YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨
PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻
Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.
Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.
Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.
Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.
Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.
Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.
Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.
Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Oma.
Oma Dania dan Restu akhirnya menuju rumah Bu Ani. Setibanya di sana, mereka disambut hangat oleh Bu Ani, yang tanpa berlama-lama langsung mengajak keduanya masuk.
"Kamu sudah sembuh, Ni?" tanya Oma Dania.
Kini mereka tengah duduk di ruang tamu. Dan tak lama, Bu Heni muncul membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Bu," jawab Bu Ani yang duduk berhadapan dengan Oma Dania.
Restu hanya diam, masih berusaha membaca situasi.
"Syukurlah!" Oma Dania menarik napas lega. "Oh ya, di mana Min-min?" tanyanya lagi sambil memperhatikan sekitar, mencari keberadaan Qiana.
"Dia sedang belanja, Bu. Mungkin sebentar lagi pulang, tadi sudah mengabari!" timpal Bu Ani.
Bu Heni kemudian ikut duduk di samping Bu Ani, menatap Oma dan Restu dengan senyum kecil.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Yang dicari-cari, tiba-tiba datang.
"Assalamualaikum..." sapa Qiana sambil menenteng dua tas belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Saat menoleh ke samping, ia sedikit terlonjak sekaligus senang melihat Oma Dania berkunjung.
"Loh, Nenek... Mas Angga!" ujarnya sumringah, lalu segera meletakkan tas tersebut dan menghampiri Oma Dania.
"Nenek apa kabar?" tanyanya sambil meraih tangan Oma Dania dan menciumnya.
Seharusnya Restu senang melihat interaksi itu, tapi sedari tadi hatinya gelisah. Ia belum bisa menebak apa maksud kedatangan Omanya ke rumah Bu Ani malam ini.
Qiana yang seminggu ini tidak melihat Angga sedikit merasa lega, entah lega karena apa. Namun kali ini, ia merasa sedikit canggung mengingat obrolan mereka malam itu.
"Duduk, Min. Nenek mau bicara penting sama kamu!"
Deg.
Restu semakin gelisah, menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Qiana mengangguk kikuk, namun tetap menurut. Ia berjalan lalu duduk di samping Bu Heni.
Oma mulai memandang ketiganya secara bergantian. "Baiklah, langsung saja, ya. Maksud kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin meminta pertanggungjawaban Min-min!" ucap Oma dengan wajah serius.
Suasana mendadak tegang. Bu Heni dan Bu Ani saling pandang, sementara Restu dan Qiana terpaku menatap Oma.
"Maksud Oma apa?!" bisik Restu sambil menyenggol lengan Oma nya.
Qiana yang tak kalah merasa penasaran, segera bertanya. "Maksud Nenek pertanggungjawaban soal apa Nek?!" Walau terkejut, ia masih bertanya dengan nada lembut.
Bu Heni dan Bu Ani masih diam, memilih menyimak terlebih dahulu.
Oma menarik napas sejenak. "Maaf jika kalian harus mendengar ini, tapi saya lakukan ini demi cucu saya." Sorot matanya mengarah pada dua perempuan paruh baya yang kini juga menatapnya penuh tanda tanya. "Tujuh tahun lalu, cucu saya, Angga... dijebak oleh ketiga temannya. Mereka bertiga membooking seorang wanita malam yang tak lain adalah Min-min untuk menggoda, Angga!" terang Oma tegas.
Qiana, Bu Heni, Bu Ani, dan Restu membulatkan mata. Bu Heni dan Bu Ani sampai menutup bibir mereka karena kaget.
"Oma..." cegah Restu sambil menggeleng, berharap sang nenek berhenti bicara. Namun, Oma tidak mengindahkannya.
Qiana sudah menunduk dalam, menahan tangis. Karena ia juga tak bisa menyangkal. Pemandangan itu membuat hati Restu terasa perih, seolah ingin memeluknya.
"Saya tahu betul bagaimana sifat cucu saya. Sedari dulu dia anak yang polos dan tidak neko-neko," lanjut Oma mantap.
Bu Ani akhirnya berdehem pelan sebelum menimpali. "Ya, lalu maksud Ibu ingin meminta pertanggungjawaban pada Min-min itu...yang bagaimana?" tanyanya dengan tenang, khas dirinya.
"Saya ingin Min-min menikah dengan Angga, cucu saya. Malam ini juga!" Oma menekankan setiap kalimatnya, seolah perkataan itu tidak bisa di bantah.
Semuanya sontak membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan di saat semuanya terkyejuuut...
Author juga ikut terkejut, nih! 😱
Abis kemarin Oma bilangnya gak setuju, minta Restu move on! eh sekarang malah minta tanggung jawab sama Min-min. Lah, orang Angga aja gak lecet sedikit pun, apalagi hamil, wehehehehe~ 🤭
Ikuti kelanjutannya besok, ya!
Semangatin dulu dong biar besok update 🤗
Babay! Terima kasih yang sudah hadir, sehat-sehat selalu ya, readers! 👋🏻💖
oh ah oh eh oh uh...
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
gk mau kalah sama Angga
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga