Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Selamat Pagi Emma
Suasana di pantry terasa hangat, terdengar canda tawa dari Emma dan Noah Jones saat mereka berdua duduk berdekatan serta terlihat akrab.
Malam ini, keadaan sungguh berbeda antara mereka. Emma merasakan pribadi Noah Jones berbeda dari momen pertama mereka bertemu.
Pertemuan awal mereka yang kebetulan di rumah tinggal Emma Taylor mengesankan pribadi Noah yang arogan dan keras, tapi saat Emma mulai mengenal Noah Jones, kesan itu perlahan berubah.
Ketika mengenal Noah Jones lebih lama dari hari kemarin, Emma mulai tahu pribadi ramah dari pria itu.
Rasa ngantuk mulai menyerang Emma, kedua matanya tak mampu terbuka.
"Bruk..."
Emma jatuh tertidur, kepalanya menelungkup di atas meja pantry. Terdengar suara dengkuran Emma halus saat ia terlelap.
"Emma... " ucap Noah Jones tertegun saat ia melihat Emma Taylor tak bersuara lagi. Dilihatnya Emma sedang jatuh tertidur lelap bahkan ia tidak bergerak sedikit pun.
Sudut bibir Noah Jones naik, tersenyum halus nyaris tak terlihat.
"Dia tertidur... " bisik Noah Jones seraya mengusap pelan pipi Emma.
Noah Jones menarik nafas pelan lalu menggendong Emma, ia membawa keluar Emma dari ruangan pantry dalam keadaan tertidur pulas.
"Biar saya bantu, Tuan." sapa Alfred terburu-buru menghampiri Noah Jones yang berjalan dari arah pantry, melewati ruangan tengah.
"Tidak, Alfred. Biarkan aku yang menggendong Emma sampai di kamarnya, aku akan baik-baik saja." sahut Noah Jones.
"Tapi ini bukan tugas anda, dan biarkan saya yang membawa Nona Emma ke kamarnya." kata Alfred.
"Tidak, Alfred." sahut Noah Jones sembari terus melangkahkan kakinya ke depan.
"Baik, Tuan Noah." kata Alfred seraya menundukkan pandangannya.
Noah Jones memutar langkahnya, berbalik badan menghadap Alfred lalu berkata.
"Besok kami akan hadiri acara di rumah Nenek Charlotte. Ingat pesanku untuk menelpon Rumah Dior. Tolong kau pesankan beberapa gaun yang cocok buat Emma ke acara itu."
"Siap, tuan." sahut Alfred dengan anggukan kepala pelan.
"Jangan lupa sertakan perhiasan yang cocok bersanding dengan gaun yang akan Emma kenakan nanti." kata Noah Jones.
"Baik, Tuan Noah." jawab Alfred. "Apa sekalian juga saya memesan pakaian baru teruntuk anda, tuan."
"Menurutmu mana yang terbaik bagi kami berdua untuk tampil nanti di acara Nenek Charlotte." kata Noah.
"Dengan izin, Tuan. Koleksi terbaru belum dipamerkan untuk umum. Saya harus berbicara langsung dengan Madame Claire agar Nona Emma bisa mendapat akses privat." ucap Alfred.
"Jangan sampai terlambat sebab acaranya besok malam. Pagi-pagi sekali kau harus selesai mempersiapkan segala sesuatu nya dengan baik. Aku tidak ingin ada kesalahan kecil yang menghilangkan mood ku."
Noah Jones berkata tegas kepada Alfred lalu berbalik badan seraya melangkah kembali.
Ia berjalan sembari menggendong tubuh Emma yang masih terlelap nyenyak di kedua tangannya.
"Tap... Tap... Tap..."
Langkah kakinya terdengar ringan ketika Noah Jones melewati belokan-belokan di area rumahnya, menuju kamar 215 dimana kamar Emma berada.
Rupanya kedatangan Noah Jones telah ditunggu oleh Ava dan Sioux, mereka telah berdiri siap di depan pintu masuk kamar 215.
Ava dan Sioux segera membukakan pintu kamar buat Noah Jones saat ia melangkah mendekat, membawa Emma Taylor.
Ia tersenyum sekilas pada dua pelayan muda itu lalu berjalan masuk ke kamar 215 yang khusus diperuntukkan untuk Emma Taylor. Pintu kamar tertutup dari luar oleh Ava dan Sioux.
"BLAM... !"
Noah Jones melangkah menuju ranjang tidur, sedangkan Emma masih terlelap tidur di gendongan tangannya.
"Kau tidur sangat nyenyak sekali bahkan kau tak menyadari bahaya mungkin saja datang kepadamu, Emma Taylor." ucap Noah Jones.
Senyum Noah Jones mengembang manis di sudut bibirnya yang basah. Lalu diletakkan nya tubuh Emma ke atas ranjang tidur. Dengan hati-hati serta sikap peduli supaya Emma tidak terbangun, ia taruh Emma di ranjang tidur pelan-pelan.
"Apa kau selalu tidur seperti ini... ?" bisik Noah Jones saat ia merebahkan Emma.
Tampak raut wajah Emma tenang, ia sangat nyenyak seakan-akan di sekitarnya tidak ada siapa-siapa yang bisa mengusik waktu tidurnya.
"Kau tidur seperti anak kecil. Tidakkah kau sadari bahwa serigala buas bisa saja menerkam mu cuma-cuma, sungguh sikap serampangan yang tidak bisa dibiarkan."
Noah Jones berkata di dekat telinga Emma yang terpejam pulas. Lalu membelai lembut rambut Emma.
"Selamat malam, dan tidurlah nyenyak sampai besok pagi..." ucapnya kemudian menjauhkan dirinya.
"Sret..." Tanpa sengaja tangan Emma menangkap jari manis Noah, menggenggamnya erat-erat seperti tak mau lepas.
Sejenak Noah Jones tertegun diam, ia melirik ke arah jalinan jari-jarinya yang tertaut kuat dengan jari tangan Emma. Lalu ia tertawa pelan.
"Apa maunya dia ?!" ucap Noah. "Aku benar-benar tidak memahami situasi ini sekarang..."
Noah Jones membuang muka, wajahnya merah padam saat ini.
"Aku juga harus kembali ke kamarku. Mau beristirahat sama seperti mu. Aku tidak mau penampilan ku kacau di depan orang banyak lataran aku tidak cukup tidur." bisik Noah seraya mengurai jalinan jari-jarinya dengan jari Emma.
Noah letakkan tangan Emma ke atas selimut, ditepuk-tepuk nya halus punggung tangan itu.
"Persiapkan dirimu sebaik-baiknya karena besok adalah waktu penentuan bagimu untuk layak diterima sebagai anggota keluarga Lucent Gem." ucapnya seraya tersenyum lembut.
Tatapan Noah Jones berubah teduh saat ia memperhatikan wajah halus milik Emma Taylor lalu ia berjalan pergi dari kamar 215.
"Kreeet..." Sekali lagi terdengar suara derit pintu kamar saat tertutup.
Tidak ada lagi seorang pun bersama Emma di kamar itu, hanya dia sendirian disana, terpejam nyenyak di atas ranjang tidurnya.
Malam berlalu tenang, momen romantis terukir dengan indah di ruangan pantry tadi.
Tak mengira akan sambutan Noah Jones yang begitu hangatnya terhadap Emma Taylor. Suatu momen yang jarang terjadi jika itu bersangkutan dengan Noah Jones karena ia terkenal dingin.
"Cit..."
"Cuit..."
"Cit..."
"Cuit..."
Suara kicauan burung kenari di luar terdengar merdu.
Awal pagi disambut oleh riangan kicauan burung-burung yang berterbangan acak di atas dahan pohon yang ada di area halaman rumah Anggrek Resident.
Emma membuka pelan kedua matanya, ia menguap sembari merenggangkan badannya setelah tertidur lelap.
Sinar Matahari perlahan-lahan menembus masuk ke dalam kamar tidurnya, sinarnya menyilaukan pandangan mata Emma ketika ia terbangun.
"Ugh..." keluhnya sembari memalingkan muka dari pantulan cahaya Matahari yang menerpa kulit wajahnya.
"Selamat pagi, Nona Emma..." sapa Ava dan Sioux bersamaan saat mereka masuk ke kamar.
Emma menoleh ke arah datangnya Ava dan Sioux lalu tersenyum lembut.
"Selamat pagi..." sahutnya masih berbaring di atas ranjang tidur.
"Bagaimana tidur anda semalam, nyenyak tidak ?" sapa Ava seraya menyingkap tirai jendela kamar.
"Yah, aku sangat nyenyak sekali." sahut Emma beringsut pelan dari dalam selimut tebalnya kemudian duduk bersandar.
"Beruntung sekali anda bisa tertidur lelap malam tadi. Syukurlah kalau begitu, waktu beristirahat anda tidak terganggu." kata Sioux.
"Yah, begitulah..." sahut Emma tersipu malu sambil menyisir rambutnya yang tergerai lepas.
"Tiga puluh menit lagi, Madame Claire dari rumah butik Dior akan datang kemari. Anda diminta bersiap-siap lebih awal sebelum beliau tiba di Anggrek Resident ini, nona Emma." kata Ava.
"Pagi sekali, tidakkah bisa dia menungguku setelah sarapan pagi. Aku lapar sekali pagi ini, sepertinya aku tidak dapat pergi menemui Madame Claire dalam keadaan perut lapar." keluh Emma.
"Kami sudah mempersiapkan segalanya buat anda." sahut Ava seraya menoleh ke arah Sioux. "Bawa kemari sarapan Nona Emma !" perintahnya.
Sioux mengangguk pelan seraya membawa nampan perak berisi hidangan sarapan teruntuk Emma. Ia menghampiri ranjang tidur lalu meletakkannya tepat di hadapan Emma Taylor.
"Selamat menikmati sarapan paginya, Nona Emma. Kuharap hidangan sederhana ini mampu memuaskan rasa lapar anda di pagi hari." kata Ava seraya membantu Emma membuka nampan perak.
"Terimakasih, kalian begitu baiknya, dan aku akan selalu mengingat kebaikan kalian padaku." sahut Emma sungkan.
"Jangan sungkan-sungkan kepada kami berdua. Karena melayani anda adalah tugas saya dan Sioux selama anda tinggal di sini." kata Ava sambil menyodorkan kain serbet putih kepada Emma, sedangkan Sioux berdiri diam di sebelah kanan Ava.
"Aku ucapkan sekali lagi, terimakasih sebesar-besarnya kepada kalian berdua. Aku bahkan tidak tahu caranya membalas kebaikan kalian ini." sahut Emma.
"Sudah kami katakan kepada anda bahwa anda tidak perlu merasa sungkan lagi untuk meminta kami melayani anda, Nona Emma." kata Ava.
"Baiklah, aku mengerti. Dan terimakasih." jawab Emma sambil tersenyum sumringah.