"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 8: Langit Jombang yang Runtuh
Suasana di atas kota Jombang tidak lagi bisa digambarkan dengan kata-kata.
Formasi Pengunci Langit yang dilepaskan oleh Aliansi Tiga Sekte Besar menciptakan jaring-jaring energi biru yang begitu padat, hingga cahaya matahari sore yang tersisa tidak lagi mampu menembus ke permukaan bumi.
Kota itu kini terperangkap dalam senja buatan yang mematikan.
Ling Chen berdiri di tengah halaman kediaman Keluarga Ling, sosoknya terlihat kecil jika dibandingkan dengan ratusan kultivator yang melayang di angkasa.
Namun, tekanan aura yang terpancar dari tubuhnya justru membuat pilar-pilar energi formasi di atasnya bergetar hebat.
"Kalian menyebut ini pengunci langit?" Ling Chen berbicara, dan meskipun suaranya tenang, kata-katanya menggelegar ke setiap sudut kota, memecah konsentrasi para murid tingkat rendah di udara.
"Bagi seorang Kaisar, langit bukanlah sesuatu yang bisa dikunci. Langit adalah perpanjangan dari kehendakku!"
Pria tua berjubah emas, Pemimpin Sekte Pedang Langit yang dikenal sebagai Pendekar Wu, mengerutkan kening. Ia merasakan kegelisahan yang luar biasa dari pedang di tangannya.
"Jangan dengarkan bualannya! Semua murid, serang! Hujani dia dengan pedang energi!"
Atas perintah itu, seratus murid elit secara serentak mengayunkan pedang mereka ke arah bawah.
Ribuan bilah pedang cahaya, masing-masing membawa kekuatan yang sanggup menembus pelat baja, melesat jatuh seperti hujan meteor yang mematikan.
Suara siulan angin yang terbelah oleh ribuan pedang itu memekakkan telinga, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.
Ling Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat pedang hitamnya untuk menangkis.
Teknik Pertahanan Kaisar: Lonceng Kehampaan Abadi.
Tepat sebelum ribuan pedang cahaya itu menyentuh tubuhnya, sebuah kubah energi transparan dengan pola naga biru muncul menyelimuti Ling Chen.
TING! TING! TING!
Suara benturan logam terdengar jutaan kali dalam hitungan detik.
Ribuan pedang energi itu hancur berkeping-keping saat menyentuh kubah tersebut, berubah menjadi serpihan cahaya yang tidak berbahaya.
Tidak ada satu pun serangan yang mampu menggores jubah compang-camping Ling Chen.
"Bagaimana mungkin?!" teriak salah satu tetua dari Sekte Awan Biru.
"Itu adalah serangan gabungan seratus murid! Bahkan seorang ahli Alam Inti Emas pun seharusnya akan terluka!"
Ling Chen mendongak, matanya yang kini sepenuhnya putih bercahaya memancarkan otoritas mutlak. "Sekarang, giliranku."
Ia menggenggam gagang pedang hitamnya dengan kedua tangan.
Aura biru yang luar biasa dahsyat meledak dari kakinya, menghancurkan sisa-sisa bangunan aula Keluarga Ling di belakangnya menjadi debu dalam sekejap.
Seluruh tanah di kota Jombang bergetar, seolah-olah bumi itu sendiri sedang gemetar ketakutan.
Ling Chen menarik napas dalam, menarik energi dari Tulang Dewa-nya yang baru saja terbentuk.
Teknik Pedang Kaisar Surgawi: Tebasan Kehampaan Pemutus Takdir!
Ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas dalam satu gerakan melingkar yang agung.
Sebuah gelombang energi hitam-biru raksasa, berbentuk bulan sabit dengan panjang ratusan meter, melesat ke angkasa.
Gelombang itu bergerak dengan kecepatan yang melampaui kemampuan mata manusia untuk mengikutinya.
SREEEETTT!
Suara itu bukanlah suara ledakan, melainkan suara udara yang robek secara paksa. Gelombang energi itu menghantam jaring-jaring Formasi Pengunci Langit.
Dalam sekejap, jaring yang tadinya tampak tak terpatahkan itu hancur berantakan seperti benang tipis di depan pisau cukur.
Tidak berhenti di situ, gelombang tersebut terus melesat ke atas, melewati barisan murid elit.
"LARI!" teriak Pendekar Wu.
Namun, sudah terlambat. Barisan depan yang terdiri dari tiga puluh murid elit seketika terbelah menjadi dua. Darah segar menghujani kota Jombang seperti hujan gerimis yang hangat dan amis.
Gelombang energi itu bahkan membelah awan di langit, menciptakan garis kosong yang memanjang hingga ke cakrawala terjauh.
Keheningan yang mematikan jatuh di angkasa. Murid-murid yang tersisa kini gemetar hebat di atas pedang terbang mereka.
Beberapa di antaranya bahkan kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah karena rasa takut yang melumpuhkan syaraf.
Pendekar Wu menatap tangannya yang memegang pedang emas. Terdapat retakan kecil di bilah pedang pusakanya hanya karena terkena tekanan angin dari serangan Ling Chen tadi.
"Monster... kau bukan manusia... kau monster dari alam mana?!"
Ling Chen melangkah perlahan ke udara, seolah-olah ada tangga transparan di bawah kakinya. Setiap langkahnya menciptakan riak energi yang membuat udara di sekelilingnya mendesis.
"Aku pernah membantai ribuan dewa di puncak Gunung Meru hanya karena mereka menghalangi jalanku untuk minum teh," ucap Ling Chen dengan nada santai yang mengerikan.
"Kalian, makhluk-makhluk fana yang bahkan belum menyentuh esensi keabadian, berani bicara tentang 'menghakimi' aku?"
Kuro di bahunya mengeluarkan raungan kecil yang terdengar seperti guntur. Sayap kecilnya kini mengepak, melepaskan kabut hitam yang mulai menyelimuti medan perang.
Serigala Perak di bawah juga tidak tinggal diam; ia melesat ke arah para murid yang jatuh ke tanah, menjadi bayangan perak yang mencabut nyawa siapa pun yang menyentuh bumi.
Pendekar Wu dan dua pemimpin sekte lainnya menyadari bahwa jika mereka tidak bersatu sekarang, tidak akan ada yang tersisa dari sekte mereka.
"Gunakan Teknik Terlarang Tiga Dewa!" teriak Pemimpin Sekte Ketiga, seorang wanita tua dengan rambut perak.
Ketiganya berkumpul, menggabungkan energi mereka menjadi satu bola cahaya raksasa yang memancarkan aura kehancuran. Ini adalah teknik kartu as mereka, sebuah serangan yang akan menghabiskan separuh umur mereka namun memiliki kekuatan yang sanggup meratakan sebuah gunung kecil.
Bola cahaya itu berubah menjadi raksasa energi setinggi lima puluh meter yang memegang kapak raksasa.
Raksasa itu meraung, suaranya membuat kaca-kaca di seluruh Jombang pecah berkeping-keping.
Ling Chen berhenti melangkah. Ia menatap raksasa energi itu dengan senyum tipis.
"Seni boneka energi yang kasar. Mari kutunjukkan bagaimana cara menggunakan energi yang sebenarnya."
Ling Chen mengangkat tangan kirinya, jemarinya membentuk segel rahasia.
Pedang hitam di tangan kanannya mulai bergetar, memancarkan nada tinggi yang menyakitkan telinga.
"Pedang bukan tentang ukuran. Pedang adalah tentang konsentrasi."
Ia menusukkan pedangnya ke depan, ke arah udara kosong.
Namun, di ujung pedangnya, seluruh energi di sekitarnya tersedot masuk ke satu titik kecil yang sangat terang.
Titik Kehampaan: Penembus Jiwa.
Sebuah garis cahaya biru tipis, tidak lebih besar dari sebatang jarum, melesat dari ujung pedang Ling Chen.
Cahaya itu bergerak dengan tenang, melewati dada raksasa energi setinggi lima puluh meter tersebut.
Puff.
Raksasa itu terhenti. Sedetik kemudian, seluruh tubuh raksasa itu mulai retak, dan ledakan energi biru meledak dari dalamnya.
Raksasa itu hancur berkeping-keping sebelum sempat mengayunkan kapaknya.
Ketiga pemimpin sekte itu memuntahkan darah dalam jumlah besar secara bersamaan.
Tubuh mereka terlempar ke arah yang berbeda, jatuh ke halaman kediaman Keluarga Ling seperti burung yang sayapnya patah.
Ling Chen mendarat kembali di tanah dengan anggun. Ia berjalan menuju Pendekar Wu yang sedang terbatuk darah, mencoba merangkak menjauh.
"Kota Jombang tidak akan lagi mengenal nama kalian," ucap Ling Chen sambil menatap dingin ke arah musuh-musuhnya yang sudah tidak berdaya.
Ia mendongak ke arah paviliun lamanya yang dijaga oleh Serigala Perak. "Dan Keluarga Ling... waktu kalian telah habis."
Di kejauhan, Yan Ran menatap pemandangan itu dari balik pilar dengan air mata yang mengalir deras. Ia tahu, mulai malam ini, dunianya telah hancur, dan pemuda yang dulu ia sia-siakan telah menjadi matahari baru yang akan membakar siapa pun yang berani menentangnya.