaiknya Tuan Besar membatalkan agenda bisnis di Baston ini dan segera pulang ke mansion utama sekarang juga. Bukankah di sana ada Nyonya Muda Sonya? Kehadiran Nyonya bisa membantu Anda untuk—"
"TIDAK BOLEH!!! JANGAN BERANI-BERANI KAU MELIBATKANNYA!!!" potong Batara dengan bentakan guntur yang luar biasa keras, matanya melotot tajam menatap Dokter Lucky seolah siap mencabik-cabik pria tua itu. Batara tahu, dengan kondisinya seperti ini berhubungan dengan Sonya dengan lembut sangatlah tidak mungkin. Napasnya memburu kasar. "Kelinci imutku... Sonya... dia sangat rapuh, Lucky! Tubuhnya yang lemah dan jantungnya yang ringkih tidak akan pernah sanggup menopang kebrutalan efek racun sialan ini jika aku menyentuhnya dalam kondisi tidak terkendali seperti sekarang! Aku tidak akan pernah membiarkan diriku menyakitinya!"
"Tapi Tuan Besar! Jika Anda terus-menerus menahan gejolak racun afrodisiak dosis tinggi ini dengan kekuatan mental dan fisik Anda sendiri tanpa ada pelepasan, organ reproduksi dan sistem saraf Anda akan rusak secara permanen! Secara medis, ini bisa membuat Anda kehilangan kejantanan Anda untuk selamanya! Toh... toh Anda juga sudah terlanjur bermalam dengan adik ipar Anda sendiri, Nona Talitha, malam itu! Mengapa sekarang Anda harus menyiksa diri—"
"DIAM!!! Beraninya kau mengutuk dan mendikteku, Lucky?" raung Batara dengan amarah yang meledak total. Dia tidak sudi mendengar fakta bahwa tubuhnya telah dinodai oleh trik kotor Talitha malam itu. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas ranjang malam itu! Kau tidak tahu apa-apa tentang sandiwara yang aku mainkan di balik itu semua!"
"Saya berbicara tentang fakta medis dan keselamatan organ vital Anda, Tuan Besar! Bukan sengaja ingin membicarakan atau mencampuri urusan keburukan domestik Anda!" balas Dokter Lucky, mencoba mempertahankan argumen medisnya meskipun tubuhnya bergetar menghadapi kemarahan sang penguasa klan. "Dengarkan saran medis saya kali ini, Tuan... atau tubuh Anda tidak akan pernah bisa tertolong lagi dari kerusakan permanen!"
"DIAM! Aku menegaskan sekali lagi, aku tidak butuh saran bodohmu itu, Lucky!" dentak Batara, tangan kanannya dengan gerakan secepat kilat merayap ke belakang pinggangnya, menarik sebilah pistol semi-otomatis berkaliber besar miliknya.
DOR! DOR! DOR!
Tiga buah tembakan dilepaskan oleh Batara ke arah atas, membuat tiga buah lubang peluru yang sempurna di langit-langit kamar villa kayu tersebut. Suara ledakan senjata api itu menggema dengan sangat memekakkan telinga di dalam ruangan tertutup.
Dokter Lucky seketika bungkam seribu bahasa, melangkah mundur tiga langkah dengan wajah memucat melihat moncong pistol hitam itu kini diarahkan tepat ke arah dahinya oleh tangan Batara yang gemetar menahan gejolak panas.
"Jika mulutmu yang tua itu masih berani mengeluarkan suara berisik lagi tentang saran menjijikkan itu... timah panas dari senjata ini yang akan membuat kepalamu bolong detik ini juga, Lucky!" Desis Batara dengan sepasang mata merah yang memancarkan kegilaan maut yang nyata.
"Dasar... dasar keras kepala!" gumam Dokter Lucky dengan suara lirih yang pasrah, melangkah mundur menjauh menuju ke arah pintu keluar kamar karena menyadari bahwa logika medis tidak akan pernah bisa menang melawan keteguhan prinsip sang pemimpin Inferno yang mati-matian menjaga kesucian cintanya demi sang istri.
"Pelayan bodoh!!!" teriak Batara ke arah luar pintu koridor dengan suara parau yang tersedak oleh rasa panas di dadanya. "Siapkan air es dalam jumlah banyak ke dalam bak mandi di kamar bilas! SEKARANG JUGA!!!"
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini