NovelToon NovelToon
Wanita Di Atas Kertas

Wanita Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Wanita Karir
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Black moonlight

Naya, hidup dalam bayang-bayang luka. Pernikahan pertamanya kandas, meninggalkannya dengan seorang anak di usia muda dan segudang cibiran. Ketika berusaha bangkit, nasib mempermainkannya lagi. Malam kelam bersama Brian, dokter militer bedah trauma, memaksanya menikah demi menjaga kehormatan keluarga pria itu.

Pernikahan mereka dingin. Brian memandang Naya rendah, menganggapya tak pantas. Di atas kertas, hidup Naya tampak sempurna, mahasiswi berprestasi, supervisor muda, istri pria mapan. Namun di baliknya, ia mati-matian membuktikan diri kepada Brian, keluarganya, dan dunia yang meremehkannya.

Tak ada yang tahu badai dalam dirinya. Mereka anggap keluh dan lemah tidak cocok menjadi identitasnya. Sampai Naya lelah memenuhi ekspektasi semua.

Brian perlahan melihat Naya berbeda, seorang pejuang tangguh yang meski terluka. Kini pertanyaannya, apakah Naya akan melanjutkan perannya sebagai wanita sempurna di atas kertas, atau merobek naskah itu dan mencari kehidupan dan jati diri baru ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pernikahan

Hari itu tiba. Hari di mana bukan hanya status mereka yang berubah, tapi juga kehidupan mereka — Naya, Sean, dan Brian.

Udara pagi terasa dingin menusuk, namun bagi Naya, setiap tarikan napas terasa berat dan pengap. Ruangan rias di hotel tempat acara pernikahan mereka digelar sunyi, hanya suara halus kuas makeup bertemu kulit yang sesekali terdengar.

Di depan cermin besar, Naya menatap bayangannya. Wajahnya terlihat cantik dengan riasan lembut, tetapi sorot matanya kosong. Ada gejolak dalam hatinya, sesuatu yang sulit ia pahami — antara takut, cemas, dan secercah harapan yang samar.

"Bu, baik-baik aja?" suara perias membuyarkan lamunannya.

"Ah?" Naya tersentak, buru-buru membuang pikiran yang berkecamuk. "Maaf, tadi saya nggak konsen."

"Nggak papa, Bu," ujar perias itu sambil tersenyum ramah. "Saya tadi cuma tanya, Ibu baik-baik aja?"

Naya menarik napas panjang, berusaha memasang wajah tenang. "Baik, nggak papa. Lanjut aja."

"Oke, Bu. Sebentar lagi keluarga pengantin pria datang. Kita juga udah tinggal finishing aja, kok."

Naya mengangguk. "Terima kasih, Mbak."

Perias itu kembali sibuk dengan alat-alat riasnya, sementara Naya kembali hanyut dalam pikirannya.

Bayangan beberapa hari yang lalu kembali muncul.

Hari ketika Brian datang dari Ibu Kota, menempuh perjalanan berjam-jam dengan mengendarai mobilnya seorang diri. Ia baru selesai dinas, wajahnya lelah, namun sorot matanya tetap tajam.

Brian sampai di rumah Naya dini hari, tanpa banyak bicara.

“Siapkan barangmu dan Sean,” katanya singkat.

Naya hanya bisa menurut.

Di perjalanan menuju rumah Brian, tak ada percakapan hangat. Mereka duduk diam — Naya di kursi penumpang, Sean tertidur di belakang. Namun, di tengah keheningan itu, Naya merasakan sesuatu.

Brian berkali-kali melawan kantuk, tangannya tetap kokoh di kemudi, pandangannya lurus ke jalan. Ia tak pernah mengeluh. Bahkan ketika mereka berhenti sejenak di rest area, Brian hanya berkata, "Kamu haus?" sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hati Naya tergugah.

Tidak ada kata manis dari Brian, tidak ada janji-janji indah. Tapi, tindakannya... pengorbanannya... sudah lebih dari cukup untuk membuat Naya merasa aman.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tak berjuang sendiri. Untuk pertama kalinya sejak lama, ada seseorang yang berdiri di sisinya, melindungi dirinya dan Sean.

“Terima kasih sudah melindungi kami meski kamu belum berkewajiban melakukannya, Kak. Aku janji, aku akan membalas ini dengan hidupku.”

Naya tak sadar, air mata hampir menetes di sudut matanya.

"Sudah selesai, Bu."

Perias itu kembali membuyarkan lamunannya. Naya mengangguk, memaksa senyum.

Gaun pengantinnya sederhana namun elegan. Putih gading dengan renda halus di bagian lengan, jatuh sempurna hingga menyapu lantai. Rambutnya disanggul rendah, dihiasi bunga melati kecil yang berbaur dengan aroma parfum lembut.

Pintu kamar rias diketuk.

"Naya," suara Lisa — adik Brian — terdengar lembut.

Naya membuka pintu, disambut senyum tipis Lisa.

"Kak Brian udah datang," ujar Lisa. "Keluarga juga udah siap."

Naya mengangguk. Ia tahu waktu untuk merenung sudah habis.

Aula tempat pernikahan mereka dipenuhi para tamu undangan. Bunga-bunga mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, berpadu dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat.

Naya melangkah pelan menuju pelaminan, didampingi Lisa. Di ujung sana, berdiri Brian — tinggi, gagah, dan dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Jas hitam yang ia kenakan terlihat pas di tubuhnya, rambutnya tersisir rapi. Ia menatap Naya, namun tatapan itu tidak romantis — lebih seperti seseorang yang sedang memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Saat mereka berdiri berdampingan di depan penghulu, Naya merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

Suara penghulu memecah keheningan.

"Brian William, apakah Anda menerima Nayara Hutama sebagai istri Anda?"

Brian menarik napas panjang, suaranya mantap. "Saya terima."

Naya menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar.

Penghulu kemudian menoleh padanya. "Nayara Hutama, apakah Anda menerima Brian William sebagai suami Anda?"

Ruangan seolah membeku.

Naya tahu, ini bukan pernikahan impian. Ini bukan kisah cinta seperti dalam dongeng. Tapi demi Sean, demi keamanan mereka, Naya harus melangkah maju.

"Saya terima."

Sejenak, dunia terasa berhenti.

Tepuk tangan riuh memenuhi aula. Bunga-bunga melayang ke udara, kamera berkilatan, dan tamu-tamu berdiri memberi selamat.

Namun, di tengah semua itu, Naya tak bisa menepis kenyataan: ia baru saja menikahi seorang pria yang hampir tak ia kenal.

Acara resepsi berjalan meriah.

Naya dan Brian duduk di pelaminan, menerima ucapan selamat dari kerabat dan rekan mereka. Namun, meski senyum mereka terukir rapi, keduanya tahu bahwa ini hanyalah formalitas — sebuah perjanjian tak tertulis yang melibatkan rasa takut dan harapan.

Di sudut ruangan, Sean berlari kecil sambil memegang balon, ditemani Lisa. Anak itu tampak bahagia, meski tak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Dan kemudian, semuanya berubah.

Seorang pria muncul dari kerumunan.

Alvin.

Mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam, Alvin berdiri tak jauh dari pelaminan. Matanya menatap tajam ke arah Naya — sorot mata yang sarat amarah, kecewa, dan luka.

Brian segera menyadari kehadirannya. Tubuhnya menegang, namun ekspresinya tetap tenang.

Suasana menjadi kikuk. Bisik-bisik mulai terdengar dari para tamu.

Naya mencoba mengatur napas.

Alvin melangkah maju, berdiri tepat di depan mereka.

“Selamat, Naya.” Suaranya berat, penuh sindiran.

Brian berdiri, sedikit memajukan tubuhnya — sebuah gerakan halus, namun cukup untuk memberi tahu Alvin bahwa ia tak akan membiarkan apa pun terjadi.

“Terima kasih, Alvin,” suara Naya pelan. “Aku harap kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu.”

Alvin terkekeh sinis. “Kebahagiaanku? Kamu pikir aku bisa bahagia setelah ini?”

Brian memperingatkan, “Alvin, ini bukan tempatnya.”

Alvin menyipitkan mata. “Aku cuma mau ingetin satu hal, Naya. Aku nggak akan pernah berhenti memperjuangkan Sean. Kamu boleh nikah sama siapa pun, tapi aku tetap ayahnya.”

Naya merasa dadanya mencengkeram keras.

Brian menjawab dingin, “Sean bukan sesuatu yang bisa kamu rebut, Alvin. Dia anak, bukan barang.”

Tatapan mereka bertemu — dua pria, dua dunia, dan satu konflik yang semakin memanas.

Naya menggenggam tangan Brian, menahan agar lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu bisa menahan diri. Tak bisa dipungkiri, melihat Brian membelanya dan memperjuangkan Sean, membuat detak jantung Naya semakin berdebar. Suatu perasaan yang sulit di jelaskan.

Brian mengerti tanda yang diberikan oleh Naya, Brian pun mundur selangkah dan meredakan emosinya.

"Aku mohon, kita bisa selesaikan ini diluar. Jangan disini." Ucap Naya pada Alvin

"Sure, cepat atau lambat semua pasti akan selesai Naya. Entah itu kamu yang kembali padaku. Atau Sean. Itu pilihan mu .. "

Rahang Brian seketika mengeras. Bukan ini bukan karena cinta, tapi karena harga diri. Dalam pikir Biran Siapa kamu ingin mengambil sesuatu yang sudah saya miliki.

Alvin hanya tersenyum sinis melihat Brian dengan tatapan tajamnya.

1
Lanjar Lestari
wah akhirnya bs saling mengerti dan mau kembali tinggal di rumah mama lagi jadi ada yg jagain Sean dan berganti awasi Swan semoga kalian bahagia Naya Bi.
Lanjar Lestari
sabar Bi semua butuh perjuangan semoga segera. dapat pengasuh yg cocok buat Sean dan Naya juga bs ngerti sabar berjuang bersama kalian.mohon maaf lahir batin Author 🙏
Narata: mohon maaf lahir bathin kak🌹
total 1 replies
Lanjar Lestari
lama g UP Author sibuk ya puasa selamat hati raya idul fitri mohon maaf lahir batin Author.
Lanjar Lestari
eh eh Brian tak bs menolak pesona istri yg lg masak g mau makan aku Nay, mau nya makan km aja Nay bucin g ketulungan Brian semoga g hamil dl Nay wl di gempur sm Brian.
Lanjar Lestari
Aduh Nay g usah bgeyel lah kl g bs sendiri bilang aja g usah gensi ada suami bilang kl capek butuh teman buat ngasih Sean, g usah sok kuat Kuliah kedokteran berat ingin tinggal terpisah dg mertua repot sendiri kan Brian suka dinas keluar kota.
Lanjar Lestari
jd pindah di fakultas kedokteran Naya selamat deh Brian sdh setuju dan dukung km Nay tp ingat ya ada Sean yg butuh perhatian mu Nay.
Lanjar Lestari
semangat buat Brian sn Naya makin dekat dan romantis serta rumah tangga harmonis deh pelan pelan tp pasti.
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Si Brian tulus apa modus tuch....
geuleuh...laki kurang peka udah di kasih enak berulang kali, masih aja mempertanyakan perasaan.
Lanjar Lestari
kan enak kl saling terbuka gitu bs plang kan hari,ais Naya knp diam g bilang suamimu kl takut Sean diambil Alvin kan bs di bicarakan sm Bi suami mu Nay,kl dipertemukan dg Alvin bs aja asal g tinggal dg Alvin aja krn Alvin Ayah kandungnya Nay jg berhak mereka bertemu.
delis armelia
aku kasihan sama naya punya suami cuma mau ny tidur doang
Lanjar Lestari
kan kan Naya malah pingsan krn overdosis untung cepat pulang Bi dan g terlambat bs bawa segera ke rumah sakit.
Lanjar Lestari
suami bayangan blm UP jg author
Lanjar Lestari
kan kan lolos Naya yg diam diam fk sendiri di kedokteran g sia sia belajar mlm" bs kan lulus, en Brian yg bingun km sdh tolak Bi tapi Naya usaha sendiri diam".sukses buat naya
Lanjar Lestari
untung baca habis buka yg bab ini hehehe pas panas panas nya tu pagi" haredang haredang lg puasa🤣🤣🤣 sdh makin panas aja Brian dan Naya
Lanjar Lestari
Eh Briam blm bucin malah kebalik hehehe,Naya hrs kuat km sdh lanjutin kuliah km yg sekarang aja nurut aja lah sm suamimu agar bs urus Sean.malh mewek Naya pas di larang Brian g usah kuliah kedokteran
Lanjar Lestari
semangat Naya g usah peduli sm mulut."julit yg iri sm km anggap aja mereka si angin Lalu
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Wididaw pagi pagi udah di kasih hot hot jeletot 🤣

Gas keun ka Author jgn kasih kendor
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Napa Naya duluan yg bucin cieeee
harus'y si pria entu duluan 😁

V takapalah heheee
Lanjut ka Author ttp semangat 💪
Alin Norshalsabilla Alkhatir
Akhirnya kaya Lee mineral Ada mania manisnya 🤣

Lanjut ka...
Lanjar Lestari
kesambet gensi dan desakan Mama Ratna ya Dok Rayhan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!