"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pidato Dua Sisi dan Tiket Alam Rahasia
Satu bulan telah berlalu sejak insiden yang mengguncang Gudang Obat Sekte Luar. Di Puncak Kesembilan yang sunyi, tidak ada yang tahu bahwa gunungan ratusan ribu pil Kondensasi Qi di sudut pondok kayu butut itu telah menyusut drastis.
Setiap hari, Lin Ling memperlakukannya seperti camilan kuaci. Hasilnya tidak mengecewakan. Dantiannya yang semula kering kerontang kini telah terisi penuh oleh pusaran energi spiritual yang murni. Tanpa perlu melakukan meditasi rumit yang membosankan, kultivasi energinya meroket nyata menembus Ranah Qi Condensation Lapisan Sembilan Puncak. Ditambah dengan kekuatan fisiknya yang sudah berada di level Mahayana, Lin Ling kini adalah seekor monster pemangsa yang menyamar dengan sangat rapi sebagai seorang tukang sapu biasa.
Sementara itu, hubungan di antara mereka bertiga menjadi semakin aneh. Jian Chen, sang murid jenius papan atas, hampir setiap tiga hari sekali menyelinap ke Puncak Kesembilan dengan alasan "memastikan rahasia malam itu tidak bocor". Namun, setiap kali datang, dia selalu berakhir dengan urat dahi yang berdenyut marah karena melihat kemalasan Wang Ba. Alhasil, demi menjaga kewarasannya, Jian Chen sering kali melemparkan teknik latihan fisik dasar dan memaksa si Gendut bergerak, yang secara tidak sengaja justru melatih ketahanan fisik Wang Ba.
Hari yang dinantikan oleh seluruh sekte akhirnya tiba. Alun-alun Puncak Utama Sekte Bangau Abadi dipenuhi oleh lautan manusia yang mengenakan seragam khas puncak masing-masing. Pemandangan ini begitu megah, memperlihatkan hierarki warna yang kontras ala sekte besar.
Di barisan paling depan, para Murid Inti berdiri dengan tegak dan anggun. Di antara mereka, Jian Chen tampak begitu menonjol dengan jubah putihnya yang bersih tanpa noda, memancarkan aura pedang yang dingin dan tak tersentuh.
Sementara itu, jauh di barisan paling belakang—di tempat yang bahkan hampir tidak terkena bayangan aula agung—Lin Ling dan Wang Ba berdiri dengan santai, masing-masing menyandarkan tubuh pada gagang sapu lidi mereka. Mereka mengenakan seragam abu-abu kusam khas Murid Urusan Luar.
Suasana yang bising mendadak senyap saat seorang gadis muda berjalan menaiki altar pengetesan bakat. Gadis itu adalah Lin You. Dengan langkah yang anggun dan wajah yang tenang, dia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh permukaan Batu Uji Bakat yang dingin.
WUSSSS!
Dalam hitungan detik, batu giok hitam raksasa itu bergetar hebat sebelum memancarkan gelombang cahaya berwarna ungu pekat yang membubung tinggi ke langit aula, membentuk siluet phoenix yang samar.
"Cahaya ungu pekat...! Ini... Vena Spiritual Tingkat Surga!" teriak tetua penguji dengan suara gemetar.
Seluruh aula langsung gempar. Para Tetua dari Fraksi Penegak Hukum dan Fraksi Alkimia bahkan langsung berdiri dari kursi mereka, mata mereka berbinar penuh keserakan, bersiap untuk saling sikut demi memperebutkan gadis jenius ini sebagai murid pribadi mereka.
Di barisan paling belakang, Wang Ba berkedip melongo sebelum menyenggol lengan Lin Ling dengan heboh. "Saudara Lin! Lihat itu! Bukankah itu adik perempuan yang sering kau ceritakan saat kita mabuk sup lobak? Wah, dia benar-benar phoenix di antara manusia! Benar-benar berbeda jauh denganmu yang... hanya ampas pengunyah pil tingkat rendah!"
Lin Ling hanya menyeringai konyol tanpa beban. Di dalam hatinya, ada rasa bangga melihat adiknya tumbuh begitu hebat, namun di sisi lain dia juga menghela napas malas. Menjadi pusat perhatian di sekte ini hanya akan mendatangkan urusan-urusan merepotkan yang bisa mengganggu waktu tidurnya.
Sementara itu, di barisan depan, Jian Chen yang mendengar nama "Lin You" disebut langsung menajamkan indranya. Dia diam-diam melirik ke barisan paling belakang lewat sudut matanya. Melihat Lin Ling yang hanya tersenyum santai tanpa ekspresi iri sama sekali, Jian Chen mulai menganalisis secara taktis dan menebak-nebak di dalam hati.
‘Marga mereka sama-sama Lin... dan tatapan mata bajingan itu terlalu tenang untuk ukuran murid ampas. Jangan-jangan, gadis jenius yang membuat seluruh sekte heboh ini sebenarnya memiliki hubungan darah dengan monster tukang sapu itu?’ batin Jian Chen, merasa kepalanya mulai sedikit pening berspekulasi sendiri.
Kehebohan itu mereda saat Pemimpin Sekte berjalan maju ke tepi altar. Dengan jubah keemasannya yang berwibawa, dia berpidato dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru alun-alun.
"Lin You adalah permata baru bagi Sekte Bangau Abadi kita! Bakatnya adalah berkah, dan dedikasinya adalah teladan yang patut dicontoh oleh seluruh murid, tanpa terkecuali!"
Seluruh murid bersorak mengiyakan. Namun, belum sempat gema sorakan itu habis, wajah Pemimpin Sekte mendadak berubah menjadi merah padam. Aura agungnya seketika digantikan oleh tekanan kemurkaan yang luar biasa pekat hingga urat-urat di dahinya bermunculan dengan sangat mengerikan.
"Namun! Di balik hari yang membahagiakan ini, sekte kita baru saja dinodai oleh tindakan bajingan tak tahu malu yang sangat keji!" raung Pemimpin Sekte, membuat atmosfer alun-alun mendadak mencekam. "Seseorang telah menyelinap ke Gudang Obat Sekte Luar sebulan yang lalu, menghancurkan puluhan rak giok, dan menyedot habis seperempat dari jutaan pil Kondensasi Qi milik murid luar dalam semalam!"
GEBREEKK! Pemimpin Sekte memukul pembatas batu hingga retak.
"Sekte mengumumkan sayembara terbuka! Siapa pun, baik murid luar, dalam, maupun inti, yang berhasil menangkap atau memberikan informasi valid mengenai identitas pencuri serakah itu, akan dihadiahi lima puluh ribu poin kontribusi dan satu Senjata Spiritual Tingkat Tinggi!"
Mendengar pengumuman berdarah-darah itu, reaksi Trio Sengklek langsung terlihat sangat kontras.
Di barisan depan, tubuh Jian Chen mendadak kaku sempurna seperti patung batu. Pandangannya lurus ke depan, bahkan kelopak matanya tidak berani berkedip sedikit pun agar tidak memicu kecurigaan.
Di barisan paling belakang, wajah Wang Ba seketika berubah pucat pasi seputih kertas. Tangannya yang memegang sapu lidi gemetar hebat hingga bunyinya berkerotakan.
Sedangkan Lin Ling? Pemuda berambut hitam itu justru dengan sangat santai... HUEEKKPS... bersendawa kecil. Dia menutup mulutnya dengan tangan, namun aroma yang keluar dari sendawanya adalah wangi herbal murni dari pil Kondensasi Qi yang sangat pekat. Wang Ba yang berada di sebelahnya hampir saja pingsan karena syok melihat ketebalan muka sahabatnya ini.
Di tengah suasana yang menegangkan dan penuh amarah itu, langit di atas alun-alun mendadak terbelah oleh seberkas cahaya merah yang menyala megah. Aroma harum bunga sakura bercampur dengan hawa sedingin es seketika menyapu seluruh alun-alun, meredam tekanan amarah dari Pemimpin Sekte.
Sesosok wanita cantik dengan wajah sedingin giok mendarat dari langit dengan sangat anggun di atas panggung kehormatan. Dia mengenakan gaun berwarna merah menyala yang sangat megah dan mencolok, merepresentasikan warna khas dan identitas tertinggi dari puncak kekuasaannya. Dia adalah Tetua Duanmu Rong.
Melihat kedatangan wanita bergaun merah tersebut, Lin Ling yang berada di barisan belakang langsung mendongak. Seringai licik yang konyol mendadak muncul di sudut bibirnya saat dia mengingat kembali insiden "kamar mandi" satu bulan lalu.
Duanmu Rong berjalan ke depan altar, mengabaikan tatapan memuja dari ribuan murid. Dengan suara yang jernih namun sedingin es, dia langsung mengumumkan agenda besar sekte tanpa basa-basi.
"Tiga bulan dari sekarang, pembatasan kuno pada Alam Rahasia Heavenly Dao akan terbuka. Berdasarkan keputusan rapat para tetua tertinggi, masing-masing dari 9 Puncak diwajibkan mengirimkan 10 murid berbakat untuk memasuki alam rahasia tersebut guna mencari warisan kuno."
Pengumuman itu langsung memicu kasak-kusuk di barisan Murid Luar. Beberapa murid dari Fraksi Penegak Hukum yang berdiri tidak jauh dari Lin Ling langsung melirik ke arahnya dengan pandangan sinis penuh ejekan.
"Alam rahasia? Hahaha, mampuslah Puncak Kesembilan!" bisik salah satu murid dengan nada meremehkan. "Puncak Kesembilan kan hanya berisi sampah, lansia, dan para tukang sapu. Dari mana faksi busuk itu bisa mendapatkan 10 murid berbakat? Paling-paling, si ampas bermarga Lin Ling ini yang akan ditendang masuk ke sana hanya untuk dijadikan umpan meriam bagi binatang buas!"
Mendengar bisikan tajam itu, Wang Ba sudah bersiap ingin memutar tubuhnya untuk memaki menggunakan metode yang dia pelajari dari Jian Chen. Namun, sebuah tangan kurus namun sekuat besi mencengkeram pundaknya.
Lin Ling menahan si Gendut sambil tetap menatap lurus ke arah Tetua Duanmu Rong yang berdiri anggun dengan gaun merahnya di atas panggung. Di balik sapu lidi yang dipegangnya, senyuman Lin Ling justru semakin melebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
‘Tiga bulan, ya...? Waktu yang sangat pas untuk menyusun taktik bersenang-senang di dalam sana,’ batin Lin Ling dengan watak bodo amat-nya yang legendaris.