"Apa kabar, istriku? I’m back, Sanaya Sastra."
Suara dingin pria dari balik telepon membuat tubuh Naya membeku.
Ilham Adinata.
Tangannya refleks menahan perut yang sedikit membuncit. Dosen muda yang dulu memaksa menikahinya, menghancurkan hidupnya, hingga membuatnya hamil… kini kembali setelah bebas dari penjara.
Padahal belum ada seumur jagung pria itu ditahan.
Naya tahu, pria itu tidak akan pernah berhenti. Ia bisa lari sejauh apa pun, tapi bayangan Ilham selalu menemukan jalannya.
Bagaimana ia melindungi dirinya… dan bayi yang belum lahir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bab 34
•••
Ibu Mazaya dan Pak Yusuf sedang sibuk mondar-mandir mencari keberadaan putra keduanya, Azzam.
"Abi udah coba hubungin teman-temannya?" tanya Calla yang tidak kalah khawatir.
Sudah lebih dari 24 jam Azzam menghilang tidak tau kemana. "Bagaimana ini Calla, nomor Azzam juga gak aktif. Teman-temannya juga gak tau dia kemana..."cemas Ibu Mazaya yang kini terduduk di sofa sembari memijit pelipisnya.
Melihat sang istri yang nampak kelelahan membuat Pak Yusuf juga ikutan cemas dengan istrinya tersebut.
"Kamu harus istirahat...," ujar Pak Yusuf.
"Giman aku bisa istirahat, anak kita hilang entah kemana."balas Ibu Mazaya.
Kaif yang melihat keluarganya yang kini sedang kebingungan mulai berpikir keras. Ia jadi teringat dengan ucapan Azzam tempo hari.
"Apa jangan-jangan dia..."Kaif mulai bergumam pelan.
"Biar saya yang akan mencari Azzam, Abi. "Ujar Kaif.
"Baiklah, Abi serahkan semuanya sama kamu, Kaif. Abi berharap penuh padamu."
"Baik, Abi. Aku pamit .."Kaif akan pergi.
Ia juga tak lupa meminta ijin pada Calla, Istrinya.
Pak Yusuf segera membawa Ibu Mazaya menuju kamar mereka.
Calla yang sedang mengendong putra kecil mereka, juga ikutan cemas.
'Apa jangan-jangan mencoba menolong Naya lagi? Astaga Azzam...' batin Calla.
•••
Disisi lain, Azzam terbangun dengan tubuh pegal-pegal. Ia terbangun diantara tumpukkan sampah. Dan lebih naasnya lagi ia kini sudah berada di Indonesia. Wajahnya dan tubuhnya kembali babak belur untuk kesekian kalinya dan selalu ulah dari seorang Ilham lagi.
"ARGHHH!!" teriaknya kesal penuh amarah.
"5iALAN KAU ILHAM!" teriaknya lagi. Ia tak terima jika ia lagi-lagi kalah dari Ilham.
Azzam turun dari tumpukkan sampah tersebut dengan tubuh tertatih-tatih dan dilihat oleh para pemulung yang sedang mencari barang bekas disana.
"Dia kenapa?"
"Kok bisa ada disini?"
Hingga salah satu wanita paruh baya menghampiri dirinya, "wajahmu kenapa, nak?" tanyanya lemah lembut.
Azzam mencoba tersenyum meski getir.
"Saya tidak apa-apa, Bu." Balasnya langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat ia baru saja keluar, sebuah mobil mewah langsung berhenti. Azzam mengetahui mobil milik siapa itu.
Seorang pria langsung keluar dengan wajah cemas dan marah bercampur satu.
"Dari mana saja kamu, Zam?!" kesal Kaif. Ia bahkan tak menanyakan lagi luka di tubuh Azzam. Ia tau persisi apa yang dilakukan oleh adik iparnya tersebut.
"Abi dan Ummi semalaman nyariin kamu. Kami bahkan sampe lapor polisi kalau kamu hilang."ujar Kaif yang sedikit kesal dengan adik iparnya tersebut.
"Maaf..." Hanya itu yang keluar dari mulut Azzam.
Kaif segera mengandeng tangan Azzam masuk kedalam mobil, "ayo kita ke rumah sakit untuk obati lukamu itu!" tegas Kaif.
Azzam hanya menurut saja tidak berani berkata lagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Azzam hanya diam saja. Dengan Kaif yang terus menerus memarahi dirinya.
"Kamu tau nggak, Abi dan Ummi dan semuanya yang ada di rumah khawatir sama kamu. Jangan berbuat gegabah, Zam dan lihat kan gimna akibatnya dengan apa yang kamu lakukan saat ini." ujar Kaif dengan rasa marah namun ia tahan. Ia mengomel sambil terus fokus menatap jalanan.
Keadaan sudah sangat malam sekali saat ini.
"Kak Kaif tau apa yang aku lakukan?" tanya Azzam lagi.
"Tentu saja. Dari gerak-gerik dan tingkahmu yang membuatmu begini saja aku sudah yakin jika semuanya akibat ulah Ilham."
"Kita harus berpikir tenang, Zam. Jangan gegabah, kamu lupa dengan apa yang aku bilang kemarin?"
Azzam menunduk, "tapi Naya dalam bahaya, Kak. Kasihan dia...aku gak ikhlas kalau dia terus-terusan sama Ilham. Mungkin saja sekarang mereka udah sampai di Malaysia."
"Malaysia?" bingung Kaif menatap Azzam sekilas.
Azzam menceritakan semuanya dan apa rencananya yang sudah ia susun sendiri.
" Astagfirullah'alazim... " Kaif geleng-geleng.
"...untuk saja kamu masih selamat."
Azzam hanya diam saja. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Ia harus dengan suka rela mendengar Omelan dari Kaif.
•••
Disisi lain...
"Ilham bangun Ilham.... ILHAM!!!" teriak Naya.
Ia sontak langsung membuka matanya. Sorot cahaya langsung menembus retina matanya.
Hidungnya terpasang oleh alat bantu nafas.
Ia juga bisa mendengar mesin detak jantung di sebelahnya.
'Aku dimana?'
'bukannya aku ada di tengah laut ya?'
Ia seketika langsung tau dirinya sedang berada di Rumah Sakit.
"Ibu Naya sudah sadar?" tanya seorang perawat mengenakan jilbab yang menyapa dirinya dengan ramah. Ia berbicara menggunakan logat Malaysia. Sesaat Naya sadar jika dirinya masih berada di Indonesia.
Karna, Author gak terlalu paham bahasa Melayu. Kita, buat aja dia tetap pakai bahasa indo ya hehe...
"Kenapa saya bisa ada disini, Suster?" tanya Naya.
"Syukurlah jika anda sudah sadar. Anda tiba disini kemarin malam, Ibu Naya."
"Anakku?!" tanya Naya lagi sembari memengang perutnya.
Perawat tersebut tersenyum, " Alhamdulillah, bayi Anda juga dalam kondisi sehat."
" Alhamdulillah..." Naya sangat bersukur sekali. Ia mengelus perutnya dengan wajah senang dan lega
Ya
Naya hanya mendengar sepintas saja. Lalu, ia mulai memikirkan Ilham.
"Ilham mana?!" tanya Naya dengan wajah panik dan cemas bersamaan.
"Oh Pak Ilham. Suami anda masih di ruang operasi."
"Operasi?!"
"Luka tusuk di bagian belakang perut begitu parah sekali dan dalam..." ujar sang Perawat.
'parah?'batin Naya yang kini bahkan tidak lagi mendengarkan apa penjelasan sang Perawat.
"Tapi, Ibu tenang aja. Kami akan menjalankan tugas kami semaksimal mungkin..." ujar sang Perawat yang kemudian pamit undur diri namun Naya tidak meresponnya. Ia sibuk dengan pikirannya saat ini tentang Ilham.
'Ini semua terjadi akibat aku..." lirih Naya yang kembali mengingat kejadian diatas kapal.
Ia bahkan kembali mengingat momen dimana Ilham yang rela terjun kedalam lautan yang asin dalam kondisi luka parah demi menyelamatkan dirinya agar tidak tenggelam.
Bahkan, ia masih teringat senyuman Ilham yang begitu tulus disaat kondisi yang parah dan kesakitan saat itu.
Rasa iba dan sedih muncul bersamaan.
Matanya kembali berkaca-kaca dengan kedua tangan yang bertautan. Ia begitu khawatir sekali. Ia melirik jam yang sudah pukul 4 pagi.
'Ya Allah, selamatkan dia...' doa yang secara tiba-tiba muncul dari relung hatinya yang paling dalam tanpa ia sadari.
•••
waktu berlalu dengan cepat. Kini, jam sudah menjelang siang hari. Seorang perawat lainnya masuk kedalam ruangan Naya. Kembali mengecek keadaan wanita tersebut. Ia tak hanya sendiri, ia juga bersama seorang Dokter wanita.
"Alhamdulillah, semuanya sehat." ujarnya.
"Gimana keadaan Ilham, Dok?" tanya Naya dengan raut wajah cemas.
"Ilham?"
"Ilham Adinata."
"Ohh...operasinya berjalan sukses. Kini, suami Anda sudah berada di ruang NICU." jelas Dokter tersebut.
" Alhamdulillah..." Naya berucap rasa syukur. Karna, doanya dikabulkan.
"Boleh saya melihatnya?" tanya Naya.
"Tapi, Ibu Naya belum sembuh total. Lebih baik Ibu istirahat dulu, jika sudah lebih baik akan kami biarkan ketemu dengan Pak Ilham."Jelasnya lagi dan tak lama ia pun pamit.
Naya hanya bisa menelan pil pahit saja untuk saat ini.
Kini, Naya sedang menikmati makan siang seorang diri. Didalam kamar VIP yang begitu besar dan mewah layaknya hotel bintang 5.
Dari dalam kamarnya, ia bisa melihat dengan jelas dari pantulan kaca sebuah pemandangan kota yang begitu indah sekali.
Hingga tiba-tiba pintu terbuka paksa dengan lebar, menampilkan sosok Ibu Novi dan Ariella. Naya kaget, apalagi ia melihat Ariella disana. Dalang dari peristiwa yang hampir merengut nyawanya dan Ilham.
'untuk apa dia kesini?'
terimakasih sudah membaca sampai habis☺️🙏